The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Kok Bisa?



Alexandra hanya bisa menghela nafas panjang melihat mayat yang dikirim oleh NYPD dengan kondisi mutilasi. Bisa nggak sih kirim mayat yang masih bener gitu bentuknya?


Dokter cantik itu bukannya mual atau jijik dengan mayat seperti itu tapi lebih kesal mencari potongan tubuh yang harus dipasang seperti puzzle. Apalagi jika ada potongan tubuh yang hilang, semakin membuatnya pusing.


Mengingat ucapan Ghani tentang cincin pertunangannya yang takut hilang, akhirnya Alexandra memutuskan untuk menyimpannya di kotak besi yang ada di apartemennya.


Bukan apa-apa tapi kehilangan cincin dari pria yang sangat dia cintai tetapi juga sering membuatnya kesal, bakalan membuat Alexandra shock berat.


"Alex? Kok malah melamun? Ayo bekerja" ucap Dr Robbins.


"Grandpa, mayat ini ditemukan dimana?" tanya Alexandra sembari memakai sarung tangan medis dobel.


"Kata Ghani dan Raymond, mayat ini ditemukan di sebuah freezer di sebuah rumah kosong yang hendak dijual oleh agen perumahan."


Alexandra hanya merengut. "Kalau masih beku begini, kita nggak bisa autopsi dong!"


"Ya kita panaskan dan kita tunggu" senyum Dr Robbins sembari menyiapkan beberapa pemanas dibantu oleh asisten disana.


Alexandra meneliti sekilas potongan tubuh manusia itu dan terkejut betapa bersihnya potongan itu seperti orang yang terbiasa memotong tulang atau tukang jagal dan bisa juga yang paham anatomi tubuh seperti dokter.


"Kenapa Lex?" tanya Dr Robbins.


"Grandpa, lihat ini. Betapa mulusnya dia memotong sendi dan otot layaknya tukang jagal atau yang paham anatomi." Alexandra menunjukkan potongan bahu dan lutut.


Dr Robbins pun mengangguk dan keduanya lalu memeriksa semua kondisi mayat itu. Hasilnya sama, clean cut.


"Kamu lebih mencurigai tukang jagal atau orang yang paham anatomi?" tanya Dr Robbins.


"Orang yang paham anatomi, seperti kita, seorang dokter."


***


Ghani dan Raymond menatap Alexandra yang mengatakan mereka tidak bisa melakukan autopsi dengan kondisi tubuh itu membeku.


"Ini sedang diberikan pemanas agar cepat mencair dan aku bisa mengautopsi korban kalian."


"Menurutmu pelakunya siapa Lexa?" Ghani sudah merubah panggilannya ke Alexandra menjadi Lexa mengikuti mommynya yang memanggil calon menantunya seperti itu.


"Aku dan Grandpa melihat ada dua kemungkinan, tukang jagal atau dokter seperti kami yang paham anatomi tubuh manusia. Karena potongan yang kami lihat adalah potongan bersih atau clean cut dan menggunakan alat-alat yang biasa dipakai tukang jagal atau dokter ortopedi ahli Traumatologi dan rekonstruksi. Aku paham anatomi manusia tapi untuk memotong bersih seperti itu, aku masih kalah dari dokter spesialis itu."


Ghani saling memandang dengan Raymond. "Sayangnya kepala korban belum ditemukan."


"Korban wanita kan Lex?" tanya Raymond.


"Melihat dada yang dipotong dan area pinggang ke bawah tidak ada, bisa jadi wanita atau pria. Kalian harus menunggu agak mencair baru aku bisa memeriksa DNA nya."


Ghani dan Raymond hanya bisa menghembuskan nafas panjang. "Sepertinya kita harus ke TKP lagi untuk memeriksanya lagi meskipun kita sudah menyusuri tadi."


"Ohya kalau bisa berikan mayat yang utuh ya boys. Pusing aku melihat puzzle nggak jelas seperti itu!" ucap Alexandra tanpa beban yang membuat dua pria itu manyun.


***


"Bro, serius kamu sudah melamar Alexandra?" tanya Raymond.


"Yup" jawab Ghani.


"Wah congrats Bro! Kedua orangtuamu gimana?"


