The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Keia Al Jordan



New York, Dua Hari Kemudian


Ezra pulang ke New York dengan perasaan patah hati karena ditolak oleh Danisha meskipun Ghani dan Alexandra Giandra tidak ada penolakan kepadanya tapi memang yang menjalani mereka berdua. Apa jadinya pernikahan jika salah satu tidak mencintai, bisa jadi pernikahan mereka akan berantakan.


Sebagai laki-laki, Ezra harus berlapang dada. Kalau memang tidak berjodoh mau gimana? Ezra hanya tersenyum getir. Selama ini dia menunggu gadisnya dan selama ini juga hanya dirinya yang berharap mereka bisa berjodoh.


Sambil menyeret kopernya, Ezra berjalan hendak keluar pintu kedatangan ketika melihat seorang wanita cantik bertengkar dengan seorang pria. Ketika pria itu hendak menampar wanita itu, Ezra segera menangkap tangan pria itu.


"Hey man! Jangan memukul wanita!" ucapnya dingin.


"Jangan ikut campur kamu! Ini urusan aku dengan dia!" bentak pria itu.


"Aku sudah tidak ada urusan dengan mu! Mulai sekarang pertunangan kita putus!" Gadis itu melempar cincin yang dipakainya ke wajah pria itu.


Pria yang dipegang tangannya oleh Ezra berhasil melepaskan diri dan hendak menyerangnya, namun gadis itu sudah siaga dan hanya sekali tebas tangan gadis cantik itu sudah memukul leher pria itu, meninju perut dengan lutut dan terakhir lutut itu pun menyerang masa depannya.


Pria itu langsung tersungkur hingga pihak keamanan pun datang tergopoh-gopoh melihat seorang gadis cantik menghajar pria yang lebih besar darinya.


"Dengar, Jimmy! Aku tidak mencintaimu! Dan pertunangan kita salah ditambah aku melihat kamu asyik ber*gumul dengan jala*ngmy dengan menjijikkan! Jangan pernah muncul di hadapanku kalau masih sayang dengan nyawamu!" ucap gadis itu dingin yang entah kenapa mengingatkan Ezra akan Danisha.


"Miss Al Jordan, anda tidak apa-apa?" tanya seorang petugas kemanan.


"Tidak apa-apa. Bawa saja ke kantor polisi, saya akan menghubungi Oom saya, Letnan Raymond Ruiz di NYPD. Setelah ini saya akan ke downtown."


"Baik Miss."


Gadis yang dipanggil 'Miss Al Jordan' itu kemudian berbalik menghampiri Ezra.


"Terimakasih bantuannya Mr Hamilton" senyum gadis itu.


"Kamu mengenali aku?" Ezra agak tercengang mendengar gadis itu mengenalinya.


'Miss Al Jordan' hanya mengedikkan dagunya ke Ezra untuk melihat di belakangnya dan Ezra hanya tertawa kecil ketika melihat foto dirinya di sebuah baliho kecil tentang mall Hamilton.


"Well, busted. Ezra Hamilton" Ezra mengulurkan tangannya.


"Keia Al Jordan. Senang bertemu dengan anda" senyum Keia.


"Apa hubungan anda dengan AJ Corp?"


"Well saya cucu dari Hiroshi Al Jordan dan Shanum Pratomo, putri dari Mamoru Al Jordan dan Ingrid Van Dijk Al Jordan. Apakah membantu?"


Ezra tersenyum lebar. "Sangat membantu. Mari saya temani anda ke kantor polisi."


"Terimakasih."



Keia Al Jordan


***


Danisha hanya melongo ketika mendengar Iwan ingin mengajak dirinya untuk bertemu dengan ibunya.


"Jam berapa pak Iwan?" tanya Danisha yang memang masih memanggil Iwan denga. formal selama di perusahaan agar tidak keselip lidah.


"Jam tujuh ibu saya jemput?"


"Boleh. Naik Vespa kan?" cengir Danisha.


"Iya Bu, naik Vespa. Lha wong saya punyanya itu Bu" kekeh Iwan.


"Oke. Jadi aku tahu harus pakai baju apa karena naik Vespa."


"Sampai nanti Bu." Iwan pun mengangguk lalu keluar dari ruangan Danisha.


