
Ghani dan Alexandra menikmati sarapan bersama Abi dan Dara di mansion Giandra. Ghani sangat rindu suasana sarapan dengan kedua orangtuanya meskipun sekarang minus Rhea dan Gozali.
Subuh tadi usai sholat subuh berjamaah, Dara mengajak Alexandra untuk memasak. Alexandra kagum dengan Necan yang masih energik itu, meskipun sudah ada chef, tapi masih mau masuk dapur dan memasak bersama-sama dengan para pelayan.
"Ma, aku tuh nggak pandai masak. Kalau Ghani ke apartemen, aku paling masakin salad, pasta atau yang gampang-gampang" ucap Alexandra sembari mengupas kentang untuk membuat perkedel. Hari ini Dara ingin membuat soto ayam.
"Setidaknya kamu bisa membuat makanan, Lexa. Masih bagus kamu mau masuk dapur dan memasak simpel karena ada banyak wanita yang ogah masuk dapur dengan berbagai alasan." Dara mengusap bahu calon menantunya.
"Apa selama kamu membuat masakan untuk Ghani, dia protes tidak enak?" tanya Dara yang dijawab gelengan oleh Alexandra.
"Ghani malah bilang spaghetti atau lasagna buatanku lebih enak dari buatannya" senyum Alexandra.
"Berarti masakan mu memang enak untuk spesialis pasta karena Ghani bisa memasak pasta juga. Kalau Ghani bilang masakanmu enak, berarti benar-benar enak soalnya anak itu kritikus makanan, sama dengan Rhea."
"Apa Ghani suka masakan Jawa ma?" Alexandra memandang banyaknya bumbu yang digunakan Data dengan tatapan horor sebab di masakan pasta, bumbunya tidak sebanyak itu.
"Ghani tuh anaknya gampang makan apa saja tapi satu yang dia nggak bisa" kekeh Dara. "Untung di New York nggak ada."
"Apa itu ma?" tanya Alexandra penasaran.
"Petai!"
***
Ghani sedang memeriksa berkas kasus yang dikirimkan oleh kapten Briscoe via email karena Ghani baru masuk besok Rabu. Setidaknya dia ada gambaran seperti apa kasus yang hendak dia hadapi sebelum memulai bekerja.
"Kamu masih urus orang-orang dengan otak kuwalik itu G?" tanya Abi sambil membawa teh wasgitel dan secangkir kopi hitam buat putranya.
"Daddy bikinin aku kopi?" tanya Ghani tidak percaya melihat ayahnya membawakan kopi.
"Bukan Daddy, G tapi dari Alexandra. Tadi pas Daddy mau ambil teh melihat Alexandra mau membawakan kopi buatmu ya sekalian sajalah Dad bawa."
"Terimakasih Dad." Ghani menoleh dan melihat Alexandra sedang menata meja makan. "Thanks baby!" Alexandra menatap Ghani dan tersenyum manis.
"G, kamu sudah menyiapkan mas kawin buat Alexandra?" tanya Abi.
"Sampun Dad dan yang jelas akan beda dari pada Jeremy" cengir Ghani.
"Gila tuh Jeremy kasih kastil dan kuda Arab ke Rain" kekeh Abi.
"Sebenarnya bukan masalah mas kawinnya tapi bagaimana kalian menghadapi kehidupan berumahtangga" sahut Dara sambil duduk di sebelah Abi. "Kalian mau sarapan sekarang atau masih agak nanti?"
Ghani yang duduk diatas karpet tebal dengan MacBook di hadapannya menatap sang mommy. "Manut aku mom." Alexandra pun datang menghampiri calon mertua dan tunangannya sembari membawa segelas teh wasgitel.
"Ma, nanti aku bawa teh ya" ucap Alexandra.
"Lho kamu kenapa jadi maniak teh wasgitel Lexa?" tanya Abi.
"Ketularan Rhea. Waktu aku kesana, disajikan teh wasgitel dan aku langsung suka."
"Kayaknya mama kemarin habis dibawain sama Savitri sebagai stok. Nanti kamu bawa saja Lexa. Tahu kan takarannya?" ucap Dara.
"Sudah diajarin Rhea kok ma."
"Lexa, papa tuh bingung sama kamu" ucap Abi dengan wajah serius.
"Kenapa pa?" tanya Alexandra yang diikuti tatapan bingung Ghani.
"Kamu tuh bule kok demen teh wasgitel ya?"
Alexandra dan Ghani terbahak.
