
Usai Asen pergi, Ghani lalu memeluk putrinya dengan hangat. Alexandra sendiri menghampiri Iwan yang tampak gugup bertemu dengan kedua orang tua Danisha.
"Nak Iwan, ayo duduk sini bersama kami" ajak Alexandra ramah.
"Baik nyonya Giandra" jawab Iwan sopan yang mengikuti Alexandra ke area dalam restauran.
"Yanti, apa kabar?" sapa Alexandra ke sekretaris putrinya.
"Alhamdulillah baik Mrs Giandra" jawab Yanti dengan wajah ceria. Yanti hanya bisa tersenyum dengan keluarga inti Danisha tapi tidak dengan yang lain.
"Terimakasih ya sudah menjaga Nisha" Alexandra merangkul Yanti hangat.
"Sudah menjadi tugas saya, Mrs Giandra."
Ghani yang melihat Iwan secara langsung pun hanya menatap datar ke arah pria itu.
"Pa, ini Iwan Aradhana. Pak Iwan, ini kedua orang tua saya" Danisha memperkenalkan Iwan kepada Ghani dan Alexandra.
"Selamat datang di Solo, Mr Giandra" Iwan mengulurkan tangannya yang disambut oleh Ghani dengan dingin. Danisha yang melihat papanya mulai kumat sok coolnya hanya bisa memutar matanya dengan malas.
"Selamat datang Mrs Giandra" sapa Iwan ke Alexandra.
"Senang bertemu denganmu, nak Iwan" senyum Alexandra yang membuat Danisha melotot ke arah mamanya. Nak? Oh come on mama!
"Ayo duduk!" perintah Ghani dan kelimanya duduk di meja restauran yang berbentuk bulat.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Alexandra. "Terserah lho, kami sih ikut saja."
Yanti dan Iwan hanya saling berpandangan. Masa kita pesan seenaknya sendiri ya?
"Sudah, pesan saja. Papa mau dimsum?" tawar Danisha ke Ghani.
"Boleh. Kamu tahu kan kesukaan papa" ucap Ghani lembut. Posisi duduk mereka adalah Yanti-Alexandra-Ghani-Danisha-Iwan.
Iwan melihat interaksi Ghani dan Danisha bisa tahu bahwa keduanya sangat dekat, tak heran jika Danisha mengatakan bahwa papanya tidak pernah membentaknya seumur hidupnya.
Setelah memesan beberapa makanan, Ghani mencondongkan tubuhnya ke arah Iwan.
"So, ini yang namanya Iwan Aradhana. Apa yang kamu lakukan di Diamond? Apa kamu mengikuti putri saya?" tanya Ghani dengan mode dingin. Alexandra hanya mendelik ke arah suaminya. Permainan apa lagi yang kamu lakukan, mas Daniswara.
"Pa, sini bukan ruang interogasi NYPD" bisik Danisha ke Ghani yang tidak enak melihat Iwan diintimidasi oleh papanya. Ghani hanya memberikan kode dengan jari telunjuknya agar Danisha tidak ikut campur. Mulai deh si papa nih!
"Sebelumnya saya minta maaf Mr Giandra kalau saya memang mengikuti Bu Danisha" jawab Iwan jujur. Ghani menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa?" tanya Ghani.
"Saya tidak tahu kenapa tapi tadi melihat Bu Danisha pergi dengan mbak Yanti, saya ada perasaan tidak enak jadi saya membuntuti mobil Bu Danisha." Iwan menatap Ghani. "Dan ternyata feeling saya benar. Bu Danisha memang hendak diganggu oleh pria Turki itu."
"Apa kamu tadi akan menolong putriku jika kami tidak datang?" tanya Ghani.
"Betul Mr Giandra meskipun ilmu beladiri saya tidak seberapa dibandingkan dengan Bu Danisha tapi saya tidak rela dunia akhirat ada orang yang berani mencelakakan Bu Danisha."
Ghani melirik ke arah Danisha yang masih termangu mendengar ucapan Iwan.
"Apakah kamu tahu kalau Nisha membawa Glock nya" seringai Ghani ke arah Iwan.
"Saya tidak terkejut jika Bu Danisha membawa Glocknya tapi tangan Bu Danisha sebaiknya tidak sampai digunakan untuk menembak orang seperti Asen Alibek. Terlalu berharga" jawab Iwan lugas.
