
Danisha menatap ponsel di tangannya lalu kembali meletakkan ke telinganya.
"Iya ma, Iwan manager quality control aku ma. Dia bilang dia suka sama aku" jawab Danisha apa adanya.
"Oh ternyata begitu ya. Bagaimana dengan dirimu, sayang?" tanya Alexandra.
"Aku sedang mencari jawabannya ma karena selain Iwan, ada dua orang pria lagi yang memiliki perasaan kepada Nisha."
Alexandra menghela nafas panjang. Putrinya sudah waktunya berumahtangga memang.
"Boleh kamu kasih tahu siapa saja yang tertarik padamu?" tanya Alexandra yang mengganti panggilan menjadi video call.
"Asen Alibek, Ezra Hamilton dan Iwan Aradhana."
"Ezra Hamilton? Bukannya dia putra Joseph Hamilton pemilik Hamilton Co?" tanya Alexandra.
"Seratus buat mama!" ucap Danisha.
"Asen Alibek. Putra Kemal Alibek? Pemilik AB mall di Turki?" Alexandra memeriksa semuanya di ruang kerjanya.
"Aku tidak suka dia ma, dia sudah membuatku kesal!" Danisha pun menceritakan apa yang terjadi dan membuat Alexandra kesal.
"Bagus sayang! Mama suka dengan sikapmu itu!"
"Tapi dia sekarang berada disini ma, sepertinya mengejar aku" jawab Danisha.
"Apa perlu mama minta Oom Gozali mengirimkan tambahan pengawal lagi?" tawar Alexandra.
"Tidak perlu ma, aku masih bisa jaga diri."
"Iwan Aradhana. Ayahnya sudah meninggal ya Nisha?" tanya Alexandra.
"Iya ma. Ibunya jualan toko kelontong di depan rumahnya" jawab Danisha yang tersenyum melihat sang mama mulai screening pria yang menyukai putrinya.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Alexandra.
"Entah kenapa tadi malam, jantungku berdebar saat berdekatan dengan Iwan padahal aku semalam juga dinner dengan Ezra dan bertemu dengan Asen."
"Apa rasanya seperti there're lots of butterflies in your stomach?" goda Alexandra.
"Aku nggak tahu ma tapi tadi malam sampai sekarang kalau teringat email dari Iwan, aku berdebar." Danisha menceritakan apa yang sudah dilakukan Iwan dan Alexandra hanya tersenyum. Putrinya memang sudah kenyang dengan kekayaan sejak lahir, jadi ketika seorang pria menyatakan perasaannya dengan cara sederhana, dia tersentuh.
"Sayang, mungkin tadi mama diberikan jawaban oleh Allah tapi cobalah kamu melakukan doa di sepertiga malam seperti ini dalam waktu tiga malam dan mama pun akan melakukan hal yang sama. Insyaallah kita berdua mendapatkan jawaban yang tepat" ucap Alexandra.
Danisha mengangguk. "Iya ma, Nisha hanya ingin mendapatkan yang terbaik."
***
Pagi ini Danisha bersiap berangkat ke kantor AJ Corp mengenakan kemeja bewarna krem dan celana panjang Chino bewarna coklat satu tingkat lebih tua warnanya dari atasannya.
Bik Yati sudah memasakkan nasi goreng sosis dan bakso untuk sarapan yang merupakan salah satu menu favorit Danisha.
"Non, nanti malam mau dimasakan apa?" tanya bik Yati karena tahu Danisha pasti makan siang di kantor.
"Aku kok pengen sop iga atau buntut ya bik. Uang belanja masih ada nggak? Kalau kurang, aku tambahin buat beli iga dan buntut." Danisha mengeluarkan lima lembar uang bewarna merah yang diberikan kepada bik Yati.
"Masih ada sih non tapi nggak papa buat tambahan belanja lainnya, kayak ikan, udang sama cumi."
"Terserah bik Yati yang penting kulkas lengkap" senyum Danisha.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Danisha pun bersiap untuk berangkat dengan Range Rover Evoque Putih miliknya.
***
Iwan baru saja memarkirkan Vespa hijau pupusnya ketika melihat mobil Danisha masuk ke halaman kantor dan parkir di tempat khusus miliknya.
