
“Hmmm”, Amira meregangkan tubuhnya ke segala arah. Sambil perlahan membuka matanya, Amira mulai merasa terganggu dengan cahaya silau yang mengintip diantara celah tirai.
“Oh!”, Amira yang menyadari kalau hari sudah pagi lalu bergegas turun dari kasur, keluar dari kamar dan membuka pintu kamar Arthur. Namun tak ada siapapun di sana, jelas sekali hari sudah terlanjur siang.
“Ini semua gara-gara aku minum obat tidur di teh itu!”, Amira merasa kesal karena tak ada satupun yang berjalan dengan baik. Mengingat semalam dirinya menunggu Arthur bangun, namun terlalu membosankan sampai akhirnya tertidur di kamar sampai kesiangan.
“Terserahlah”, Amira bergegas mencuci wajahnya, merapikan rambut seadanya lalu kembali ke pintu keluar yang semalam terkunci.
“Eh?”, Amira berusaha membuka pintu itu, namun tak berhasil.
“Yang benar saja, dia benar-benar mengunciku di sini?, kenapa?”, Amira merasa kesal sambil menendang pintu cukup keras.
“Haahhh”, Amira yang sudah merasa tak nyaman dengan pakaiannya dan tubuhnya yang belum mandi sejak kemarin memutuskan untuk menyambangi lemari yang ada di kamarnya, menerka kalau di sana pasti akan ada pakaian.
“Lah”, mulut Amira menganga saat menyadari beberapa baju yang ada di sana adalah baju miliknya. Bergegas Amira membuka semua pintu lemari yang terlihat tak senada dengan furnitur lain di rumah itu, dan itu membuat Amira kehabisan kata-kata. Ya semua pakaian miliknya ada di sana bercampur dengan baju-baju asing yang sepertinya masih baru.
Malam hari tiba, seharian Amira hanya duduk di depan televisi menonton beberapa film. Memakan beberapa makanan di kulkas,yang ternyata kulkas itu sudah di penuhi makanan baru.
“Trrkkk”, suara pintu terdengar perlahan di buka dari luar. Amira yang memang sudah bersiap di balik pintu berdiri sembari menahan nafasnya.
“Heuppp”, sekuat tenaga Amira menyeruduk ke celah pintu yang semakin melebar.
“Amira!”, Arthur yang kaget melingkarkan tangannya di perut Amira, menahan Amira yang hampir saja berhasil menuju tangga.
“Arthurrr!”, Amira berteriak keras dengan kesal saat menyadari kakinya tak lagi menapak, Arthur membopong Amira dengan mudahnya kembali ke dalam.
“Kamu apa-apaan sih?”, Amira memukul-mukul bahu Arthur yang baru saja menurunkannya sesudah mengunci pintu dan memasukan kunci itu ke saku celananya.
“Arthur!”, Amira kini benar-benar berteriak, itu karena Arthur malah melengos mengacuhkan kemarahan Amira.
“Ck!, bicara!”, Amira memotong jalan Arthur menuju kamarnya.
“Bicara apa?”, Arthur yang terlihat malas menghadapi Amira kini terpaksa melihat ke arah Amira yang berdiri menghalangi jalannya.
“Kenapa kamu mengurungku disini?”, Amira bertanya dengan penuh harap, sebenarnya dia berharap Arthur akan mengatakan hal itu karena Amira akan bertunangan. Dengan begitu Amira bisa mengatakan yang sebenarnya dan hubungan diantara mereka berdua mungkin bisa kembali.
“Aku tidak mengurung mu”, lagi dan lagi jawaban Arthur membuat Amira bingung harus membawa perbincangan itu ke arah mana.
“Lalu kenapa kamu menghalangiku keluar seperti tadi?”, Amira berpikir untuk ikut dalam pembicaraan Arthur untuk sementara waktu.
“Ini sudah malam, dan lagi semua barang-barang milikmu sudah ada di sini”, Arthur menatap Amira dengan tenang.
“kenapa barang-barang ku ada disini?, kenapa kamu melakukan hal menyebalkan seperti ini?”,Amira mengerutkan keningnya sambil mencengkram lengan baju Arthur yang terlihat hampir saja melengos masuk kedalam kamar.
“Kalau kamu masih menyukaiku bilang saja apa susahnya?”, Amira berbicara dengan sangat serius walau harus menahan rasa malu.
“Kamu bilang mau tunangan dengan orang lain?, lalu aku bisa apa?”, Arthur mulai menegangkan otot lehernya.
“Aku bohong”, Jawaban Amira itu membuat Arthur yang sedang berusaha untuk tak melihat langsung ke arah Amira langsung melihat ke arah sorot mata Amira yang terlihat serius.
“A.. aku berbohong hanya untuk memastikan perasaanmu saja, aku tak tau kamu akan bertindak berlebihan seperti ini”, Amira bergumam pelan.
“Ha..haha”, Arthur menutup matanya menggunakan salah satu tangannya sembari memijat area pelipis dan keningnya bergantian.
“It.. itu karena kamu terus bilang kita sudah berakhir, tapi kamu tak membiarkanku keluar dari perusahaan, itu benar-benar tak nyaman disaat aku harus bekerja sambil terus terpikir tentangmu bersamaan”, Amira yang menyadari kalau tangannya masih menggantung, mencengkram lengan baju Arthur, segera melepaskan cengkeramannya perlahan.
