
“Galih apa yang sebenarnya terjadi?”, Tya yang datang dengan wajah panik menatap Galih yang wajahnya di banjiri airmata.
“Galih”, Tya mengguncang tubuh Galih yang seolah terpaku di tempat duduk itu, tangannya menggenggam erat tangan sang ibu yang baru saja di nyatakan meninggal.
“Bukankah kemarin bibi sudah stabil?”, Tya berbicara dengan tubuh yang bergetar,bibinya itu sudah seperti ibu bagi Tya yang sudah kehilangan ibunya sejak umur sepuluh tahun.
“Hey Galih berbicaralah!”, Emosi frustasi membeludak, membuat Tya mengeluarkan marah di mulutnya dan kesedihan di air matanya.
“Tya..”, Galih membuka mulutnya, menatap sepupunya itu. Namun dalam beberapa saat Galih terdiam dan hanya kembali menatap wajah ibunya yang mulai membiru.
“Kita tidak bisa apa-apa”, tiba-tiba galih bergumam dengan mata sembabnya menatap Tya.
Siang berganti sore, entah mengapa pengurusan jenazah ibu Galih cukup lama, Tya menunggu di sekitaran kawasan rumah sakit bersama beberapa keluarga, sedang keluarga yang lain mempersiapkan pemakaman dan mempersiapkan penyambutan mayat di rumah, di perkirakan jenazah bisa keluar dari rumah sakit sekitar jam tujuh malam. Karena satu dan lain hal, keluarga sepakat untuk mengubur jenazah esok di pagi hari.
Sedangkan Galih terlihat cukup sibuk dengan ekspresi dan mood yang berubah-ubah, beberapa kali Tya melihat Galih bersedih menelepon entah siapa dengan ekspresi marah di pojokan bangunan, beberapa kali terlihat melamun dengan tatapan kosong, dan beberapa kali tersenyum menyalami keluarga yang datang walau dengan senyuman lesu.
“Apa kita perlu menghubungi kak Amira secara langsung?”, Tya bertanya di tengah pengurusan jenazah, airmata yang meninggalkan jejak di sekitar kelopaknya membuat Tya merasakan kaku di kulit wajahnya. Galih yang memang tiba-tiba menjadi pendiam termenung hampir seolah tak mendengar pertanyaan dari saudaranya itu.
“Yah, lakukan sesukamu”, Galih mengalihkan matanya, lalu kemudian meninggalkan Tya di sana bersama beberapa keluarganya.
Tya merasa kalau Amira pun perlu tahu, karna bagaimanapun, Amira membantu keluarga mereka dalam beberapa hal. Tya mencoba menghubungi Amira, namun tak di angkat. Selang beberapa kali, Tya kembali mencoba menghubungi Amira, namun tak ada respon apapun. Akhirnya Tya memilih mengirimkan pesan singkat kepada Amira.
Hingga tengah malam di ruang tengah rumah Galih, jenazah ibu gali terbaring tenang di atas sebuah panggung yang memang di siapkan untuk hal itu. Tya duduk di salah satu sofa rumah, menatap tubuh bibinya yang kaku tertutup kain dari kejauhan, airmata tak bisa keluar karena rasanya kewajibannya kepada sang bibi belum tuntas.
Beberapa kali Tya menatap ponselnya, membuka sosial medianya berharap bisa lebih santai dari suasana yang cukup melelahkan psikisnya itu. Beberapa kali men scroll layar, menonton atau membaca postingan-postingan orang lain yang bergulir di aplikasi tersebut, Tya menyadari sebuah photo yang baru dua jam yang lalu di posting, tepatnya di 20.28 dan saat Tya melihatnya jam sudah menunjukan angka 22:53.
“Hmm?”, Tya termangu menatap photo yang di posting salah satu kolega perusahaannya. Photo yang menunjukan Arthur dan Amira yang duduk di podium yang mirip panggung pengantin berdua, photo itu sepertinya di jepret dari sisi meja undangan.
Setelah beberapakali di perhatikan dan membaca caption, bisa di pastikan itu adalah sebuah pernikahan, walau gaun dan dekorasinya terlihat lebih santai.
“Apa ini?”, Tya bertanya-tanya sambil mendengus. Rasanya cukup menyesakkan bahwa Amira sedang tersenyum di pernikahannya sedang dirinya sedang lesu sambil menemani jenazah orang terkasih.
