
Alexandra masih menangis dalam pelukan Ghani. Adrenalin yang tadinya menumpuk sekarang sudah menghilang dan tinggal efek lelah yang luar biasa.
"Hei, sayang. Udah dong nangisnya. Masa nggak malu dilihat orang banyak?" bisik Ghani. "Dokter Jalapeno kebanyakan cabe ya gini deh!"
Alexandra menatap Ghani sebal meskipun matanya masih dipenuhi air mata.
"Apa kamu bilang?" bentaknya.
Ghani nyengir. "Dokter Jalapeno kebanyakan cabe Yaaa... Adduuhhh!" Alexandra memukul bahu kekar Ghani sekuat tenaga.
"Ehem! Kalian berdua ikut aku!" bentak Kapten Briscoe yang sebal melihat keduanya malah ribut sendiri.
Duncan sudah memasukkan pistolnya ke balik jaketnya hanya bisa duduk dengan terpekur melihat adegan dengan tenangnya Alexandra menusukkan pisau bedah ke paha Martinez tepat di aorta. Ditambah dia berbalik dan menebaskan pisau bedah kecil itu ke leher penguntitnya.
Bahkan mom saja tidak segila itu untuk melakukan pembelaan diri.
"D? Apa yang terjadi?" Elang datang ke TKP karena menerima telpon dari Raymond.
"Kamu tidak akan percaya apa yang terjadi" gumam Duncan.
Elang melihat Duncan tampak pucat lalu memandang Raymond yang berada disana. "Ada apa ini..." suara Elang menghilang ketika melihat jenazah Martinez yang berlumuran darah.
"Mr McCloud, Mr Blair, tolong bisa keluar dari TKP?" pinta AJ Russell.
"Baik agen Russell. Ayo D!" Elang menarik pria berbadan besar itu.
***
Elang dan Duncan sudah berada di dalam ruangan Alexandra. Pria berambut hitam kecoklatan itu lalu mengambilkan sebotol air mineral yang terdapat disana.
"Minum dulu D." Duncan membuka botol warna hijau itu lalu menenggaknya hingga habis.
Elang lalu duduk di kursi Alexandra dan mulai membuka komputer nya dan mencari CCTV ruang autopsi. Pria tampan itu menatap tidak percaya apa yang terjadi hingga membuat Duncan Blair seperti itu.
"Aku hari ini benar-benar apes J. Sekalinya menemani Alexandra malah melihat dia autopsi mayat dari sungai Hudson yang sudah membusuk sampai aku muntah-muntah. Eh si Martinez malah bikin ulah ingin membunuh Alexandra. Aku tidak menyangka dia masuk dengan secepat kilat tanpa melihat Alexandra memegang pisau bedah yang sedang dibersihkan."
Babang Duncan masih siyooookkk
Elang menatap Duncan dengan tersenyum simpul. "Benar D, hari yang apes!" gelaknya. "Setidaknya kita sudah selesai urusan disini! Aku tidak sabar pulang ke Jakarta."
Duncan menoleh ke Elang. "Aku juga kangen Rey dan Kaia."
"Syukurlah semuanya sudah selesai Jeremy. Mom dan Dad bisa kembali ke London kecuali kalau mau ikut dengan kita ke Jakarta."
Elang mengangguk.
***
"Dokter Cabbot, bagaimana ceritanya anda bisa membunuh Guillermo Martinez?" tanya Kapten Briscoe yang tidak percaya dokter cantik itu bisa melakukan hal seperti itu setelah dia melihatnya melalu rekaman CCTV.
Alexandra hanya menatap kapten Briscoe tenang. "Saya bisa beladiri Eskrima, kapten." ucapnya.
Kapten Briscoe menatap arah jendela kaca dua arah yang mana di baliknya ada Ghani, AJ Russell dan agen St Clair.
"Apa itu Eskrima? Sebangsa ice cream?" tanya kapten Briscoe bingung.
Alexandra tertawa. "Bukan, beladiri asal Philipina."
Kapten Briscoe mengangkat telunjuknya agar Alexandra menunggu lalu dia mengambil ponselnya dan mebrowsing tentang Eskrima. Setelahnya kapten itu menatap tidak percaya.
"Astaga! Dr Cabbot, anda penuh dengan kejutan!" bisiknya. "Tapi bagaimana bisa anda memakai pisau bedah anda?"
"Saya sedang membereskan dan membersihkan pisau bedah saya. Ketika Martinez datang dengan tiba-tiba dan langsung menyandera saya dihadapan Mr Blair, saya sudah menyimpan pisau itu di tangan saya."
