
Ghani dan Alexandra datang tepat dua hari sebelum hari H berbarengan dengan Raymond dan Valora. Keempatnya langsung menuju mansion Al Jordan dimana disana sudah berkumpul para keluarga kecuali calon pengantin pria yang tidak boleh datang.
Joshua dan Miki bersama kedua putri kembar dan suami kembar mereka pun datang dengan dua cucu baik dari Josephine dan Marissa. Mamoru dan Ingrid akan tiba besok sedangkan Masayuki datang malam ini.
Keia dan Ezra pun sudah datang dan Mamoru beserta Ingrid welcome dengan hubungan keduanya meskipun tahu dulu Ezra mengejar Danisha namun melihat interaksi pria itu dan calon pengantin sebatas teman lama. Ezra pun bisa berkompromi dengan perasaannya karena Keia lah sekarang yang mengisi relung hatinya.
***
Yanti dan pak Heri terbengong bengong melihat Levi benar-benar datang bersama dengan kedua orangtuanya. Kedatangan ketiga orang yang itu membuat banyak tetangga mereka kepo karena fisik paripurna keluarga Reeves.
Siang tadi Yanti mendapatkan telpon dari Levi kalau malam ini akan ke rumah bersama dengan kedua orangtuanya. Tentu saja Yanti kelabakan mendengar akan hal itu tapi Levi mengatakan bahwa mumpung kedua orangtuanya ke Solo ingin berkenalan dengan ayah dan dirinya.
Dan kini ketiganya duduk di sofa ruang tamu rumah sederhana Pak Heri. Levi tidak habis pikir dengan papanya yang main memajukan jadwal kedatangan dan langsung minta ke rumah Yanti, bukan menunggu setelah acara Danisha lusa.
"Selamat malam pak Heri. Maaf lho karena kedatangan kami kemari membuat pak Heri tidak jadi berjualan sate" senyum Eiji ramah.
"Suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran pak Eiji dan Bu Ayame. Nuwun Sewu rumah kami ya cuma begini." Pak Heri merasa berdebar karena baru kali ini ada pengusaha dan pianis legenda masuk ke rumah sederhananya.
"Jadi ini yang namanya Yanti?" tanya Ayame sambil melihat gadis cantik di hadapannya.
Yanti mengangguk. "Iya Bu, saya Yanti Putri."
Ayame melirik ke Levi. "Selera mu boleh juga."
Levi mendelik. "Mama apa-apaan sih?" desisnya.
"Begini pak Heri, maksud kedatangan saya dan istri saya, Dia...eh Ayame" Eiji tersenyum. Nyaris saja memanggil Diajeng Aya-aya. "Ingin mengenal lebih lanjut nak Yanti yang selama ini digangguin oleh putra saya, Levi."
"Aku nggak ganggu Yanti pa" bantah Levi sebal.
"Pak Levi tidak menggangu saya kok, pak Eiji" sahut Yanti nyaris bebarengan dengan Levi.
Eiji dan Ayame terbahak mendengar putra tunggal mereka dipanggil 'pak'. "Pak Levi, sayang?" kekeh Ayame.
Levi hanya memanyunkan bibirnya. Kalau kedua orangtuanya sudah kompak menggoda dirinya, jangan harap dia bisa selamat. Levi masih berani ribut dengan papanya tapi tidak dengan mamanya karena Levi sangat menghormati wanita cantik itu.
"Yanti, saya tahu ini terlalu cepat. Apakah kamu dan Levi ada hubungan spesial?" tanya Ayame dengan tatapan lembut ke gadis yang duduk di sebelah ayahnya.
Eiji menyesap teh hangat yang diberikan Yanti ketika mereka baru datang. Enak! Mirip teh yang dibuat Rhea dan Alexandra. Harus minta resepnya ini!
"Saya tidak tahu apakah ini dibilang hubungan Bu Ayame karena kami hanya sekedar makan siang dan terkadang pak Levi main kemari tapi lebih sering ngobrol dengan bapak, bukan dengan saya."
Eiji melirik putra tampannya. Pintar kau mengambil hati bapaknya dulu Vi.
"Apakah kamu menyukai Levi?" tanya Eiji.