***
Usai sarapan soto ayam dan pujian Ghani atas perkedel buatan Alexandra, kini mereka berempat berada di ruang tengah sembari menikmati acara music di TV. Alexandra dan Dara malah asyik melihat-lihat album foto jaman Ghani dan Rhea kecil.
"Ini Ghani masuk sekolah" kata Dara sambil memperlihatkan wajah Ghani yang sedang menangis.
"Kenapa Daniswara nangis tuh ma?"
"Tanya saja sama bocahnya" kekeh Abi yang langsung mendapatkan tatapan horor Ghani. "Apa perlu Daddy ceritain G?"
"Nggak usah!" sungut Ghani dengan wajah manyun.
"Jadiii... G itu baru masuk kelas satu SD terus..." Abi sengaja membuat Ghani semakin mendelik judes ke Daddynya.
"Ghani tuh dari kecil sudah ingin jadi detektif. Nah pas hari pertama masuk sekolah, ada temannya yang kehilangan botol minum. Jadilah Ghani mengangkat dirinya sebagai Conan Edogawa berusaha mencari botol minum temannya. Eh, nggak ketemu terus nangis deh" papar Dara sambil tertawa.
Alexandra menatap geli ke arah Ghani yang semakin maju bibirnya.
"Terus akhirnya bisa nemuin sambil ditemani Gozali waktu itu dan semakin hari semakin ketagihan jadi detektif nya dan sekarang tercapai deh cita-citanya meskipun mama khawatir kalau kena tembak lagi gimana" Dara mengusap kepala putranya.
Abi, Ghani dan Alexandra hanya terdiam mengingat Dara tidak mengetahui bahwa Ghani hampir kehilangan nyawa ketika mereka mengurus kasus Martinez.
"Insyaallah nggak kok mom. Ghani akan berhati-hati" ucapnya sambil memegang tangan Dara.
"Hati-hati ya mas Ghani. Mommy nggak kebayang kalau ada apa-apa sama kamu" ucap Dara.
"Ternyata kamu tuh selain detektif mesum juga detektif cengeng ya Daniswara" kekeh Alexandra.
"Detektif mesum? Daniswara Ghani Giandra!" pelotot Abi.
"Nggak Dad! Lexa saja ngadi-ngadi!" ucap Ghani panik.
"Kamu apain calon menantu mama?" Dara pun tak kalah menatap judes ke Ghani.
"Waktu itu nggak sengaja mooommm. Aku tuh datang ke apaartmennya Lexa buat ajak berangkat bareng kerja tapi main buka pintu kamar Lexa yang lagi ganti ba... Aadduuhhh!" Ghani merasakan punggungnya dipukul sang mommy sekuat tenaga.
"Kamu kayak nggak pernah dikasih tahu mommy! Ketuk pintu sebelum masuk!" omel Dara.
"Yaaaa reflek kok mom." Wajah Ghani memelas.
"Terus?" tanya Abi dingin.
"Nggak belok Dad! Nabrak nanti!" jawab Ghani asal.
"Kamu lihat apa?" tanya Dara yang menurut Ghani mirip emak-emak savage Kungfu Hustle.
"Lihat Lexa ganti baju mom" bisiknya sambil menunduk.
"Astaghfirullah! Ghani!" Dara mengusap wajahnya dengan gemas.
"Tapi bis itu langsung aku tutup kok pintunya!" bela Ghani. "Cuma sempat lihat punggung mulusnya Lexa sih!"
Abi terbahak. "Benar-benar detektif mesum kamu G. Mirip Ryo Saeba!"
Ghani melotot ke arah Abi. "Kok dad tahu Ryo Saeba?"
"Tahulah! Sebelum kamu baca, Dad udah baca duluan lah!"
Dara mendelik ke arah Abi. "Ooohhh cerita detektif konyol bin mesum itu Thow? Pantas mas rada-rada mesum ya! Wong bacaannya seperti itu."
"Eh nggak kok! Mas cuma iseng, Adara" ucap Abi panik.
"Hu um!" Dara bersidekap menatap judes ke Abi.
Suara ponsel membuat mereka semua terdiam. Ghani lalu mengangkatnya.
"Assalamualaikum D... Kapan? ... Oke, aku dan Lexa akan kesana."
Alexandra menatap Ghani bingung. "Mau kemana Daniswara?"
"Makan siang sama Duncan dan Rhea. Sorry mom, ngomelnya ditunda ya. Aku sama Lexa mau pergi dulu. Dad, pinjam Ferrari nya ya." Ghani mencium pipi Dara. "Daddy aja yang diomeli mom" bisiknya.
Dara pun tersenyum smirk yang membuat Abi merinding.
***
Yuhuuu Up Brunch Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️