“Ahh, memang tidak mungkin”, Tya baru teringat kalau dirinya baru di pecat dari UTH empat hari yang lalu karena identitasnya terungkap. Dengan hal itu Tya menyadari kalau tentu saja orang-orang UTH mungkin akan tak nyaman dengan kehadirannya.
“Hahh, tapi tetap saja”, Tya yang sebenarnya merasa sangat menyukai Amira sebagai teman dekat merasa kecewa karena Amira tak mengundangnya sama sekali.
‘tunggu kalau di ingat-ingat tiga hari terakhir Amira datang kerumah sakit dan bertingkah seperti biasa, seolah tak tahu kalau Tya sudah di pecat dari UTH dan merupakan pihak pesaing yang menyamar menjadi karyawan. Ada dua kemungkinan, Amira mungkin tak peduli dengan masalah itu, atau memang belum di beri tahu’, Tya mengerutkan keningnya.
Di tengah kecamuk pikirannya itu, Tya tiba-tiba terpaku pada pop up yang muncul, sebuah pesan dari Amira.
“Besok aku akan datang ke lokasi pemakaman, maafkan aku karena tak bisa membantu kalian malam ini, kalian harus tetap kuat dan sabar”, isi pesan dari Amira itu membuat Tya terdiam beberapa saat sebelum kemudian menekan kolom jawaban.
“Tya, dimana aku bisa membeli popok?, anakku buang air besar, dan ternyata popok yang sudah kusiapkan di rumah malah ketinggalan”, seorang sepupu lain yang tinggal di luar kota bertanya kepada Tya yang memang rumahnya tepat berada di samping rumah Galih.
“Oh, ayo aku antar”, Tya bergegas mengantar sepupunya itu, melupakan apa yang hendak dia ucapkan di ponselnya.
Hingga esok hari, pemakaman di lakukan, Amira hadir di pemakaman dan sepertinya tidak terlihat terganggu ataupun peduli dengan urusan politik bisnis suaminya, atau mungkin memang tidak di beritahu, atau mungkin dia di suruh untuk balik memata-matai.., hal itu adalah beberapa pikiran yang terbesit di benak Tya saat melihat Amira masih sama pedulinya kepada bibinya yang sudah terkubur di bawah tanah itu. Namun pemikiran singkat itu tak terlalu menyita perhatian Tya yang hari itu sibuk mengurusi beberapa hal.
Seusai pemakaman, beberapa keluarga besar Tya yang rumahnya masih terbilang dekat memilih pulang dan berniat akan kembali lagi di beberapa acara pengenangan, namun beberapa keluarga yang jauh seperti dari luar kota ataupun dari luar negeri memutuskan untuk menginap di rumah mendiang dan beberapa lain memilih menginap di hotel.
Di belakang rumah galih, terdapat sebuah taman, malam itu berbeda dengan suasana di dalam rumah yang cukup ramai karena kedatangan sanak saudara, taman di belakang rumah sangat sepi, hanya ada Galih yang duduk di sebuah kursi gantung yang terbuat dari besi. Beberapa keluarga lain yang mungkin membutuhkan udara segar, lebih memilih ke taman samping, itu karena di sana lebih terawat, berbeda dengan taman belakang yang terbengkalai dengan rerumputan jangkung yang mungkin saja di tinggali ular.
“Ya halo?”, Galih menempelkan ponselnya di telinga kanan. Dalam beberapa saat Galih terdiam mendengarkan suara yang keluar dari ponsel itu, orang yang menghubungi Galih itu sepertinya berbicara panjang lebar hampir seperti sesi kuliah online, sedang Galih hanya mengatakan ya, hmm, sambil sesekali mengetuk-ngetuk pinggiran kursi besi itu, hingga di beberapa saat, Galih mungkin akan mencium bau besi basah karena udara lembab malam itu.
“Ya, dialah yang mem***uh ibu, orang itu di suruh oleh pimpinan UTH..”, Galih berucap dengan suara tenang di tengah kesunyian.
“Blak”, tiba-tiba suara pintu yang perlahan tertutup terdengar oleh telinga Galih, dengan cepat Galih menengok ke belakang, dan Tya berdiri di belakangnya dengan wajah syok.
“Sejak kapan kamu..?”, Galih bertanya dengan wajah yang cemas. Sepertinya Tya memang sudah berada di belakangnya beberapa saat, itu karena jarak pintu dan posisinya cukup jauh, pintu yang di biarkan terbuka oleh Tya sepertinya tertiup angin dan membuat Galih baru menyadari kehadiran Tya di sana.