Yanti menatap pria paruh baya yang masih tampak gagah itu dengan wajah bingung. "Saya suka pak Levi karena dia cerdas, wawasan luas tapi ada tidak sukanya juga sih pak." Yanti menggaruk kepalanya.
Levi melotot mendengar ada yang tidak disukai dari dirinya.
"Apa itu Yan? Bilang saja, tidak apa-apa" bujuk Ayame yang baru kali ini mendengar ada perempuan yang tidak menyukai sesuatu di Levi.
Eiji dan Ayame melongo lalu tertawa. "Ya ampun, Yanti, kalau jahil itu Levi mah memang keturunan. Ini nih papa nya biang jahil di keluarga besar! Entah sudah berapa dari anggota keluarga yang memakinya baik dari kedua orang tua kami, semua Oom dan Tante plus sepupu-sepupunya." Ayame tersenyum jenaka ke Yanti.
Pak Heri tertawa mendengar penjelasan Ayame. "Tapi sama saya, nak Levi tidak pernah jahil lho, Bu Ayame."
"Levi itu persis kayak papanya. Dia hanya usil dengan orang yang disukainya tapi kalau ke orang yang lebih tua, Levi selalu kami didik untuk menghormati."
"Tapi saya salut dengan nak Levi lho pak Eiji, Bu Ayame. Benar kata Yanti, pengetahuan nak Levi itu luas bahkan saya sampai kagum kalau mendengar ceritanya apalagi dia lebih memilih membangun mesin daripada menjadi model. Padahal pak Eiji memiliki perusahaan agency artis ya?" sahut pak Heri.
"Dulu pak, saya memang punya perusahaan management artis tapi sudah saya jual semua sahamnya karena si Toyib tidak mau mengambil alih sedangkan saya dan Ayame sudah ingin pensiun, melihat dia menikah dan memberikan cucu" tunjuk Eiji ke arah putranya yang hanya melengos.
"Hemat saya, pak Eiji, namanya anak itu jangan dipaksakan jika tidak mau melakukan sesuatu" senyum pak Heri.
"Nah! Dengerin tuh pa!" cebik Levi.
"Tapi kayaknya saya harus memaksakan sesuatu kalau soal yang ini, soalnya kalau nggak dijewer, dia nggak maju-maju!" seringai Eiji dengan wajah licik dan seketika feeling Levi tidak enak.
"Pak Heri, bagaimana pendapat anda jika anda mendapatkan menantu anak saya?" tanya Eiji santai ke arah pak Heri yang langsung terkejut mendengar pertanyaan tanpa filter Eiji.
"Mak... maksudnya pak Eiji?" tanya pak Heri bingung.
"Pak Heri kan punya anak perempuan nih, bagaimana pendapat pak Heri ke Levi? Maksud saya sebagai seorang bapak yang melihat ada anak laki-laki datang ke rumah bapak untuk menemui anak gadis bapak?"
Pak Heri menatap ke Levi yang balas menatapnya dengan tegang. "Sejujurnya pak, sejak nak Levi datang ke rumah, saya sudah menyukainya karena jarang anak jaman sekarang bersikap seperti itu. Nak Levi datang bukan hanya sekedar menemui Yanti tapi malah seringnya mengobrol dengan saya. Tentu saja saya tahu maksud tujuan nak Levi untuk lebih mengenal keluarga Yanti tapi dengan cara mendekati saya dan membangun komunikasi yang baik diantara kami, saya respek sekali."
Eiji dan Ayame menatap putra mereka dengan tatapan bangga. Tidak sia-sia didikan mereka benar-benar membuat kepribadian Levi menjadi seperti ini.
"Jadi, kalau Levi menjadi menantu pak Heri, tidak menolak kan?" cengir Eiji.
Pak Heri dan Yanti melongo. "HAAAAHHHH?"
Levi hanya menepok jidatnya. Duh Gusti nun Agung, kenapa juga pria durjana ini jadi bokap gue???
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaa
Weddingnya masih nanti yaaaa.
Oh Levi aku masukkan disini biar sekalian saja.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Jangan lupa mampir ke novel baruku. Baru dua chapter sih dan tidak ada hubungannya dengan klan Pratomo ya. Tararengkyu