
Danisha melongo ketika Levi mengatakan akan datang ke Solo dua hari lagi karena ingin liburan setelah proyek dengan Boeing selesai.
"Itu rambut kenapa kak?" tanya Danisha yang bengong melihat rambut Levi yang berubah menjadi silver padahal seminggu sebelumnya blonde.
"Keren kan?" cengir Levi.
"Keren! Kak Levi memang pantas pakai warna rambut apa saja" senyum Danisha.
"Apakah kamu sudah dengar? Kristal dipaksa menikah dengan Ashley" kekeh Levi.
Danisha terkejut. "Bukannya Kristal lagi masa break dan back down dari Ashley?"
"Rupanya Ashley memakai cara licik agar Kristal tidak bisa lepas darinya. Akhirnya hatinya bisa jujur setelah selama ini selalu menggalau."
"Semoga keduanya bisa tetap bersama ya kak" jawab Danisha.
"Oh, surprisenya belum selesai. Rencananya Kristal dan Ashley akan menikah barengan denganmu dan Iwan." Levi menatap jahil ke sepupunya itu.
Danisha terkejut. "AAAPPAA?!"
***
"AAAPPAA?!" teriak Ghani yang kedatangan ipar dan juga mantan partnernya di NYPD.
"Iya G, alangkah baiknya kalau pernikahan keduanya digabungkan dengan Kristal dan Ashley mumpung semuanya berkumpul" ucap Raymond santai sambil duduk di kursi depan meja kerja Ghani.
"Tapi Ray..."
"Semua perlengkapan sudah aku bereskan dengan Arjuna dan Ashley termasuk dokumen untuk bisa menikah di Solo. Bara pun membantu karena dia juga mengurus Danisha dan Iwan kan?"
Ghani memegang pelipisnya dengan perasaan kesal.
"Tampaknya aku harus punya cadangan usus panjang supaya stok sabarku banyak!" omel Ghani.
"Hei, kita kan ipar dan keluarga jadi nggak ada masalah kan?" cengir Raymond.
***
Alexandra melongo mendengar penjelasan Valora yang meminta agar ada pernikahan ganda besok pada saat Danisha dan Iwan menikah.
"Lora, apa kamu yakin menyerahkan Kristal ke Ashley?" tanya Alexandra ragu-ragu.
"The truth is... I don't know Lexa" jawab Valora "Tapi ini adalah pria kedua yang membuat Kristal jatuh cinta setelah kasus Malik dan aku harap menjadi pelabuhan terakhir putriku."
"Apakah benar mereka sudah tidur bersama?" tanya Alexandra.
"Aku tahu taktiknya Ashley dan kami mengikuti alurnya saja lalu menjebak mereka berdua" kekeh Valora. "Mereka hanya tidur, Lexa. Tidak melakukan hal yang lebih!"
Alexandra mengembuskan napas panjang.
"Kristal sampai ke rumah sakit untuk membuktikan bahwa dia masih bersegel!" gelak Valora.
"Tapi kalian tetap membuat keduanya menikah kan?" tatap Alexandra.
"Ashley sudah menghadap kepada kami, Lex. Dia sampai benar-benar memohon agar diijinkan menikah dengan Kristal. Dua hari pria itu memohon kepada kami."
Alexandra tertawa teringat bagaimana Iwan berani menghadap Ghani dan dirinya.
"Aku bilang sama Kristal, kesempatan tidak datang dua kali apalagi Ashley sudah mantap untuk meminangnya dan putriku juga masih mencintai pria songong itu, jadi untuk apa ditunda? Niat baik kok" sambung Valora.
"Tampaknya semua pria yang hendak meminang para putri keturunan Pratomo harus berani menghadapi para orangtuanya" kekeh Alexandra.
"Wajib itu! Karena dengan begitu, kita bisa tahu kesungguhan dirinya!"
***
Iwan dan Bu Kinanti terkejut ketika mendengar dari Sabrina dan Danisha yang datang ke rumah Iwan di Mojosongo bahwa sepupu Danisha akan menikah bersamaan dengan mereka.
"Lha memang alasannya apa Bu Sabrina, kok sampai-sampai nak Kristal harus menikah bebarengan dengan Iwan dan Nisha?" tanya Bu Kinanti.
"Sebenarnya alasannya sepele Bu, Raymond ayah Kristal tidak mau dua kali kerja dan sekalian kumpul keluarga sebab belum tentu pada bisa datang semua nantinya" jawab Sabrina yang dalam hatinya kesal kepada sepupu iparnya itu. Seenaknya saja bikin acara.
