The Hell

The Hell
Hari pertunangan 2



“Baik bapak ibu sekalian, selanjutnya acara yang paling di nanti, yaitu prosesi tukar cincin”, tepuk tangan terdengar ringan menyambut ucapan dari pembawa acara. Amira dan Galih yang memang sudah berdiri di podium sejak awal acara berlangsung, sudah siap menunggu baki pengantar cincin.


Beberapa kali Amira melihat Arthur, memastikan bahwa Arthur masih duduk dengan tenang di barisan belakang.


“Ke marilah”, Galih tersenyum meminta lengan Amira. Amira yang memang sudah siap di posisinya membalas senyuman itu, dia berakting dengan cukup profesional.


Di satu titik Amira menatap ke arah ibu Galih yang memandang kearah Amira dan Galih yang sedang bergiliran memasangkan cincin ke satu sama lain dengan wajah penuh kebahagiaan, mata sayu dan cekung, kepala yang di tutupi kupluk tampak kosong, tubuh kurus keringnya memperlihatkan dengan jelas kondisinya saat itu.


“Baik sekarang giliran pihak perempuan yang memasangkan cincin ke jari pihak laki-laki”, suara pembawa acara itu menyusul tepuk tangan yang menyadarkan Amira kalau ternyata jari kelingkingnya sudah di lingkari cincin. Amira kemudian kembali fokus, mengambil cincin dari kotak cincin couple itu lalu memasangkannya di jari manis Galih. Seketika rasa bersalah menyeruak memenuhi perasaan dan pikiran Amira, merasa bersalah karena membohongi ibu Galih walau untuk kebaikannya, dan rasa bersalah kepada Arthur yang harus menyaksikan dirinya bersandiwara seperti itu. Namun ajaibnya Arthur hanya terdiam dengan posisi duduk yang tak banyak berubah, menyilangkan tangan menatap Amira lekat tanpa ekspresi. Mengingat betapa sulitnya Amira membujuk Arthur dengan susah payah untuk melanjutkan bantuannya kepada Galih.


Menjelang sore, Arthur duduk di kursi penumpang di mobilnya, sambil sibuk mengurus beberapa pekerjaan ringan melalui ponselnya.


“Kamu masih disini?”, suara Amira cukup terdengar bahkan saat suaranya teredam kaca mobil, Arthur menengok dan memberikan senyuman saat Amira membuka pintu mobil.


“Padahal aku sudah bilang pulang duluan saja, kamu menunggu di parkiran sampai tiga jam loh”, Amira menggelengkan kepalanya heran, karena Arthur bersikukuh menunggu Amira saat acara sudah selesai tiga jam yang lalu, namun Amira harus meneruskan beberapa obrolan bersama ibu Galih, yang merupakan penonton satu-satunya dari gelaran drama pertunangan yang di siapkan seluruh keluarganya itu.


“Tak masalah”, Arthur menjawab dengan suara tenang dengan bibir yang masih tersenyum simpul. Amira tersenyum memperhatikan Arthur yang sepertinya hampir kehabisan energi hari itu.


Mobil mulai melaju, perlahan meninggalkan parkiran, lalu mulai dengan lancar melaju di jalanan.


Suasana sunyi mencekik Amira, Arthur yang entah kenapa terasa menjadi sangat dingin membuat Amira tak bisa bernafas dengan tenang.


“Terimakasih”, Amira menggenggam tangan Arthur di tengah kesunyian, mengucapkan terimakasih dengan tangan yang mengelus halus punggung tangan Arthur.


“Ini menyebalkan”, Arthur menangkap jari manis Amira, menarik cincin yang melingkar di sana selama seharian tadi.


“Oh ya aku lupa”, Amira menahan tangan Arthur yang hampir melempar cincin itu, dan segera mengamankan cincin dengan memasukannya ke saku tas kecil yang dia teng-teng.


Arthur terdiam memperhatikan Amira dengan sudut matanya. Tak ada pembicaraan atau protes lain yang keluar dari mulutnya.


“Aku lelah”, Amira yang sudah berhasil mengamankan cincin itu kembali menggenggam tangan Arthur sembari menggeser tubuhnya sedikit lalu bersandar ke bahu Arthur.


“Aku tahu ini sulit, aku pun merasa akan kesulitan jika kamulah yang harus melakukan hal semacam ini, tapi bersabarlah sebentar lagi, hanya sampai satu bulan”, Amira berbicara dengan tenang, berharap Arthur akan mengatakan ‘ya, jangan khawatir’.


