The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Kondangan Ke Jakarta



Alexandra melongo ketika mendapatkan undangan pernikahan Rain Reeves via email. Sejujurnya dia merasa tersanjung karena dianggap sebagai bagian dari keluarga konglomerat yang gesreknya minta ampun tetapi sisi lain dia merasa tidak pantas karena menjadi pembunuh meskipun sebagai pembelaan diri.


Dresscode just like daily activities


Nah lho? Daily activities itu aku pakai baju hazmat atau cuma scrubs doang. Masa pakai itu? Alexandra tersenyum sendiri. Ya ampun Alexandra! Otakmu sudah kacau!


"Kamu kenapa Alex?" tanya Dr Robbins yang baru datang melihat cucunya senyum-senyum sendiri.


"Ini lho Grandpa, aku mendapatkan undangan pernikahan Rain, sepupunya Rhea adiknya Ghani."


Dr Robbins membaca undangannya dan terkekeh membaca dresscode nya. "Masa kamu datang kondangan pakai snelli?"


"Malah seperti mau Halloween dong!" kekeh Alexandra.


"Pakai gaun yang cantik dan tidak ribet Alex. Maksudnya Rain bagus biar nggak susah kalau jalan."


"Iya aku juga tahu Grandpa, aku cum godain aja kok" senyum Alexandra sambil mencium pipi kakeknya.


Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh. Salah seorang asisten Dr Robbins datang dan memberitahukan bahwa korban kecelakaan sudah datang.


"Oke aku akan kesana" Dr Robbins berjalan keluar ruangan. "Pakailah gaun pink, kamu cantik kalau memakai pink" ucapnya ke arah Alexandra.


***


Alexandra menatap korban pembunuhan yang dibiarkan di gang area Bronx dengan perasaan masygul. Di hadapannya seorang wanita cantik meninggal dengan cara mengenaskan ditambah hilangnya satu kakinya.


Masa kasus mutilasi lagi?


"Dr Cabbot?" suara Ghani mengejutkannya.


Alexandra menoleh kearah Ghani. "Ini aneh deh. Ada yang salah." Alexandra memeriksa korban pembunuhan itu.


"Maksudnya?" tanya Ghani tidak mengerti.


"Kenapa sepatu mahal begini kok nggak pas di kakinya?" ucap Alexandra sambil menatap Ghani. "Sepatunya bukan milik si korban."


Ghani melihat kaki korban yang mengenakan sepatu boot dan memang tampak kebesaran dua nomor.


"Terus ini sepatu siapa?" Ghani mengerenyitkan dahinya.


"Itu tugasmu, detektif mesum!" ucap Alexandra lirih yang bisa didengar oleh Ghani.


"Aku bukan... Ah sudahlah!" sungut Ghani sebal. Apa gara-gara aku masuk ke ruangannya kemarin tanpa mengetuk dan melihatnya berganti baju? Damn! Lexa so seksiih!


"G, kalau otakmu masih traveling, awas!" ancam Alexandra mulai jutek mode on nya.


Kok tahu sih?!


***


Ghani masih menyelesaikan laporannya tentang hasil penyelidikan wanita yang memakai sepatu kebesaran. Rupanya ada seorang shoes fetish atau orang yang mengalami gangguan perilaku sek*sual pengoleksi sepatu tertentu karena membuatnya berga*irah.


Alasan dia membunuh wanita itu karena dia menyukai bentu kakinya yang menurutnya indah dan cocok dipakai kan sepatu koleksinya. Ghani hanya bisa menghela nafas panjang memikirkan makin banyak orang-orang otak kuwalik seperti kata Daddynya, Abi.


"Bro! Kamu diundang ke pernikahan Rain kan?" tanya Raymond Ruiz sambil membawakan dua cup kopi untuk dirinya dan Ghani.


"Iya diundang. Kamu datang kan Ray?" tanya Ghani.


"Datanglah. Kamu tahu, Val langsung main booking ikut pesawatnya Duncan. Semalam dia cerita kalau sudah bilang sama Rhea dan tampaknya Duncan mengijinkan."


Ghani melirik ponselnya yang bergetar dan tampak nama 'Dik Rhea' di layar.


"Assalamualaikum dik" sapa Ghani.


"Wa'alaikum salam. Mas Ghani, besok ke Jakarta bareng sama aku dan bang Duncan ya. Ramai-ramai sama Lora dan Raymond. Bawa mbak Alexandra sekalian."


