The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Dua Pria



Ezra menatap wajah cantik yang sudah menghantuinya selama 13 tahun ini. Akhirnya dia menemukan gadis yang telah menolongnya.


"Mari silahkan duduk, Mr Hamilton" ucap Danisha.


"Perkenalkan ini Tom Howard, asistenku." Danisha mengulurkan tangannya dan disambut Tom datar. "Jangan diambil hati, Tom memang gunung es."


Danisha tersenyum. "Santai saja."


Ezra menatap Danisha dan ingatannya pun kembali saat dia baru saja lulus SMA.


Flashback 13 Tahun Lalu, Queens New York


Ghani dan Danisha sedang menikmati acara Daddy and daughter time untuk berjalan-jalan ke area Queens New York. Alexandra sendiri sedang sibuk di koroner karena adanya korban kecelakaan di sekitar Manhattan.


Danisha menatap sang papa yang super cool dengan wajah dinginnya nyaris jarang tersenyum di luaran meskipun di rumah sering receh dengan sang mama. Bara sang kakak sudah pindah ke London untuk mengambil kuliah di Royal Arts yang membuat Ghani hanya bisa mengelus dada karena putranya semakin mirip dengan Oma Yuna yang seniman.


Ghani mengajak Danisha makan siang ke White Raddish Restauran yang berada di Queens. Gadis ABG berusia 12 tahun itu yang sekarang duduk di grade 10 itu bersemangat untuk makan ravioli yang merupakan salah satu makanan favoritnya.


"Princess, kamu nanti mau kuliah dimana setelah high school?" tanya Ghani menatap putri cantiknya.


"Aku inginnya ambil Oxford pa. Soalnya Kristal mau kuliah disana." Kristal adalah anak Raymond Ruiz dan Valora Arata sepupu Duncan Blair suami Rhea adik Ghani.


"Lha kan disini ada Harvard?" Ghani bingung kenapa anak-anaknya pada memilih kuliah di London bukannya di New York atau Massachusetts.


"Nggak mau ah. Nanti dikenal anaknya papa bikin males!" sahut Danisha.


"Kenapa?"


"Nanti manfaatin Nisha kalau tahu punya papa polisi."


Ghani tersenyum. Danisha memang tidak suka diketahui sebagai putri Ghani Giandra yang merupakan seorang detektif senior NYPD yang dikenal cerdas dan memecahkan banyak kasus sulit.


BRAAAAKKK!!!


Suara benturan keras, membuat Ghani dan Danisha terkejut begitu juga dengan para pengunjung dan orang-orang di sekitarnya.


"Apa itu pa?" tanya Danisha.


"Kamu tunggu disini!" perintah Ghani.


"Aku ikut papa!" eyel Danisha.


Ghani pun akhirnya menyerah meskipun dilarang pasti Danisha ngeyel.


Ghani melihat ada sebuah mobil Bentley dan sebuah truk spesialis pindahan rumah saling bertabrakan. Danisha terkesiap melihat seorang anak remaja laki-laki keluar dari pintu penumpang depan dengan berlumuran darah.


Ghani menunjukkan badge nya dan menelpon para koleganya untuk segera ke TKP dan dia melihat Danisha membantu seorang remaja laki-laki itu berjalan.


"Kamu nggak papa?" tanya Danisha cemas.


"Kepalaku..." bisik remaja itu.


"Kamu tiduran dulu" Danisha mengambil slayernya dan mencoba menghentikan pendarahan di pelipis remaja itu dengan mengikatnya. Remaja itu pun tiduran di paha Danisha.


"Slayer... jaket... celanamu nanti... kena ... "


"Udah nggak papa, yang penting darahmu aku hentikan dulu." Danisha masih memeriksa wajah tampan itu kalau-kalau ada luka lagi selain di pelipis. Sedikit banyak gadis itu tahu soal anatomi tubuh karena mamanya adalah seorang dokter.


"Tanganmu ada yang sakit nggak? Kakimu bisa digerakkan semua kan?" tanya Danisha.


Remaja tampan itu benar-benar terkesima melihat wajah cantik seperti bidadari. Kalau aku sudah mati dan bertemu bidadari ini, rasanya bahagia.


"Danisha!" panggil sang papa Ghani. "Ada yang patah nggak?" Ghani pun berlutut memeriksa remaja itu.


"Kayaknya nggak pa tapi harus dirontgen."