"Mereka happy dan heboh. Menurut rencana mereka akan datang kesini setelah acara lamaran Jeremy dan Rain."


"Akhirnya Jeremy resmi melamar Rain?" tanya Raymond.


"Yup. Semoga lamarannya diterima Oom Ryu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana Oom Ryu marahnya ketika tahu Rain tertembak."


"Wajar lah! Aku pun akan melakukan hal yang sama jika putriku seperti itu." Raymond menatap Ghani tegas.


"Sayangnya, Rain cinta mati sama Jeremy!" kekeh Ghani.


"Nah itu yang sulit" gelak Raymond.


"Lagipula Rain juga selama Jeremy menjalani hukuman di London, masih setia menunggu."


"Sama seperti mu kan bro? Menunggu Alexandra?" kekeh Raymond. "Ngomong-ngomong kenapa panggilanmu ke Alexandra menjadi Lexa?"


"G, aku nggak tahu ya apa karena kamu anak mommy atau memang kamu nggak kreatif membuat nama panggilan tersendiri buat Alexandra sampai ikut sama Tante Dara."


"Lho aku kan sudah punya panggilan tersendiri buat Lexa" eyel Ghani.


"Apaan?"


"Dokter Jalapeno!" cengir Ghani.


"Astaga G! Benar-benar nggak ada romantisnya lu!" umpat Raymond kesal.


***


Kedua detektif itu kembali ke TKP yang masih diperiksa oleh tim CSI dibawah kepemimpinan Mac Tyler. Ghani dan Raymond tidak mengganggu kesibukan tim Mac dan memilih menyusuri luar rumah tersebut.


"G, lihat! Jejak kaki!" ucap Raymond yang melihat sepasang jejak kaki di balik semak-semak.


Ghani melihat salah seorang anak buah Mac dan memintanya untuk membuat cetakan jejak kaki itu.


"Jadi dia berdiri disini dan mengingat semalam hujan jadi jejak nya malah tampak" gumam Ghani.


"Detektif!" panggil salah anggota CSI.


"Kalian menemukan apa?" tanya Raymond.


"Gergaji medis untuk tulang dan daging" ucapnya sambil menunjukkan barang bukti.



"Kalian temukan dimana?" tanya Ghani.


"Di balik kotak kayu itu."


Ghani hanya meringis melihat barang bukti itu. Another psycho killer again.


***


Akhirnya Alexandra dan Dr Robbins berhasil mengautopsi mayat yang ditemukan oleh Ghani. Korban adalah wanita berusia sekitar 25-30 tahun dan sedang hamil meskipun bagian perut tidak ditemukan namun hasil tes DNA dan darah tidak salah.


Ghani yang mendapatkan laporan dari Alexandra mulai mencari data korban melalui sidik jari yang bisa diambil oleh Mac Tyler ketika tubuh korban melemas.


"Beruntung tangannya ada, Giandra, sebab bisa kesulitan kita karena kepala tidak ditemukan. Meskipun dengan kecanggihan teknologi sekarang bisa melacak lewat DNA dari data yang ada tapi cara lama jauh lebih mudah dibandingkan itu" ucap Mac Tyler.


"Semua SIM, id card dan paspor masih memakai sidik jari pada saat mendaftar. Semoga bisa ketemu siapa korbanmu, Giandra."


Mac masih menunggu hasil mesin pencari sidik jari hingga akhirnya menemukan siapa korban.


Ghani, Raymond dan Mac Tyler terkejut ketika tahu siapa korban mutilasi itu.


"Tammy Young?" seru ketiganya.


"Tapi bagaimana bisa? Bukankah dia ditahan ya?" seru Mac Tyler.


"Dia masih dalam tahanan rumah, Mac karena bersedia bekerja sama dengan FBI untuk mengurangi hukumannya" ucap Ghani.


"Melihat kondisi mayat, menurut Alexandra, dia dibunuh sekitar seminggu lalu dan dibekukan. Bagaimana bisa FBI kecolongan kehilangan Tammy Young?" Raymond tidak habis pikir.


"Aku harus menelpon AJ. Apa yang sedang terjadi?" gumam Ghani tidak mengerti lalu menelpon rekannya di FBI.


"AJ? We need to talk! This is so serious!" ucap Ghani.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️