The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Restu Ibu



Danisha dan Iwan sudah sampai di rumah Al Jordan di Solo Baru sekitar jam setengah sepuluh malam. Danisha mengajak Iwan masuk ke dalam rumah namun Iwan ragu kalau kedua orang tua Danisha masih bangun.


"Assalamualaikum" sapa Danisha dan Iwan.


"Wa'alaikum salam" balas Ghani dan Bara yang ternyata masih terjaga sambil bermain catur. Danisha mencium pipi Ghani dan Bara bergantian dan melirik raja sang papa sudah posisi kejepit.


"Bentar lagi papa kalah skak tuh ma mas Bara" goda Danisha.


"You're not helping princess!" sungut Ghani yang membuat Bara terbahak.


Tiba-tiba Iwan memberanikan diri berbisik ke Ghani dan wajah pria paruh baya itu langsung sumringah. Ghani pun memindahkan rajanya hingga masih selamat.


"Wan, lu tuh! Jangan dikasih tahu!" omel Bara kesal.


"Ini namanya calon mantu yang bener!" kekeh Ghani bahagia bisa membalikkan situasi.


Wajah Iwan merona dibilang 'calon mantu' oleh Ghani.


"Dah kalian di depan sana! Aku mo kalahin papa jadi pending kan!" Wajah Bara pun manyun.


Danisha pun menarik tangan Iwan. "Yuk mas, biarin aja mas Bara sama papa ribut."


Iwan pun menurut maunya Danisha dan keduanya kini duduk di teras.


"Non Danisha mau wedang jahe? Tadi nyonya bikin soalnya" tawar bik Yati ketika keduanya di teras.


"Ada camilan apa bik?" tanya Danisha.


"Tadi tuan besar belikan putu banyak soalnya non Danisha suka banget putu kan?"


"Sip bik. Bawa saja semuanya" cengir Danisha dan bik Yati pun masuk ke dalam rumah.


"Gimana setelah ketemu ibu?" tanya Iwan.


"Alhamdulillah menyenangkan" senyum Danisha. "Bu Kinanti orang yang bijaksana dan aku paham kenapa ibumu agak takut perbedaan kita jadi masalah. Padahal aku tidak mempermasalahkan itu."


"Karena ibu kan baru lihat kamu sekali, mungkin kalau akan sering ketemu akan berbeda pandangannya." Iwan menatap Danisha dengan sayang.


"Intermezzo, wedang jahe dan kue putu datang" seru bik Yati dengan tanpa dosa mengganggu pasangan itu.



"Makasih bik" ucap Danisha.


"Terimakasih bik" ucap Iwan.


Danisha sendiri langsung memasukkan kue putu itu ke dalam mulutnya. "Enaknyaaaaa! Inilah kenapa aku nggak mau pulang ke New York!"


Iwan hanya tersenyum melihat wajah Danisha lalu memakan kue Putunya.


Terdengar suara ribut-ribut di dalam antara Ghani dan Bara soal langkah catur.


"Sayang, itu pak Ghani sama mas Bara..." ucap Iwan tanpa sadar membuat Danisha tersedak kue putu dan terbatuk-batuk.


"Kamu kenapa Nisha?" lalu menepuk punggung Danisha pelan.


"Mas tadi panggil aku ... apa?" tanya Danisha serak.


Iwan memerah wajahnya. "Maaf kalau panggil kamu 'sayang' bikin kamu kaget" bisiknya.


"Nggak papa kok, cuma kaget ajah" senyum Danisha.


"Dik!" panggil Bara ke Danisha. "Kasih tahu papa tuh! Super ngeyel!"


Danisha tertawa. Ghani dan Bara memang suka ribut nggak jelas jadi dia harus yang menengahi.


"Aku masuk dulu ya mas" pamit Danisha yang dijawab bersamaan oleh kedua pria itu.


***


"So, gimana tadi ketemu sama ibu kamu?" tanya Bara ke Iwan tanpa basa-basi.



"Alhamdulillah lancar meski ibu agak kaget tahu siapa Nisha."


"Wajar karena adikku itu sering membuat orang salah sangka. Wajahnya seperti tipe perempuan yang tidak bisa diajak hidup sederhana padahal dia terbiasa dididik mama dan Necan begitu."


Iwan mengangguk. "Saya tahu ketika Nisha dengan cueknya naik ke Vespa saya dan mengajak makan wedhangan bahkan selalu suka makanan yang saya bawakan untuk makan siang meskipun sederhana."


