
Asen berjalan muder muyer ( bahasa Indonesia nya apa Yaaa yang cocok? Hilir mudik? ) di dalam kamarnya. Dirinya merasa bersalah telah menganggap Danisha adalah perempuan gampangan hanya karena beberapa foto yang mesra dengan beberapa pria tampan yang ternyata adalah para sepupunya.
Aku lupa betapa banyaknya generasi Pratomo sekarang dengan nama-nama keluarga berbeda tapi mereka tetap dikenal keluarga Pratomo.
Asen pun mencoba menelpon Danisha namun tidak diangkat. Setelah sepuluh kali menghubungi tetap diacuhkan oleh Danisha, Asen pun menghubungi sopir mobil sewaannya untuk menjemputnya di Alila untuk mengantarkan ke gedung AJ Corp.
***
-Sebelum author lupa. Jadi Senna itu adalah anak Keiji Al Jordan adik dari Hiroshi Al Jordan. Senna dua bersaudara, punya adik namanya Kai ( novel you're the only one Shanum - Hiro ). Senna itu saudara sepupu 3M ( Mamoru, Miki dan Masayuki ). Jelas yaaa posisi keluarganya-
Danisha hanya melirik nomor telepon yang menelponnya terus menerus dan dia tetap mengacuhkannya. Bomat! Masih belum kapok saja! Apa nunggu ditodong Glock?
Yanti yang melihat bossnya hanya melirik judes ke telponnya hanya bisa diam. Dia sudah cukup hapal sifat Danisha yang butuh waktu untuk mengatur emosinya.
"Bu Danisha, ini ada proposal kerjasama dengan perusahaan dari Amerika Serikat." Yanti menyerahkan berkas yang sudah di print nya dari email perusahaan.
"Hah? Order batik buat mall di seluruh Amerika Serikat?" tanya Danisha setelah membaca proposalnya.
"Iya bu. Kalau ibu setuju, Minggu depan CEO nya akan datang kemari."
Danisha membaca nama CEO yang tercantum di sana. Ezra Hamilton.
"Aku pelajari dulu proposal nya nanti aku hubungi Mr Hamilton."
"Baik Bu Danisha."
"Oh Yanti, kalau ada yang mencari saya, bilang saya tidak mau diganggu. Saya mau mempelajari ini."
"Baik Bu Danisha."
***
Asen datang ke gedung AJ Corp dan langsung naik ke lantai tiga. Tampak Yanti masih berkutat dengan berkas di depan meja kerjanya.
"Nona Yanti."
Yanti mendongak. "Tuan Alibek. Ada keperluan apa?"
"Nona Giandra ada kan di ruangannya?"
"Ada tapi Bu Danisha sedang tidak mau diganggu."
"Bilang padanya untuk memberikan waktu lima menit saja untuk saya bisa bertemu" pinta Asen.
Yanti pun menelpon Danisha.
"Selamat siang Bu. Ada tuan Alibek minta bertemu dengan ibu lima menit."
Asen menatap Yanti dengan penuh harap.
"Baik Bu." Yanti meletakkan gagang teleponnya. "Maaf, tuan Alibek tapi Bu Danisha benar-benar tidak mau diganggu."
"Hubungi lagi!" perintah Asen.
"Tapi tuan..."
"Hubungi Danisha lagi!" kali ini Asen tidak memakai embel-embel nona di depan nama Danisha.
Yanti menelpon Danisha lagi.
"Maaf Bu..." gagang telepon yang sedang dipegang Yanti langsung direbut oleh Asen.
"Danisha... tolong dengar ..." suara telepon ditutup terdengar di telinga Asen. Sialaaaann!
"Tuan Alibek, Bu Danisha masih mode marah. Saya sarankan anda jangan memancing emosinya jika tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
Asen menatap Yanti. "Apa maksudmu?"
"Masih bagus jika anda hanya diacuhkan seperti ini. Bu Danisha malah bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaan jika membuatnya marah seperti ini."
Yanti menyipitkan matanya. "Saya rasa anda sudah membuat Bu Danisha marah besar dan setelahnya hanya Tuhan dan Bu Danisha sendiri yang tahu kapan marahnya berakhir. Apakah anda melakukan kesalahan yang fatal, tuan Alibek?"
Aden terdiam. Memang kesalahannya fatal, fatal sekali! Sialaaaann! Hanya karena ego pria, aku jadi kehilangan kesempatan bisa berdekatan dengan gadis cantik itu.
