The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Weekend with Triumph



"Kamu tuh ngajak nikah atau ngajak gelut sih G?" omel Mike gemas.


"Ngajak nikah Alexandra lah!" ucap Ghani sambil makan steaknya.


Dr Robbins tertawa terbahak-bahak sedangkan Alexandra hanya menatap Ghani sebal. "Benar-benar khas Giandra" gelak Dr Robbins.


"Ya ampun, Ghani! Nggak gitu lamar cewek!" Nabila memegang pelipisnya.


"Biarin ajah budhe, belum tentu juga aku iyain lamarannya" sahut Alexandra judes.


"Kamu pasti mau terima lamaranku!" balas Ghani yakin.


***


Beberapa hari setelah acara makan malam yang membuat Alexandra dongkol, di hari Sabtu pagi ini gadis itu ingin berada di apartemennya menikmati hari libur.


Suara ponsel membuatnya terbangun padahal dia masih ingin memejamkan mata. Semoga bukan kasus untuk diautopsi.


Matanya membulat sempurna melihat nama 'Ghani Menyebalkan' di layar ponselnya.


"Apa G?" tanya Alexandra judes.


"Turun!"


"Hah?"


"Turun, pakai jaket! Kamu dah mandi belum?" tanya Ghani judes.


"Belom mandi!"


"Cepetan mandi terus turun! Cepetan!" Ghani memutuskan panggilannya.


Alexandra menatap layar ponselnya dengan perasaan dongkol. "Giandra menyebalkaaannn!!!"


***


Setengah jam kemudian Alexandra sudah berada di lobby apartemennya. Gadis itu memakai tank top hitam, jaket kulit dan jeans putih serta tidak lupa kacamata hitam dan tas tangan putih.


Wajahnya hanya di makeup sederhana namun tetap membuatnya cantik alami. Alexandra celingukan mencari pria yang paling menyebalkan di dunia tapi juga mulai dicintainya.


Suara klakson motor membuatnya menoleh di dekat bangunan apartemennya. Alexandra menatap tidak percaya, pria menyebalkannya datang dengan motor.



"Ghani?"


Ghani menyerahkan sebuah helm kepada Alexandra. "Jalan-jalan naik motor nggak papa kan?"


Alexandra sumringah. "Hayuk berangkat!" Gadis itu lalu memakai helmnya dan naik motor Triumph milik Ghani, tangannya langsung memeluk pinggang pria itu.



"Sudah siap?" tanya Ghani sambil menutup helm full facenya. Alexandra mengangguk, lalu keduanya berjalan menuju jalan raya di area Manhattan tempat apartemen Alexandra berada.


***


Alexandra menikmati acara naik motor bersama Ghani dan jujur dibandingkan naik mobil, dia lebih suka naik motor karena lebih bebas, lebih cepat menghindari macet.


"Kita akan kemana G?" tanya Alexandra.


"Queen's." Alexandra terkejut karena mendengar suara Ghani di helmnya. "Biar kamu nggak teriak-teriak sama aku. Kan aku pake helm full face."


"Wah, ternyata sudah persiapan Mr Giandra?" kekeh Alexandra.


"Sudah lah! Soalnya ada yang manyun semingguan ini!"


Alexandra menatap judes belakang kepala Ghani yang tertutup helm.


"Nggak usah mendelik Alexandra! Tar cantiknya nambah!" sahut Ghani cuek.


"Kok tahu?" tanya Alexandra bingung.


"Kan ada spion sayang! Kelihatan lah!" gelak Ghani yang membuat Alexandra memukul punggung pria itu.


"Kamu nyebelin!" umpat Alexandra.


"Baru tahu aku nyebelin? Memang selama ini kamu kemana saja?" sahut Ghani.


"Selama ini urus mayatmu, mayatnya officer Tam..."


"Mayatku? Mayatku? Alexandra Georgina Cabbot! Enak saja kamu bilang mayatku!" omel Ghani.


Alexandra terkejut. "Bagaimana kamu tahu nama lengkapku?"


"Alexandra sayang, apa kamu lupa aku siapa?" kekeh Ghani.


"Aku lupa kalau pria yang aku peluk ini adalah Daniswara Ghani Giandra, detektif cengeng" gelak Alexandra.


"Enak saja!" Ghani langsung manyun. Alexandra hanya tertawa. Manisnya kalau tertawa, asal nggak lagi ngemplok Jalapeno saja.


***


Ghani dan Alexandra sampai di sebuah restoran bernama the Bonnie yang terletak di daerah Astoria Queens New York. Keduanya lalu memilih area outdoor untuk duduk.



