The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Gara-gara Roti Canai dan Kari Kambing



Alexandra menikmati hari-hari menjelang persalinan dan hari ini adalah hari terakhir ia bekerja sebelum cuti selama tiga bulan. Pemimpin rumah sakit koroner memberikan cuti melahirkan yang sesuai dengan aturan yang diberikan oleh pemerintah.


Bumil cantik itu bersyukur tidak ada kasus yang datang hari itu jadi dia hanya membereskan ruangannya agar rapih jadi nantinya disaat di sudah masuk kerja, tidak kebingungan.


Melihat jam di dinding hampir pukul lima sore, Alexandra pun bersiap untuk pulang dijemput oleh Ghani dari markas NYPD. Setelah membereskan semua file di lemari kabinet, Alexandra pun mengambil tas dan ponselnya. Usai mengunci ruangannya, ponselnya berdering.


"Assalamualaikum mas Daniswara."


" ... "


"Oke mas. Ini perjalanan ke sana."


"Alexandra!" panggil Mac Tyler.


"Halo Mac" sapa Alexandra sambil tersenyum.


"Dijemput Ghani?"


"Iya, dia sudah menunggu di depan."


"Aku temani ya sekalian aku juga ambil motorku yang parkir di depan."


"Tumben naik motor?" goda Alexandra ke kepala CSI itu.


"Aku melihat kamu dan Ghani naik Vespa membuat aku jadi ingin. Ya sudah, aku beli saja dan ternyata menyenangkan" kekeh Mac.


"Memang menyenangkan kok naik Vespa" senyum Alexandra.


Mereka berdua kini sudah keluar bangunan lab forensik dan koroner yang berada di pinggir jalan besar di Manhattan.


Alexandra melihat Ghani sedang menunggunya lalu berjalan menghampirinya.



"Aku duluan Mac!" pamit Alexandra ke Mac yang menuju parkiran motor khusus pegawa.


Mac melambaikan tangannya. Suara Alexandra membuat Ghani menoleh. "Yo Mac!" teriak Ghani.


"Yo G. Duluan ya!" ucap Mac sambil memakai helm. Ghani dan Alexandra melihat Mac segera menstater Vespanya dan berjalan menuju jalan raya.



Ghani melongo. "Mac naik Vespa?"


Alexandra tersenyum sambil mengangguk. "Katanya melihat kita naik Sei Giorni jadi pengen dan sekarang pakai Vespa lah kalau kerja."


"Kapan-kapan kita naik Vespa lagi ya kalau si boy sudah besar."


Semenjak hamil enam bulan, Alexandra memang tidak pernah naik Vespa lagi dengan Ghani karena pria itu tidak mengijinkan takut ada apa-apa di jalan dan akibatnya dia diantar dan dijemput oleh suaminya.


"Yuk pulang. Bumil mau makan apa nih?" tawar Ghani sambil membukakan pintu mobil Range Rover nya.


"Aku ingin steak!" seru Alexandra.


"Boleh tapi well done ya."


"Iyalah Mas. Aku nggak berani kalau nggak well done."


Ghani mengusap kepala Alexandra lalu perutnya yang sudah besar. "Ke restoran Oom Ryu saja ya." Alexandra mengangguk.


***


Alexandra dan Dara sedang asyik membuat roti canai dan kari kambing. Entah kenapa Alexandra ingin makan seperti itu padahal harusnya fase ngidamnya sudah lewat tapi semenjak Dara datang dua hari lalu untuk menemani menantunya lahiran, Alexandra semakin suka masak bersama mertuanya.


"Hhhmmm baunya enak" komentar Abi yang baru saja selesai mandi sore.


"Aku buatkan kari kambing sama roti canai, mas" ucap Dara. Abi pun memeluk istrinya dari belakang tanpa malu dilihat oleh menantunya.


"Dapurnya jadi bau India" kekeh Abi.


"Mas, udah ah nggak usah peluk-peluk. Malu dilihatin anak mantu" ucap Dara sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan suami bucinnya.


"Biarin kenapa? Kan Ghani juga sama suka peluk Lexa" cebik Abi sambil manyun yang membuat Alexandra cekikikan.


"Papa dan mama tuh jadi role model aku dan mas Ghani" puji Alexandra tulus.


"Ohya? Kenapa?" tanya Dara sambil mengaduk kari kambingnya.


