
Guillermo Martinez marah luar biasa ketika mengetahui banyak anak buahnya yang ditangkap ataupun diketemukan tewas di seluruh penjuru kota New York. Siapa ini yang berani mengacaukan operasiku?
"Tuan. Anak buah kita yang di Bronx tertangkap semua!" lapor salah satu kaptennya. "Termasuk caporegimenya."
Guillermo melotot. Bronx itu area terbesar bisa mendapatkan organ tubuh, bisa dihabisi? Berarti tinggal Queen's dan Brooklyn yang masih sisa?
Guillermo memang tidak terlalu masuk ke Manhattan atau Staten Island karena disana adalah daerah mewah dan sedikit kesulitan untuk mendapatkan korban namun jika dia beruntung, dia bisa mendapatkan korban dari kalangan atas.
Ini nggak bisa dibiarkan karena bisa habis Bisnisku kalau begini!
Hanya ada satu nama yang membuat bisnisnya berantakan. Ghani Giandra! Masih hidup saja orang itu! Akan aku habisi polisi itu dengan tanganku sendiri!
***
Ghani berangkat kerja bersama dengan Raymond Ruiz yang menginap di mansion Duncan. Joshua harus pulang ke Tokyo karena Josephine jatuh dari tangga dan mencari papinya. Ryoma yang akan menggantikan Joshua ke New York karena Eiji dan Javier masih harus di Tokyo.
Karena Ryoma belum datang, jadi Raymond bersama Ghani seperti biasanya. Valora menginap di mansion atas permintaan Yuna karena gadis itu juga hacker hanya saja belum secanggih Joshua dan Abian.
Alexandra berangkat ke rumah sakit bersama Duncan dengan pengawalan ketat dari para anak buah Edward. Mereka belum merasa aman jika Guillermo masih melenggang bebas.
"Lex, apa setiap hari ketemu mayat dengan kondisi berbeda-beda nggak bikin kamu takut atau gimana gitu?" tanya Duncan penasaran sebab baru hari ini dia mengawal Alexandra setelah kemarin-kemarin mengawal Ghani.
"Yaaaa gimana ya bang, udah profesi aku." Alexandra tersenyum.
"Kenapa milih menjadi dokter forensik?"
"Soalnya nggak bakalan ada yang komplain kalau aku salah bedah" gelak Alexandra yang menular ke Duncan. "Aku paling penasaran mencari penyebab kematian karena manusia yang matinya tidak wajar pasti ingin kenapa dia mati diungkap. Mungkin memang takdir dan kontrak hidupnya sudah digariskan oleh Tuhan tapi Tuhan juga yang memintaku untuk mengungkapkan kenapa dia mati."
"Pernah nggak ada kejadian horor?" Duncan memang jarang berinteraksi seperti ini dengan Alexandra dan baginya profesi calon kakak iparnya itu berbeda dari semua saudara-saudaranya.
"Awal aku masuk kamar mayat sempat ada yang membuat suara atau barang jatuh padahal nggak ada siapapun. Pertama sih takut tapi lama-lama cuek Anggep saja dia nemenin aku autopsi."
Duncan bergidik. Kalau di Indonesia bisa diminta kasih nomor gambling tuh!
"Rhea dan Kaia apa kabar bang?" tanya Alexandra.
"Alhamdulillah baik. Kaia mendapat sepupu lagi, anaknya Gozali."
"Udah lahiran istrinya? Cowok atau cewek anaknya?"
"Cowok tapi pas mau lahiran, papa sampai bingung karena Oom Anta mengabari ke papa salah ngomong. Masa bilangnya Gozali lahiran? Papa auto bengong lah!" gelak Duncan.
Alexandra tertawa. "Saking gugupnya tuh!"
"Hu um. Keluarga kami bertambah besar lagi" ucap Duncan.
"Bersyukur keluarga kalian bisa akur semua ya" gumam Alexandra.
"Kami memang kalau bertemu rusuh! Tapi kami dididik oleh semua orang tua kami untuk saling membantu. Kamu tahu Lex, bahkan banyak dari kami yang tidak terlalu tertarik terjun di perusahaan keluarga kami. Contoh Mamoru yang lebih memilih menjadi dokter bedah, Eiji masih belum mau menghandle perusahaan papanya, Savitri lebih memilih menjadi guru, Rain membuka toko kue dengan meminjam modal ke papanya dan modal itu sudah dikembalikan, Joshua memilih menjadi dosen meskipun sekarang mengambil alih perusahaan Oom Hiro di Solo."
