The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Pasca Tunangan



Danisha masuk ke ruangannya dengan wajah bahagia apalagi jempolnya selalu menyentuh cincin yang melingkar di jari manisnya. Acara semalam memang mengejutkan bagi semua anggota keluarganya namun niat baik harus diterima apalagi niat itu adalah bagian dari ibadah.


Ketika duduk dan mulai membuka email-nya, dan dirinya terkejut ketika mendapatkan kabar dari Sekar kalau Kristal kembali ke New York setelah bertengkar hebat dengan Ashley.


Danisha hanya bisa menghela nafas panjang mendengar bagaimana sepupunya menyerah dengan hatinya padahal dia begitu yakin bisa menaklukkan hati Ashley. Tampaknya Kristal benar-benar jatuh cinta dengan Ashley.


Suara notifikasi di ponselnya berbunyi. Mas Iwan.


📩 Mas Iwan : Sudah sampai kantor, sayangku?


📩 My Nisha : Sudah mas. Baru buka email.


📩 Mas Iwan : Nanti makan siang di ruangan mu ya.


📩 My Nisha : Oke mas.


Danisha tersenyum sendiri ketika membaca Iwan mengajaknya makan siang di ruangannya. Kok aku malah deg-degan ya setelah status kita berubah.


Suara ketukan di pintu membuat Danisha kembali ke dunia nyata.


"Masuk!"


Yanti tampak datang dengan membawa beberapa berkas dan sebuah surat ditujukan untuk Danisha.


"Surat apa ini Yanti?" tanya Danisha. Hari gini masih ada surat-menyurat pribadi?


"Surat dari Turki Bu" jawab Yanti dengan wajah sebal.


"Maksudmu dari Asen Alibek?"


Yanti mengangguk. "Apa boleh saya yang membukanya Bu? Supaya mood ibu tidak berantakan pagi ini?"


Danisha memberikan surat itu kepada Yanti yang mengambil pisau pembuka amplop yang ada di meja kerja bossnya. Yanti melihat ada selembar kertas di dalamnya.


Yanti membacanya sekilas dan menatap Danisha.


"Apa isinya Yan?" tanya gadis itu. Yanti hanya menyerahkan kertas itu ke bossnya yang kemudian membacanya.


*Dear, Danisha


I'm so sorry. Maafkan atas semua perbuatanku padamu. Aku tahu aku salah karena terlalu memaksakan dan membuatmu marah.


Sekali lagi maaf kan aku.


Asen*.


Danisha hanya memasang wajah datar dan menyimpan surat itu. "Yanti, simpan di lemari arsip yang jarang dibuka. Meskipun aku ingin membakarnya tapi aku rasa lebih baik disimpan saja."


"Baik Bu." Yanti melirik ke jari manis Danisha dan tersenyum. "Selamat atas pertunangan ibu."


Danisha terkejut dan wajahnya merona. "How?"


Yanti tertawa. "Ya ampun Bu, saya hampir tiga tahun sama ibu masa nggak hapal sih? Ibu itu pakai cincin cuma satu di telunjuk doang dan sekarang ada cincin yang berbeda di jari manis ibu berarti sesuatu kan?" kerling Yanti. "Dengan mas Iwan?"


Danisha mengangguk.


"Gercep juga tuh bocah" kekeh Yanti.


"Maksudmu apa Yan?"


"Sebenarnya mas Iwan tuh suka tanya-tanya sama saya 'Bu Danisha suka makanan apa sih?', Bu Danisha sudah makan siang belum?' cuma awalnya saya mengira perhatian biasa karena beberapa pegawai juga suka nanya lalu kasih roti atau camilan buat ibu tapi mas Iwan tuh intens banget. Lalu saya sempat nanya tujuannya apa dan dia bilang kalau jatuh cinta sama ibu."


"Kok kamu nggak cerita Yan?" tanya Danisha.


"Nggak lah Bu supaya ibu tahu sendiri. Mas Iwan orangnya baik kok, saya tahu itu karena kami tetanggaan di Mojosongo."


Danisha menepuk jidatnya. "Owalaahhh! Kalian tuh dah saling kenal Thow?"


"Saya bersikap profesional sama mas Iwan itu pun dia yang minta supaya ibu tidak bias."