Alexandra yang mendengar banyaknya makanan yang dipesan Ghani hanya bisa melotot. "Kamu yang benar saja G, pesan makanan sebanyak itu!"


"Makan makan sajalah, apalagi kamu terlalu kurus meskipun di dua tempat tetap menonjol sih" sahut Ghani tanpa ekspresi.


"Apa maksudmu?"


"Double squishy mu dan bemper belakangmu itu sangat menonjol, yank" cengir Ghani usil.


Rasanya Alexandra ingin menabok Ghani dengan sepatu docmartnya. "Dasar Ryo Saeba!" cebiknya.


Ghani terbahak. "Aku tidak menyangka kamu tahu komik lawas itu."


"Aku pun nggak sengaja baca. Guru Eskrima aku punya anak laki-laki yang sudah SMP waktu itu sekitar usia 14 tahun dan dia memiliki komik City Hunter. Dia lalu memberikan padaku sebagai refreshing setiap selesai berlatih dengan ayahnya."


"Lalu?"


"Kalau soal cerita Yaaa gitu deh tapi aku suka adalah mangakanya bagus buat gambarnya." Alexandra terdiam ketika pelayan membawakan pesanan mereka.



"Wow. Ini kebanyakan, G" ucap Alexandra ketika pesanan mereka datang.


"Nggak papa. Dinikmati. Kapan lagi sih kita bisa menikmati hari tanpa harus ada telepon ka..."


"Stop! Jangan diucapkan! Aku mau menikmati hari liburku!" potong Alexandra sambil menaruh telunjuk kanannya di bibir Ghani.


"Oke deh! Yuk makan, aku lapar." Ghani mengambil burgernya.


"Memang kamu belum sarapan?" tanya Alexandra terkejut.


"Sudah, tapi lapar lagi nunggu cewek nggak kelar-kelar mandinya!"


Alexandra memanyunkan bibirnya. "Siapa juga yang pagi-pagi suruh main keluar apartemen kayak apa saja! Padahal aku mau hibernasi!"


"Lagian juga kalau aku kasih tahu duluan, belum tentu juga kamu mau!"


"Kalau kamu bilang naik mobil, belum tentu juga aku mau!" sahut Alexandra. Ghani menatap gadis cantik di depannya.


"Kamu lebih suka naik motor?" tanyanya.


Alexandra mengangguk. "Naik motor lebih seru meskipun nanti pinggang pegal tapi sensasinya berbeda kalau naik mobil. Naik motor bisa mampir-mampir tanpa bingung parkir dimana."



Ghani tersenyum. "Kita bikin jadwal bersama. Weekend waktunya kita jalan-jalan berdua naik motor. Gimana?"


"Aku mau!" jawab Alexandra sumringah.


Gadis di depanku ini memang antik. Disaat cewek lain lebih suka naik mobil mewah, dia malah senang naik motor.


"Kalau naik Vespa, mau?" tanya Ghani lagi.


"Maulah! Kamu punya Vespa?" Alexandra semangat bertanya.


"Belum sih. Aku beli Triumph saja karena sebagai obat hati sudah bebas dari Martinez. Bagaimana sepulang dari sini, kita mampir ke dealer Vespa. Kamu bisa milih mau yang mana buat our weekend ride?"


Alexandra tersenyum lebar. "Benarkah aku boleh memilih Vespanya?" Ghani mengangguk. "Terima kasih, Daniswara."


Ghani tersenyum ke Alexandra. Keduanya lalu menikmati acara makan siang yang lezat dan semua makanan habis tanpa sisa.


"Mommyku selalu berpesan harus menghabiskan makanan karena masih banyak orang yang tidak bisa makan enak."


"Mommymu orang yang bijaksana" ucap Alexandra tulus. "Daddymu juga pria baik."


"Jangan tertipu dengan penampilan Daddy, aslinya julid abis!" gelak Ghani yang membuat Alexandra melongo.


Ghani mengambil tangan kiri Alexandra lalu tangan kiri pria itu mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari saku jaket kulitnya. Dibukanya kotak itu dan Alexandra melihat sebuah cincin berlian yang indah.


"Ghani..." bisik Alexandra.


Ghani memasukkan cincin berlian itu ke jari manis Alexandra. "Marry me Alexandra." Ghani menatap Alexandra dengan intens.



Alexandra meneteskan air mata terharu. "Of course I marry you, my detective."


Ghani berdiri dan duduk di sebelah Alexandra dan memberikan ciuman mesra ke gadis cantik itu.


"Thank you, my doctor" bisik Ghani sembari menempelkan dahinya ke dahi Alexandra setelah berciuman. Alexandra tersenyum manis.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️