
Ghani turun ke ruang makan dengan wajah cemberut gara-gara di bilang monochrome Boy oleh Alexandra. Tadi usai memamerkan kamarnya, Alexandra memiliki panggilan baru untuknya. Akhirnya Ghani mengusir kekasihnya agar dia mandi dulu.
Kini di meja makan sudah ada Abi, Dara dan Alexandra yang menunggu Ghani datang.
"Ya ampun G, kamu mandi apa berendam? Lama banget! Daddy mpe lumutan ini!" omel Abi.
"Mana lumutan mas? Wong ini bekas maskeran" kekeh Dara.
Alexandra terkejut mendengar calon mertuanya maskeran. "Serius ma? Papa maskeran?"
"Serius lah! Takut keriput tuh papamu" ucap Dara.
"Dad, namanya keriput itu mengikuti umur dan kejulidan. Kalau Daddy julid melulu sama Oom Edward, tambah banyak keriputnya tar" gelak Ghani.
"G! Kebanyakan kumpul sama sepupunya Duncan malah jadi durjana nih anak" umpat Abi sok galak.
"Udah ayo makan dulu nggak usah bahas perjulidan." Dara mengambilkan nasi dan lauk untuk Abi dan ayah tiga anak dua cucu itu mengucapkan terimakasih dengan tatapan sayang ke istrinya.
Semua itu tidak lepas dari perhatian Alexandra. Dulu kedua orangtuanya pun sama seperti itu. Ghani yang melihat wajah sendu Alexandra pun memegang tangan tunangannya.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Ghani.
"Nggak papa hanya keingat kedua orangtuaku" jawab Alexandra.
"Kenapa sayang?" tanya Dara bingung melihat calon menantunya menjadi melow.
"Melihat mama mengambilkan makanan buat papa jadi ingat almarhum mommy juga seperti itu ke almarhum Daddy. Tatapan papa ke mama sama dengan tatapan Daddy ke mommy." Entah kenapa Alexandra menjadi melow. Kayaknya mau periode ku datang bulan jadi hormon amburadul.
"Oh sayangku, maaf ya jika membuat kamu teringat kedua orangtuamu" Dara memegang tangan Alexandra yang berada di seberangnya.
"Bukankah kamu juga sudah seperti anak kami sendiri karena kalian akan menikah. Jadi, cheer up Alexandra" sambung Abi sambil tersenyum.
"Terimakasih papa, mama" senyum Alexandra.
Ghani semakin mempererat genggaman tangannya dan Alexandra memberikan senyum manisnya.
***
Seperti biasa, usai makan malam, Abi dan Dara menikmati acara tv di ruang tengah sambil mengobrol. Ghani dan Alexandra memilih ke halaman belakang untuk mengobrol berdua.
"Aku suka rumah orangtuamu. Nyaman, hangat" ucap Alexandra yang duduk bersebelahan dan dalam pelukan Ghani.
"Kedua orangtuaku penuh dengan cinta dan kasih sayang satu sama lain dan menular ke kami anak-anaknya, jadi rumah sebesar ini menjadi hangat. Apalagi mommy dan Daddy memperlakukan semua pelayannya sangat baik jadi mereka betah."
Alexandra mengangguk. Sekarang dia tahu darimana kepribadian Ghani berasal. Alexandra juga mengetahui kalau Dara adalah sarjana psikologi jadi tidak heran jika Gozali, Ghani dan Rhea menjadi pribadi yang Alexandra tahu selama ini.
Suara ponsel Ghani berbunyi dan tampak nama 'Duncan Blair' disana.
"Assalamualaikum D" sapa Ghani.
"Wa'alaikum salam. G, apa Jeremy dan Rain ke tempatmu?" tanya Duncan.
Ghani mendelik. "Ngapain Jeremy dan Rain ke rumahku?"
"Kami kehilangan jejak. Ponsel mereka tidak ada yang aktif!" adu Duncan.
Ghani pun paham maksud adik iparnya. "Astagaaaaa! Kalian tuh memang lucknut! Kenapa sih pada usil sama Jeremy?" gelaknya.
"Eiji tuh yang lucknut! Kami semua jadi ikutan!"
Ghani terbahak-bahak mendengar pria-pria tampan paripurna itu minus akhlak maksimal. Alexandra bisa meraba-raba percakapan Ghani dan Duncan hanya bisa tersenyum simpul.
"Terus kalian maunya gimana?" tanya Ghani usai tertawa.
"Kamu kan detektif, G. Cari info lah Jeremy dimana" pinta Duncan.