"Oke dik" jawab Ghani yang tersenyum mendengar adiknya makin cerewet semenjak menjadi seorang ibu.


"Jangan telat ya mas. Ambil cuti!" Ghani terkekeh.


"Iya adikku yang imut" ucap Ghani.


***


Ghani dan Alexandra sudah berada di mansion Duncan Blair yang rencananya akan berangkat bersama.


"Mana sih Lora dan Raymond? Sukanya nggak on time deh!" omel Rhea sambil menyiapkan semua bawaannya sedangkan Kaia heboh sendiri bermain rubik di pangkuan Alexandra.


"Assalamualaikum!" teriak Valora.


"Wa'alaikum salam! Astaga kamu tuh telat!" Rhea memasang wajah jutek.


"Sudah, yuk berangkat. Koper-koper sudah masuk kan?" ucap Duncan daripada pusing mendengar istrinya dan adik bar-barnya ribut.


Alexandra menggendong Kaia yang nyaman dengan auntynya menuju ke tiga Range Rover yang berjejer.


"Kaia mau ikut aunty Alex atau sama mami?" tanya Rhea sambil mengulurkan tangannya namun Kaia lebih memilih dengan Alexandra.


Rhea pun manyun. "Ya sudah mbak Alexandra, aku titip Kaia ya?"


"Santai saja Rhea, kan ada Ghani juga" ucap Alexandra sambil mencium pipi gembul Kaia.


"Mas Ghani, titip Kaia ya" ucap Rhea kepada kakaknya yang hari ini memakai kacamata topi coklat, kaos oblong, celana pendek selutut dan sneakers semuanya bewarna hitam..


"Ya Dik" jawab Ghani sambil tersenyum.


Semua rombongan itu pun berangkat menuju Jakarta.


***


Setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam, pesawat milik Duncan Blair pun mendarat di Halim Perdanakusuma.


Abi dan Dara menjemput anak dan menantunya di Bandara meskipun tujuannya Kaia sebenarnya. Tampak tiga pasang orang dewasa dan seorang batita bule dalam gendongan seorang wanita Asia yang imut.





Semuanya tersenyum melihat Abi dan Dara datang untuk mereka.


Ghani memeluk kedua orangtuanya dengan hangat. Disusul Rhea dan Valora. Baru setelahnya Alexandra, Duncan dan Raymond. Kedelapan pasutri itu berjalan menuju parkiran mobil-mobil milik Abi yang berjejer.


"Kamu tuh baju nggak ada warna lain apa mas?" tanya Dara yang sebal melihat putranya selalu memakai baju warna hitam.


"Lemari bajunya mas Ghani monochrome warnanya, hitam putih abu-abu" sahut Rhea sambil nyengir.


"Besok acaranya Rain nggak boleh monochrome lho ya warna bajunya!" lirik Dara ke Ghani.


"Nggak mom, besok pink!" jawab Ghani asal.


"Beneran? Kamu memang bawa jas warna pink?" seru Alexandra sumringah.


"Ya nggak lah! Kamu kira apaan aku pakai jas warna pink? Matahari terbit dari barat kalau aku pakai jas pink!" sahut Ghani dengan muka datar.


"Padahal kamu pakai jas pink, lucu lho G" kekeh Raymond.


"Haaaiissshhhh! Gak usah ngomporin Ray!" ucap Ghani sambil menyeret koper hitamnya.


"Kemarin kami mau membeli Vespa. Awalnya Daniswara mengijinkan aku memilih warna Vespanya tapi akhirnya kami memilih Sei Giorni limited edition" cerita Alexandra.


"Cakep tuh Sei Giorni hanya saja aku lebih suka naik BMW, lebih besar" ucap Duncan. "Aku dan Rey sempat berjalan-jalan pakai motor ku itu sebelum Rey hamil Kaia."


Duncan menunjukkan fotonya.



"Whoah! Ini sih sok romantis D" kekeh Raymond.


"Emang" cengir Duncan.


"Lho memang kenapa Lexa nggak boleh memilih warna Vespanya mas?" tanya Dara ke Ghani.


"Lha yang dipilih warnanya pink! Ya salam G naik Vespa warna pink!" jawabnya manyun.


Dara, Rhea dan Valora tergelak.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


- Kasusnya Ghani, aku ambil di salah satu episode Law and Order SVU season 3