The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Kecurigaan Terbukti



Ghani terbangun dari tidurnya dan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 1 malam. Dirinya baru menyadari bahwa sudah membuat Alexandra tertidur dengan posisi tidak nyaman. Ghani pun bangkit dan berjalan ke kamar Alexandra lalu membuka pintunya. Kamar yang diselimuti seprai putih dan tampak rapi berbau harum khas Alexandra.


Pelan Ghani menggendong gadis itu dan meletakkan di atas tempat tidur. Hampir saja dia lepas kendali melihat gadisnya hanya mengenakan tank top berenda yang memperlihatkan belahan squishy nya.


Damn it Lexa! Kayaknya aku salah datang kesini!


Ghani mencium kening Alexandra dan menyelimuti tubuh langsing itu lalu keluar dan menutup pintu kamarnya pelan.


Pria itu lalu memakan pizza yang ada di sana dengan choco yang sudah dingin. Ghani benar-benar merasakan kepalanya penuh. Setelah memakan dua slice pizza dan menghabiskan choconya, pria itu membereskan mug nya serta menyimpan pizza yang tersisa di dapur.


Ghani pun masuk ke dalam kamar tamu dan melaksanakan sholat isya setelahnya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.



***


Alexandra terbangun dan terkejut dirinya berada di kamarnya sendiri. Pasti Daniswara yang menggendongku kemari.


Suara ketukan di pintu membuat Alexandra benar-benar terbangun. "Masuk."


Ghani pun masuk membawakan dua hot choco dan sandwich serta pizza semalam.


"Good morning cantik" sapa Ghani yang sudah segar.


"Good morning handsome" sapa Alexandra manis.



"Ehem! Bisa nggak kamu mandi dulu dan pakai baju yang tertutup supaya aku nggak khilaf?" wajah Ghani memerah melihat betapa seksihnya calon istrinya.


Alexandra menunduk. "Astagaaaaa!" gadis itu langsung mengambil baju dari lemari dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ghani mengelus dadanya agar jantungnya normal kembali. Ini si Otong kenapa ikutan rumpi sih!


***


Alexandra memilih gaun hitam dengan aksen bunga kecil-kecil bewarna putih dan hanya memakai make up tipis. Gadis itu duduk bersama Ghani untuk sarapan bersama.



"Kamu masih lapar nggak, Yank?" tanya Ghani.


"Nggak sih. Kamu masih lapar?" Alexandra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Ghani menghabiskan dua sandwich dan tiga slice pizza.


"Kayaknya kalau aku jutek larinya ke makanan deh!" sahut Ghani.


Alexandra menatap tunangannya. "Awas roti sobekmu menghilang" godanya.


"Tenang saja nona Cabbot, roti sobekmu masih aman" jawab Ghani menggoda Alexandra.



"Dasar Ryo Saeba!" umpat Alexandra sambil tertawa.


Ghani kemudian terdiam. Alexandra yang melihat perubahan pria itu menatap dengan tanda tanya.


"Kira-kira kepala dan perut Tammy Young dimana ya?" gumam Ghani.


"Bolehkah aku mengira-ngira?" ucap Alexandra.


"Apa sayang?"


"Kepala bisa diambil kornea matanya, perut bisa diambil ginjal dan hati. Mengingat bisnis Martinez seperti itu, bukan tidak mungkin ada anak buahnya yang melanjutkan." Alexandra menatap dalam ke Ghani.


Pria itu menatap tidak percaya ke gadisnya. Bisa jadi begitu.


"Lexa! Kamu benar! Hingga detik ini aku belum menangkap dokter yang bertugas untuk mengambil semua organ yang dijual di pasar gelap!"


***


"Ray, apa kita menangkap seorang dokter dari kasus Martinez?" tanya Ghani ketika duduk di kursinya.


Raymond memeriksa daftar anak buah Martinez yang tertangkap. "Tidak ada G."


Ghani menatap dalam ke Raymond. "Aku rasa pembunuh Tammy Young adalah dokter yang bertugas di klan Martinez."


Raymond membelalakan matanya. Kenapa nggak kepikiran sampai kesana ya!


"Kita harus mencari dokter itu G!" seru Raymond.


"Yuk ke penjara. Kita interogasi semua anak buahnya Martinez!" Ghani mengambil kunci mobilnya.


***


Dr Robbins dan Alexandra menatap curiga dengan paket yang datang ke ruang autopsi. Semenjak kejadian 9/11, membuat Dr Robbins harus ekstra waspada apalagi saat kejadian itu dokter senior itu harus memeriksa banyak korban dan mengidentifikasi bersama dengan tim CSI.


"Alexandra, tampaknya kamu harus memanggil Mac kemari. Grandpa takut isinya aneh-aneh."


Alexandra mengangguk dan menelpon Mac Tyler yang kantornya diatas tempat kerja Alexandra dan Dr Robbins.


Mac Tyler datang bersama dengan tim dan membawa scanner canggih yang bisa melihat dalam isi paket. Wajah pria tampak kaget setelah melihat isinya.



"Kalian lihat? Ini kepala orang" ucap Mac yang membuat Alexandra dan Dr Robbins terkejut.


"Aku tidak kaget kalau itu adalah kepala Tammy Young" lanjut Mac lagi.


***


Setelah dirasa aman, Dr Robbins membuka paket itu bersama dengan Mac Tyler. Meskipun sudah siap dengan segalanya namun tetap saja mereka yang berada disana shock.


Alexandra langsung memeriksa mata Tammy Young.


"Damn it! Korneanya hilang!" umpat Alexandra.


"Apakah kamu mencurigai sesuatu, Lex?" tanya Mac.


"Aku curiga karena dokter yang dibayar Martinez untuk mengambil semua organ tubuh manusia, tidak tertangkap!" Alexandra duduk di ruang autopsi dengan perasaan kesal. Kecurigaannya terbukti.


"Maksudmu Tammy Young dibunuh oleh dokter itu dan dimutilasi lalu organ tubuhnya diambil?" tanya Mac.


"Short of" ucap Alexandra.


"Gilaaaaa!" Mac Tyler mengusap wajahnya kasar.


Alexandra menelpon Ghani karena kecurigaannya terbukti.


"Assalamualaikum sayang" sapa Ghani.


"Wa'alaikum salam. G? Guess what!" ucap Alexandra.


"Apa sayang?"


"Kepala Tammy Young dikirim ke ruang autopsi dan kornea matanya hilang."


"AAAPPAA?" teriak Ghani.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️