The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Bersembunyi di Mansion Blair



Ghani bergegas membereskan semua barang-barang berharganya, mulai dari paspor, id card, semua buku tabungannya, bahkan dia hanya membawa ransel dan duffle bag Balenciaga. Pengawal yang diminta dari Gozali sudah menunggu di depan apartemennya.



Alexandra sendiri juga melakukan hal yang sama. Semenjak menjadi saksi perlindungan CIA, Alexandra sudah terbiasa membawa semua berkas pentingnya di dalam satu tas kecil Louis Vuitton termasuk paspor, id card, SIM, kartu debit dan kredit serta buku tabungannya.



"Masukkan saja semua baju- bajumu di tas ini." Ghani menyerahkan sebuah tas duffle bag Louis Vuitton. Alexandra melotot.



"Ghani, ini tas harganya..."


"Nggak usah cerewet! Itu hadiah dari Rhea waktu aku ulang tahun. Sudah pakai saja! Kita harus pergi dari apartemen ku. Pengawal Gozali sudah datang."


Alexandra segera memasukkan semua baju yang dibelikan Ghani semalam.


"Kamu membawa paspor mu?" tanya Ghani.


"Selalu."


"Sinikan ponselmu!" pinta Ghani.


"Kenapa?" tanya Alexandra.


"Aku ganti SIM card nya. Kita tidak tahu apakah sudah disadap atau belum!" Alexandra menyerahkan ponselnya yang bercasing pink. Ghani lalu melepaskan SIM card dan memasukkan ponsel Alexandra ke dalam laci meja Konsul nya lalu memberikan ponsel yang baru.


"Sekarang kamu pakai ini. Di dalam hanya ada nomor aku yang baru, AJ Russell, agen St Clair, Duncan Blair dan Joshua Akandra."


Alexandra hanya melongo melihat ponsel nya ditinggal begitu saja di laci.


"Ayo berangkat." Ghani menarik tangan Alexandra yang bebas lalu keluar pintu apartemen. Di luar sudah ada dua orang kulit hitam berbadan tegap dan berwajah seram.


"Mr Giandra? Saya J dan Lou yang diminta Mr Ramadhan untuk mengawal anda dan Miss Cabbot."


"Thanks J, kita ke apartemen cadangan saya di daerah Queens."


"Oke Sir."


Keempatnya kemudian turun keluar apartemen dan tiba-tiba suara tembakan terdengar. J dan Lou segera mengeluarkan senjata mereka dan membalas menembak sedangkan Ghani membawa Alexandra untuk menunduk menghindari tembakan.


Keempatnya berlindung di balik mobil Suburban milik J. Suara ban kempes terdengar dan membuat mereka harus berpikir ulang pergi dengan cara apa.


"Sir, lebih baik kita masuk ke dalam apartemen. Anda bisa kabur dengan mobil anda yang berada di basement apartemen."


Ghani pun mengangguk lalu mereka segera masuk ke apartemen serbagkan suara sirine polisi mulai terdengar. Rupanya penjaga apartemen sudah menghubungi 911. Namun ketika mereka berlari masuk ke dalam apartemen, sebuah tembakan mengenai kaki Lou yang membuatnya tersungkur.


"Anda langsung kabur saja Sir. Biar situasi disini saya yang urus!" ucap J.


"Thanks J. Thanks Lou." Ghani menarik tangan Alexandra dan menuju basement lalu masuk ke dalam mobil menyalakan Range Rovernya dan mengebut keluar dari gedung.


Ghani menempelkan airpods nya dan segera menelpon Duncan.


"Wa'alaikum salam D. Kamu di mana?"


"..."


"Apa mansionmu aman? Aku butuh tempat bersembunyi!"


"..."


"Oke! Aku ke mansion mu sekarang!"


Ghani segera tancap gas menuju mansion Blair yang berada di Staten Island.



"Kita ke rumah Rhea?" tanya Alexandra.


"Yup."


"Apa tidak membahayakan Rhea dan Kaia?" tanya Alexandra lagi mengingat keponakan Ghani yang menggemaskan itu.


"Duncan, Rhea dan Kaia ada di Jakarta sedang membereskan sesuatu juga disana jadi aman, Lex." Ghani menggenggam tangan Alexandra. "Be tough, okay?" Alexandra mengangguk.


"Aku sudah terbiasa dengan kehidupan tidak normal G, jadi ini seperti bagian dari hidupku."