"Saya memeriksa ada beberapa klien habis kontrak kerjasama akhir tahun ini dan sudah saya ajukan email perpanjangan kontrak masih menunggu jawaban. Ini hanya berkas-berkas standar bu." Yanti memberikan berkasnya.


"Klausul kontrak kemarin sudah ada jawaban?" tanya Danisha.


"Yang habis kontrak dua bulan lagi kan ada tiga perusahaan, dua sudah mengajukan perpanjangan sedangkan yang satu belum."


Danisha mengangguk. Sekarang bulan Mei jadi masih ada waktu untuk kontrak lainnya.


"Oke Yanti, aku baca berkas ini dulu, tolong surat itu kamu simpan ya."


"Baik Bu. Saya simpan di lemari arsip yang terlupakan karena isinya hanya barang-barang tidak penting."


***


Bara mengernyitkan dahinya ketika melihat penawaran pemotretan di Bali tepatnya di ulu watu, Gianyar, tanjung Benoa dan nusa penida. Sebenarnya dia sangat antusias ke Bali tetapi ada tugas disini. Penawaran dari National Geographic itu efektif pada bulan Agustus depan.


Alexandra yang melihat putranya memasang wajah serius itu lalu duduk mendekati si sulung.


"Kamu kenapa, mas?" tanya sang ibu.


"Ini lho ma, ada penawaran pekerjaan di Bali besok Agustus tapi aku kan masih ada urusan dik Nisha disini" ucap Bara sambil menunjukkan email di MacBook nya.


"Wuuiihhhh Bali. Mama sudah lama tidak ke Bali, ini papamu cuti saja karena memang belum pernah ambil cuti panjang tiga tahun ini. Lebaran kemarin saja hanya ambil jatah empat hari bis itu kita pulang ke New York lagi."


"Semoga dik Nisha nggak pas Agustus acaranya jadi aku bisa ke Bali" cengir Bara.


"Aamiin."


***


Iwan datang ke lantai tempat Danisha bekerja dan melihat Yanti sedang bersiap-siap makan siang dengan membuka Tupperware nya.


"Siang mbak Yanti. Bu Danishanya ada?"


Yanti tersenyum. "Selamat ya mas. Bu Danisha dieman-eman ya. Angel lho perjuanganmu ( susah lho perjuanganmu )" goda Yanti.


"Iya mbak. Alhamdulillah pak Ghani dan Bu Alexandra setuju."


"Orang tuanya Bu Danisha pancen apik kok wonge" puji Yanti yang memang memiliki hutang budi dengan keluarga Giandra.


"Tak masuk dulu ya. Ibu sudah buatin makanan buat calon anak mantu" cengir Iwan.


"Dah sana" kekeh Yanti yang melihat Iwan mengetuk pintu dan masuk ke ruangan kerja Danisha.


Yanti Putri adalah anak seorang pegawai pabrik garmen yang tinggal di Mojosongo. Disaat usianya menginjak 15 tahun, ayahnya mengalami kecelakaan tabrak lari dan pada saat itu, kedua suami istri Giandra berada di tempat kejadian menolong ayah Yanti dan membawanya ke rumah sakit. Berkat Ghani juga, sang pengemudi pun dapat ditangkap yang ternyata anak seorang pejabat Pemkot Solo.


Tekanan dari Ghani dan Sofyan, suami Sabrina membuat bapak dan anak yang tidak mau bertanggung jawab, akhirnya mau membiayai semua pengobatan ayah Yanti.


Akibat kecelakaan itu, ayah Yanti menjadi tidak sekuat dulu dan memutuskan berhenti bekerja di pabrik dan membuka warung sate ayam di depan rumah. Ghani dan Alexandra pun memberikan bantuan pendidikan untuk Yanti hingga meraih gelar sarjana. Sejak itu Yanti pun bertekad untuk membalas kebaikan keluarga Giandra dan dirinya senang ketika tahu Danisha menjadi bossnya.


Apalagi Danisha adalah boss yang menyenangkan membuat Yanti semakin betah. Yanti sendiri tidak menceritakan bahwa dirinya dibantu oleh orang tua Danisha dan setahu gadis itu, Yanti adalah sekretaris yang kompeten.


Sekarang Yanti pun ikut berbahagia mengetahui bossnya bertunangan dengan pria baik yang juga tetangganya. Semoga kalian selalu bersama. Yanti pun memakan bekalnya.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf kemarin gak bisa crazy up meskipun pengen gara-gara aku teler.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️