
Asen akhirnya bisa kembali ke Solo setelah dia tinggalkan kota itu hampir tiga Minggu. Asistennya berhasil mendapatkan sebuah rumah di area Solo Baru yang tidak jauh dari rumah Danisha ditambah sebuah mobil Range Rover sesuai dengan permintaan nya.
Asen merasa puas dengan rumah yang dipilih oleh Malik, asistennya. Tidak terlalu mewah tapi sesuai dengan keinginannya, dekat dengan rumah mewah milik Al Jordan yang sekarang dipakai Danisha.
Pria itu melihat rumah Danisha dari lantai dua rumahnya dengan perasaan campur aduk. Bisakah kamu memaafkan aku, Danisha?
Asen memang meminta pada Malik untuk memberikan pembantu suami istri yang sudah berumur untuk bagian kebersihan rumah dan tamannya.
Pria itu pun memutuskan untuk berjalan-jalan keliling kota Solo sekalian menghapal jalan dengan GPS di ponselnya.
Ketika dia sedang mengeluarkan mobilnya, matanya melihat Range Rover Evoque Putih milik Danisha masuk ke dalam rumahnya. Asen menjalankan mobilnya dan menyempatkan diri mengehentikan mobilnya di seberang rumah Al Jordan.
Dilihatnya gadis itu turun dengan anggunnya dan berjalan menuju rumah. Rambut coklatnya diikat ke atas seperti Bun. Tampak pembantu rumah tangganya membuka pintu rumah dan Asen tidak dapat melihat lagi karena pagar tinggi itu mulai menutup secara otomatis.
Kamu tambah cantik. Asen melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam dan memutuskan untuk mencari makan malam.
***
Danisha merasa segar setelah mandi dengan air panas setelah seharian ini dia merasa penat dan stress akibat harus memenuhi kuota yang diminta Hamilton Co.
Rasanya dia ingin tidur cepat karena fisiknya benar-benar lelah. Suara ponsel membuatnya mengerenyitkan alisnya. Semoga bukan masalah! Aku capek!
"Halo."
"Halo Nisha. Sudah sampai rumah?" tanya Ezra di seberang.
"Sudah, mau makan malam."
"Have a dinner with me, Nisha. Aku jemput kamu ya. Besok aku sudah kembali ke New York soalnya."
Danisha sebenarnya ingin tidur cepat, tapi mendengar Ezra akan pulang ke New York besok, rasanya nggak papa sih.
"Ya udah, jemput aku. Akan aku share lokasi rumahku."
"Oke, Darling."
***
Asen menikmati acara makan malamnya di Amco Restauran Solo sembari melihat acara live music. Banyak kaum hawa yang meliriknya namun Asen mengacuhkan mereka.
"Mister, butuh teman?" goda seorang wanita dengan baju terbuka mencoba mengusiknya.
"Just get lost!" desis Asen kesal. Acara makan malamnya terganggu dengan cewek menyebalkan.
Wanita itu pun pergi sambil bersungut-sungut. Asen melanjutkan acara makan malamnya sampai dia melihat Danisha bersama dengan seorang pria bule.
Danisha dengan siapa itu? Wajahnya famili... Ezra Hamilton? Bagaimana Danisha bisa kenal dengan Ezra?
Asen mengeraskan rahangnya merasa kesal apalagi melihat Danisha tertawa kecil ketika Ezra menceritakan sesuatu. Seorang pelayan mendekati keduanya dan usai memesan keduanya mengobrol dengan akrabnya.
***
"So, besok kamu kembali ke New York?" tanya Danisha.
"Yup, tugasku juga sudah selesai disini dan besok kembali ke New York dengan tugas baru. Meluluhkan hati Tuan Daniswara Ghani Giandra"
Danisha tertawa. "Good luck for that!"
"Thanks Darling" cengir Ezra.
"Apa kamu serius mau menghadap papa?" tanya Danisha.
"Serius lah! Aku sudah menunggu lama ingin bertemu denganmu dan aku tidak mau berlama-lama. Takut kamu sudah diambil orang lain." Ezra menatap Danisha dengan serius.
"Well, kita lihat bagaimana reaksi papa."
Percakapan mereka terhenti ketika pesanan keduanya datang dan memulai acara makan malam mereka.
