The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Welcome to Rusuh Family



Ghani dan Alexandra melanjutkan acara touring weekend mereka menuju showroom Vespa di daerah Brooklyn. Gadis itu langsung semangat masuk ke dalam showroom motor asal Italia itu.


"Selamat datang nona. Mau cari Vespa model apa?" tanya salah seorang pramuniaga disana menyapa Alexandra.



Gadis cantik itu malah bingung sampai di showroom dan memandang Ghani yang sedang menikmati pemandangan disana.


"G!" panggil Alexandra dan Ghani pun mendekat.


"Apa sayang?" tanya Ghani sambil memeluk pinggang tunangannya.


"Aku bingung mau pilih yang mana" bisik Alexandra ke Ghani yang membuat pria itu tersenyum.


"Asal kamu nggak pilih warna pink saja" kekeh Ghani.


Alexandra terbahak. "Padahal mau pilih itu." Ghani langsung melotot.


"Seri GTV Sei Giorni ada?" tanya Ghani pada sang pramuniaga.


"Ada tuan. Mau lihat?" ajak pramuniaga ke bagian dalam showroom.


"Boleh." Ghani menggandeng Alexandra mengikuti pramuniaga itu.


Ketika mereka berjalan, Alexandra menjerit tertahan. "Warna pink ada G!"


Ghani menoleh ke sebuah Vespa warna pink dan langsung bergidik. "Seriously sayang? Kita naik Vespa pink tiap weekend? Nggak!" Alexandra pun manyun.



Ghani lalu berjalan lagi mengikuti si pramuniaga. Pria berumur 30tahunan itu menunjukkan seri yang diminta Ghani.


"Ini tuan GTV Sei Giorni limited edition."


Ghani dan Alexandra terkesima dengan desain cantik Vespa yang serba black.



"Cakep!" ucap keduanya bersamaan.


Ghani menatap Alexandra. "Ambil ini saja ya?" ucap pria tampan itu dan Alexandra mengangguk antusias.


Detektif itu pun mengatakan akan membeli Vespa hitam itu dan segera melakukan pengecekan semuanya. Setelah melakukan test mesin serta keseluruhan tombol, Ghani pun melakukan pembayaran.


Alexandra hanya terdiam melihat Ghani dengan santainya membayar dengan black cardnya. Aku tahu orang tua Ghani kaya tapi sampai punya black card, seberapa kayanya mereka?


"Baik tuan, nanti kami antar ke alamat yang tuan berikan."


"Terima kasih." Ghani pun berdiri. "Ayo!" ajaknya ke Alexandra sambil menggandeng tangannya keluar showroom.


"Mau kemana lagi sayangku?" tanya Ghani sambil menyerahkan helm Alexandra.


"Pulang ke apartemenku."


Ghani pun mengangguk.


***


Keduanya kini sampai di apartemen Alexandra yang sudah kembali seperti semula. Alexandra melepaskan jaketnya dan berjalan menuju dapur untuk membuat kopi.


Ghani berjalan ke jendela apartemen dan melihat pemandangan kota Manhattan disana. Suara ponselnya berbunyi dan wajahnya tersenyum. 'Mommy'. Ghani yakin pasti kedua orangtuanya sedang melaksanakan sholat tahajud karena di New York jam 3 sore berarti di Jakarta jam 3 subuh.


"Assalamualaikum mommy" sapa Ghani kepada Dara melalui panggilan video.


"Wa'alaikum salam. Kamu dimana G? Bukan di apartemen kamu ya?" Wajah Dara membulat sempurna ketika melihat Alexandra hanya mengenakan tank top hitam membawakan dua cangkir kopi ke meja depan sofa. "Daniswara Ghani Giandra!"


"Apa mom?" tanya Ghani bingung.


"Kamu di apartemen Alexandra? Ngapain?" Wajah Dara langsung wajah emak-emak menginterogasi.


"Nganterin Alexandra pulang mom" jawab Ghani polos.


"G di apartemen Alexandra? Ngapain?" suara Abi pun terdengar dan membuat Ghani melengos.


Alexandra yang mendengar Ghani bersama orangtuanya langsung buru-buru mengambil jaketnya untuk menutupi bajunya agar tampak sopan.


"Mom, Dad, aku sudah melamar Alexandra" cengir Ghani yang sukses membuat kedua orangtuanya bengong.


"AAAPPAA?" teriak Abi dan Dara.


***


Ghani dan Alexandra sekarang berpindah ke iMac milik gadis itu untuk melakukan panggilan zoom, apalagi Rhea dan Duncan ikutan nimbrung.


"Oke kalian berdua. Ada yang mau diceritakan kepada kami?" tanya Abi galak.


"Aku melamar Alexandra tadi siang di the Bonnie" jawab Ghani.


"Di The Bonnie? Nice restauran G" ucap Duncan.


