The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Kita Tidak Berjodoh



Bara tiba di bandara Adi Soemarmo Solo pada pagi hari, sengaja tanpa memberitahukan keluarganya. Pria tampan itu berjalan dengan santai menuju ke sebuah mobil warna hitam yang sudah menunggunya.


"What's up bro!" sapa Bara kepada si pengemudi.


"Kabar baik, Ra, Alhamdulillah" jawab orang itu.


"Man, antarkan ke AJ Corp. Sorry aku minta tolong kamu jemput soalnya mau kasih surprise ke keluargaku" jawab Bara.


"Siap boss!" jawab Mediawan yang biasa dipanggil 'Man' oleh Bara. Mobil Avanza hitam itu pun pergi meninggalkan bandara.


Setengah jam kemudian mobil hitam itu sampai di halaman parkir gedung AJ Corp. Bara yang hanya mengenakan kaos oblong putih, jeans, topi dan kacamata hitam, turun dengan santainya sambil menenteng ransel dan duffle bag Balenciaga.


"Ra, kamu lama nggak di Solo?" tanya Mediawan.


"Kenapa?"


"Adikku mau nikah. Kamu datang ya" ucap Mediawan.


"Oke. Kirim aja alamatnya dimana dan kapan. Insyaallah aku datang, Man." Bara memberikan tiga lembar uang merah ke Mediawan.


"Ya elah si Bara pakai acara bayar!" kekeh Mediawan.


"Iyalah, gue minta tolong dan itu pakai bensin apa kagak dihitung chuy?" cengir Bara.


"Iya dah! Makasih ya Ra. Salam buat orangtua dan adikmu." Mediawan pun menjalankan mobilnya kembali keluar dari halaman kantor AJ Corp. Mediawan adalah salah seorang teman Bara saat dia membutuhkan guide untuk hiking ke beberapa gunung dekat area Solo sekalian memotret untuk National Geographic.


Mediawan bekerja sebagai driver ojol sedangkan mobil yang dipakai untuk menjemput Bara tadi adalah milik pamannya yang nanti hasil ojol dibagi dua. Ya, Mediawan adalah seorang sederhana yang hidupnya tidak beruntung namun Bara salut dengan semangatnya. Dan pria itu memiliki seorang adik perempuan yang bekerja sebagai seorang perawat.


Bara pun masuk ke dalam kantor AJ Corp dan satpam disana pun menyapa Bara dan mengantarkan ke resepsionis.



"Selamat pagi" sapa Bara yang memang sudah melihat mobil adiknya.


"Selamat pagi pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas resepsionis itu ramah.


"Bu Danisha sudah datang ya?" tanya Bara.


"Sudah pak. Maaf bapak siapa ya?"


"Saya Bara Giandra, kakaknya Bu Danisha."


Resepsionis itu menatap Bara dengan perasaan sangsi karena secara fisik mereka berdua berbeda namun setelah dua hari terakhir ini Ghani dan Alexandra ke perusahaan, gadis itu bisa melihat kemiripan pria ini dengan pak Ghani.


"Bapak bisa naik lift sana dan ruangan Bu Danisha di lantai tiga."


"Terimakasih." Bara pun berjalan menuju lift dan masuk ke dalamnya ketika terbuka.


***


Yanti sedang membereskan beberapa dokumen yang sudah diperiksa oleh Danisha ketika mendengar suara lift terbuka. Wajahnya tampak heran melihat seorang pria dengan dandanan santai dan membawa tas travel keluar dari lift itu.


"Pagi mbak Yanti, masih ingat saya?" sapa Bara ramah sambil membuka kacamatanya.


"Pak Bara?" seru Yanti kaget. "Apa kabar pak?"


"Baik. Nisha ada di dalam?" tanya Bara sambil tersenyum.


"Ada pak. Mr dan Mrs Giandra pun ada."


Bara pun membuka pintu ruang kerja Danisha dan terdengar suara heboh dari dalam yang membuat Yanti senyam senyum mendengarnya.


***


"Aku heran sama kamu mas! Hobinya traveling dan panasan, kok ya ga item-item sih!" omel Danisha setelah mereka semua selesai berpelukan.


"Idih, kamu pengen punya kakak item?" goda Bara.


"Ya nggak sih!" cengir Danisha sembari memeluk kakaknya.


