
Edward tersenyum puas ketika mendapatkan info akurat tentang lokasi markas utama Martinez. Berdasarkan hasil pengintaian para anak buah Triad, mereka menemukan markas rahasia itu di Chinatown daerah Manhattan.
Yuna yang diberitahu oleh Edward hanya melongo tidak percaya bahwa betapa dekatnya markas rahasia Martinez dengan daerah kantor Alexandra bekerja.
"Apa yang hendak anda lakukan, Mr Edward?" tanya Yuna sambil melihat betapa akuratnya laporan Mr Chen.
"Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Ghani yang berhak melakukannya" ucap Edward tenang. Untuk saat ini, Edward meminta agar semua klan cooling down karena mereka semua sudah berhasil membuat klan Martinez berantakan.
Beberapa klan yang tersebar di Amerika Serikat pun membantu membersihkan prajurit Martinez di beberapa kota di negara bagian.
"Markas utamanya memang di New York karena dengan jumlah penduduk yang padat terutama area kulit hitam di Bronx, Queen's dan Brooklyn, membuat Martinez leluasa berbuat disana" ucap Mr Chen. "Yang membuat aku kesal, ternyata markasnya dekat markasku! Dan selama ini aku tidak tahu! Brengsek! Son of the bit**!"
"Kita sudah membuka kotak Pandora Mr Chen. Sekarang kita back down dulu, biarkan NYPD bekerja. Kita sudah selesai mengobrak-abrik" senyum Yuna.
"Jika NYPD membutuhkan bantuan karena aku tahu anak buah mereka banyak, aku akan kirimkan."
"Terimakasih Mr Chen. Tapi untuk kali ini, saya minta kita tidak usah terlibat. Begitu juga dengan klan O'Grady, Bianchi dan Diazo agar kita tetap 'Bersih' di mata hukum jadi bisnis kalian aman tidak dikejar-kejar oleh FBI yang dalam arti kasus ini." Edward menatap para sekutunya melalui panggilan zoom.
"Ghani pasti akan meminta bantuan FBI untuk menyelesaikan masalah ini." Yuna menambahkan.
"Aku rasa ada pengkhianat di NYPD yang selalu bisa menutupi markas sebenarnya Martinez karena mereka selalu gagal mendapatkan orang itu" ucap Diazo.
"Tenang saja soal pengkhianat itu Mr Diazo. Karena saya sudah tahu siapa" seringai Edward. "Tidak percuma saya mengirimkan keponakan-keponakan saya mengawal Ghani karena mereka bisa dengan leluasa membobol NYPD."
***
Ghani membuka pesan yang dikirimkan oleh Edward dan dia segera menghubungi AJ Russell untuk bergerak hari ini. Wajah pria tampan itu mengeras ketika tahu siapa pengkhianat di NYPD yang membuatnya susah menangkapnya dan hampir mati karena dia adalah mata-mata NYPD untuk Martinez.
Ghani menemui Kapten Briscoe dan menjelaskan semuanya. Kapten Briscoe menatap tidak percaya ke Ghani.
"Are you sure Giandra? Tapi dia hampir sepuluh tahun disini!"
Ghani memberikan bukti-bukti yang memberatkan melalui ponselnya. Mata kapten Briscoe melebar ketika melihat berapa uang yang diperoleh.
"Gila! Benar-benar Gila!" umpat kapten itu.
"Saya sendiri pun tidak percaya Sir" ucap Ghani.
"Oke. Apa rencanamu?" tanya Kapten Briscoe.
Ghani pun membeberkan rencananya yang sudah disusun matang dengan AJ Russell.
***
Kapten Briscoe mengumpulkan semua detektif disana dan mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan lokasi markas besar Martinez yang selama ini tersembunyi.
"Hasil dari telpon anonymous mengatakan bahwa lokasi Guillermo Martinez berada di daerah Queens dan kita akan menyerbu markas mereka malam ini juga. Bersiaplah! Kita ke Queen's satu jam lagi. Jangan lupa SWAT tim disiapkan!" perintah Kapten Briscoe.
"Siap kapten!"
***
Seseorang dari NYPD menyelinap menuju daerah Pecinan di Manhattan dan menemui Martinez.
"Mereka akan menyerang markasmu di Queen's" ucapnya.
"Kapan?" tanya Martinez.
"Malam ini menurut memo di ponsel sekitar jam tujuh malam."
Martinez menelpon caporegimenya yang di Queen's untuk segera bergerak memindahkan semuanya ke Brooklyn karena Bronx sudah dihabisi oleh NYPD dan FBI seminggu lalu.
"Kita bersiap-siap disini. Toh mereka baru tahu markasku di Queens kan?" Martinez menyalakan cerutunya. "Nanti malam kita bergerak keluar. Sementara ke Mexico dulu menunggu situasi aman baru kembali lagi ke New York. Meskipun barang di Mexico tidak sebagus disini, tapi aku masih bisa berbisnis. Sayangnya, aku tidak bisa melihat Alexandra ku."
