
Amira dan Tya terlihat berjalan-jalan di pinggir pantai, deburan ombak seolah meniupkan angin yang seolah bisa menerbangkan mereka berdua jika saja mereka lebih ringan. Namun di banding suasana khidmat, hari itu semua area di pantai dan juga resort sungguh terasa seperti pasar malam, ramai dan cukup bising. Tapi walau begitu suasananya tidak buruk, benar-benar terasa seperti liburan sekolah dulu.
“Waah, mereka langsung nyebur”, Tya terlihat kagum dengan semangat beberapa kelompok karyawan lain, yang langsung masuk kedalam air asin sejak pengumuman kegiatan bebas.
“Hahaha, mau ikutan?”, Amira bertanya.
“Gak ah, aku lapar, nyari makanan yuk kak”, Tya menarik lengan Amira dengan semangat, mereka berjalan ke arah tempat para pedagang makanan berjejer, asap-asap yang harumnya bisa mengaktifkan alarm perut membuat Tya dan Amira menelan ludah beberapa kali tanpa sadar.
“Karena kita jarang ke pantai, kita harus pastikan makan-makan seafood sampai puas”, Tya berbelok ke salah satu tenda pedagang yang terlihat menjajakan seafood segar, Tya mungkin lupa dirinya sedang menggenggam pergelangan tangan Amira, dan melangkah seenaknya di kerumunan orang-orang.
“Ukh!”, Amira yang sepertinya terombang-ambing di seret oleh Tya melenguh saat tak sengaja menabrak seseorang.
“Oh, maaf mbak”, beberapa orang terlihat terdiam saat menyadari anggota kelompoknya tak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
“Oh enggak, saya yang seharusnya minta maaf”, Amira menunduk-nunduk menatap wanita yang bertabrakan dengannya.
“Loh, Azka?”, Tya menatap lelaki yang berdiri di antara kelompok itu, Azka terlihat bungkam bahkan saat dirinya melihat Amira dan Tya di sana.
“Ohh, kalian dari manajemen pendukung?”, Amira tersenyum saat dirinya menyadari kehadiran Azka setelah mendengar Tya memanggil nama mantan rekan setimnya.
“iya kak, kalian dari tim perencanaan?”, lelaki yang dalam perjalanan bus tadi pagi duduk di samping Azka tersenyum ramah.
“iya hahaha”, Amira dan Tya menjawab sembari tersenyum.
“Baiklah selamat bersenang-senang”, Amira yang mulai merasakan kecanggungan melambaikan tangannya sembari mencoba mendorong Tya agar masuk perlahan ke tenda yang memang sedang mereka tuju.
“Iya kak, selamat bersenang-senang juga”, kelompok yang terdiri dari lima orang itu kembali melanjutkan perjalanannya. Tya menatap ke arah Azka yang terlihat tak seperti biasanya, setahu Tya biasanya Azka akan dengan semangat menyapa dan mendekati Amira di situasi apapun, bahkan awalnya Tya berpikir Azka akan terus membuntuti Amira di sepanjang kegiatan outing. Namun kala itu Azka terlihat seperti tak tertarik sama sekali, bahkan cenderung bersikap kurang ramah terhadap mantan rekan setimnya, yang dalam konteks ini adalah Tya dan Amira.
“Azka kenapa sih?”, Tya mengeluh dengan wajah di tekuk.
“Kenapa memangnya”, Amira bertanya sembari masih fokus pada daftar menu yang tertempel di meja yang mereka tempati.
“Dia gak jawab, bahkan gak senyum pas aku sapa tadi, bikin mood jelek aja”, Tya merungut.
“Hahaha, mungkin dia sedang badmood juga”, Amira tertawa seolah tak terlalu memperdulikan hal itu.
Tya terdiam menatap ke arah Amira beberapa saat, Tya yang mengenal Amira beberapa bulan terakhir itu terlihat bertanya-tanya mengenai sesuatu hal, namun memilih untuk tetap menutup mulutnya dan menyimpan rasa penasarannya itu.
“Eeheiii”, Rudi terlihat tertawa cerah saat melihat Amira dan Tya di dalam tenda yang memang sedang dia tuju. Sedang di belakangnya Ramlan dan Rasyik terlihat mengikuti.
“Wiiih, enak nih”, Rudi mengambil seekor kerang dari hamparan seafood yang sedang di nikmati Amira dan Tya.
“Hey!, pesan sendiri!”, Tya mengerutkan keningnya.
“Ya elah, kayak yang bakal abis aja!”, Rudi terkekeh melihat hamparan seafood yang cukup banyak itu.
Di tengah perdebatan antara Tya dan Rudi itu, Tya tiba-tiba terdiam saat melihat Azka tiba-tiba bergabung di meja itu, dan duduk di antara Amira dan Tya yang duduk berhadapan. Tya dan Amira menatap Azka beberapa saat, terutama Tya yang terlihat muak dengan kehadiran Azka.
“Haaah”, Azka tiba-tiba membuang nafas panjang.
“Hahaha, kenapa kamu dek?”, Amira tertawa melihat Azka yang tiba-tiba bertingkah seperti itu. Amira memang terkadang memanggil teman-teman setimnya saat magang, yang hampir semuanya berumur dua tahun di bawah Amira dengan panggilan dek.
“Kak punya obat mag gak?”, Azka dengan memelas menatap Amira.
