The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Danisha dan Iwan



"Ngapain Ezra Hamilton datang ke Solo?" tanya Asen dengan wajah tidak suka.


"Aku datang ke Solo karena bisnis dan bertemu dengan cinta pertamaku" jawab Ezra cuek.


"Cinta per... AAAPPAA?" Asen mendelik ke arah Ezra dan Danisha yang masih saja santai minum air putihnya.


"Jika anda tidak ada kepentingan, silahkan anda pergi, Mr Alibek karena saya sedang menikmati makan malam" ucap Danisha dengan tatapan mata dingin ke arah Asen.


"Danisha, bisakah kita bicara berdua sebentar?" pinta Asen.


"Maaf Mr Alibek, saya tidak mau dan tidak bisa" jawab Danisha.



"See Mr Alibek, teman makan malam saya tidak mau dan tidak bisa." Ezra menatap tajam ke mata coklat Asen.


"Memangnya kamu tuh siapa, Hamilton?" balas Asen galak. Kedua pria itu masih dalam mode hendak bertarung dan keduanya saling berdebat satu sama lain.


Danisha memutuskan untuk berdiri dan menuju kasir lalu membayar makanannya lalu berjalan keluar meninggalkan kedua pria itu.


Ezra dan Asen celingukan mencari Danisha yang tiba-tiba menghilang lalu bersama berjalan keluar.


Danisha yang sedang berjalan dengan hati kesal, terkejut ketika melihat sebuah Vespa hijau pupus berhenti di sebelahnya.



"Bu Danisha? Kok jalan kaki?" Danisha menoleh dan tampak Iwan yang berada di atas Vespa.


"Pak Iwan, antarkan aku pulang" pinta Danisha.


Iwan pun tersenyum bahagia bossnya minta diantarkan pulang.


"Mari, naik Bu. Maaf saya hanya punya Vespa" senyum Iwan.


"Nggak masalah! Papa saya juga punya Vespa hitam dan pink" kekeh Danisha yang segera naik ke Vespa Iwan. Jangan ditanya bagaimana jantung Iwan bertalu-talu ketika tangan lentik Danisha memegang pundaknya.


"Sudah Bu?" tanya Iwan..


"Sudah. Ayo pulang!" Danisha tanpa sadar memeluk pinggang Iwan.


Iwan tersenyum bahagia dan segera memacu Vespanya.


"Danisha!"


"Nisha!"


Teriak kedua orang pria dari halaman Amco namun Danisha mengacuhkan dan Iwan membawa bossnya pergi dari restauran itu.


***


"Bu Danisha, pakai helm dulu" ucap Iwan dan pria itu meminggirkan Vespanya. Danisha pun turun, lalu Iwan membuka bagasi dan mengambil helm cadangannya.


"Saya nggak mau kena tilang Bu" cengir Iwan.


Danisha tertawa lalu memakai helmnya namun tidak bisa menguncinya. "Ini gimana sih? Kok nggak bisa dikunci?"


Iwan pun reflek maju mengunci helm Danisha yang membuat gadis itu bisa melihat wajah managernya dengan dekat. Wajahnya manis juga.



"Sudah Bu" ucap Iwan dengan nada sedikit gugup. Bagaimana tidak, dia begitu dekat dengan boss nya hanya berbeda jarak beberapa senti saja.


"Oke, terimakasih." Danisha memegang helm warna pink itu. "Kok helmnya warna pink?"


Iwan gelagapan. Masa aku bilang sengaja aku beli karena berharap suatu waktu Bu Danisha naik Vespa ku?


"Soalnya saya beli online tapi salah kirim warna jadi ya sudah lah daripada harus dikembalikan" cengir Iwan.


"Iyalah, males kalau harus dikembalikan" senyum Danisha.


"Ibu jadi saya antar pulang?" tanya Iwan yang sedang menaiki Vespa nya.


"Kita ke wedhangan yuk! Aku ingin wedang jahe" jawab Danisha.


Iwan melongo. Boss bulenya senang wedhangan?


"Boleh Bu. Mau wedhangan mana?"


"Pak Basuki!" Danisha lalu naik ke atas Vespa dan Iwan pun menyalakan Vespanya.


"Sendiko dawuh, Bu Danisha" goda Iwan yang membuat gadis itu tertawa dan lagi-lagi memeluk pinggang Iwan. Keduanya lalu menuju wedhangan Pak Basuki.


***


***


Ezra pun melakukan hal yang sama, berputar-putar kota Solo mencari keberadaan Danisha. Ezra tahu Danisha merasa jengah melihat dirinya dan Asen bertengkar seperti dua ekor singa yang memperebutkan betinanya.


