The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Aku Lupa!



Danisha sarapan pagi bersama kedua orangtuanya dengan hati bahagia. Dirinya sangat bersyukur mendengar sang papa memberikan restu hubungannya dengan Iwan meskipun pria itu dari kalangan biasa.


"Astaga Bara malah minggat ke Jakarta!" ucap Ghani membaca pesan dari ponselnya.


"Kenapa lagi tuh mas ku satu itu?" tanya Danisha.


"Katanya ada urusan di kantor Ogan. Tumben, biasanya dia tinggal serahkan ke Kaia" gumam. Ghani.


"Mungkin karena Kai nggak bisa ke Jakarta minta tolong sama mas Bara, Pa."


"Bara suruh kesini saja mas. Kan sudah lama kita nggak kumpul bareng, mumpung mas cuti dua Minggu di Solo" usul Alexandra.


"Boleh lah! Sekalian Bara tahu pacar adiknya" kekeh Ghani lalu menelpon putranya.


"Wa'alaikum salam. Kamu ngapain ke Jakarta?"


" ... "


"Oh. Kalau kamu sudah selesai, terbang ke Solo. Papa dan mama disini sekalian kenalan sama Iwan."


" ... "


"Makanya kamu kesini jadi tahu. Dad masih cuti sampai Minggu depan. Kamu segera kesini ya, papa sama Mama kangen."


***


Danisha datang ke kantor AJ Corp bersama Ghani dan Alexandra yang ingin melihat pekerjaan putrinya selama ini. Ghani bingung disaat ada perusahaan Ogannya, malah kedua anaknya tidak ada yang tertarik meneruskan, malah keponakannya Kaia yang mengambil alih.


Danisha malah memilih bekerja di perusahaan milik Opa Pakdhe nya Hiroshi Al Jordan yang di Solo sedangkan Keia Al Jordan, putri Mamoru Al Jordan mengambil alih PRC group di Eropa setelah para sepupunya dari klan Neville lebih memilih membuat perusahaan yang berbasis olahraga.


Benar-benar klan terbalik.


Para pegawai disana mengangguk hormat kepada Ghani dan Alexandra karena mengetahui orang tua bossnya. Ketika lift terbuka, Yanti memandang kedua pasangan Giandra itu dengan senyum merekah.


"Pak Ghani, Bu Alexandra, selamat pagi" sapa Yanti. ramah.


"Pagi Yanti. Maaf ya kita pagi-pagi kemari" balas Alexandra sambil tersenyum sedangkan Ghani hanya mengangguk.


"Nggak papa Bu. Mau minum apa bapak? ibu?" tawar Yanti.


"Teh saja Yan, jangan kopi karena kita tadi sudah ngopi di rumah" jawab Alexandra.


"Baik Bu."


Danisha lalu membuka ruang kantornya dan kedua orangtuanya malah terbengong melihat banyak foto keluarga yang ada di meja Konsul yang memang diletakkan oleh Danisha disana.


"Ya ampun Nisha, kenapa ini foto banyak banget" kekeh Alexandra.


"Kalau Nisha kangen kan bisa lihat foto-foto ini."


Ghani melihat foto kedua eyangnya ( orang tua Dara ), kedua orangtuanya dan foto mereka berlima bersama Gozali dan Rhea, lalu foto Abi dan Dara bersama Bara dan Danisha. Foto wisuda Bara dan Danisha pun ada disana.


Wajah pria cool itu pun tampak sedih melihat foto kedua orangtuanya dan tanpa sadar mengelus foto mesra Abi dan Dara. Miss you mom dan Dad.


"Pa, jangan melow lah! Nanti malam papa didatangi Ogan dibilang detektif cengeng lagi gimana?" goda Danisha.


"Hah?" Ghani mengerjapkan matanya. "Detektif cengeng? Kamu tahu dari mana?"


"Necan Dara lah cerita waktu aku kecil nginep di mansion. Kan Necan suka dongeng terus aku, mas Bara, dik Kaia dan dik Aidan suka didongengi. Biasanya sih cerita papa, Tante Rhea atau Oom Gozali waktu kecil."


Astaga mommy buka aib! - keluh Ghani.


"Detektif cengeng mas?" goda Alexandra yang sebenarnya tahu cerita itu tapi tetap saja senang menggoda suaminya.


"Udah deh! Nggak usah bikin aku manyun" omel Ghani yang membuat Alexandra dan Danisha tertawa.