"Aku nggak habis pikir kenapa orang-orang itu bisa melakukan hal-hal menjijikkan seperti ini."


Alexandra menatap Ghani. "Itulah sebabnya kamu tidak masuk BAU ( Behavioral Analysis Unit ) FBI?"


Ghani mengangguk. "Apa yang aku baca dan aku tonton, tidak sama dengan kamu terjun langsung dan menghadapinya sendiri. Energiku benar-benar habis Lex. Awalnya aku sangat antusias namun otak psycho manusia itu tidak bisa kita prediksi dan beyond ekspektasi. Manusia semakin hari semakin sadis. Apa yang aku hadapi di NYPD tidak ada apa-apanya dibandingkan aku harus bertemu dengan orang-orang sakit jiwa itu."


"Jika kamu tidak kuat G, mundur tak apa. Apalagi kita seperti ini, dikejar-kejar orang-orang psycho itu."


"No, Alex. Aku tidak bisa diam saja jika melihat keluarga korban membutuhkan jawaban mengapa anggota keluarga mereka menjadi korban meskipun orang psycho itu terkadang tidak membutuhkan alasan untuk melakukan kejahatan. Mereka bisa hanya ingin melakukannya saja."


Alexandra hanya terdiam. Segitunya G melihat keluarga korban. Dan itu sama dengan diriku jika melihat para korban pembunuhan. Para keluarga korban pun butuh jawaban bagaimana mereka meninggal dan siapa pelakunya.


Hampir tiga puluh menit mereka sampai mansion Blair. Steve menyambut mereka di gerbang dengan motor BMW.



"Silahkan masuk Mr Giandra" ucap Steve lalu memerintahkan semua anak buahnya untuk berjaga-jaga. "Aktifkan maksimum security."


"Yes Sir."


Ghani dan Alexandra memasuki jalan utama mansion dan memasukkan Range Rover nya ke dalam garasi yang sudah disiapkan.



Keduanya turun sembari membawa tas masing-masing.


"Terimakasih Steve. Maaf merepotkan mu."


"Tidak apa Sir, yang penting kalian selamat dulu."


Ghani dan Alexandra lalu masuk ke dalam mansion dan Steve mempersilahkan Alexandra masuk ke dalam kamar tamu sedangkan Ghani masih membahas sesuatu dengan Steve di ruang kerja Duncan.


"Mr Blair mempersilahkan Mr Giandra menggunakan ruangan ini untuk bekerja mencari semua informasi yang dibutuhkan."


"Terimakasih Steve. Kamu bisa istirahat apalagi ini sudah mau masuk tengah malam." .


"It's okay Sir. Saya juga harus berjaga-jaga." Steve kemudian meninggalkan Ghani yang berada ruangan Duncan.


Ghani mencoba mencari tombol yang ada di meja Duncan dan ketika memencetnya, dua lemari buku itu bergeser dan tampak sebuah pintu besi. Ghani lalu membukanya dengan password yang diberikan Duncan, ulang tahun Rhea.



Betapa terkejutnya dia ketika melihat isi pintu besi itu.


Astaga Rhea, suamimu memang cucu mafia!


Ghani menyelidiki satu persatu senjata yang ada di ruangan tersebut. Wajah dinginnya tersenyum.


Cukuplah untuk berjaga-jaga.


Suara ponselnya berbunyi membuat Ghani mengambilnya dari dalam saku celananya.



"Assalamualaikum Duncan."


"Wa'alaikum salam. Sudah menikmati vault ku? Bagus kan senjatanya" kekeh Duncan.


"Hahahaha. Sialan kau!"


"G, besok Abian akan ke mansion. Lusa kemungkinan Joshua, Eiji, Ryoma dan Javier bakalan ke mansion. Aku selesaikan dulu urusanku di Jakarta baru nanti ke New York."


"Thanks D."


"Bagaimana Alexandra?"


"So far dia kuat. Hanya saja tadi pengawal Gozali aku belum tahu kabarnya."


"Sudah diurus asistennya Gozali di Manhattan. Kamu tenang saja. Istirahat G, kalian membutuhkan itu. Tidak ada yang berani macam-macam di mansion Blair."


"Terkadang aku ngeri dengan keluarga mu D."


"Apakah kamu nggak sadar kalau kamu juga mengerikan, G?" kekeh Duncan.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Kali ini giliran twist stories dari Ghani ke Rain.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️