"Burgernya enak disana" sahut Rhea namun kedua pasutri itu langsung terdiam melihat pelototan Abi dan Dara.


"Duncan! Rhea! Ini masalah serius! Kok kalian malah bahas makanan?" omel Abi sebal.


"Burgernya enak kah Rhea?" tanya Dara yang selalu antusias mendengar tempat makan enak. Biasanya kalau kedua anaknya bilang enak, pasti enak. Ghani dan Rhea adalah kritikus makanan di rumah.


"Adarrraaaa ... " Abi melirik kesal karena Dara jadi ikutan sama anak-anak heboh soal makanan.


Ghani dan Alexandra tersenyum simpul melihat kehebohan keluarganya.


"Coba Alexandra, perlihatkan ke mama cincin yang dikasih Ghani" ucap Dara sambil tersenyum lembut.


"Mama?" seru Abi, Rhea dan Duncan bersamaan.


"Ma, aku saja baru manggil mama setelah menikah sama Rhea. Sebelumnya juga Tante atau Aunty" protes Duncan manyun.


"Beda lah menantu cowok sama menantu cewek" sahut Dara cuek. Abi dan Ghani terbahak.


Duncan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rey, mamamu pilih kasih" ucapnya dramatis ke arah istrinya.


"Sini bang, Rhea pukpuk kayak Kaia. Sebagai hukuman mommy pilih kasih, gimana kalau kita jalan bertiga saja sama Kaia ke Dufan tanpa Ogan dan Necan?" cengir Rhea licik.


Duncan langsung sumringah. "Setuju sayang!" Hot Daddy itu langsung mencium pipi Rhea.


"Woooiiii, nggak bisa gitu dong D!" protes Abi.


"Orangtua Kaia kan kami Pa!" sahut Duncan.


"Eh sudah! Wong aku mau lihat cincinnya kok malah kalian berantem?" potong Dara.


Alexandra berbisik ke Ghani. "The Rusuh Family?" Ghani hanya mengangguk sambil mencium pipi Alexandra di depan keluarganya.


"Astaga naga!"


"Woooiiii!"


"Mas Ghani!"


Ghani memandang keluarganya di depan layar monitor. "Apa?"


"Sudah ah! Dari tadi mommy mau lihat cincinnya nggak jadi-jadi! Mana Lexa?"


Alexandra dengan malu-malu menunjukkan cincin yang diberikan Ghani tadi siang.



Dara dan Rhea langsung ber 'oooohhh' ria melihat cincin bermata satu berlian besar itu.


"Mas Ghani gercep Yaaa" goda Rhea.


"Iyalah!" ucap Ghani sombong.


"Nurun siapa sih kamu bisa kayak gitu?" tanya Abi.


"Mas lah!"


"Daddy lah!"


Abi mendelik ke arah Dara. "Kok aku?"


"Lha Ghani anaknya siapa?" tanya Dara.


"Anaknya aku sama kamu lah!" jawab Abi.


"Gennya Ghani banyak niru siapa?" tanya Dara lagi.


"Akulah... Aaaahhhh nyebelin kalian ah!" omel Abi yang tahu dijebak istri dan putrinya.


Semuanya tertawa melihat wajah Abi yang manyun.


"Selamat ya G. Akhirnya dapat juga" ucap Duncan tulus.


"Thanks D."


"G, daddy dan mommy akan ke New York bareng Duncan, Rhea, Kaia, Yuna dan besan durjana Daddy. Kita harus bicara banyak besok disana" putus Abi.


"Pa, besan durjana itu dadddyku lho" protes Duncan.


"Tapi papa pun sama kalau bilang Daddy besan durjana" kekeh Rhea.


"Lexa, selamat datang di keluarga kami yang penuh dengan kerusuhan dan absurd ini. Semoga tidak kecewa ya nak" senyum Dara.


"Nggak Tan..."


"Mama" potong Dara.


"Nggak Ma. Justru aku yang beruntung mendapatkan keluarga rusuh dan absurd seperti keluarganya Daniswara, seru dan hangat" ucap Alexandra terharu kedua orang tua Ghani tidak menolaknya.


"Sayangi dan hormati Ghani. Itu saja permintaan Oom" ucap Abi.


"Lho? Kok masih Oom?" protes Dara.


"Suka suka akulah!" sahut Abi asal.


***


Ghani dan Alexandra sedang duduk berdua di sofa sembari menonton film klasik favoritnya Columbo. Gadis itu bersender di bahu Ghani sambil melihat cincin di jari manisnya.


"Sayang, kalau kamu takut cincin mu jatuh di mayat yang kamu autopsi, jangan lupa diperban saja jarimu" ucap Ghani sambil mencium pucuk kepala Alexandra.


"Doanya kok jelek sih kamu?" cebik Alexandra.


"Nggak doain cuma ingatin" jawab Ghani. Alexandra terdiam. Iya juga sih!


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️