Namanya Danisha. Nisha.


"Kapten Giandra, kami urus korban dulu" seorang petugas EMT pun datang untuk memeriksa remaja laki-laki yang berada di pangkuan Danisha.


"Iya silahkan."


Danisha pun bangun setelah remaja itu masuk mobil ambulance. Mata remaja itu terus melihat wajah ABG yang dengan tulus dan ikhlas menolongnya. Remaja itu tahu semua baju milik gadis itu adalah branded bahkan dia memakai slayer Burberry yang dengan santainya digunakan untuk menolongnya.


Danisha Giandra. Nisha.


***


"Akhirnya ya Nisha setelah 13 tahun. Oh slayer Burberry mu masih aku simpan."


Danisha melongo. "Kok masih disimpan? Kan kena darahmu itu."


"Aku jadi terharu" ucap Danisha sok dramatis.


Ezra terbahak melihat gaya gadis itu. "Aku mencoba mencari mu setelah keluar dari rumah sakit namun aku tidak dapat menemuimu karena segera dikirim ke Swiss untuk bersekolah disana."


"Maaf aku tidak bisa membesuk dirimu karena harus sekolah."


"Ternyata ayahmu adalah kapten Giandra."


Danisha mengangguk.


"Beliau orang yang baik dan tegas. Ayahku bersahabat baik dengan ayahmu hanya saja pada saat aku kecelakaan, ayahku belum bertemu dengan ayahmu karena masih berada di Australia."


"Kok bisa bersahabat dengan papaku?"


"Saat Daddy mengetahui aku kecelakaan, dia langsung terbang ke New York dan bertemu dengan ayahmu. Kamu tahu komentar Daddy?"


Danisha menggeleng.


"Daddy sangat berterimakasih atas pertolonganmu dan bilang kamu gadis yang baik." Ezra tersenyum. "Dan sejak itu, Daddy menaruh respek ke kapten Giandra dan menjadi sahabat baik papamu."


Wajah Danisha merona. "I'm not a good girl."


"Bagiku kamu tetap gadis baik. Wajahmu seperti bidadari ketika menolongku tapi masih ada saus ravioli."


Danisha terbahak. "Aku baru saja makan satu ravioli ketika kamu kecelakaan."


"Kapan kamu ke New York, akan aku traktir ke whtie Raddish. Kuganti raviolimu yang tertunda."


"Deal!" ucap Danisha.


Kamu semakin cantik, Nisha.


***


Asen menatap pemandangan kota Istanbul dari kantor AB Mall yang berada di lantai 10. Tadi dia habis-habisan kena amuk oleh sang papa yang mengatakan bodoh. berulang kali karena tidak memeriksa terlebih dahulu siapa Danisha dan keluarganya.


"Papa bisa tahu sekali lihat kalau bahasa tubuh Danisha dan kedua pria itu sayang yang bukan asmara tapi lebih keluarga. Kenapa kamu buta sih Sen?" omel Kemal. "Bodoh kalau kamu tidak bisa mendapatkan maaf Danisha karena papa sudah jatuh cinta dengan calon menantu itu!"


Asen merutuki kebodohannya akibat terlalu terbawa emosi melihat seorang gadis cantik seperti senang dicium oleh dua pria tampan yang ternyata sepupunya!


Aku harus terbang ke Solo untuk dapat membuat Danisha memaafkan aku dan mengejar dirinya agar menjadi milikku.


Asen menghubungi asistennya. "Malik, tolong Carikan apartemen yang bagus dan berikan mobil Range Rover untukku di Solo. Efektif Minggu depan."


"Baik tuan."


Asen menutup panggilannya ke Malik.


Aku akan tinggal di Solo sampai kamu mau menerima maaf dariku.


***


Danisha dan Ezra sedang menikmati acara makan malam di Safron restauran yang terletak di jalan Ronggowarsito Solo.


"Kota disini enak ya tidak seperti di New York yang heboh" komentar Ezra.


"Itulah kenapa aku pergi dari New York dan memilih kerja disini ya karena disini jauh lebih tenang daripada New York" senyum Danisha sambil memakan French friesnya.


"Nisha..." Ezra menatap gadis itu dengan tatapan serius.


"Ya?"


"Apakah kamu sudah punya kekasih?"


Danisha hanya menatap Ezra bingung.


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Maaf tadi kondangan dulu gaeeesss


Pilih Asen atau Ezra?


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️