"Anda kan tahu kapten, seberapa sih besarnya pisau bedah?" Alexandra mengambil sebuah bolpoin. "Panjangnya hanya 3/4 bolpoin ini dan tipis jadi tidak terlihat."
"Maaf jika saya terpaksa membunuh pria itu Kapten tapi saya hanya menyelamatkan nyawa saya."
Kapten Briscoe menatap Alexandra. "Kami malah berterimakasih anda sudah membuang kepala ular jadi pekerjaan kami selanjutnya lebih mudah untuk membersihkan semua anak buahnya."
Pria paruh baya itu pun berdiri. "Tolong Dr Cabbot, jangan membawa pisau sembarangan" ucap Kapten Briscoe sembari mengedipkan sebelah matanya.
Alexandra tertawa.
***
"Sudah selesai?" Alexandra menoleh dan tampak Ghani bersandar di dinding ruang interogasi.
Alexandra mengangguk. "Maaf aku melamun."
"Jangan merasa bersalah Alexandra. Dia memang berniat membunuhmu bahkan dia membunuh Alicia Troy karena salah sasaran." Ghani duduk di hadapan Alexandra. "Ingat bagaimana dia hendak menculik dan membunuhmu. Kau meyelamatkan nyawamu sendiri, Lex."
Alexandra menatap pria yang sering membuatnya amburadul hati dan pikirannya. "Thank you Daniswara Ghani Giandra" ucapnya sambil tersenyum manis.
Ghani melongo. "Maksudnya apa memanggilku dengan nama lengkap ku? Kamu mau sensus penduduk?"
Alexandra terperangah. Niatnya untuk membuat Ghani terkesan malah pria itu merusak moodnya. Tanpa berkata Alexandra berdiri dan pergi meninggalkan Ghani.
"Lho Lex? Kok aku ditinggal? Woooiiii! Alexandra!" teriak Ghani bingung.
Dasar pria nggak peka!
***
Sesuai dengan janjinya, apartemen Alexandra sudah kembali seperti semula oleh agen St Clair dan gadis itu bahagia bisa kembali ke sanctuary nya. Dr Robbins pun sudah keluar dari rumah perlindungan saksinya dan kembali bekerja dengan cucunya di koroner.
Kehidupan Ghani pun kembali seperti biasa, sudah tidak dipusingkan masalah penguntit gadisnya. Kapten Briscoe mengumumkan bahwa Guillermo Martinez meninggal akibat adu tembak dengan NYPD pada proses penggrebekan. Sengaja tidak disebutkan karena untuk melindungi privacy Alexandra.
Mansion Blair sudah kosong sekarang karena Edward, Duncan, Yuna dan Jeremy terbang ke Jakarta. Sebelumnya Yuna dan Edward menjamu para sekutu di restauran milik Ryu Reeves sebagai ucapan terimakasih atas kerjasama antar klan.
Ghani mengucapkan banyak terimakasih kepada keluarga iparnya yang tanpa pamrih membantunya menyelesaikan kasus Martinez.
Dan kini Nabila serta Mike Cahill mengajak Ghani, Alexandra dan Dr Robbins untuk makan malam di sebuah restauran western sebagai ucapan syukur atas selesainya masalah yang membuat mereka semua nyaris kehilangan nyawa.
"So, Dr Robbins. Akhirnya saya bisa bertemu dengan seorang dokter forensik senior" senyum Nabila.
"Wah dokter Nabila, jangan memuji saya seperti itu. Saya hanya melakukan pekerjaan saya" ucap Dr Robbins sambil tertawa.
"Bagaimana perasaanmu Alex? Sudah baikan?" tanya Mike Cahill.
"Lumayan Pakdhe."
"Budhe kagum sama kamu, Lex. Bisa tenang menghadapi situasi seperti itu! Ghani, kamu nggak boleh macem-macem sama Alexandra kalau masih ingin selamat!" Nabila menatap tajam ke arah Ghani yang hendak memasukkan daging steaknya ke mulut.
"Nggak lah budhe! Aku mah semacem aja maunya!"
"Apa itu?" tanya Nabila.
"Ngajak nikah lah!" jawab Ghani cuek.
Mike, Nabila, Dr Robbins dan Alexandra melongo.
"Kamu tuh ngajak nikah apa ngajak gelut sih G?" omel Mike gemas.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Akhirnya selesai juga bisa pindah ke Rain.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️