
Ghani menunggu Alexandra yang sedang menyelesaikan autopsi potongan tubuh Tammy Young yang terakhir. Seperti dugaannya, hati dan ginjal hilang. Wajah Alexandra yang serius lalu manyun lalu mengumpat malah membuat Ghani tersenyum. Gadis itu memang lucu kalau sedang bekerja, penuh dengan ekspresi menggemaskan.
Alexandra melirik ke arah Ghani yang sedang mengambil ponselnya yang bergetar. Wajah tunangannya tampak cerah ketika tahu siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum mommy" sapa Ghani. Alexandra tersenyum melihat Ghani seperti mendapatkan mood booster, setidaknya tidak sekusut tadi.
"Haaaahhhh? Besok sampai New York?" teriaknya. "Mau geruduk Alexandra? Ya Allah mommy!" Ghani pun manyun.
"Iya daaahhh! Iya besok Sabtu aku dan Alexandra ke mansion Duncan... Iya mommy. Wa'alaikum salam." Bahu Ghani langsung turun lemas.
"Lexa, maaf acara jalan-jalan pakai Sei Giorni harus batal karena harus ke Staten Island. Kita pakai Range Rover saja ya?" Ghani menatap Alexandra.
"Mama Dara datang kah?" senyum Alexandra. Ghani mengangguk. "Ayo besok ke rumah Rhea."
Ghani tersenyum manis.
***
Ghani pagi ini datang menjemput Alexandra di apartemennya. Hari ini dia memutuskan memakai kemeja ungu pemberian Rhea. Adiknya itu memang sukanya memberikan baju warna macam-macam sebab dia sebal baju yang dipakai Ghani kebanyakan hitam dan putih.
Gara-gara terburu-buru Ghani lupa memakai parfumnya dan sedang menyemprotkan parfum favoritnya dan tiba-tiba pintu apartemen Alexandra terbuka dan gadis itu tertawa.
Ghani pun tertawa bersama karena mereka sama-sama mengenakan outfit warna ungu.
"Nggak janjian lho Daniswara" ucap Alexandra sambil tertawa dan mengambil jaketnya karena gaunnya menampilkan bahunya yang mulus.
"Berarti sehati sayang. Yuk berangkat!" Ghani menggandeng tangan Alexandra setelah gadis itu menutup pintu apartemennya. Ghani melirik ke jari manis Alexandra yang terdapat cincin tunangan mereka dan tersenyum.
***
Ghani menyetir Range Rover nya dengan kecepatan sedang. Tangan kanannya selalu menggenggam tangan kiri Alexandra karena mobilnya setir kiri. Sesekali dia mencium tangan mungil itu tepat di jari yang sekarang melingkar sebuah cincin cantik.
"Nanti sampai sana nggak usah cerita aneh-aneh ya Lexa. Aku nggak mau mommy cemas dan nanti aku disuruh mundur dari NYPD" pesan Ghani.
"I know. Wajar sebagai seorang ibu pasti akan merasa khawatir jika anaknya dalam bahaya. Aku pun begitu kalau nanti punya anak" ucap Alexandra.
"Kamu ingin punya anak berapa, Yank?" tanya Ghani.
"Hhmm sedikasihnya tapi aku ingin dua, cowok cewek." Wajah Alexandra berbinar ketika menceritakan keinginannya memiliki anak. Ghani tersenyum. Sama! Aku juga ingin dua anak, cowok cewek seperti aku dan Rhea.
***
Range Rover hitam itu sampai di mansion Blair dan pintu gerbang pun terbuka setelah Ghani memencet kode dirinya di passcode. Sejak kasus dia harus bersembunyi dengan Alexandra di mansion Blair, Duncan memberikan ijin ke Ghani untuk membuat passcode sendiri agar mempermudah dirinya keluar masuk mansion.
Setelah memarkirkan mobilnya, Ghani dan Alexandra pun berjalan menuju pintu utama yang langsung dibukakan oleh Steve.
"Selamat datang Mr Giandra. Senang bertemu anda lagi" sapa Steve ramah.
"Senang bertemu kembali. Sehat Steve?" balas Ghani.
"Alive and kicking" kekeh Steve. "Mari saya antar, semuanya sudah menunggu di ruang tengah." Ghani dan Alexandra mengikuti pria tinggi besar itu.
"Assalamualaikum" sapa Ghani dan Alexandra berbarengan yang membuat semua orang disana melongo.