"Udah selesai urusan di Jakarta?" tanya Ghani.


"Udah pa. Biasa Kaia bikin heboh saja tapi nggak papa sih sekalian memeriksa perusahaan Ogan."


"Gimana perusahaan Ogan?" tanya Alexandra.


"So far bagus kok ma, lagipula Arya juga sering memeriksa perusahaan Ogan secara berkala selain dia mengurus perusahaan Oom Gozali juga. Kalian nggak ketemuan dengan Tante Savitri dan Oom Jaehyun?"


Suara ketukan di pintu membuat keempat anggota keluarga Giandra menoleh.


"Maaf bapak, ibu. Mr Ezra Hamilton sudah datang" ucap Yanti.


Danisha menatap ke arah ayahnya yang memberikan kode it's okay. Bara hanya melihat ke arah ibunya dengan mata penuh pertanyaan.


"Suruh masuk saja Yanti" pinta Danisha.


Yanti pun mengangguk dan undur diri.


***


Danisha duduk di sebelah Ghani menatap Ezra Hamilton yang tampak tampan denga setelan jas mahalnya sedangkan Bara dan Alexandra duduk di sisi sofa lainnya.


"Akhirnya kita bisa bertemu ya Mr Giandra" senyum Ezra ramah.


"Akhirnya karena saya lebih sering bertemu dengan ayahmu, Joe" senyum Ghani. "So, apa yang membuat mu datang jauh-jauh ke Solo dari New York?"


"Saya sebenarnya ingin bertemu dengan anda berdua tetapi mumpung semua keluarga disini, sekalian saja saya sampaikan. Saya ingin melamar Danisha menjadi istri saya."


Bara terkejut. Bukannya adikku pacarnya namanya Iwan? Bara memandang Ghani dan Alexandra yang tampak tidak terkejut begitu juga dengan adiknya yang tampak tenang.


Ghani menatap Ezra dalam. "Saya sebagai papanya Nisha, sangat tersanjung ketika seorang Hamilton ingin melamar putri saya menjadi pasangan hidupnya tetapi bukan saya yang akan menjalani kehidupan pernikahan, melainkan Danisha."


Ghani menoleh kearah Danisha yang masih menatap datar ke Ezra.


"Nisha, bagaimana tentang pernyataan Ezra?" tanya Ghani.


"Mr Ezra Hamilton, sebelumnya saya berterima kasih atas perasaan dan keinginan anda untuk meminang saya sebagai istri dan pasangan hidup anda namun maaf sebelumnya, saya tidak bisa menerimanya" jawab Danisha tegas.


Ezra menatap Danisha dengan tatapan tidak percaya. "Why, Danisha?"


"Karena saya mencintai pria lain."


"Apakah itu Asen?"


Danisha menggeleng. "No, bukan Asen."


"Siapa?"


"Anda tidak perlu tahu, Mr Hamilton."


"Apakah dia lebih kaya dari aku?"


Danisha menggeleng. "Soal harta, anda lebih kayak darinya tapi soal hati dia lebih kaya dari anda karena dia mencintai saya dengan sederhana yang membuat saya jatuh cinta kepadanya."


"Saya tidak melihat seseorang dari kekayaan harta benda tapi saya melihat dari cara dia mendekati saya dan saya sudah mendapatkan jawabannya dari doa sepertiga malam ku" sambung Danisha.


"Apa anda ingat pernah bertanya apakah saya akan melakukan shalat istikharah? Benar saya melakukannya dan nama anda tidak ada dalam jawaban doa saya."


Ezra menatap Danisha dengan perasaan hancur dan Danisha bisa melihatnya dari mata hijau miliknya.


"13 tahun aku mencarimu Danisha dan selama itu juga aku menunggumu" ucap Ezra pelan.


"Maaf tapi namanya perasaan tidak bisa dipaksakan dan aku tidak mencintaimu, Ezra." Mata coklat Danisha melembut saat menatap Ezra. "Jodoh mu bukan aku, Ezra. Dan aku yakin akan ada wanita yang lebih baik dari aku yang sangat mencintaimu."


Ezra menatap Danisha dengan wajah sendu.


"Aku terlambat ya?" bisiknya.


"Bukan terlambat, tapi tidak berjodoh" ucap Danisha.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Semoga hari ini much better


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️