Jantung Iwan berdegap kencang ketika melihat gadis itu turun dengan dandanan sederhana tapi tetap tampak anggun.
Bismillahirrahmanirrahim. Iwan pun berjalan mendekati bossnya.
Danisha mendongak lalu tersenyum. "Pagi juga pak Iwan." Danisha sendiri menjadi mungil bila berada di samping Iwan yang memiliki tinggi 185 cm padahal untuk ukuran perempuan, Danisha termasuk tinggi 168cm.
"Produksi yang akan dikirim ke Hamilton Co sudah ready sekitar 60%. Apa akan kita kirim sebagian atau menunggu semuanya?" tanya Iwan sambil memperlihatkan hasilnya di iPad yang dibawanya sambil menemani gadis itu naik lift.
"Kita kirim kalau sudah 100% agar tidak terjadi dua kali ongkos kirim." Danisha dan Iwan masuk ke dalam lift yang kosong dan hanya mereka berdua.
"Maaf jika saya lancang Bu Danisha soal semalam. Tapi saya benar-benar jatuh cinta dengan anda, Bu Danisha Gayatri Giandra" ucap Iwan pelan namun membuat Danisha terkejut dan jantungnya berdebar.
Lift pun terbuka dan Danisha berjalan keluar bersama Iwan dan tampak Yanti sudah ready disana.
"Pagi Bu Danisha, mas Iwan" sapa Yanti.
"Pagi Yanti. Saya dan pak Iwan mau membicarakan produksi untuk Hamilton Co. Tolong nanti kalau ada tamu yang datang, suruh tunggu dulu."
"Baik Bu."
***
Danisha dan Iwan kini duduk saling berhadapan dalam keheningan. Masing-masing seolah tidak ada yang mau memulai berbicara.
"Bu Danisha" akhirnya Iwan membuka suara. "Maafkan jika saya terlalu berterus terang dengan ibu. Karena jujur, saya baru memiliki keberanian sekarang tentang perasaan saya."
"Jadi selama ini pak Iwan mengirimkan makanan buat saya dan Yanti itu...?"
"Salah satu modus saya" gelak Iwan.
Danisha tertawa. "Tapi saya suka dengan makanan yang anda kirimkan." Danisha berusaha untuk masih di fase formal karena masih harus mendapatkan jawaban dari doa-doanya meskipun sang mama seperti sudah memberikan satu petunjuk.
"Saya hanya mampu memberikan makanan sederhana yang terkadang itu masakan ibu saya sengaja saya bawa untuk saya berikan ke ibu."
"Masakan ibunya pak Iwan enak kok! Saya sendiri bukan tipe rewel soal makanan." Danisha tersenyum.
"Terimakasih atas pujiannya, Bu." Iwan pun berdiri. "Saya harus kembali ke rumah produksi dan memeriksa semua sebelum dikirim ke Hamilton Co" ucapnya sambil berjalan menuju pintu.
"Apakah kamu menyebutkan namaku dalam doamu, Iwan Aradhana?"
Iwan yang hendak membuka pintu, langsung membeku.
"Ke...kenapa Bu Danisha berkata demikian?" tanya Iwan sambil berbalik menatap gadis cantik itu.
"Semalam seperti ada yang menyebut nama lengkapku dan suaranya mirip suaramu. Apakah benar?"
Iwan mengangguk. "Aku selalu menyebut namamu di setiap sepertiga malam doaku, Danisha Gayatri Giandra" ucap Iwan dengan menatap lurus ke gadis itu.
Danisha tercengang mendengar pernyataan Iwan.
Suara ketukan membuat keduanya tersentak.
"Saya permisi, Bu Danisha." Iwan berbalik dan membuka pintu.
Tampak di hadapan Iwan, Ezra Hamilton dengan setelan lengkap berdiri disana.
"Selamat pagi tuan Hamilton."
"Pagi" jawab Ezra yang langsung masuk ke dalam ruangan Danisha.
Iwan pun hanya menghela nafas panjang. Setidaknya aku sudah mengatakan perasaannya. Bagaimana nantinya, Kersanipun Gusti Allah.
Pria itu pun berpamitan dengan Yanti untuk kembali ke kantor produksi AJ Corp.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️