Orang yang melaporkan semua pergerakan di kantornya hanya tersenyum sinis. Mau sampai kapan kamu mengharapkan dokter forensik itu? Semua sudah tahu kalau dia kekasih Giandra.
Tiba-tiba terjadi keributan dan teriakan.
"NYPD!"
"FBI!"
Orang yang bersama Martinez terkejut bukan main mendengar ramainya diluaran sana dan terjadi adu tembak.
"Kau mengkhianati ku!" teriak Guillermo Martinez.
"Tidak! Aku tidak pernah mengkhianati mu! Aku mencintaimu! Untuk apa mengkhianati mu!" teriak orang itu.
"Brengsek kau! Dasar bit*ch!"
Dor!
"Menyerahlah Martinez! Kamu sudah terkepung!" teriak Ghani.
"Aku tidak akan menyerahkan diriku Giandra! Mimpi kau! Alexandra akan menjadi milikku!" Martinez lalu memencet tombol dan keluar lewat jalur rahasia.
Ghani dan Raymond segera masuk diikuti oleh kapten Briscoe.
"Giandra! Kita Kejar Martinez! Ke Alexandra!" Raymond berhasil menemukan pintu rahasia Martinez dan keduanya berlari mengejar pria itu.
Kapten Briscoe berjongkok di hadapan anak buahnya yang berkhianat selama ini.
"You have the right to remain silent. Anything you say can be used against you in court. You have the right to talk to a lawyer for advice before we ask you any questions. You have the right to have a lawyer with you during questioning. If you cannot afford a lawyer, one will be appointed for you before any questioning if you wish. If you decide to answer questions now without a lawyer present, you have the right to stop answering at any time."
Kapten Briscoe membacakan Miranda Rights untuk semua warga negara Amerika Serikat yang ditangkap.
"Damn it Tammy! Kamu jatuh cinta dengan orang yang salah!" maki Kapten Briscoe kepada detektif Tammy Young yang terkapar berlumuran darah.
***
Martinez berhasil kabur dan menuju rumah sakit koroner tempat Alexandra bekerja yang bisa ditempuhnya hanya dengan 10 menit menggunakan sepeda motor.
Dengan sembarangan dia meletakkan motor nya dan segera menuju ruang autopsi Alexandra.
***
Duncan yang masih pucat hanya bisa lemas di kursi ruang autopsi Alexandra yang sudah bersih dari mayat dari sungai Hudson. Alexandra sudah membersihkan ruangannya dengan cairan disinfektan dosis tinggi yang membuat bau ruangan itu menjadi hilang dari bau busuk dan amis.
"Damn! Sekalinya menemanimu malah dapat mayat mengerikan Lex!" umpatnya membuat Alexandra yang sedang membersihkan pisau bedahnya tertawa.
Tiba-tiba suara pintu dibuka dan masuklah Martinez yang langsung menodongkan pistol di pelipis Alexandra.
Duncan segera menodongkan pistolnya ketika melihat kejadian secepat kilat itu.
"Lepaskan Alexandra, Martinez!" bentak Duncan.
"Kamu maju selangkah lagi, dia mati! No one has her!" balas Martinez.
"Lepaskan dia, Damn it!" teriak Duncan.
"Dia akan mati Blair! Karena dia hanya milikku!" Martinez tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
Duncan menatap Alexandra yang tampak tenang lalu melihat tangan gadis itu.
"Look man! Aku akan melepaskannya jika aku menjadi dirimu!" ucap Duncan dan di belakang nya sudah datang Ghani dan Raymond yang menodongkan pistolnya.
"Kenapa Alexandra tampak tenang-tenang saja?" bisik Raymond.
"Lihat tangannya G" bisik Duncan yang membuat Ghani paham.
"Kalian benar-benar keras kepala! Giandra! Siap-siap melihat Alexandra mati!" teriak Martinez.
"Kamu yang akan mati!" desis Ghani.
Alexandra lalu menusukkan pisau bedah ke paha kanan Martinez tepat di aorta yang membuat pria itu menjerit kesakitan dan melepaskan pelukannya dari Alexandra yang berbalik lalu menebaskan pisaunya di leher Martinez membuatnya dia mati seketika.
Ghani lalu memeluk gadisnya yang masih mode bertarung.
"Sudah selesai, sayang" bisik Ghani. "Kamu mengalahkannya." Alexandra melepaskan pisau bedahnya dan menangis di pelukan Ghani.
Kapten Briscoe datang bersama AJ Russell hanya bisa melongo melihat Martinez meninggal mengenaskan.
"Apa yang terjadi disini?"
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Bener-bener chapter yang menguras energi Eike...
Kalau mau tahu seremnya Eskrima, bisa cek di
https://youtu.be/isFK\_9kudtM
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️