The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Menguntit



Alexandra membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya, Ghani Giandra. Pria cool yang sudah menikah dengannya hampir 30 tahun itu masih tampak tampan meskipun hampir memasuki usia 60 tahun.


"Mas Daniswara" panggil Alexandra ke arah suaminya yang sedang membaca novel John Grissam.



"Apa Lexa?" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari novel itu.


"Danisha ditaksir tiga orang pria" jawab Alexandra.


Ghani langsung menutup bukunya sebelumnya memberikan pembatas buku.


"Ditaksir siapa?" tanya Ghani langsung posisi siaga.


Alexandra menceritakan semua apa yang diceritakan oleh putri cantiknya. Wajah Ghani mengeras ketika mendengar tentang Asen Alibek, terkejut ketika mendengar nama Ezra Hamilton dan melembut mendengar nama Iwan Aradhana.


"Danisha suka sama Iwan kan?" tebak Ghani.


"Tampaknya begitu mas. Apa mas nggak papa misal jodoh Nisha hanya pria biasa?" tanya Alexandra.


"Memang sejak kapan aku meributkan pasangan Nisha? Aku hanya menginginkan pasangan yang mencintai anak-anak dengan setulus hati, baik itu untuk Bara maupun Nisha."


"Iwan Aradhana anak yatim mas, dari keluarga sederhana lho."


"So? Apa dia punya catatan kriminal? Tidak kan? Selama dia mencintai Nisha sepenuh hati, melindungi, menyayangi dan tidak berani melukai putriku, aku bisa menerimanya."


Alexandra tersenyum. "Aku bilang pada Nisha untuk banyak berdoa di sepertiga malam tiga hari terakhir ini karena jawabannya akan ada disana."


"Langkah Nisha benar itu, sayang. Jika ada waktu, kita ke Solo untuk bertemu dengan Iwan." Ghani menatap Alexandra serius.


"Lalu bagaimana dengan Ezra dan Asen?"


"Jika Ezra datang untuk meminta Nisha, aku akan mengatakan semua keputusan di tangan Nisha. Jika Asen berani macam-macam dengan Nisha, aku sendiri yang akan menghajarnya."


***


Dua Hari' Kemudian...


Danisha menatap email dari Asen yang memintanya bertemu di restauran Diamond untuk makan siang hari ini. Sebenarnya dia ragu-ragu namun Danisha merasa harus segera menyelesaikan permasalahannya.


Diam-diam dia membawa Glock nya meskipun seharusnya tidak perlu namun dia merasa harus membawanya. Sepertinya aku harus membawa Yanti deh!


Danisha keluar dari ruangannya dan tampak Yanti sedang bersiap untuk makan siang.


"Yanti" panggil Danisha.


"Ya Bu?"


"Ayo ikut saya ke Diamond."


Yanti hanya mengangguk patuh apalagi ke Diamond restauran Chinese food yang terkenal enak.


***


Iwan melihat bossnya dan Yanti menuju mobil Range Rover Evoque Putih itu dan tak lama mobil itu meninggalkan halaman kantor AJ Corp. Entah kenapa Iwan ingin mengikuti mobil Danisha padahal dia sebelumnya tidak pernah melakukan hal ini.


Iwan mengambil jarak dan melihat mobil itu berputar untuk menuju restoran Diamond. Iwan menghentikan Vespanya agak menjauh dari lokasi parkir mobil Danisha. Setelah Danisha dan Yanti masuk, Iwan kemudian memarkirkan Vespanya di tempat parkir motor.


Pria itu kemudian masuk melalui Fashion Village yang aksesnya bisa langsung ke dalam restoran Diamond. Dilihatnya Danisha dan Yanti duduk berhadapan dengan Asen Alibek.


Mau apa pria Turki itu?


Pelan Iwan mencari tempat duduk yang tidak jauh dari tempat duduk Danisha. Beruntung dia memakai masker karena memang agak flu jadi Iwan tidak mau menulari para pegawainya.


Diam-diam dia mendengarkan percakapan bossnya dan pria itu.


***


"Terimakasih kamu mau datang, Danisha meskipun tidak sendiri" sindir Asen sambil melirik Yanti yang hanya menatap datar ke arahnya. Kalau ditanya soal aura dingin, Yanti jauh lebih dingin dari Danisha.


"Stop the chit chat. Apa mau anda Mr Alibek?" tanya Danisha to the point.


"Maafmu."