Bara terbahak. "Adikku itu pecinta semua makanan. Dalam kamusnya cuma tiga, enak, enak sekali sama nggak enak!"


Iwan tersenyum. Memang sih.


"Aku harap kamu juga harus bersabar menghadapi Nisha. Tahu sendiri kan anak bontot, cewek sendiri meskipun orang tua kami tidak memanjakan kami tapi kadang-kadang dia keras kepala" ucap Bara.


Iwan mengangguk.


"Mas Bara, dipanggil papa" suara Danisha membuat Bara menoleh ke adiknya yang cantik.


"Jangan lebih dari jam sebelas ya" pesan Bara ke Danisha dan Iwan.


***


"Besok mau dibawain apa?" tanya Iwan sambil membawa helmnya tapi belum memakainya.


"Bawain apa?" tanya Danisha bingung.


"Kamu mau dibawain sarapan apa?"


Danisha menggeleng sambil tersenyum. "Nggak usah, papa mengajak makan di soto gading."


Iwan mengangguk. "Kabari kalau sudah pulang ya."


Danisha mengangguk. Tiba-tiba Iwan merengkuh wajah Danisha dan memberikan ciuman di kening gadis itu.


"Selamat malam, bobok yang nyenyak. Assalamualaikum." Iwan memakai helmnya dan menjalankan Vespanya keluar halaman rumah Al Jordan.


"Wa'alaikum salam" bisik Danisha sambil memegang keningnya.


***


Pagi ini keluarga Giandra sarapan di soto gading yang terletak di daerah Joyosuran Solo. Ghani dan Bara langsung semangat untuk makan salah satu soto legend di Solo.



Alexandra yang jarang ke Solo hanya bingung harus memilih lauk tambahannya apa.


"Mama kenapa?" tanya Danisha geli melihat mamanya celingukan.


"Kayaknya enak semua bikin Mama bingung" kekeh Alexandra.


"Ambil saja satu-satu, Lexa. Cicip semuanya daripada bingung" kekeh Ghani.


Alexandra pun mengambil satu-satu lauk yang ada dan wajahnya senang karena rasanya enak semua. "Waduh princess, mama bisa gendut ini kalau di Solo" gelak dokter cantik itu.


"Nggak usah mikir diet ma. Nikmati saja" senyum Danisha.


Alexandra mendelik ketika melihat Ghani dan Bara habis dua mangkok masing-masing.


"Mas Daniswara, ingat tensi dong ah!" gerutu Alexandra.


"Lha baru juga nikmati, dah diomeli Bu Dokter" sungut Ghani sambil manyun.


"Habis ini nyekar yuk. Nyekar eyang buyut, Eyang Andra dan Eyang Marisa. Sekalian lihat rumah eyang buyut" ajak Bara.


"Boleh! Mumpung disini. Nanti papa dan mama ke Jakarta, nyempatin nyekar ke Ogan Abi dan Necan Dara" sahut Ghani.


***


Bu Kinanti melihat Iwan sedang mencuci Vespanya dengan wajah bahagia sambil bersenandung. Semalam dia bisa mencium kening Danisha itu sesuatu banget.


"Wan, ibu mau bicara sebentar boleh?" tanya Bu Kinanti sambil duduk di kursi teras dekat Iwan.


Iwan mematikan selang dan mengeringkan tangannya lalu duduk di sebelah ibunya.


"Ibu mau bicara apa?" tanya Iwan yang melihat wajah ibunya serius.


"Kamu serius dengan nak Nisha?"


Iwan mengangguk. "Serius sekali malahan Bu."


"Kalau kamu memang serius, lamarlah nak."


Iwan melongo. "Me.. melamar Nisha?"


"Nak, Solo itu kota kecil. Hubunganmu dengan nak Nisha pasti akan cepat tersebar dan menurut ibu, alangkah baiknya jika kalian tidak usah pacaran apalagi kedua orang tua Nisha juga sudah merestui."


"Ibu setuju aku sama Nisha?" ucap Iwan tidak percaya.


"Memang kamu saja yang minta petunjuk dari sang Pencipta?" kerling ibunya.


"Alhamdulillah. Mumpung pak Ghani dan Bu Alexandra masih ada di Solo! Nanti sore kita kesana ya Bu."


"Memang kamu sudah ada cincinnya?" goda Bu Kinanti.


Iwan menepuk dahinya. "Ibu sih mendadak!"


Bu Kinanti tertawa.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Maaf kalau agak lama coz tangan pegal bis vaksin ketiga.


Tetap berusaha up.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️