"Saya tekankan nona Yanti, saya tidak akan menyerah meskipun Danisha seperti ini."
Yanti tersenyum smirk. "Selamat berjuang."
***
Danisha mulai mempelajari satu persatu proposal dari Ezra Hamilton setelah sebelumnya dia mencari tahu siapa pria itu.
Ezra Hamilton, usia 30 tahun, lajang, lulusan Harvard business school, pewaris kerajaan bisnis mall Hamilton, anak kedua dari dua bersaudara.
Danisha menatap foto profil dari web resmi perusahaan Hamilton.
Not bad tapi kelakuan bad juga nggak ya.
Danisha masih berkutat dengan proposalnya karena dia tidak mau ada kesalahan bahkan dia bisa baca dua kali untuk sebuah proposal.
"Masuk."
Tampak Yanti membuka pintu dan wajahnya tersenyum. "Bu Danisha mau nginap di kantor? Ini sudah jam lima lho."
Danisha menoleh ke arah jam dinding ruangannya.
"Astaghfirullah! Ya udah kita pulang. Besok kirimkan email ke Hamilton Co, bilang kita menerima proposal kerjasama dengan mereka." Danisha kemudian membereskan semua barang bawaannya.
"Baik Bu."
Danisha dan Yanti pun berjalan ke lift dan keduanya pulang ke rumah masing-masing.
***
Semenjak aksi penolakan Danisha, Asen pun tidak bisa bertemu kembali dengan gadis itu karena dia dipanggil pulang oleh sang ayah ke Istanbul.
Dua Minggu di Istanbul, membuat Asen gatal ingin ke Solo bertemu kembali dengan gadis bar-bar satu itu. Semua kiriman dari Solo sudah datang dan ayah Asen sebagai komisaris AB Mall Turki, merasa puas dengan semua batik-batik pilihan yang dikirimkan oleh AJ Corp.
"Sen, papa dengar CEO AJ Corp di Solo masih muda ya?" tanya Kemal Alibek, ayah Asen.
"Iya pa."
"Kamu sudah bertemu dengannya kan?"
"Sudah pa."
"Bagaimana?" goda papanya.
"Bagaimana? Gimana?" tanya Asen bingung.
"Kamu nggak tertarik dengannya? Look Sen, kamu sudah 30 tahun lho. Mau membujang sampai kapan?"
"Lalu apa hubungannya dengan Danisha?" tanya Asen jengah.
"Oh namanya Danisha" gumam Kemal sambil manggut-manggut. "Apakah ini orangnya?"
Kemal menunjukkan foto terbaru Danisha di akun Instagram nya.
Asen terkesima melihat wajah cantik yang menghantuinya dua Minggu ini.
"Iya, pa."
"Papa setuju kalau kamu dengannya apalagi ini papa lihat keluarganya dari keluarga baik-baik dan ... Astaga. Dia bagian dari keluarga Blair?"
"Kaia Blair adalah sepupunya."
"Benar-benar Keluarga Sultan."
"Tampaknya untuk mendekati Danisha aku harus berjuang lagi pa."
Kemal memincingkan matanya. "Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Membuatnya marah" bisik Asen.
"Asen Tariq Alibek! Ceritakan semua pada papa!" Mata coklat Kemal tampak menyeramkan dan membuat Asen hanya bisa menghela nafas panjang.
***
Danisha sedang menyiapkan pertemuan dengan Ezra Hamilton yang akan datang hari ini di kantor AJ Corp dan gadis itu mengenakan gaun terusan warna hitam dan blazer bewarna pink yang sama dengan warna lipstiknya.
Suara Yanti yang menyambut tamu-tamunya terdengar dan tidak lama masuklah seorang pria tampan dengan seorang asistennya yang usianya tidak berbeda jauh dengan bossnya.
Danisha menyambut Ezra Hamilton dengan senyuman profesional.
"Selamat datang di AJ Corp Mr Hamilton."
"Terimakasih, Nisha. Apakah kamu tidak mengenali aku?" Danisha terkejut mendengar nama kecilnya dipanggil oleh orang yang baru ia kenal.
"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Danisha bingung.
"Kamu yang menolongku saat aku mengalami kecelakaan di Queens New York. Kamu masih junior high school, memakai jaket hijau army dan jeans."
Sekelebat ingatan Danisha kembali ke masa 13 tahun lalu.
"Astagaaaaa! Itu kamu?"
"Finally I found you, Nisha" senyum Ezra.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa sambil nunggu huja. reda.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️