
Malam itu Amira duduk di ruang tengah, menyalakan TV untuk meramaikan suasana rumah sembari memotong kuku sambil menghadap ke selembar tissue, yang digunakan sebagai penadah potongan kuku. Rumah luas itu sebenarnya menampung cukup banyak pegawai, mungkin ada sekitar dua puluh pegawai yang tinggal di sana yang di dalamnya terdiri dari tim pembersih rumah, supir, bagian kebun, koki, serta tim keamanan. Namun suasana ruangan-ruangan yang memang di huni oleh Amira dan Arthur cenderung sepi, karena para pegawai bekerja pada jam-jam tertentu di area tersebut. Apalagi sejak Amira kembali bekerja, Amira jarang sekali bertemu dengan para pegawai, kecuali bagian penjaga gerbang yang memang seringkali nongkrong di luar pos jaga.
“Amira”, suara panggilan dengan langgam yang semangat itu dengan refleks membuat Amira menengok sembari menunjukan senyuman penyambut.
“Udah makan?”, Tanya lelaki yang langsung duduk di samping Amira.
“Belum”, jawab Amira singkat, karena memang dirinya sedang fokus memotong kuku.
“Mau makan apa?”, tanya Arthur sambil ikut menonton kegiatan Amira yang sedang memotong kuku dari dua puluh jari yang dia punya.
“Yang ada aja lah”, dahi Amira mengkerut, hal itu memperlihatkan seberapa seriusnya Amira memotong kuku-kuku yang sebenarnya cenderung masih pendek itu, namu Amira adalah tipe yang benar-benar tak nyaman dengan kuku yang memanjang sedikit saja.
“Yah, makan di luar yuuu”, keluh Arthur.
“Ide bagus, besok kita makan di luar”, Amira tiba-tiba menggenggam tangan Arthur lalu memeriksa kuku-kuku Arthur.
“Kenapa gak sekarang aja?”, tanya Arthur sembari tersenyum saat Amira mulai memotong kuku-kuku jari tangan Arthur.
“Kan ada makanan, lain kali kalau mau makan di luar bilang dulu ke koki biar tak usah masak buat kita, cukup masak buat yang lain aja”, jelas Amira.
“Kan bisa di kasih ke yang lain aja, mereka juga pasti mau makan kok”, Arthur sepertinya benar-benar berusaha.
“Ih gak enak dong sama yang masak, udah di masakin tapi gak di makan”, Amira melotot menatap Arthur beberapa saat, lalu kemudian kembali fokus ke jari tangan terakhir Arthur yang kukunya masih belum di potong.
“Sini kakimu”, Amira menepuk paha Arthur, mengisyaratkan agar Arthur mengangkat kakinya.
Tanpa bicara apapun Arthur menyimpan kakinya di pangkuan paha Amira, dengan posisi yang nyaman agar Amira bisa dengan mudah memotong kuku kakinya.
“Ini kenapa pada panjang banget si”, Amira mengomel saat menyadari kuku jari kaki Arthur cukup panjang.
“terakhir kali kamu potongin kukuku kan berhenti di tengah-tengah karena kamu buru-buru pergi kerja”, Arthur tersenyum sambil menjawab pertanyaan Amira.
“Hah?, aku kan bilang lanjutin sendiri, aku hampir kesiangan hari itu”, keluh Amira.
“Yah, kalau begitu, berarti memang kita harus potong kuku setiap malam aja”, Arthur terkekeh melihat istrinya yang kehabisan kata-kata. Arthur sepertinya dengan sengaja tak memotong kuku sendiri agar di perhatikan istrinya.
“Oh iya, hari Rabu nanti aku janjian sama temen-temenku mau makan malam..”,
“Ah jangan malam-malam dong, siang aja, masa siang kamu gak nemenin aku malam juga engga”, Amira menatap Arthur yang entah kenapa akhir-akhir ini sering sekali mengeluh dengan nada manja khas anak kecil, dan hal itu sering kali membuat Amira terdiam kehabisan kata-kata.
“Jangan ya”, Arthur memohon sembari memeluk Amira yang duduk dari samping.
“Ah yasudah lah, tadinya aku mau ajak kamu, tapi ga usah aku sendiri aja”, Amira berdiri dari duduknya dengan susah payah.
“Oh, kalau aku ikut, ya ayo”, Arthur dengan wajah senang menatap langkah demi langkah Amira yang berjalan menuju lorong ke arah kamar tidur.