Danisha menaikkan sebelah alisnya. "Maafku? Soal kemarin?"


"Yes dan aku ingin kita mulai dari awal untuk berteman." Asen menatap dalam ke Danisha.


"Oh come on Danisha, janganlah menjadi pendendam" ucap Asen.


"Saya bukan pendendam, hanya mengurangi hubungan yang tidak perlu."


Iwan yang mendengar nada dingin dari Danisha hanya tersenyum di balik maskernya.



So Danisha Gayatri Giandra.


"Apa maksudmu hubungan tidak perlu?" bentak Asen tidak terima.


"Ini salah satu contohnya. Saya tidak pernah dibentak oleh papa saya seumur hidup saya, tapi anda yang bukan siapa-siapa saya dan hanya seorang klien AJ Corp, berani membentak saya bahkan di tempat umum." Danisha menatap dingin ke Asen. "Orang akan kelihatan aslinya jika egonya sudah kena."


Rahang Asen tampak mengeras.


"AB mall akan menghentikan kerjasama dengan AJ Corp bahkan anda saya tuntut balik!"


Danisha tersenyum tipis. "Tuntut balik soal apa? Perbuatan tidak menyenangkan? Itu masalah personal antara Anda dengan saya, tidak ada hubungannya dengan AJ Corp maupun AB mall. You're so childish, Mr Alibek."


"Kamu..."


"Saya harap anda segera kembali ke negara anda dan jangan bikin keributan disini. Kalau anda pikir saya tidak tahu bahwa anda membeli rumah dekat dengan rumah Al Jordan? Justru anda yang akan saya tuntut karena sudah menguntit saya."


Iwan merasa terkejut bahwa bossnya dikuntit hingga seperti itu.


"Bagaimana kamu..."


"Bagaimana saya tahu? Apakah anda lupa siapa saya? Siapa keluarga saya? Jika anda masih keras kepala, Oom Senna sendiri yang akan berhadapan dengan anda." Danisha menatap datar ke arah Asen.


Danisha berdiri dan memberikan kode ke Yanti untuk berdiri.


"Saya permisi Mr Alibek. Safe flight ke Istanbul." Danisha dan Yanti pun berjalan meninggalkan Asen.


Tiba-tiba tangan Asen mencengkeram lengan kanan Danisha dan wajahnya tampak begitu marah.


"Lepaskan tangan anda, Mr Alibek" Danisha menatap tajam ke Asen.


"Never."


Iwan sudah berdiri hendak menolong Danisha ketika seorang pria Asia dan wanita bule masuk ke dalam restoran Diamond. Pria dengan aura pemimpin yang keluar dari setiap langkahnya.


"Lepaskan tanganmu dari tangan putriku!"


Danisha menoleh. "PAPA?"


Iwan pun terkejut. Tuan Daniswara Ghani Giandra?


***


Ghani menatap Asen Alibek dengan tatapan membunuh. Kapten NYPD itu sudah memiliki banyak pengalaman dalam menangkap penjahat dari berbagai macam, dan menghadapi Asen, hanyalah masalah kecil.


Alexandra sendiri duduk di seberang bersama Danisha yang tanpa sengaja melihat Iwan yang masih duduk di sudut. Meskipun memakai masker, Danisha hapal bentuk wajah dan tubuhnya.


"Mama, itu Iwan" bisik Danisha ke Alexandra yang membuat dokter forensik itu menoleh dan tersenyum kepada Iwan yang membalas dengan anggukan hormat gugup.


"Jadi anda adalah putra Kemal Alibek. Well, ternyata tidak like father like son. Kemal Alibek yang saya kenal orangnya low profile bukan arogan seperti anda" ucap Ghani dingin. Pria cool itu lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Mr Alibek. Suruh putra anda pulang ke Istanbul dan jangan sekali-kali menjejakkan kakinya di kota Solo. Kenapa? Karena dia sudah berbuat tidak sopan pada putri saya dan siapa yang berani berbuat seperti itu, berarti harus berhadapan dengan saya! Dan saya tersinggung dengan sikap putra anda!" Ghani menutup panggilannya.


Suara ponsel Asen pun berbunyi dan wajahnya langsung memucat.


"Angkat dan segeralah pulang ke Istanbul!" Wajah Ghani yang dingin membuat Asen pun menciut.


***


Yuhuuu Up Malam


Sesekali Papa Ghani nongol yaa biarpun masih cupu gitu mukanya.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️