Suara ketukan terdengar dan tak lama tampak Yanti membawakan tiga cangkir teh dan penganan ke dalam ruang kerja Danisha.


"Lho kok ada jajanan pasar?" tanya Alexandra.


"Tadi mas Iwan bawain Bu, katanya buat Cemal cemil" jawab Yanti.


"Mas Iwannya kembali ke produksi pak. Kan memang dia kantornya di bagian produksi batik AJ Corp."


Ghani pun mengangguk. Setidaknya nggak satu kantor mereka.


***


Iwan masuk ke kantornya dengan mood bagus apalagi setelah bertemu secara langsung dengan kedua orang tua Danisha. Hingga detik ini, Iwan belum bercerita kepada sang ibu karena menunggu waktu yang tepat sekalian juga membawa Danisha bertemu dengan ibunya.


"Pagi pak Iwan" sapa salah seorang pegawai.


"Pagi. Bagaimana kuota yang diminta oleh Hamilton Co? Sudah berapa persen?" tanya Iwan.


"Sudah 65% pak, insyaallah akhir bulan sudah 100% karena UMKM lainnya pun sudah memasukkan hasil pekerjaan mereka."


"Pak Iwan, ini ada barang masuk dari UMKM Sragen" ucap pegawai yang lain.


"Baik. Bongkar dan saya akan memeriksa nya" perintah Iwan.


***


Danisha masih membaca beberapa klausul perpanjangan kontrak dengan beberapa klien baik dari dalam maupun luar negeri. Batik tulis dari UMKM AJ Corp memang dikenal dengan kwalitas dan desainnya yang memiliki ciri tersendiri.


Ghani dan Alexandra tampak asyik dengan buku dan pekerjaan masing-masing. Alexandra memang sedang mengawasi jalannya autopsi melalui zoom ketika ada mayat korban pembunuhan dengan benda tumpul. Semenjak Dr Robbins meninggal, Alexandra adalah salah satu koroner senior disana.


"Dok C, ini hasil Rontgen tengkorak korban. Benar-benar kasus brutal" ucap Dokter Andy, asisten Alexandra yang menggantikan dirinya selama cuti ke Solo.


Alexandra memandang hasil Rontgen itu dan mengernyitkan dahinya. "Itu pukulan di pelipis kiri juga pukulan di wajah sebelah kanan? Astaghfirullah, tengkorak nya benar-benar hancur."


Ghani dan Danisha mendongak ketika mendengar ucapan Alexandra.


"Sepertinya korban dipukul antara menggunakan tongkat baseball atau alat lain" sahut Dr Andy.


Danisha hanya menggelengkan kepalanya. Itulah kenapa aku tidak tertarik menjadi dokter, bikin miris kalau ketemu kasus seperti itu.


Diam-diam Ghani mengirimkan pesan ke letnannya menanyakan kasus yang ditangani oleh istrinya. Dan memang kasus yang sedang ditangani adalah kasus KDRT di sebuah rumah tapi bukan suami dan istri melainkan mertua ke menantunya karena si mertua suka sama menantu tapi menantunya menolak. Terjadilah kasus pembunuhan itu.


Ghani hanya menggelengkan kepalanya. Semakin hari semakin banyak orang kuwalik otaknya seperti kata Daddy Abi.


Suara notifikasi ponsel Danisha membuat gadis itu menoleh dari tumpukan pekerjaannya.


📩 Ezra Hamilton : Aku tadi pagi ke kantor papamu tapi kata letnan yang disana papamu sedang ke Solo. Jadi lusa, aku akan datang ke Solo menemui Mr Giandra.


Danisha melongo. Damn! Aku lupa soal Ezra!


Ghani yang melihat perubahan wajah putrinya lalu berdiri berjalan menuju meja kerja Danisha.


"Kamu kenapa, Nisha?"


Danisha hanya menunjukkan isi pesan Ezra.


"Biarkan saja dia datang dan papa akan menemanimu mengatakan apa adanya ke Ezra. Meskipun dia menginginkan dirimu, tapi karena kamu sudah memilih Iwan, dia harus menerimanya." Ghani mengusap kepala Danisha.


"Iya pa. Lagipula, aku tidak ada chemistry dengan Ezra. Flat! Tidak seperti dengan Iwan yang selalu membuat aku berdebar."


Ghani tersenyum. "Itu pula yang papa rasakan ketika pertama kali bertemu mamamu."


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Maaf nggak bisa crazy up gara-gara minum obat batuk bikin ngantuk.


Insyaallah besok bisa banyak up.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️