The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Levi v Yanti



Yanti menatap tajam ke arah pria tampan yang duduk sambil manyun di sofa seberang meja kerjanya. Siapa sih nih orang? Apa salah satu sepupu Bu Danisha? Iisshhhh aku kan tidak hapal satu persatu siapa saja mereka.


Hampir satu jam menunggu Danisha, membuat Levi tertidur karena memang perjalanan dari New York ke Solo melelahkan meskipun memakai pesawat pribadi milik Duncan Blair.



Yanti sendiri bukannya tidak punya hati, dia tetap membelikan makan siang buat pria itu dan minuman. Pria tampan itu mengucapkan terima kasih namun setelah makan siang, aji sirep pun datang menghampiri lalu tertidur di sofa.


Suara lift berbunyi membuat Yanti menoleh dan wajahnya tersenyum melihat siapa yang datang. "Selamat siang Bu Danisha."


Danisha mengangguk dan tersenyum melihat kakak sepupunya malah tertidur di sofa.


"Kenapa kak Levi tidak masuk ke ruangan saya Yan?" tanya Danisha.


"Ibu tidak memberikan instruksi kepada saya" jawab Yanti apa adanya.


Danisha menepuk jidatnya. "Astaghfirullah saya lupa! Maafkan saya Yan, tadi pada saat kamu telpon saya juga tidak dengar karena terpencet silent."


"Iya Bu tidak apa-apa. Saya juga lumayan ada pemandangan di depan saya daripada tembok."


Danisha tertawa lalu menghampiri Levi. "Kak? Kak Levi?" bisiknya sambil menggoyangkan bahunya.


"Hhhmmm" gumamnya khas ngantuk.


"Yuk pindah ke ruangan ku" ajak Danisha.


"Hah? Bang Toyib?" igau Levi yang membuat Danisha dan Yanti tertawa akibatnya Levi pun terbangun dengan sempurna.


"Kak Levi tuh yang bang Toyib!" kekeh Danisha.


"Iisshhhh! Kamu sama papa sama saja!" cebik Levi sebal. "Hai D" sapanya sambil memeluk sepupunya. Yanti yang melihat langsung melotot. Beraninya main peluk Bu Danisha.


"Yuk masuk kak" ajak Danisha sambil menarik tangan Levi.


"Titip tas ku ya mbak Yanti" kedip Levi dengan wajah menyebalkan membuat Yanti kesal.


Cowok kok narsisnya seperti itu!


***


Danisha yang melihat keusilan kakak sepupunya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Memang sih Levi bisa jadi dewasa tapi bisa kacau juga dan baru kali ini dia melihat kakaknya itu ganjen dengan sekretaris dinginnya.


"Kak Levi" panggilnya setelah mereka berada di ruang kerja Danisha.


"Apa?" sahut Levi sambil tiduran di sofa dengan cueknya.


"Kakak kok jahil sama Yanti sih?" goda Danisha.


"Habis, dia nyebelin. Kakak nggak boleh masuk ke ruangan mu padahal kakak ngantuk banget ini!" omel Levi sambil menambah bantal sofa di bawah kepalanya.


"Maaf tadi aku juga nggak tahu kalau kepencet tombol silent jadi tidak dengar suara telepon dan pesan."


"Hhhmm" gumam Levi yang sudah setengah tertidur dan tak lama suara dengkuran halus terdengar di ruang kerja itu.


Danisha tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk.


***


Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore namun Levi masih betah dengan tidurnya bahkan suara ketukan pintu ruangan Danisha pun tidak membuatnya terganggu.


Yanti masuk dengan membawa beberapa berkas yang harus diperiksa lagi oleh Danisha. Sambil menunggu Danisha, mata gadis itu melirik ke arah pria yang masih terlelap dengan enaknya.


"Dari tadi belum bangun Bu?" bisik Yanti sambil menunjuk ke arah Levi.


"Belum. Biarkan saja, lagian kak Levi langsung dari New York kemari jadi masih jetlag" jawab Danisha kalem.


"Itu sepupu dari mana Bu? Maksudnya Keluarga mana?"


"Levi itu anaknya Oom Eiji Reeves, tahu kan pianis legenda itu?" Yanti mengangguk. "Nah itu anaknya. Kalau kak Levi rada-rada slengean, ya soalnya Oom Eiji biangnya slengean."


