
Danisha dan Iwan kini sudah berada di kamar pengantin mereka yang disediakan oleh Ghani namun tidak di Lor In, melainkan di hotel Alana yang dekat dengan tempat mereka menikah. Ghani dan Alexandra ingin memberikan privacy buat keduanya mengingat sepupu Danisha tidak dapat dijamin keakhlakannya.
Diam-diam tadi usai acara, Ghani meminta salah satu pengawalnya mengantarkan sepasang pengantin itu ke Alana tanpa sepengetahuan keluarga besar.
Iwan membawa koper dan duffle bag keduanya sedangkan Danisha memeriksa kamar yang diberikan papanya.
"Kayaknya papa belajar dari pengalaman deh!" kekeh Danisha.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Iwan yang sudah melepaskan jas dan tuxedonya. Kini dia hanya mengenakan kemeja putih yang sudah digulung lengannya ke siku dan celana panjang hitam.
"Papa tahu mas Bara jahil jadi tadi minta kita matiin ponsel kan?" kekeh Danisha.
"Iya sih" senyum Iwan yang bersandar di sofa. "Kamu mau mandi nggak?"
Danisha mengangguk gugup. "Aku bongkar tas dulu."
Iwan mengangguk. Pria itu lalu menyalakan tv dan duduk di sofa depan tempat tidur.
Danisha segera membuka koper Louis Vuitton nya dan mengambil sebuah bungkusan yang diberikan oleh sang mama.
Iwan melirik istrinya masuk ke kamar mandi dan dirinya pun membuka kopernya dan menyiapkan baju untuk mandi setelah Danisha.
***
Kristal dan Ashley sudah tiba di hotel Royal Heritage Solo. Raymond sendiri ikut mengungsikan putri dan suaminya mengingat keponakannya Durjana semua.
Kini Kristal dan Ashley sudah mandi dan berganti pakaian lalu memutuskan untuk makan malam yang disediakan oleh pihak hotel.
Sebuah lagu lawas milik Shayne Ward, sengaja dipilih oleh Ashley, mengalun di ruang VVIP itu.
"Shall we dance Mrs Sky?" ajak Ashley yang disambut oleh Kristal dengan senyum terkembang.
*Hey baby, when we are together, doing things that we love
Every time you're near I feel like I'm in heaven, feeling high
I don't want to let go, girl
I just need you to know girl
I don't wanna run away, baby you're the one I need tonight
No promises
Baby, now I need to hold you tight, I just wanna die in your arms
Here tonight*
Mata biru Ashley tak lepas memandang mata hijau Kristal.
"Love you, Lara" bisik Ashley.
"Love you too Ash" senyum Kristal.
Ashley lalu me****** bibir istrinya.
***
Danisha mencomot sandwich yang diberikan pihak hotel. Sebenarnya ada banyak makanan yang dikirimkan namun gadis itu merasa gugup jadi dia mengambil makanan yang simpel agar tangannya yang gemetar tidak menumpahkan sup atau nasi.
Gadis itu masih memakai kimono yang dibawanya dari rumah menutupi apa yang dipakainya sekarang. Tadi usai dia mandi, Iwan gantian masuk ke kamar mandi.
Mata coklat Danisha menatap nyalang ke arah kamar mandi dan jika dia tidak menetralisir degupan jantungnya, bisa-bisa dia dibawa ke UGD gegara serangan panik.
Suara pintu kamar mandi dibuka membuat Danisha membuka kimononya namun setelahnya matanya membelalak melihat pemandangan di hadapannya. Iwan hanya mengenakan handuk di bawah pinggangnya dan menunjukkan bentuk bodinya.
"Maaf aku...lupa bawa..." Iwan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena melihat istrinya duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah terkejut.
Danisha tampak seksih dengan lingerie brokat warna putih dan rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.
"Masyaallah" bisik Iwan. Istriku cantik sekali.
Seperti terkena magnet, Iwan menghampiri Danisha yang masih posisi terkesima dengan tubuh suaminya. Ini kali pertama Danisha melihat tubuh pria lain selain papa Ghani, mas Bara dan para sepupu pria durjananya. Danisha sudah biasa melihat tubuh paripurna para sepupunya tapi tubuh Iwan yang tidak seperti Arjuna dan Levi yang benar-benar terbentuk sempurna roti sobeknya, terasa berdesir dan yang penting adalah miliknya.
Iwan berlutut di hadapan istrinya. "Kamu cantik sekali, Nisha" bisik Iwan parau.
"Terimakasih" balas Danisha pelan.