“Hmm, Tya tuh bawa”, Amira mengangkat alisnya menunjuk ke arah Tya.
Azka melihat ke arah Tya dan kembali berbalik melihat ke arah Amira.
“Yah nanti aja”, Azka berdiri dan kemudian berpindah, duduk di samping Rudi dan berhadapan dengan Rasyik. Hari itu terasa sangat cepat, di sore hari Amira dan Tya dengan semangat bermain air. Mereka berdua cenderung asyik sendiri berenang ke sana kemari.
Amira yang kala itu sedang berenang di pinggiran pantai sambil mengusahakan dirinya tetap di pinggiran, tiba-tiba merasakan kram di salah satu betisnya, dengan cepat Amira berusaha keluar dari air dengan perasaan takut kram-nya akan menyebar atau semakin parah. Sebuah ombak yang tak terlalu besar mendorongnya ke pinggiran pantai, namun walau begitu air yang menepi itu kembali ke area laut dan menarik Amira hingga posisi Amira terlentang menghadap langit.
“Uh”, Amira melenguh pelan sebelum kepalanya terhanyut ke dalam Air, sialnya kini dia merasakan kram di kakinya yang lain, Amira berusaha tetap tenang dan menggerakkan kedua tangannya, Amira memukul-mukul air ke arah bawah, berharap kepalanya akan terangkat ke atas dan dirinya bisa teriak meminta tolong. Beberapa kali Amira bisa merasakan air ombak menyapunya dan menarik dirinya lagi dan lagi. Kini Amira menyadari tinggi air laut sudah melebihi tinggi badannya. Amira yang hampir kehabisan nafas itu dengan panik mencoba mengangkat-angkat tangannya ke atas permukaan air, namun tak berhasil, suara air meredam suara riang yang sejak tadi dia nikmati.
Memang terlalu cepat untuk menyimpulkan, namun Amira mulai berbicara pada dirinya sendiri, tentang apa mungkin hari itu adalah hari terakhirnya. Amira mulai kehilangan kesadarannya perlahan, tentu saja di tengah siksaan perihnya saluran pernafasannya yang tak sengaja menghirup air. Dan pada akhirnya Amira kehilangan kesadarannya.
Tiba-tiba Amira terperanjat melihat sekotak makanan menabrak pintu di hadapannya. Perasaan dejavu membuat Amira terdiam beberapa saat. Dia menatap lantai yang berlumuran makanan yang keluar berserakan dari boks yang terlempar itu.
Aah, Amira ingat, dia sedang berusaha pergi dan keluar dari rumah Arthur, Amira kemudian bergegas memegang gagang pintu itu dan membukanya, pintu yang di tarik ke arah dalam itu menyeret makanan dan boks di lantai. Namu perasaan aneh menjalar di pikiran Amira, dejavu lagi-lagi mengganggu Amira. Perasaan aneh itu membuat Amira berbalik menatap ke belakang kepalanya, dia melihat Arthur berdiri dengan mata yang tertuju ke arahnya. Arthur terlihat hancur dan rapuh dengan ekspresi wajah yang sangat menyedihkan.
“Ah tidak”, Amira tiba-tiba teringat dengan tujuannya dan berlari dengan sekuat tenaga ke luar rumah. Setiap langkahnya membuat Amira merasakan perasaan dejavu lagi dan lagi.
“Amira!, jika kamu melewati gerbang itu, maka semua di antara kita akan berakhir!”, teriakan Arthur itu membuat Amira terdiam, Amira berbalik dan menatap Arthur yang berlinangan air mata.
“Itu terdengar bagus..”, suara itu membuat Amira terkejut, dia melihat ke arah yang berlawanan dan melihat dirinya sendiri sedang berbicara tanpa melihat ke arah Arthur.
“walau sejak awal kita memang tak memiliki hal yang bisa di akhiri, tapi mengakhiri semuanya di antara kita itu sangat bagus”, ucap 'Amira' yang sedang Amira lihat itu dengan masih membelakangi Arthur.
Amira kemudian melihat ke arah Arthur berdiri, dan mendapati Arthur menahan tangisnya dengan mata yang memerah.
“Selamat tinggal”, suara Amira itu membuat Arthur semakin terlihat tersiksa. Amira menyaksikan tatapan Arthur terus mengikuti 'Amira yang lain', Amira yang pergi dari rumah itu. Tak lama Arthur terlihat berteriak-teriak dan membanting perabotan rumah. Penampilan Arthur saat itu adalah penampilan yang paling berantakan yang pernah Amira lihat.
“Apa harus sampai seperti itu kamu bereaksi karena aku meninggalkan rumahmu?, aku melakukannya karena berharap kamu sadar bahwa geng motor itu berpotensi menghancurkan dirimu”, Amira berdiri di samping Arthur yang sedang memeluk lututnya di pojokan ruang tamu, dengan kondisi perabotan yang berserakan dan berantakan.
Arthur sepertinya tak mendengar ucapan Amira, dan hanya terus menangis tersedu-sedu.
“Arthur kumohon jangan seperti ini”, Amira menyadari dirinya merasakan perih pada perasaannga saat menyaksikan kondisi Arthur itu.
“Arth!”, Amira tiba-tiba merasakan perih di kerongkongannya, pandangannya kabur, dan dia kesulitan bernafas, hingga tiba-tiba semuanya menjadi gelap.