"Wa'alaikum salam" balas Dara sambil berdiri dan menyambut calon menantunya. "Alhamdulillah" bisiknya sambil memeluk Alexandra.
***
"Ini kalian memang janjian atau gimana sih? Kok pakai baju samaan warnanya?" tanya Rhea yang tahu kemeja yang dipakai mas nya adalah pemberiannya.
"Nggak sengaja sih Rhea. Aku hanya ingin memakai baju ini sih tapi ternyata Daniswara memakai baju dengan warna yang sama."
Dara dan Rhea tertawa. "Baru kali ini ada yang memanggil Ghani dengan nama depannya" kekeh Dara.
"Biasanya aku juga manggil seringnya G atau Ghani kalau sedang bekerja atau Giandra kalau sedang kesal tapi lebih suka memanggilnya Daniswara kalau sedang berdua atau dengan keluarga."
"Hati-hati menjadi Dennis the menace" senyum Dara.
"Ohya? Bagus dong! Aku suka perempuan kuat. Rhea memang tidak bisa bela diri karena dulu mas Abi melarang namun Rhea punya power sendiri untuk menjadi kuat." Dara mengusap kepala putrinya.
"Tapi Kaia harus mengikuti tradisi keluarga Pratomo lho Ra" sahut Yuna.
"Hah? Haruskah?" wajah Dara langsung cemas.
"Wajib Ra. Apalagi di dalam tubuh Kaia mengalir gen keluarga ku dan Edward. Jangan khawatir, aku yang akan mengawasi nya" senyum Yuna.
"Justru itu yang membuatku khawatir mbak Yuna" ucap Dara.
"Kenapa?"
"Takutnya Kaia menjadi fotocopy dirimu yang bar-bar" keluh Dara yang membuat Yuna tertawa.
"Kalau Kaia bar-bar berarti memang turunan."
Rhea dan Alexandra hanya saling memandang satu sama lain. Dasar Oma savage!
***
Ghani, Duncan, Abi dan Edward sekarang berada di ruang kerja Duncan. Keempat pria itu membahas perkembangan kasus yang sedang diselidiki oleh Ghani.
"Berarti pengkhianat dan musuh dalam selimut terdapat di Triad pimpinan Mr Chen dong!" seru Duncan.
"Yup. Ini aku putarkan hasil penyadapan kami kemarin." Ghani memutarkan percakapan dokter Tan Liu bersama anak buahnya. Abi menatap putra kesayangannya dengan tatapan cemas karena harus berurusan dengan orang-orang Psycho seperti itu.
"G, Oom minta copy rekaman ini ya. Biar Oom bertemu dengan Mr Chen bisa memberikan bukti konkret" pinta Edward.
"Tenang saja Oom. Ghani sudah menyiapkan." Pria itu memberikan sebuah flashdisk kepada Edward. "Di dalam flashdisk itu juga ada beberapa foto-foto Dr Tan Liu bertemu dengan anak buah Martinez."
"Dad, apa yang akan dilakukan Mr Chen?" tanya Duncan.
"Dad tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi yang jelas kamu G, harus menyelamatkan keluarganya Luis."
"Sementara keluarga nya Luis aman karena mereka masih menganggap kami juga tidak bisa mendapatkan emas batangan itu karena tidak tahu passcode nya."
"Bagaimana kamu tahu passcodenya adalah tanggal ulang tahun Alexandra?" tanya Abi.
"Dad, orang yang obsesi pasti akan mengkaitkan semuanya dengan orang yang diincarnya."
"Tapi Dad nggak habis pikir. Kok ya otaknya mlengse jauh banget! Mengerikan orang dengan otak kuwalik gitu" gumam Abi.
"Kok bisa otak kuwalik ( kebalik ) gitu istilahnya Bi?" tanya Edward.
"Lha nek ora kuwalik ya ora bakalan nduwe pikiran gendeng ngunu Thow?" Abi menatap besan, anak dan menantunya.
"Dad? Sejak kapan fasih bahasa Jawa? Setahuku Dad paling kacau deh bahasa Jawanya" kekeh Ghani.
"Salahkan mommymu ngajak Daddy nonton wayang orang beberapa kali" omel Abi cemberut. "Kepaksa Sinau lah bahasa Jawa soalnya mommy mu capek nerjemahin."
Edward, Ghani dan Duncan tertawa.
"Berarti tandanya kamu tuh dah priayi sepuh Bi" gelak Edward.
"Sialan kau Ed!" umpat Abi.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaa
Elang sama Rain abis episode Ghani yang ini kelar.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️