***


Keia Al Jordan meminta tolong ke Oomnya Raymond Ruiz agar mantan tunangannya dimasukkan ke sel dan dia mengajukan surat pengaturan jarak dari Jimmy Terrence dan dirinya.


Usai mengurus segala sesuatunya, Keia pun bersiap pulang karena dirinya memang benar-benar lelah. Niatnya ke Los Angeles untuk refreshing malah melihat bagaimana tunangannya main gila disana.


Keia sendiri sudah bilang kepada sang papa bahwa dirinya tidak menyukai Jimmy tapi karena janji sang mama dengan mama Jimmy membuat Keia tidak bisa membantah. Hari ini adalah puncaknya dan Keia sudah marah-marah ke mamanya meskipun setelahnya dia menyesal.


Mamoru langsung menelpon orangtua Jimmy untuk membatalkan pertunangan keduanya dan sempat mengamuk karena menganggap Keia kolot, bahwa itu hal yang wajar dilakukan sebelum menikah.


Selama Keia sibuk mengurus semua urusan hukum dan tuntutan, Ezra mendampingi gadis itu karena dia diminta Keia menjadi saksi meskipun Ezra tidak mendengar pertengkaran mereka tapi dia tahu bahwa Jimmy hendak melakukan kekerasan pada Keia.


Ezra melihat bagaimana gadis itu tampak lelah menawarkan untuk mengantarkan dia pulang.


"Apartemenmu di daerah mana?" tanya Ezra.


"Bawa saja ke Staten Island."


"Ada apa di Staten Island?"


"Ada Oomku disana dan aku ingin tidur disana." Keia menyebutkan alamatnya dan Ezra memasukkan ke dalam alamat GPS-nya.


"Blair Mansion? Apa hubungan mu dengan Duncan Blair?"


"Dia adalah Oomku."


Astaga! Berani mati si Jimmy karena berani kurang ajar dengan Keia. Apa dia tidak tahu siapa Oomnya Keia?


"Kamu tidur saja, aku akan mengantarmu ke Mansion Blair."


"Thank you Ezra. Kamu orang baik." Keia langsung memejamkan matanya.


I'm not a good person, Kei.


***


Danisha sudah bersiap-siap untuk dijemput oleh Iwan dan malam ini dia mengenakan baju hangat lengan panjang hitam dan jeans serta sepatu Converse. Tas selempang favoritnya pun tidak ketinggalan.



Bara sang kakak hanya tersenyum melihat adiknya sudah menunggu di teras.


"Cieee, yang menunggu kekasihnya datang" goda Bara.


"Apaan sih mas Bara tuh!" cebik Danisha sambil manyun.


"Nggak, mas Bara cuman senang kamu mendapatkan pasangan yang benar-benar mencintaimu, dik." Bara memeluk bahu adiknya. Harum Jasmine khas adiknya pun tercium di hidung mancung Bara.


"Iya mas. Misal kalau nanti aku menikah dengan Iwan dan pindah ke rumahnya pun aku nggak masalah" jawab Danisha.


"Apa kamu yakin?" tanya Bara mengingat adiknya sudah terbiasa melihat kemewahan dari lahir.


"Terkadang aku bosan jadi orang kaya" gelak Danisha. "Aku hanya ingin hidup sederhana."


"Karena itulah kamu memilih Iwan?" tanya Bara.


"Karena Iwan yang berani menatap langsung papa" gelak Danisha. "Dan Iwan yang jujur apa adanya bahwa dia tidak bisa memberikan aku barang branded tapi dia berjanji akan selalu membuat aku bahagia."


"Kalau seorang pria sudah berani mengatakan itu kepada papa, berarti dia sudah tahu konsekuensinya jika melanggar janjinya."


Danisha mengangguk. "Memang. Iwan sudah tahu akan hal itu."


Pintu gerbang pun terbuka dan tampak Iwan datang dengan Vespanya.


"Vespa?" selidik Bara.


"Tahu kan kenapa papa oke? Karena tahu Iwan punya Vespa" gelak Danisha.



"Assalamualaikum, Selamat Malam."


"Wa'alaikum salam. Senang bertemu denganmu akhirnya, Iwan." Bara tersenyum kearah Iwan.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️