“Satu bulan?, bukankah kita sepakat hanya satu minggu?”, Arthur terperanjat hampir membuat Amira tersungkur karena sandarannya tiba-tiba bergerak.’Ah iya, Aku belum berbicara dengan Arthur tentang ini’, Amira berbicara dalam benaknya, dia lupa kalau dirinya belum sempat membicarakan hal itu kepada Arthur.


“Apa aku salah dengar?”, Arthur menatap tepat ke wajah Amira yang hampir menunduk dengan ekspresi merasa bersalah.


“Aku, maafkan aku Arthur, aku hanya takut ibu Galih akan memburuk jika rencananya tak berjalan dengan lancar”. Amira hampir menggigit bibirnya pelan, menahan rasa takut kalau saja Arthur akan bereaksi lebih buruk lagi, atau mungkin yang terburuk Arthur akan memukulnya?.


Amira menutup matanya dengan wajah yang menghadap ke bawah, tanpa sadar dia duduk hampir menepi tak lagi berdekatan dengar Arthur, namun sampai lewat satu menit, tak ada suara atau sentuhan apapun dari Arthur.


Amira melihat ke arah Arthur perlahan, mendapati Arthur hanya duduk bersandar sembari menutup matanya dengan alis yang mengkerut memperlihatkan seberapa tegang pikirannya.


Amira hanya terdiam tak berani membuka mulutnya lagi, bahkan selama perjalanan suara yang di keluarkan Arthur hanyalah suara membuang nafas dengan keras beberapa kali. Dalam suasana dingin itu Amira menyadari satu hal, Arthur tak pernah mengangkat tangannya ke arah Amira sekalipun, bahkan dalam kondisi apapun sejauh ini, namun Amira yang sudah terbiasa menghadapi sifat ayahnya sejak kecil, membuat dirinya refleks bersiap menahan sakit setiap kali menghadapi amarah lelaki.


Sudah seminggu berlalu, Sangat sulit untuk Amira bertemu dengan Arthur yang menghabiskan banyak waktunya di kantor, sekalinya bertemu, Arthur hanya terdiam dan menjawab singkat untuk pertanyaan basa-basi yang Amira ajukan.


Sejak saat itu, Amira sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit menjenguk dan bahkan menemani ibu Galih yang sedang dalam masa pemulihan dengan kondisi yang kian membaik, tak ada protes ataupun larangan dari Arthur, namun hal itu membuat Amira merasa tak enak hati, bahkan hanya untuk mengatakan permintaan maaf yang rasanya kian membasi.


Pagi itu Amira yang sudah duduk di ruang tengah rumah mendengar suara langkah kaki dari lorong arah kamar Arthur berada.


Amira melihat Arthur berjalan menggunakan jaket tebal .


Dalam beberapa saat Amira membuka mulutnya ragu, namun kemudian menutupnya kembali saat Arthur berjalan melewatinya tanpa berbicara apapun dan hanya mengelus kepala Amira pelan sebagai pengganti kata pamit. Cara pamit ini sudah Arthur gunakan selama tiga hari terakhir, sedang hari-hari sebelumnya setelah acara tunangan Arthur bahkan pergi bekerja di saat Amira berada di kamar.


“A..Arthur”, Amira memanggil Arthur disaat Arthur sudah hampir dekat dengan pintu yang akan membawanya ke jalan menuju garasi.


“Ya?”, Arthur memutar kepalanya melihat kearah Amira.


“Aku ada jadwal besuk siang ini”, Amira berbicara perlahan mengantisipasi respon seperti apa yang mungkin akan Arthur tunjukan.


“ya”, Arthur menjawab sambil tersenyum simpul, lalu kemudian kembali melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Amira yang mematung.


Amira terdiam, merasakan ada hal yang salah, ada hal yang terasa seperti mengganjal dengan sikap Arthur yang bersikap agak dingin namun tidak juga marah. Rasanya agak menyesakkan karena tak bisa membujuk Arthur karena Arthur tak melarang, ataupun tak bisa meminta maaf dengan benar karena Arthur memberikan respon dingin yang menyesakkan, seolah-olah dia tak peduli.


“Hahh, apa sih yang aku inginkan?”,Amira mengusap wajahnya, menyadari keegoisannya sendiri.