"Apa kalian nggak ada saling iri satu sama lain?" Jujur baru kali ini Alexandra bertemu dengan keluarga yang santainya seperti mereka.
"Ngapain iri Lex? Kami sudah mendapatkan bagiannya masing-masing dan bukan haus kekuasaan harus memiliki semua aset milik klan Pratomo. Yang dicari apa sih? Kalau kuasa membuat kami berantakan hubungannya, mending kamu lepas saja dari daftar keluarga karena di kami tidak ada kamus perebutan kekuasaan."
"Didikan kalian memang ya."
"Itu didikan dari eyang buyut Pratomo yang diterapkan oleh Opa dan Oma kami. Kamu tahu kan empat bersaudara Pratomo yang melanjutkan bisnis keluarga kami seperti apa. Mereka root ke kami-kami agar kami bisa bebas memilih karier atau mengambil perusahaan."
"Terimakasih pujiannya Lex. Keluarga ku tidak sempurna tapi kami saling mencintai dan menyayangi."
***
Ghani dan Raymond sudah sampai di markas NYPD dan keduanya pun masuk ke dalam ketika sebuah bom molotov dilemparkan ke depan markas NYPD. Beruntung Ghani dan Raymond sudah masuk ke dalam gedung hingga para petugas di luar yang mengurus bom itu dan berhasil mendapatkan pelakunya.
Kedua pria tampan itu malah bingung melihat keramaian di depan bertanya kepada seorang rekannya yang mengatakan bahwa ada sebuah bom molotov dilemparkan di depan markasnya.
"Cari mati bener tuh orang" omel Raymond.
Tak lama si pelaku pun digelandang dan memandang Ghani dengan penuh kebencian.
"Kamu akan mati Giandra!! Mati!" teriaknya.
Ghani hanya menatap dingin pria Mexico itu. Martinez!
Raymond menatap Ghani yang hanya diam tanpa ekspresi. "Bro, mau cari markasnya?"
"Aku ingin segera menemukan dan kuhancurkan luluh lantak!" desis Ghani.
***
Kabar bom molotov dilemparkan di depan markas NYPD menjadi berita hangat pagi itu dan tentu saja sampai ke telinga Abi dan Dara. Pria paruh baya itu sampai menelpon putranya untuk segera pulang ke Jakarta.
"Nggak Dad, Ghani disini saja" tolak Ghani karena dia tidak mau ambil resiko mereka akan menyusul ke Jakarta. Biasanya orang gelap mata bakalan nekad, mengingat bagaimana kakek tiri Jeremy yang berusaha membunuh Rain.
"Tapi G..." bujuk Abi.
"Nggak Dad, kan disini ada D juga" ucap Ghani tanpa memberitahukan kalau kedua besan Daddynya juga ada di New York.
"Masalah perusahaan Duncan belum kelar ya?" tanya Abi. "Apa perlu Edward membantu anaknya?"
"Nggak usah ikut campur perusahaan D, Dad. Aku yakin kok Duncan bisa mengatasinya."
Abi menghela nafas panjang. "Kalau kamu sudah nggak sanggup disana, pulanglah G."
"Iya Dad. Nanti kalau G sudah menyerah, G pulang."
***
Duncan melotot melihat bentuk mayat yang diterima Alexandra pagi ini. Bagaimana tidak, mayat yang ditemukan di sungai Hudson sudah menggembung dan berbau busuk. Duncan sendiri merasa auto mual dengan baunya dan hanya menatap tidak percaya wajah Alexandra datar saja melihat apa yang ada di meja stainless nya.
"Kalau kamu nggak tahan D, bisa menunggu di ruang kerja ku" ucap Alexandra yang geli melihat CEO MB Enterprise sudah pucat pasi. "Oh kalau mau muntah ke kamar mandi ruanganku ya."
Duncan langsung ke ruangan Alexandra yang sudah diberikan nomor password nya dan langsung ke kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️