Ezra mengatakan bahwa makanan yang dia pesan sangat enak dan ingin Danisha mencicipinya. Dengan gaya santai, pria itu menyuapkan makanan ke Danisha yang menerima suapan itu. Gadis itu mengangguk setuju bahwa makanan yang dipesan Ezra memang enak.
Tanpa mereka sadari, sepasang netra coklat memandang keduanya dengan geram.
***
"Apakah kamu kalau makan bersih begini piringnya?"
Danisha mengangguk. "Sebisa mungkin bersih karena aku tipe orang yang tidak suka membuang-buang makanan."
"Orangtuamu mendidikmu dengan baik" komentar Ezra sembari menyesap juice alpokat nya.
"Sebenarnya Necan Dara yang selalu mendidik kami agar selalu menghargai makanan. My grandmother was the most awesome woman" senyum Danisha.
"How about your mom?"
"Mama the best tapi Necan Dara the most" kekeh Danisha.
"Andaikan Necan mu masih ada, aku akan berterimakasih telah memberikan cucu yang menarik ini" senyum Ezra.
"Hei, aku lahir dari papa dan mama lho ya!" gelak Danisha.
"Tapi kan kamu keturunan Necan Dara dan mendengar pujianmu ke grandmother seperti itu, aku yakin dia wanita yang lembut dan bijaksana."
"She was. Ogan Abi sampai tidak bisa jauh-jauh dari Necan dan ternyata Necan pun sama."
"Maksudnya?"
Danisha menghela nafas panjang. "Ogan Abi meninggal dalam tidurnya di pagi hari setelah sholat subuh. Necan yang shock mengetahui Ogan berpulang, langsung mengalami serangan jantung dan terkena stroke. Dan sebulan kemudian Necan Dara menyusul Ogan karena dia merasakan patah hati memdalam ditinggal Ogan."
Ezra memegang tangan Danisha dan mere*masnya pelan. "Mereka memang sehidup semati."
"Ternyata tidak hanya Ogan dan Necan yang mengalami patah hati memdalam. Opa Edward dan Oma Yuna pun."
Ezra menatap Danisha. "Maksudmu Edward dan Yuna Blair? Bukannya mereka meninggal karena kecelakaan pesawat?"
"Iya. Ogan Abi itu kan besanan dengan Opa Edward. Ketika Ogan Abi meninggal, Opa Edward sangat terpukul kehilangan sahabat ributnya dan wajahnya semakin menua seperti kehilangan semangat. Setahun kemudian disaat mendapatkan semangatnya yang baru, Opa Edward dan Oma Yuna mengalami kecelakaan. Opa Edward meninggal dua hari setelah kejadian itu, disusul Oma Yuna sepuluh hari kemudian." Danisha mengusap matanya yang mulai berembun.
"Keluarga kalian terkenal dengan saling akur dan rukun satu sama lain" ucap Ezra sambil menatap sayang ke Danisha.
"Mereka memang mengajari cinta tulus dan abadi yang hanya dipisahkan oleh maut" senyum Danisha sendu.
"Aku ingin menjadi seperti itu, Nisha. Menikah dengan orang yang aku cintai, hidup bersama, memiliki anak, menikmati hidup hingga akhirnya."
Danisha mengangguk. "Aku pun."
"Tampaknya aku harus meyakinkan papa dan dirimu bahwa akulah orang itu" senyum Ezra dengan pedenya yang membuat Danisha tertawa.
"Kamu harus sabar menghadapi aku, Ezra."
"Aku bisa bersabar selama 13 tahun untuk bisa bertemu dengan mu, jika aku dan kamu memang berjodoh, kenapa aku tidak bisa sabar seumur hidupku dengan mu. Kita harus sama-sama saling bersabar karena pernikahan adalah penyatuan dua kepala menjadi dalam satu wadah pernikahan. Masing-masing dari kita memiliki ego, bagaimana kita bisa mekompromikan ego kita."
Danisha menatap Ezra dengan tatapan setuju.
Tiba-tiba seorang pria menghampiri meja keduanya
"Siapa pria ini, Danisha?"
Danisha dan Ezra mendongak ke arah pria tinggi itu.
"Asen Alibek?"
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Maaf slow up
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️