Keesokan harinya di jam istirahat, Amira dan tim makan siangnya memutuskan untuk makan di kantin perusahaan setelah seminggu terakhir selalu makan di luar.
“Oh, Anya, Clara, Dania..”, Amira tersenyum saat menyadari ada tempat kosong di meja yang anak-anak se-divisinya itu tempati. Sedangkan Rudi dan Hadi mengikuti Amira dan ikut bergabung di sana tanpa bicara apapun.
“Oh, yaa”, mereka bertiga tersenyum ke arah Amira dengan senyuman canggung yang benar-benar terasa. Amira kadang-kadang merasa aneh, karena biasanya dalam waktu seminggu rasa canggung sudah mulai tak kentara saat bertemu dengan orang baru. Namun para pegawai itu benar-benar sulit untuk di dekati. Padahal bisa di pastikan mereka belum tahu kalau Amira adalah istri dari pimpinan perusahaan, karena mereka baru masuk ke divisi manajemen perencanaan kurang dari tiga minggu yang lalu. Orang-orang yang tahu bahwa dirinya adalah istri Arthur hanya segelintir orang yang bisa dikatakan memiliki kemungkinan untuk menyebar gosip yang kecil, apalagi Amira langsung memohon kepada rekan-rekannya yang di undang untuk tidak membicarakannya, Amira berharap akan di perlakukan sama sebagai mana pegawai lain tanpa embel-embel istri dari pimpinan perusahaan, agar nyaman di tempat kerja. Amira juga menolak antar jemput menggunakan mobil oleh supir yang Arthur tawarkan setelah sebelumnya Amira menolak pergi bekerja bersama dengan Arthur, dan memilih pulang pergi memakai motor sama seperti dulu.
“Kalian bertiga biasa makan disini aja?, atau sering makan keluar?”,tanya Amira yang masih mencoba mengakrabkan diri.
“Oh, ya seringnya kita disini”, jawab Clara yang memang paling sering menjawab sapaan Amira di banding dua teman lainnya.
Namun Amira saat itu baru menyadari, ternyata benar-benar sangat sulit untuk dirinya bisa akrab dengan tiga rekan kerjanya itu, hal itu karena percakapan itu benar-benar menjadi percakapan terakhir di meja itu sampai piring mereka kosong. Bahkan Hadi dan Rudi yang Amira tahu biasa mengobrol berdua saat makan, mereka berdua diam menyumbang kesunyian lain.
“Pada mau nitip gak?, aku mau beli rokok nih ke minimarket sebrang”, Hadi terlihat sangat terburu-buru sesaat setelah dia menghabiskan makanannya.
“Oh, aku ikut ajalah”, Rudi berdiri dari duduknya dengan tangan yang memegangi piring kosongnya.
“Eh ya udah aku ikut, mau eskrim tapi mau milih rasanya”, Amira yang tak nyaman dengan kecanggungan itu bergegas ikut dengan Rudi dan Hadi.
“Hahaha, udah di bilang cara nongkrong mereka dengan kita itu beda kak, canggung banget tadi”, Hadi bergelaktawa sembari menyalakan rokoknya di pinggir jalan, tepat di depan mini market.
“Iya gitu ya, tapi kalau denger mereka ngobrol kayak sama aja”, Amira berpikir cukup keras sembari jongkok sambil menjilati es krimnya.
“Jangan di paksakan”, Rudi menepuk bahu Amira pelan menggunakan botol kopi yang dia pegang.
“Ya benar, aku menyerah”, Amira menjawab sambil mengangguk setuju.
“Oh iya, kakak dengar gak katanya Tya hilang”, Rudi tiba-tiba teringat apa yang terasa gatal untuk dia ceritakan kepada Amira sejak pagi tadi, tapi dirinya terus lupa karena pekerjaan yang menumpuk.
“Hah?”, Amira menengadah menatap Rudi yang menikmati kopi kemasan sambil berdiri.
“Mawar bilang keluarga TTy menghubungi dia, menanyakan apakah dia dan kenalannya yang lain tahu keberadaan Tya, ya jelas Mawar bilang kita pada tak tahu, karena kita juga tak ada yang bisa menghubungi dia untuk makan malam”, Ucap Rudi dengan serius.
“Udah lapor polisi?”, tanya Amira penasaran, sambil memutuskan berdiri agar dirinya bisa mendengar ucapan Rudi lebih jelas, sedangkan Hadi hanya mendengarkan sambil masih berjongkok di samping Amira.
“Katanya si udah, polisi curiga kasus penculikan”, jawab Rudi.