"Nggak selalu lho Lexa. Awal kami menikah juga amburadul karena mama menikah karena wasiat almarhum Tante Yanti, istri papa yang pertama dan sahabat mama."


Abi kemudian mencium pipi Dara. "Memang awal kami menikah nggak pakai pacaran langsung nikah. Butuh proses dan waktu untuk bisa saling menyelami isi hati masing-masing. Dan papa bersyukur, almarhum Yanti membuat wasiat itu dan memberikan papa istri yang membuat papa berubah banyak."


"Mas Ghani sering cerita tentang papa dan mama yang selalu mesra dan bagaimana mama mendidik Mas Ghani, Rhea dan bang Gozali. Aku jadi banyak belajar dari sana."


"Lexa, pesan mama, kalau kalian ada masalah harus diselesaikan hari itu juga sebelum tidur. Jadi besok, kita menghadapi hari sudah dengan hati lega."


"Dan biasanya diselesaikan di tempat tidur... Adduuhhh!" Abi mengusap tangannya yang terkena cubitan Dara.


"Lho kan memang begitu kan sayang. Biasanya kalau lagi marah, kamu tuh lebih heb... Adduuhhh!" teriak Abi lagi setelah Dara mencubitnya lebih keras lagi. "Adaraku, kdrt ih! Nanti mas aduin ke G lho!"


"Aduin sana! Nanti mas tidur di sofa!" pendelik Dara. Alexandra tertawa melihat keributan kedua mertuanya.


"Siapa yang tidur di sofa?" tanya Ghani yang baru saja masuk lalu dia mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mencium kedua orangtuanya lalu Melu*mat bibir Alexandra sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Ini lho Daddymu! Vulgar!" adu Dara ke putranya.


"Lha kan Daddy makin tua makin vulgar" kekeh Ghani.


"Eh kamu kalau ngomong kok suka bener G?" gelak Abi tanpa malu.


"Ya Allah, kenapa Daddyku jadi receh begini ya?" keluh Ghani.


"Udah yuk, makan dulu. Hari ini menunya roti canai dan kari kambing" ajak Dara.


"Pantas apartemen ku baunya kayak rumah makan India. Lha wong masaknya kari kambing" kekeh Ghani.


"Istrimu yang pengen jadi no debat no protes!" sahut Abi sambil membantu membawakan gelas-gelas berisi teh wasgitel.


***


Keempat orang berbeda usia itu menikmati acara makan malam yang bernuansa India dan Alexandra sangat menyukai masakan buatan Dara.


"HPL nya kapan Lexa?" tanya Abi setelah mereka menyelesaikan makan malam dan hari ini giliran Ghani yang bagian mencuci piring.


"Insyaallah Minggu depan Pa tapi mas Ghani dan aku sudah siapkan semuanya sih termasuk kamar untuk lahiran. Budhe Nabila malah yang lebih heboh" kekeh Alexandra.


"Semoga lancar semuanya dan selamat sehat..." suara Abi terpotong melihat menantunya meringis.


Dara lalu menghampiri Alexandra. "Sudah mulai kerasa ya? Dihitung Lexa."


Ghani yang sudah selesai mencuci piring kaget melihat istrinya seperti kesakitan.


"Sudah kerasa kah Sayang?" tanya Ghani panik. Alexandra mengangguk.


"Kita ke rumah sakit sekarang! Lexa, tasnya yang Louis Vuitton hitam kan?" Abi pun segera masuk ke dalam kamar Ghani.


"I..iya Pa. Aduh mama, sakit." Dara membantu Alexandra berdiri sedangkan Ghani segera mengambil ponsel, dompet dan kunci mobilnya.


Abi membawakan tas LV hitam itu beserta tas tangan Dara.


"Yuk kita ke rumah sakit sekarang menyambut si boy" ajak Dara dengan suara lembut.


Di dalam lift, Abi menelpon Nabila.


"Nab, Alexandra mulai kontraksi... Belum sih... Iya kami sekarang perjalanan kesana."


Abi mematikan ponselnya. "Nabila bilang segera datang karena dia menyiapkan semuanya."


Ghani melirik istrinya yang menahan sakit. "Gara-gara roti canai sama kari kambing sih makanya si boy mabok pengen keluar."


Dara dan Alexandra menatap judes ke Ghani.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Lahirannya sabar Yeeee


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️