Bu Kinanti tersenyum. "Ya benar sih Bu, mumpung pada bisa rawuh njih. Apalagi yang sepuh-sepuh kan agak sulit njih kalau harus bolak balik tindakan ( apalagi yang tua-tua kan agak sulit ya kalau harus bolak balik bepergian )."
"Mas Iwan gimana?" tanya Danisha sebab gara-gara sepupunya jadi kacau nih semua rencananya.
"Aku sih nggak papa Nisha, lebih ramai kan lebih seru. Lagipula aku juga ingin berkenalan dengan semua sepupu-sepupumu yang heboh-heboh itu." Wajah Iwan tampak tenang yang membuat Danisha bisa bernafas lega.
"Kapan lagi Keluarga Sultan ngumpul njih" gelak Bu Kinanti.
Sabrina dan Danisha tertawa. Iwan hanya menatap Danisha sayang. Duh tidak sabar menghalalkan dirimu, Nisha.
***
"Halo, selamat pagi. Danisha ada kah?" tanya pria itu sambil tersenyum ramah.
"Eh... Maaf Bu Danisha sedang pergi dengan Bu Sabrina" jawab petugas resepsionis.
"Oh baiklah." Pria itu lalu mengambil ponselnya. Tas duffle bag Balenciaga diletakkan begitu saja diatas koper Louis Vuitton miliknya.
"Wa'alaikum salam. D, kamu dimana? ... Jadi aku langsung ke lantai tiga? ... Yanti ya? ... Oke. Assalamualaikum."
Pria itu lalu berjalan menuju lift.
"Lho pak! Pak! Bapak mau kemana?" seru petugas resepsionis itu mengejar pria tampan itu.
"Saya mau ketemu Yanti, sudah dikasih ijin sama Danisha."
Resepsionis itu mengerenyitkan dahinya. Kok main panggil bossnya nama sih?
"Bapak itu apanya Bu Danisha?"
"Saya sepupunya. Nama saya Levi Reeves" sahut pria itu sambil menarik koper dan tasnya.
***
Suara lift berbunyi membuat Yanti menoleh dari layar monitornya. Kata Bu Danisha mau pergi fitting sama Bu Sabrina dan mas Iwan, kok sudah pulang?
Tampak seorang pria tampan berambut coklat dengan kemeja putih dan celana jeans sembari menarik duffle bag bertuliskan Balenciaga dan koper Louis Vuitton keluar dari pintu lift.
Yanti mengernyitkan dahinya. Siapa pria ini?
"Mbak Yanti?" sapa pria itu kepada Yanti.
"Iya saya sendiri. Bapak siapa ya?" tanya Yanti sopan.
Cantik!
"Itu ruangan Danisha?" pria itu mengacuhkan pertanyaan Yanti.
"Iya tapi..."
"Okelah aku masuk saja! Capek juga perjalanan dari New York" sahut pria itu cuek lalu hendak membuka pintu ruang kerja Danisha.
Yanti bergegas menghalangi pria itu dan berdiri di hadapannya.
"Bapak tidak boleh masuk sembarangan! Duduk di sofa situ sambil menunggu Bu Danisha!" ucap Yanti tegas dan masih berdiri di hadapan Levi.
"Kenapa nggak boleh masuk? Aku sudah minta ijin Danisha kok!"
Yanti menatap judes ke pria tampan itu dan tercium harum parfum maskulin yang lembut di hidungnya. Jarak antara keduanya hanya berbeda beberapa senti.
"Pokoknya bapak tidak boleh masuk!"
"Kalau aku memaksa, kamu maup apa Yan?" kerling Levi.
Yanti terperangah. Astaga pria ini! Ganjen!
"Saya akan panggil...sekuriti" ucap Yanti yang semakin tidak nyaman ketika Levi malah mengungkung tubuhnya dengan kedua tangannya yang kekar di sampingnya.
"Yakin bisa menelpon sekuriti? Ponselmu di meja, kamu sudah ketutup sama aku" goda Levi. Entah kenapa sejak melihat Yanti, jiwa usilnya muncul.
Yanti hanya mengerjap-kerjapkan matanya. Otaknya berputar untuk melakukan sesuatu agar terbebas dari pria tampan ini. Sejurus kemudian dia tersenyum smirk. Dua telunjuknya lalu menusuk pinggang pria itu yang mundur karena terkejut.
"Duduk disitu! Tunggu sampai Bu Danisha datang!" perintah Yanti galak. Levi yang sedang mengusap-usap pinggangnya hanya bisa manyun.
Sialan nih cewek! Pinggang aku kan sensitif!
Yanti pun berjalan menuju kursinya dan tetap mengawasi Levi dengan tajam.
Yanti Putri
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Maaf terlambat. Banyak pekerjaan di dunia nyata.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️