Ponsel gadis itu pun langsung offline membuatnya tidak bisa menghubunginya.


Kamu kemana sih Nisha? Dan siapa pria yang membawa Vespa itu ?


Setelah sejaman dia berusaha mencari Danisha tidak ketemu, akhirnya Ezra pulang ke apartemen yang disewanya bersama Tom Howard, asistennya.


***


Iwan melongo melihat bossnya dengan santainya memesan dua bungkus nasi bandeng, satu sosis besar, sate kikil dan wedang jahe merah.



"Bu Danisha belum makan tadi?" tanya Iwan hati-hati.


"Sudah tapi aku lapar lagi karena jengkel" sahut Danisha sambil memakan nasi bandengnya lalu menggigit sate kikilnya.


"Saya nggak nyangka bu Danisha suka wedhangan padahal bule" kekeh Iwan.


Danisha tertawa. "Kulit bule tapi aku pecinta wedhangan. Papaku orang Jawa, Necan ku wong Solo jadi kalau aku suka kota Solo Yaaa wajar karena eyang buyutku wong Solo."


"Lho nyonya Dara almarhum itu wong Solo tho?"


Danisha mengangguk. "Necan Dara itu wong Solo. Rumah almarhum eyang buyutku di belakang hotel Lor In tapi sekarang sedang kami kontrakan karena tadinya aku pas pindah Solo mau tinggal disana tapi Tante Miki dan Oom Mamoru minta aku tinggal di Solo Baru. Ya sudah, rumah eyang kita kontrakan saja."


"Tadi Bu Danisha ada acara apa di Amco?" tanya Iwan.


"Diajak makan malam sama Ezra tapi ternyata ada Asen dan malah bertengkar mereka berdua jadi aku tinggal saja!"


"Keduanya memperebutkan ibu?" tebak Iwan.


"Yup dan aku malas melihat pria-pria sok chauvinist begitu! Toh aku belum mengiyakan jadi pacar siapa kok mereka sok klaim aku punya mereka. Aku adalah milik aku sendiri tapi kalau posisi anak, aku masih milik kedua orang tuaku, papa Ghani dan mama Alexandra."


"Apa ibu tidak menyukai salah satu dari mereka?" tanya Iwan berusaha mencari tahu bagaimana perasaan bossnya ke kedua pria bule itu.


Danisha tersenyum. "Aku tidak ada chemistry dengan keduanya. Ezra mungkin karena dia pernah aku tolong waktu kecil jadi ada perasaan nostalgia atau tertarik tapi kalau cinta? Nggak ada." Danisha menatap lurus ke mata hitam Iwan. "Aku belum menemukan pria yang tepat saja."


Wajah Iwan sedikit merona ditatap bossnya seperti itu. "Aku tahu kamu menyukai aku, pak Iwan atau harus aku panggil 'mas' karena kamu lebih tua?" kedip Danisha sambil tersenyum.


Raut wajah Iwan menunjukkan dia seperti ketahuan menyukai bossnya dan sekarang wajahnya menjadi merah padam.


"Maafkan saya jika saya menyukai Bu Danisha" bisik Iwan. "Lagipula saya tahu posisi saya hanya seorang anak yatim dari keluarga sederhana tidak pantas dengan keluarga ibu yang merupakan keluarga konglomerat."


Danisha tertawa. "Keluarga ku tidak pernah meributkan status sosial yang penting lolos screening."


"Lolos screening?" tanya Iwan bodoh.


"Apa kamu lupa aku dari keluarga apa? Papaku polisi di NYPD, Oom ku berkerja sebagai pemilik perusahaan pengawalan dan Oom ku pemilik MB Enterprise. Jadi kebayang kan?" gelak Danisha.


Iwan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berat banget perjalananku untuk mencoba mendapatkan Bu Danisha.


"Apakah saya boleh menyukai ibu?"


Danisha menatap Iwan. "Menyukai seseorang itu hak pribadi dan jika pak Iwan benar-benar seperti itu dengan aku, buktikan bahwa anda pantas untukku."


"Bagaimana perasaan ibu ke saya?" tanya Iwan.


"Sejujurnya aku masih belum bisa memastikan karena aku sedikit kaku soal asmara namun jika pak Iwan bisa membuat aku jatuh cinta padamu, maka aku tidak akan ragu lagi menerimamu."


Iwan menatap Danisha dengan tatapan tidak percaya.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Sebenarnya wajar sih Danisha mengetes mana pria yang terbaik baginya karena kita pun sebagai kaum perempuan ingin mendapatkan pasangan yang terbaik. Jadi jangan menjudge Danisha mencla-mencle yaaaa.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️