"Masa sih Bu? Pak Levi anaknya tuan Eiji?" gumam Yanti tidak percaya meskipun dalam hatinya melihat Levi usil tadi emang nyebelin sih.


"Tapi kok cakep tuan Eiji ya?" komentar Yanti melihat foto pria paruh baya yang masih tampan dan menarik.


"Siapa yang bilang cakep bokap gue?"


Yanti pun membeku sedangkan Danisha cekikikan.


"Mbak Yanti, bilang sekali lagi cakepan pria tua itu, aku minta Danisha pindahkan kamu ke Timbuktu!" omel Levi yang masih duduk di sofa guna menyatukan nyawa.


"Apa hak anda meminta Bu Danisha memindahkan saya ke Timbuktu?" protes Yanti kesal. "Memang ada ya Bu Timbuktu? Bukan hanya ada di komik-komik?" tanya Yanti ke Danisha.


"Ada lah Yanti. Timbuktu merupakan kota di Mali, negara di Afrika Barat, benua yang terkurung oleh daratan.


Timbuktu didirikan sekitar tahun 1100 Masehi. Kota yang saat ini berpenduduk sekitar 54 ribu jiwa itu berada dekat Sungai Niger, di perbatasan selatan Gurun Sahara.


Lumpur dari sungai digunakan warga sebagai bahan bangunan, sehingga warna bangunan di sana bisa dibilang seragam, dari putih sampai kecoklatan.


Berada di dekat sungai tentu membantu Timbuktu menjadi pusat perdagangan. Dengan cepat, kota ini menjadi kota yang kaya.


Mengutip Wonderpolis, Timbuktu juga dikenal kaya akan emas. Konon katanya, warga di sana membarter emas untuk makan. Mungkin kisah itu yang membuat Paman Gober bermimpi datang ke Timbuktu."


https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210204113620-269-602171/mengenal-timbuktu-kota-tujuan-paman-gober-mencari-emas.


"Hah? Beneran kota emas ya?" kekeh Yanti. "Pak Levi, kok bapak enak banget minta saya dipindahkan kesana?"


"Aku kan punya saham disini jadi suka-suka lah!" sahut Levi cuek.


"Kak Levi, ini AJ Corp lho, bukan PRC group" cengir Danisha yang membuat Levi melongo.


"Haaaiissshhhh! Aku lupa ini punya Opa Hiro, Oom Joshua ma Fuji!" sungut Levi.


"Berarti pak Levi tidak ada hak di AJ Corp Bu?" tanya Yanti.


"Tidak, soalnya Kak Levi hanya punya saham PRC group" kekeh Danisha sedangkan Yanti menatap Levi dengan penuh kemenangan.


Levi pun manyun. "D, kamu mau pulang jam berapa?"


"Sebentar lagi. Kak Levi mau makan apa? Sekalian nanti kita beli" jawab Danisha yang sudah selesai memeriksa laporan Yanti.


"Kata Bara, gudeg adem ayem enak. Kesana saja! Suruh Bara nyusul. Mbak Yanti ikut sekalian? Makin ramai makin seru!"


Yanti terkejut mendengar ajakan Levi. "Makasih pak, tapi saya harus pulang membantu bapak jualan."


Levi terpana mendengar ucapan Yanti. Bahkan sekretaris CEO AJ Corp masih membantu bapaknya jualan?


"Bapakmu jualan apa?"


"Jualan sate ayam depan rumah pak. Ibu saya sudah meninggal tiga tahun lalu jadi saya yang menggantikan ibu kalau ada pelanggan datang makan disana. Biasanya ibu yang buatin minum atau bantu bungkusin kalau banyak pesanan tapi sekarang saya yang membantu bapak" jawab Yanti.


Levi langsung menatap respek dengan sekretaris galak ini tapi tampak semangat jika menceritakan dirinya.


"Salut aku sama kamu, mbak Yanti" ucap Levi tulus.


"Kapan-kapan ke rumah Yanti kak, cobain sate ayamnya."


Levi hanya mengangguk dan menatap Yanti dalam sedangkan yang ditatap merasa gugup padahal dia selalu bisa memahan emosinya.


Ada apa ini?


***


Yuhuuu Up Siang Yaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️