
Amira terlihat bercucuran keringat hari itu, tangannya terus bergantian memukuli samsak yang ada di depannya. Mencoba semaksimal mungkin mengaplikasikan apa yang di ajarkan Arthur selama dua bulan terakhir kepadanya.
“Aku sudah bilang berkali-kali, jika kamu memukul seperti itu, bukannya melumpuhkan lawan, kamu malah akan mencederai dirimu sendiri”. Arthur yang duduk tak jauh dari sana berkomentar tentang cara Amira berlatih.
“Lakukan seperti ini”, Arthur berdiri dari duduknya sambil memperagakan bagaimana gerakan yang menurutnya benar.
Sedangkan Amira mencoba beberapa kali menirunya, namu tetap salah di mata Arthur.
“Kemari!”, Arthur menarik lengan kanan Amira, dan mengaturnya pada posisi yang Arthur inginkan, seperti memainkan sebuah manekin.
“Ayunkan dengan bahumu, jangan terlalu fokus di kepalan mu”, Arthur menjelaskan kembali sembari memperagakannya kepada Amira.
Amira dengan serius mengikuti apa yang Arthur ajarkan, namun di banding membuat Arthur mengangguk, Amira malah membuat Arthur menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Haha, sudah cukup untuk hari ini. Ayo bersiap untuk pergi ke markas”. Arthur mengelus kepala amira sembari tertawa kecil.
Sejak Amira sembuh dari cederanya akibat di pukuli Angel dua bulan yang lalu, Amira setiap hari datang ke rumah Arthur untuk berlatih di sore hari, dan saat malam tiba Amira dan Arthur akan datang ke markas Under Hell bersama.
Entah bagaimana awal mulanya, namun kedekatan mereka berdua membuat tak ada yang berani macam-macam kepada Amira, bahkan Angel cenderung duduk di tempat yang berjauhan dengan Amira dan tak berani mendekati Amira, berbeda dengan saat Amira datang ke markas tersebut untuk pertama kalinya.
“Amira, tunggu disini sebentar”, pinta Arthur sembari menepuk bahu Amira. Amira hanya tersenyum sembari mengiyakan.
Amira menatap punggung Arthur yang lebar itu menjauh, sedang di dalam perut Amira kupu-kupu warna-warni beterbangan, sentuhan-sentuhan kecil Arthur kepada Amira selama ini, membuat Amira merasakan puncak musim semi yang mendebarkan setiap harinya.
“Yoooo, kapan kalian akan mengumumkannya?”, Seorang wanita dengan tampilan cukup berantakan terkekeh meledek Amira.
“A.. apa maksudmu?”, Amira bertanya sembari berusaha menyembunyikan tawa di bibirnya.
“Ayolah, semua orang juga tahu, jarang-jarang Arthur bersikap manis kepada perempuan, memangnya kamu tak bisa merasakan tatapan cemburu dari beberapa arah di sudut ruangan ini?”, wanita bernama Sinta itu berbisik lebih dekat ke telinga Amira.
“Apalagi dari sudut sana”, Sinta merangkul Amira, mengajaknya menatap ke arah sudut dimana Angel duduk di sana, dan memang saat itu Amira bertemu pandang dengan Angel yang sedang menatap sinis ke arahnya.
“Hentikan!”, Amira mendorong Sinta kembali duduk ke tempatnya.
“Kami tidak sedang dalam hubungan seperti itu”, Amira menjelaskan kepada Sinta.
“Hahaha, baiklah, baiklah..”, Sinta menyerah menggoda Amira, dan kemudian mencoba menyalakan rokok yang baru dia letakan di mulutnya.
Sinta beberapa kali menyesap rokok di tangannya, namun perhatiannya teralih ke Amira yang sedang membuka permen loli.
“Haha, kamu benar-benar tak bisa merokok?”, Sinta bertanya.
“Ya, aku sudah beberapa kali mencoba, tapi berujung tersedak asap rokok. Sepertinya merokok bukan untukku”. Jelas Amira sembari memasukan permen kedalam mulutnya.
“Hey”, Sinta mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Amira.
“Dari pada merokok kamu lebih suka permen kan?”, Sinta berbisik sembari melihat ke beberapa arah.
“Y.. ya”, Amira mengiyakan sembari tetap memperhatikan Sinta yang terus mengorek-ngorek tas genggam miliknya.
“Mau coba?, permen ini rasanya enak”, Sinta tersenyum lebar sembari meletakkan sebuah bungkus rokok ke pangkuan Amira.
Amira yang penasaran mencoba membuka bungkus rokok itu, dan melihat beberapa butir tablet obat di dalamnya.
Amira yang kaget menatap Sinta yang masih cengengesan kearahnya beberapa saat, dan kemudian kembali menatap obat di dalam bungkus rokok di tangannya.
“Kupikir ada batasan tertentu yang lebih cocok untukmu Amira”, suara Arthur mengagetkan Amira, membuat beberapa tablet keluar dari bungkus rokok yang dia pegang.
Arthur kemudian mengambil bungkus rokok dari tangan Amira, menatapnya beberapa saat, dan kemudian melemparnya pelan ke lantai.
“Kamu harus membereskannya bukan?, Nona Sinta?”, Arthur menatap ke arah Sinta sembari tersenyum lebar, yang alih-alih membuat Amira berdebar, hal itu lebih membuat Amira merinding. Ditengah rasa merinding itu Amira kaget karena Sinta tiba-tiba berjongkok sampai setengah merangkak mengumpulkan beberapa obat yang Amira jatuhkan sebelumnya.
“Si… Sinta?”, Amira yang melihat teman nongkrongnya bertingkah seperti itu, membuatnya reflek ikut berjongkok mencoba membantu Sinta mengumpulkan beberapa obat yang berhamburan.
