The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Makan Siang



Danisha mengambil ponselnya dan mengernyitkan dahinya. Ini nomor siapa sih? Pede banget ngajak makan malam. Gadis itu mengacuhkan lalu turun ke ruang makan dan tersenyum melihat menu makan malam yang dibuatkan oleh bik Yati. Asam-asam daging dan tempe goreng.


"Alhamdulillah menunya cocok meong." Danisha langsung mengambil piring dan mulai makan. Suara notifikasi ponselnya membuat Danisha menoleh.


Hai? Bisa kita makan malam?


Danisha melongo. Pede banget sih nih orang! Gadis itu mengacuhkan dan tetap menghabiskan makan malamnya. Begitu selesai, ponselnya berbunyi dari nomor yang mengirimkan pesan.


"Halo, selamat malam" sapa Danisha dingin.


"Selamat malam nona Danisha."


Danisha melihat nomornya. "Mr Alibek?"


"Betul nona Danisha. Apakah bisa makan malam bersama saya?"


Danisha melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 20.30. Sudah terlalu malam untuk makan malam dan lagipula aku lelah.


"Maafkan saya Mr Alibek. Saya baru saja menyelesaikan makan malam saya di rumah dan maafkan lagi karena saya harus tidur cepat karena besok pagi-pagi harus ke tempat produksi."


"Bagaimana kalau besok?" tanya Asen.


"Insyaallah tapi saya tidak bisa menjanjikan" jawab Danisha apa adanya. Biasanya jika ada pesanan, Danisha jauh lebih sibuk karena dia harus lebih teliti lagi apalagi kliennya ini adalah klien Oom Senna.


"Besok saya hubungi lagi nona Danisha. Selamat malam."


"Selamat malam."


Danisha hanya mengedikkan bahunya. Orang aneh!


***


Di sisi lain, di kamar hotel Alila.


Asen memandang ponselnya dengan tersenyum. Gadis yang menarik.


Asen membuka kembali akun Instagram milik Danisha yang memang di open dan followers nya pun tidak banyak. Namun gadis itu jarang men-tag siapa saja yang berada di foto-fotonya, hanya nama saja.


Levi dan Aidan. Dua nama itu yang muncul disana. Asen tahu bahwa pria satu lagi adalah Bara kakaknya. Lalu yang dua itu siapa dengan santainya Danisha menerima ciuman di pipi.


Asen bukan tipe pria yang peduli dengan urusan orang lain tapi entah kenapa setelah bertemu langsung dengan Danisha dan melihat akun Instagram gadis itu ada rasa tidak rela melihat Danisha seperti itu.


Ada apa denganku?


***


Danisha pagi-pagi jam tujuh sudah ke bagian produksi batik tulisnya. Semalam memang beberapa pegawai lembur untuk mempacking batik-batik yang sudah lolos cek dan ricek baik dari manager quality control dan Danisha sendiri.


"Selamat pagi semuanya. Apa shift pagi sudah datang?" tanya Danisha.


"Pagi Bu. Paling sebentar lagi datang" jawab salah satu pegawainya.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Danisha lagi.


"Sampun Bu. Pak Iwan sudah datang tadi jam enam langsung membawakan nasi liwet" cengir salah pegawai.


"Alhamdulillah sudah pada sarapan."


"Pagi Bu Danisha" sapa Iwan si manager quality control.



"Pagi pak Iwan. Maaf ya harus pagi-pagi lagi" kekeh Danisha.


"Santai saja Bu. Bujangan mah bebas" gelak Iwan.


"Nggak ada yang ngomeli ya pak" sambung Danisha.


"Paling ibu saya yang protes pagi-pagi sudah pergi kerja."


Danisha tersenyum. Kemudian para pegawai shift pagi datang dan shift malam pun pulang. Danisha sendiri masih di tempat produksi hingga jam sebelas siang, lalu dia pergi ke perusahaan pusat yang di Slamet Riyadi.


***


"Siang Bu Danisha. Ada yang menunggu ibu di ruang kerja ibu" sapa Yanti begitu melihat Danisha keluar dari lift.


"Siapa Yanti?"


"Tamu yang kemarin Bu."


Danisha melongo. "Asen Alibek? Apa ada masalah?"


"Saya kurang tahu Bu."