“Hanya saja tunggu sebentar, aku sedang bersiap”, Arthur berucap setelah hampir tiga puluh detik keheningan menyelimuti mereka berdua.
“Bersiap?”, Amira yang tak mengerti apa yang Arthur katakan mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah Arthur.
“Ya.. yah, perusahaan masih belum sepenuhnya stabil, kemungkinan terjadinya masalah masih sangat tinggi, aku hanya takut..”, Arthur terdiam beberapa saat, lalu mulai membuka mulutnya kembali saat menyadari tatapan Amira yang penuh dengan tanda tanya masih terus tertuju kepadanya.
“Aku takut kamu akan pergi lagi jika aku menarik mu dengan terburu-buru ke kehidupanku yang masih belum stabil”, Arthur memalingkan pandangannya dengan malu. Namun tak lama Arthur kembali melihat ke arah Amira karena kaget saat merasakan kerah bajunya di tarik.
Arthur membelalakkan matanya saat merasakan lembutnya bibir Amira menyentuh bibirnya.
“Kenapa kamu mempersulit dirimu sendiri?”, Amira yang mulai memejamkan mata, melingkarkan kedua lengannya di leher Arthur, membuat Arthur tak bisa mengangkat kepalanya karena terkunci oleh pelukan Amira. Namun walau begitu sepertinya Arthur tak berniat untuk mengangkat kepalanya dengan terburu-buru, karena dirinya mulai membuka mulut dan mulai membelai pelan rambut Amira dengan kedua tangannya.
“Kamu..”, Arthur menahan wajah Amira di dalam genggaman kedua tangannya, menatap wajah Amira dengan bibir yang sudah basah.
“Aku tak berniat membiarkanmu meninggalkanku lagi”, mata Arthur mulai memerah, menahan embunan Airmata yang tak bisa di kendalikan.
“Cobalah pikirkan..”, Amira menarik Arthur lebih dekat, sambil membisikan sisa kalimat yang hendak dia ucapkan.
“Aku tak pernah meninggalkanmu, selama ini aku tak pernah menolak kehadiranmu”, Amira menekankan ucapannya.
Arthur yang mendengar ucapan itu terdiam, mengingat kembali setiap kali dirinya menemui Amira ke kosnya, saat mabuk, saat terluka, saat berpura-pura menjadi pelanggan di tempat Amira bekerja.
“Benarkah?”, lengan Arthur mulai menggerayangi punggung Amira perlahan, sembari membenamkan wajahnya di leher Amira.
“Benarkah?”, Arthur kembali bertanya, sedang lengannya mengunci tubuh Amira dalam dekapannya.
“Ya, aku sebenarnya tak pernah berniat berpisah denganmu, aku selalu berpikir untuk kembali padamu di saat yang tepat”, Amira mengecup telinga Arthur pelan.
“Bahkan jika terjadi masalah di sekelilingku?”, Arthur menegakkan tubuhnya hingga Amira tak bisa menapakkan kakinya di lantai, dan dengan bergegas membawa Amira kearah ranjang di kamar yang memang sudah terbuka lebar.
“Kita bahkan bertemu karena sebuah masalah bukan? ”, Amira mengusap wajah Arthur yang menatapnya tepat di atas tubuhnya.
Arthur tersenyum lebar dengan mulut yang tertutup menahan tangis.
“Hei tak ada waktu untuk menangis.., aku menahan rindu kepadamu selama bertahun-tahun, dan ini sangat menyesakkan”, Amira berbicara dengan airmata yang berlinang melewati pelipisnya lalu terasa mengalir ke telinganya.
“Aku benar-benar merindukanmu, aku kira kamu serius tak ingin menerimaku lagi”, Amira hampir berteriak bersama dengan isak tangis, rasanya rasa cemas dan takut yang membayangi dirinya selama ini kini mulai pudar dengan cepat.
Tanpa berbicara apapun Arthur menutup mulut Amira dengan mulutnya, menjelajahi langit-langit mulut, gigi dan lidah Amira menggunakan lidahnya. Ciuman beruntun Arthur tujukan ke semua tempat di wajah dan leher Amira.
“Amira, jangan tinggalkan aku, aku tak punya siapapun”, Arthur terdengar terisak sembari terus menindih tubuh Amira, bergelayut kesana-kemari hingga tak sadar kapan mereka berdua melepaskan setiap benang yang menutupi tubuh mereka.
“Rasanya menyesakkan jika harus hidup tanpamu”, Arthur mendorong pinggulnya perlahan, memanggil erangan dari mulut Amira.
“Berjanjilah padaku, jangan meninggalkanku”, Arthur terus menuntut Amira di tengah Amira yang menahan mulutnya agar tak mengeluarkan suara.
Amira melebarkan kedua tangannya, lalu mendekap Arthur dan menariknya ke pelukan Amira.
“Aku tak akan kemana-mana, aku pun tak akan bisa hidup jika tanpamu”, Amira membisikan kalimat itu terengah-engah, sembari merasakan Arthur terus bergerak sambil menindihnya.
Malam yang terasa gila itu, membuat Arthur dan Amira terus mengucapkan aku tak bisa hidup tanpamu ke satu sama lain, walau sebenarnya bukan ucapan yang sebenarnya secara harfiah, namun itu nyata jika di lihat dari makna hidup mereka.