Ghani tersenyum smirk. "Nice argument, Iwan Aradhana."
Pesanan mereka pun datang dan menghentikan sementara acara interogasi Ghani ke Iwan.
"Papa dan mama nanti ke rumah 3M. Kamu kembali ke kantor kan Nisha?" tanya Ghani ke putrinya.
"Iya pa, masih banyak pekerjaan. Aku dan Yanti harus mempelajari annual kontrak para klien yang lama."
"Dan kamu" Ghani menunjuk Iwan dengan sendoknya "Datang ke rumah Solo Baru nanti malam jam tujuh! Jangan telat satu menit pun!"
Iwan menatap Ghani dengan hormat. "Baik Mr Giandra."
***
"Mas Daniswara tuh kalau kumat usilnya" cebik Alexandra sambil memukul pelan bahu suaminya.
"Tapi hebat lho Iwan, berani menatapku seperti itu" kekeh Ghani.
"Kayaknya dia sungguh-sungguh mencintai Nisha" senyum Alexandra. "Apa kamu lihat perubahan tatapan matanya? Menatap mas itu tatapan berani seperti 'i love and want your daughter no matter what is your opinion' tapi melihat Nisha itu tatapan lembut dan penuh cinta."
"Menurut mu apakah kita perlu lakukan uji nyali lagi?" Ghani mengerling jahil ke Alexandra.
"Bilang saja mas Daniswara nggak rela anak gadisnya ada yang suka dan kemungkinan bakalan membawanya pergi!"
"Memaaanngg!" ucap Ghani dramatis.
"Ya Allah mas, drama bangets!"
***
Iwan memutuskan ke gedung AJ Corp sebelum kembali ke rumah produksi guna menjelaskan lebih lanjut tentang kelakuan dia tadi.
Sesampainya di lantai tempat ruangan Danisha, Iwan melihat Yanti masih sibuk membaca banyak berkas.
"Mbak Yanti, Bu Danisha ada?"
Yanti mendongak dan tersenyum tipis yang jarang dilihat orang. "Ternyata benar dugaanku kalau mas Iwan suka dengan Bu Danisha."
"Kelihatan kah?" cicit Iwan.
"Hhhmmm nggak terlalu sih, caramu halus soalnya" kekeh Yanti. Sejujurnya dia lebih suka Iwan lebih terbuka dengan Danisha tapi Yanti juga paham bahwa posisi Iwan dan Danisha yang berbeda di struktur perusahaan.
Yanti pun menelpon Danisha yang mempersilahkan Iwan masuk.
"Good luck buat nanti malam ketemu Camer" goda Yanti sambil mengedipkan sebelah matanya. Iwan melongo melihat sisi ceria dari Yanti. Rupanya bertemu dengan kedua orang tua Danisha membuatnya good mood.
Iwan mengetuk pintu ruang kerja Danisha dan membuka pintunya. Danisha menatap Iwan dengan senyuman tipis. "Masuk pak Iwan."
***
Sekali lagi keheningan tercipta di ruangan Danisha karena baik gadis itu dan Iwan sama-sama tidak ada yang membuka suara.
"Bu Danisha" suara Iwan akhirnya keluar setelah keduanya terdiam hampir sepuluh menit. "Maafkan saya jika tadi saya menguntit ibu. Karena jujur perasaan saya tidak enak tadi."
Danisha menatap lekat ke Iwan. "Kan tadi pak Iwan sudah menjelaskan ke papa."
"Tapi saya merasa bahwa saya harus mengatakan kepada Bu Danisha sendiri."
Danisha tersenyum. "Sekarang sudah pukul empat sore dan sebentar lagi jam pulang kantor. Saya minta pak Iwan jangan sampai telat datang ke rumah, karena papa tidak pernah bisa menolerir orang yang tidak on time."
Iwan tersenyum tipis. "Baik Bu Danisha." Iwan pun berdiri. "Sampai ketemu nanti..." Sayang.
"Sampai ketemu nanti." Mas. Danisha menatap Iwan yang berjalan keluar dari ruangannya.
Ya Allah, jantung ku ... Mama, Tolooonnggg Nisha.
Wajah Danisha memerah karena gugup.
Kok aku yang gemetaran dan gugup ya kebayang papa pasti bikin ulah! Haddeehhh... Dasar detektif!
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Semoga hari ini bisa crazy up lagi.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️