Danisha menghela nafas panjang. Ada apa? Gadis itu kemudian memasuki ruangannya dan tampak Asen duduk manis sambil membaca majalah bisnis yang covernya adalah Kaia dan Rhett O'Grady.


"Selamat siang Mr Alibek. Ada perlu apa anda kemari? Apa ada masalah?" tanya Danisha sembari meletakkan tas Louis Vuitton nya di atas meja kerjanya.



Danisha menatap Asen. "Makan siang?"


Asen mengangguk. "Bagaimana?


Danisha melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.30 yang memang sudah masuk jam makan siang.


"Baiklah. Mau dimana?"


"Alila."


"Anda datang kemari dengan apa?"


"Saya ada mobil yang saya sewa disini."


"Bagaimana kalau anda dengan mobil anda, saya membawa mobil saya sendiri. Toh anda juga akan beristirahat di hotel dan saya masih harus kembali bekerja."


Asen menatap Danisha. Secara logika bener tapi entah kenapa dia ingin gadis itu ikut dengannya dalam satu mobil. Namun Asen tidak mau membuat gadis itu takut dengannya.


"Baiklah Nona Danisha."


Danisha pun mengangguk lalu dia mengambil tasnya.


"Lady first" Asen mempersilahkan Danisha keluar dulu dari ruangannya.


***


Keluar dari lift, Danisha dan Asen bertemu dengan Iwan.


"Selamat siang Bu Danisha. Maaf ini ada kiriman dari ibu saya, nasi pecel." Iwan menyerahkan sebuah paper bag kecil kepada Danisha.


"Wah terima kasih pak Iwan tapi tolong dititipkan ke Yanti ya karena saya mau pergi dulu dengan Mr Alibek." Danisha memberikan senyum manisnya. "Soalnya takut saya taruh kelamaan di mobil kan eman-eman. Kalau dititipkan di Yanti, bisa ditaruh meja saya."


"Baik Bu. Saya titipkan ke mbak Yanti. Permisi." Iwan pun mengangguk hormat kepada Danisha dan Asen.


Setelah Danisha keluar dari kantor bersama Asen, pria Turki itu mengemukakan pikirannya.


"Aku rasa yang namanya Iwan itu naksir Anda, nona Danisha" ucap Asen.


Danisha menoleh ke arah Asen sebelum memasuki mobilnya.


"Hahahaha... Hanya perasaan anda saja Mr Alibek." Danisha tersenyum manis.


"Saya laki-laki, nona, saya tahu bahasa tubuh pria yang menyukai seorang wanita. Dan matanya tadi ketika melihat saya adalah mata cemburu dan matanya ketika anda meminta memberikan paper bag ke sekretaris anda, adalah mata kecewa."


Danisha hanya melongo mendengar penjelasan Asen.


***


Rupanya Asen sudah memesan tempat makan untuk mereka berdua melakukan makan siang. Danisha sendiri sering makan di Alilan dan manager dan pegawai disana juga mengenali gadis bule itu karena dulu sering diajak oleh Sabrina bertemu dengan klien.


Dan kini Danisha harus makan siang dengan klien sendiri tanpa Tante Sabrina di sisinya.


"Mau makan apa?" tanya Asen.


Danisha menyebutkan makanan yang selalu dia makan di Alila. Asen pun memesan makanan yang berbeda setelahnya pelayan itu meninggalkan keduanya.



"Saya semalam mengajak anda makan malam untuk menyerahkan ini." Asen memberikan sebuah minuman dari Turki.


Danisha tersenyum. "Terimakasih." Gadis itu memasukkan botol minuman itu di dalam tasnya. Belajar pengalaman dari Arjuna, Danisha tidak langsung meminum minuman yang diberikan Asen.


"Kenapa tidak anda minum?" tanya Asen. "Apa anda takut saya memberikan obat aneh-aneh di dalamnya?" godanyam


Danisha hanya terdiam dan menatap datar ke arah Asen.


"Saya tidak serendah itu nona Danisha. Kalau pun saya ingin melakukan hal 'Itu' dengan anda, saya lebih suka melakukannya dalam keadaa sadar jadi saya dan anda sama-sama menikmatinya."


Danisha melotot. Betapa aku ingin membanting orang ini!


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Benarnya chapter ini dah separo jadi cuma harus tertunda buat nyelesain karena ada keluarga besar datang jadi family time dulu. Ini aja ngetik sambil ngantuk.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️