"Oh my God. Kenapa nggak minta Abian atau Yuki atau Joshua mencari mereka?"
"Tidak berhasil!"
Ghani terperangah. "Tumben gagal?" kekehnya sebab yang dia sebut itu semua adalah hacker yang paling jago di keluarga.
"Jadi tadi itu mommy memberikan voucher menginap di hotel tapi setelah kami mengecek semua hotel di Jakarta, tidak ada nama mereka ataupun nama mommy."
Ghani pun berpikir. "D, mungkin ini cuma pemikiran iseng. Apa mungkin mommymu punya tempat rahasia yang memang disiapkan untuk Rain dan Jeremy agar selamat dari kejahilan kalian? Bisa jadi sinyalnya disana juga di jam."
Duncan pun terdiam. "Jika memang begitu, Kita semua kalah dengan singa betina Pratomo!"
Ghani tertawa. "Jangan berani melawan emak-emak berdaster!"
"Kenapa D?" tanya Ghani bingung.
"Karena sekarang emakku sedang berdaster sambil main dengan Kaia."
Ghani terbahak.
***
Usai menerima telpon dari Duncan, Ghani pun menceritakan kerusuhan di kalangan kaum pria Pratomo. Alexandra tidak habis pikir kenapa mereka pada usil semua.
"Aku nggak mau lah G kalau besok kita menikah dirusuhi mereka semua" kekeh Alexandra.
"Nanti aku akan berguru dengan Tante Yuna" sahut Ghani.
"Ohya, nanti kalau kita sudah menikah, mau tinggal di apartemen atau rumah, sayang?" Ghani menatap Alexandra.
"Jujur, aku lebih suka tinggal di rumah daripada di apartemen."
"Mau di daerah mana? Queens? Brooklyn? Manhattan?" tanya Ghani sambil mengusap-usap bahu Alexandra yang berada dalam pelukannya.
"Kita berdua bekerjanya di daerah dekat Manhattan jadi besok kita pulang ke New York, apa kita cari rumah di daerah sana?" Alexandra menatap Ghani. "Eh? Apakah kamu ada uangnya? Atau kita tunggu jual apartemen salah satu?"
"Kalau soal uang, Alhamdulillah aku ada tabungan Lexa. Semenjak perusahaan Daddy dimerger dengan perusahaan Duncan, aku mendapatkan bagi hasilnya dan nyaris tidak pernah aku gunakan. Karena tabunganku dari kecil semakin banyak." Ghani mencium pucuk hidung Alexandra.
"Tabungan dari kecil?" tanya Alexandra bingung.
"Aku kan main saham. Diam-diam aku hubungi Oom Gala, kan dia jago saham jadi aku punya tabungan lumayan lah" cengirnya.
Alexandra mengangguk paham. Pantas G santai saja mengeluarkan black card nya.
"Kita pulang lusa kan?" tanya Alexandra.
"Hu um. Nunggu Valora kuat dulu. Aku nggak nyangka dia hamil sebab Raymond sempat mengeluh Lora sekarang tukang marah."
"Namanya hormon ibu hamil. Ingat dulu Eiji gimana?" kekeh Alexandra.
"Apakah besok kalau kamu hamil juga akan berantakan hormonnya?" tanya Ghani.
"Iyalah sayang, kan hamil itu mengalami perubahan hormon yang besar" senyum Alexandra.
"Kamu ingin anak berapa?" tanya Ghani.
"Dua, sepasang."
Ghani tersenyum. "Ditto!"
***
Dara tertawa mendengar cerita Yuna tentang anak dan keponakannya yang durjana.
"Jadi mbak Yuna mengungsikan mereka nih ceritanya?" kekeh Dara.
"Iyalah Ra. Kamu tahu sendiri kan mereka keturunannya siapa?" omel Yuna.
"Lagian gen keluarga mbak emang rusuh sih" senyum Dara.
"Rumit bener dah keluargaku" gelak Yuna.
Dara menceritakan apa yang terjadi kepada Abi dan hot Ogan itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Pasti biang keroknya si Eiji!"
"Iyalah mas. Siapa lagi?" kekeh Dara.
"Kapan dewasanya sih anak-anak itu?" ucap Abi yang membuat Dara menaikkan sebelah alisnya.
"Look who's talking ya? Emang mas kalau ketemu sama mas Edward dewasa gitu? Wong isinya gelut terus!"
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Ditto itu artinya me too. Kalau pernah nonton film Ghost nya Demi Moore n Patrick Swayze pasti tahu deh.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️