“Amira, tanganmu akan kotor”, Arthur menarik lengan Amira, membuat Amira berdiri seketika di samping Arthur.
Malam itu amira mencoba menahan rahangnya agar tak bergerak, karena dorongan pertanyaan tentang bagaimana bisa Arthur memperlakukan temannya seperti itu, namun pertanyaan itu Amira telan dan hanya bisa menatap Arthur dengan tajam sepanjang malam.
Malam itu Amira menyadari kembali, markas Under Hell yang terasa mewah itu, lebih terasa seperti sebuah klub malam yang di tampilkan di film-film yang pernah dia tonton. Suara musik yang keras, orang-orang yang mabuk, bahkan ada orang yang membawa obat-obatan terlarang, bukankah itu terlalu jelas?.
Amira berjalan ke arah parkiran bersama Arthur, bau alkohol jelas menyengat dari tubuh Arthur, namun Arthur masih terlihat berjalan dengan cukup tegap, Amira melihat layar ponselnya, Minggu xx/xx/xx, 03:25 terpampang jelas di layar ponselnya.
Namun hal itu bukanlah hal aneh bagi Amira, karena hampir setiap hari Amira pulang di pagi hari dari markas.
Amira merebut kunci motor yang baru saja Arthur keluarkan dari saku jaketnya.
“Ada apa?”, Arthur bertanya menatap Amira.
“Biar aku saja”, Amira mendorong Arthur menjauh dari jok kemudi motor, dan kemudian naik ke atas motor dan bersusah payah mengeluarkan motor berat itu dari barisan motor yang terparkir.
“Ayo naik”, Amira menatap Arthur yang masih berdiri mematung, menatap Amira yang berusaha berjinjit agar bisa menyeimbangkan motor yang masih diam.
“Hahaha, ada apa tiba-tiba?”, Arthur terkekeh melihat tingkah Amira.
“Kamu mabuk bukan?, aku tak mau mati karena kecelakaan motor”, Amira berbicara dengan kepercayaan diri yang tinggi.
“Yah, mau bagaimana lagi, ucapanmu benar”, Arthur menaiki motor dan kemudian memeluk erat Amira dari belakang.
“Tu.. tunggu, jangan memelukku seperti ini”, Amira panik karena tak pernah membayangkan pelukan dari Arthur sebelumnya.
“Kamu tahu aku mabuk?, bagaimana kalau aku terjatuh di tengah perjalanan?”, Arthur malah mempererat pelukannya.
“Tunggu apa?, Cepat antar aku pulang”, Arthur menekan perut Amira perlahan.
Tak lama kemudian Amira mengendarai motor itu, keluar dari kawasan markas, dengan wajah merah seperti orang mabuk. Sedangkan Arthur yang merupakan orang yang benar-benar mabuk hanya tersenyum tipis, merasakan debaran jantung Amira yang begitu jelas tak beraturan.
“Tuan Arthur, kita sudah sampai”, Amira menepuk tangan Arthur yang masih memeluknya.
“Hahh.., kenapa begitu cepat?”, Arthur mengeluh.
“Ap..Apa?”, Amira yang masih sibuk dengan salah tingkahnya tak bisa mengendalikan ekspresinya.
“Baru jam empat, bukankah jadwal mu pulang itu jam 6 pagi?”, Arthur yang sudah turun dari motor melepaskan helem dari kepala Amira.
“Dan lagi hari ini hari minggu”, lanjut Arthur berucap.
Amira hanya terdiam menatap lekat ke wajah Arthur. Sedangkan Arthur fokus menstandarkan motor yang masih di tunggangi Amira, dengan standar dua.
“Kamu akan terus duduk di situ?”, Arthur mengecup pipi Amira lembut. Sebelum kemudian tersenyum manis tepat di depan wajah Amira.
Arthur berjalan meninggalkan Amira yang membeku kaget karena mendapatkan kecupan yang tiba-tiba.
Amira yang wajahnya sudah memerah padam saat itu, berjalan mengikuti langkah Arthur, dengan tangan kanannya yang setengah mengepal.
Hingga tiba tepat di ambang pintu kamar Arthur, Amira terdiam menghentikan langkahnya, pikirannya yang memang sudah kacau menjadi lebih kacau lagi.
“Amira?”, di dalam kamara Arthur tersenyum menatap Amira lekat.
Amira menyadari hal apa yang akan terjadi kedepannya, sebuah panggilan dari dosa baru yang akan lebih menjerumuskannya. Tapi seperti sejak awal dia memutuskan untuk tetap berada di The Hell, orang di hadapannya adalah satu-satunya alasan.
Amira perlahan berjalan menghampiri Arthur, menyambut uluran tangan Arthur seolah benar-benar terhipnotis, hali itu memperlebar senyuman tipis di bibir Arthur.
Satu kecupan, dua kecupan, bibir Arthur perlahan menjelajahi setiap sudut wajah Amira, sebelum kemudian ******* bibir Amira.
Suara deru nafas Amira mulai tersengal. Amira yang tak menyadari tubuhnya sudah tertarik ke atas pangkuan Arthur yang duduk di tepian kasur, mencoba mengumpulkan kewarasannya kembali. Namun sedikit kewarasan yang sudah susah payah Amira kumpulkan harus hancur dalam sekejap, saat Amira menyaksikan Arthur mengecup punggung tangannya sambil tersenyum manis.
“Kamu benar-benar indah Amira”, ucapan Arthur itu membuat Amira yang terlempar ke atas kasur tak bisa berkutik atau melawan, malah tanpa sadar Amira merangkul leher Arthur yang menciumi dan menghisap leher Amira dengan lembut.
Lenguhan manis Amira kala itu mengantar bulan yang sudah mulai pergi meninggalkan langit malam.