"Damn it! Aku... Bolehkah Nisha?" tanya Iwan. Semenjak melihat istrinya tadi selesai ijab qobul dan resepsi, Iwan sudah gemas ingin mencium bibir Danisha.
Danisha pun mengangguk. Iwan lalu mencium bibir istrinya agak sedikit kaku karena ini adalah ciuman pertama keduanya namun insting keduanya ciuman itu pun berubah menjadi lu*matan dan entah siapa yang mengajari, Iwan melepaskan lingerie cantik itu dan tubuh mulus dan polos istrinya pun terpampang di hadapannya.
Masyaallah. Iwan pun mulai bergerilya dengan bibir dan tangannya, Danisha pun tidak mau kalah. Handuk yang melilit pinggang Iwan dilepaskannya dan tampak milik Iwan sudah ready. Wajah gadis itu memerah.
"Astaga" bisiknya tanpa sadar.
"Kirain masih pakai boxer ternyata ... " wajah Danisha semakin memerah.
"Kan tadi aku mau bilang lupa... " cengir Iwan. "May I?"
Danisha menatap wajah suaminya. "Yes."
Iwan melepaskan pelindung terakhir Danisha dan mulai memasukkan miliknya. Istrinya menjerit pelan ketika sesuatu di dalamnya ditembus oleh milik Iwan.
"Maaf sayang, maaf" bisik Iwan di sisi wajah Danisha.
"Tidak apa-apa" ucap Danisha dengan nada tercekat. Iwan pun mulai bergerak diatas tubuh istrinya. Gerakan yang semula pelan semakin lama semakin cepat dan suara de*Sahan keduanya pun terdengar di dalam kamar mereka.
Entah berapa lama keduanya menikmati surga dunia hingga keduanya sama-sama mendapatkan klimaksnya. Iwan pun ambruk diatas tubuh Danisha yang keduanya sama-sama penuh peluh. Nafas keduanya masih memburu tapi tetap menciumi pipi dan bibir istrinya.
"Terimakasih, Nisha" ucap Iwan penuh perasaan.
Danisha tersenyum. "Suka mas?"
"Banget!" jawab Iwan tanpa malu. "Ternyata begini rasanya... Whoah!"
Danisha mengalungkan tangannya ke leher suaminya lalu mencium lembut bibir Iwan.
"Mas..."
"Ya?"
"Minggir dulu, aku mau pipis."
Iwan pun menggulingkan tubuhnya ke samping Danisha dan istrinya pun bangun pelan namun rasa nyeri terasa di bagian in*timnya.
"Ya Allah, perih" desisnya.
Iwan pun mengambil handuknya untuk menutupi tubuh bawahnya lalu turun dari tempat tidur membantu istrinya untuk ke kamar mandi.
"Mau digendong?" tawar Iwan namun dijawab gelengan oleh Danisha.
"Nggak usah, pegangin tanganku saja." Iwan mengantarkan istrinya ke kamar mandi dan Danisha menutup pintu.
Tak lama terdengar suara teriakan Danisha.
"Adduuhhh, periiihhh!"
Iwan merasa bersalah. "Maaf sayaaaangg!" balasnya.
***
Kristal dan Ashley pun baru saja memadu kasih dan Ashley benar-benar surprised bahwa istri cantiknya masih tersegel dan baginya ini benar-benar hadiah tak ternilai.
"Kan aku sudah bilang aku masih bersegel!" omel Kristal ketika Ashley berulang kali mengucapkan maaf dan terimakasih.
"Iya Darling. Maafkan aku kalau tadi agak kasar" bisik Ashley.
"Kamu kan emang suka gitu!" cebik Kristal.
"Apa itu?"
"Seenaknya!"
"Tapi enak kan?" kerling Ashley.
Wajah Kristal memerah. "Enak sih."
Ashley tertawa. "Mau lagi?" godanya. "Supaya jadi junior disini." Ashley mengusap perut rata Kristal.
"Nanti dulu. Masih nggak nyaman ini."
Ashley memeluk tubuh istrinya. "Aku akan resign dari perusahaan Arjuna." Kristal memandang suaminya terkejut.
"Kenapa?"
"Aku akan ikut ke New York bersamamu dan aku juga sudah mendapatkan tawaran kerja dari Kaia di perusahaan Giandra Otomotif Co."
Kristal tersenyum lebar. "Alhamdulillah."
"Love you Lara."
"Love you too Ash."
***
Cerita Kristal dan Ashley selesai disini Yaaaa.
Danisha dan Iwan pun juga akan segera selesai, begitu juga Arjuna. Nanti Eike launching Bara setelahnya.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️