
Hari berlalu dan Alexandra sudah memutuskan hubungannya dengan CIA karena dia tidak mau dijadikan aset seperti yang Ghani bilang. Alexandra ingin hidup normal tanpa harus merasa paranoid setiap saat karena pekerjaannya sendiri sudah membuat hatinya lelah.
Kini Ghani sudah menyelesaikan pendidikannya di FBI dan memutuskan untuk kembali ke NYPD karena dirinya tidak mau jauh-jauh dari Alexandra. Sesuai dengan janjinya, Alexandra selalu diawasi oleh Ghani menjaga kemungkinan yang terjadi apalagi Alexandra tidak bisa menghadiri pemakaman kedua orangtuanya agar tidak dijadikan target.
Alexandra sedang melakukan laporan hasil autopsi ketika Dr Robbins masuk ke ruangannya.
"Alex" panggilnya.
"Ya grandpa?"
"Sudah selesai membuat laporan autopsinya?"
"Sedikit lagi. Kenapa Grandpa? Apa pihak detektif yang menyelidiki memintanya?"
"Yup. Kamu tahu kan Raymond suka tidak sabaran."
Alexandra hanya melengos. Semenjak Raymond menikah dengan Valora Arata, semakin hari semakin cerewet. Sepupu Rhea Blair itu memang heboh orangnya namun Alexandra suka dengan wanita itu.
"Bilang sama Raymond tunggu lima belas menit lagi!" ucapnya sambil melanjutkan menulis.
"Apanya yang lima belas menit lagi?"
Alexandra menoleh. "Ghani?"
"Wah dokter Jalapeno. Sepi ya nggak ada aku" cengirnya.
Alexandra memutar matanya malas. "Kumat!"
"Eh? Apa? Kamu bilang aku kumat? Memang aku kenapa?" cerocos Ghani.
"Kumat penyakit narsismu tahu!" cebik Alexandra.
"Hei! Kamu nggak ada aku juga kangen kan?"
"Idiiihhh, siapa yang kangen sama kamu!" Alexandra memasukkan semua laporan hasil autopsi ke dalam map lalu berdiri. "Minggir! Aku mau cari detektif Raymond!"
"Hei! Kamu nggak bisa seperti ini Alex! Kekasih datang bukannya disambut malah mencari pria lain?" Ghani mengekor Alexandra yang berjalan keluar menuju lorong ruangannya.
"Dokter C! Akhirnya laporannya datang juga. Eh, lu ngapain bro? Balik Sono ke Quantico!" goda Raymond.
"Enak ajah! Gue dah balik ke markas dan partneran lagi sama elu!" seringai Ghani.
"Astoge! Musibah buat gue!" Raymond manyun dengan dramatis. "So dokter C, apa kesimpulan hasil autopsi nya?"
"Suicide."
Raymond menatap Alexandra. "Fix?" Alexandra mengangguk.
"Bunuh diri karena over dosis obat tidur."
"Memar di tubuhnya? Bukan karena kekerasan?" tanya Raymond.
"Bukan. Itu luka lama akibat jatuh. Aku sudah cek ke rumah sakit tempat dia dirawat. Ternyata dia memiliki bipolar jadi suicide adalah pilihannya. Disitu juga ada keterangan dari psikiater korban."
Raymond mengangguk. "Aku akan menghubungi psikiater nya. Thanks dokter C."
Alexandra tersenyum tipis lalu berbalik untuk kembali ke ruangannya.
"Lex? Mau kemana?" tanya Ghani.
"Kerja lah! Kamu kira mayat yang ada cuma mayatnya Raymond?"
"Heeeiii! Itu bukan mayatku!" protes Raymond tidak terima.
"Tapi kamu kan yang membawanya kemari" sahut Alexandra cuek sambil berjalan meninggalkan ketiga pria disana.
Dr Robbins hanya tersenyum. "Setidaknya dia sudah kembali judes, Giandra."
Ghani dan Raymond hanya mengangguk setuju.
***
Ghani sudah kembali ke markas homicide dan menempati meja lamanya bersama Raymond. Selama Ghani pendidikan di Quantico, Raymond hanya mau bersama officer Tam yang berdarah Taiwan karena mereka sering mendapatkan panggilan di daerah Pecinan.
Sekarang officer Tam harus melanjutkan pendidikannya jadi Ghani kembali ke posisi yang lama, posisi yang selalu dia sukai dan rindukan selama di Quantico.
"Bro, serius kamu nggak milih di BAU?" tanya Raymond ketika mereka kembali bekerja.
"Nggak lah. Cukup setahun aku disana. Kasusnya lebih seram daripada di NYPD." Ghani hanya tersenyum tipis.
"Apa karena Alex?"
"Salah satunya itu." Ghani tiba-tiba mengernyitkan dahinya. "Ini kasus kapan bro?" tanyanya ke Raymond sambil menunjukkan berkas di map coklat.
"Kasus yang mana? Aku dengan Tam kebanyakan kasus jadi nggak hapal satu persatu."
Raymond menatap Ghani bingung. "Aku nggak dapat kasus itu, Tam juga."
"Terus ini kasus siapa?" tanya Ghani.
"Aku tak tahu."
Apartemen One Manhattan kan apartemennya Alexandra. Apakah suatu kebetulan?
"Memang kapan kejadiannya?" tanya Raymond karena dia merasa tidak menyelidiki hingga ke Manhattan.
"Kemarin."
Raymond membuka catatan di notes polisinya. "Selama aku tanpa dirimu, ya ampun aku terlalu puitis, aku tidak sampai Manhattan area penyelidikannya."
Ghani semakin penasaran lalu bertanya pada rekan-rekannya yang memegang kasus pembunuhan di One Manhattan.
Seorang detektif perempuan kulit hitam bernama Tammy Young menghampiri Ghani.
"Aku yang pegang kasusnya, Giandra hanya saja aku tidak punya partner untuk memecahkan kasus ini. Asal kamu tahu, kasus ini membingungkan" ucap Tammy.
"Kita ke TKP sekarang saja Young, mumpung baru sehari terlewat." Ghani mengambil jaketnya.
"Ayo! Aku senang jika ada teman sharing."
"Ray? Ikut?" tanya Ghani.
"Nggak lah! Masih urus mayatku" ucapnya dramatis. Ghani dan Tammy tertawa. Keduanya kini meninggalkan markas menuju lokasi kejadian.
***
Ghani dan Tammy sampai di apartemen One Manhattan dan bergegas menuju lantai empat. Apartemen berlantai delapan itu sebenarnya apartemen paling ketat untuk penghuni maupun pengunjungnya. Harus menggunakan kartu khusus plus password masing-masing penghuni. Pengunjung sendiri baru bisa masuk kalau memang diijinkan oleh penghuni jika tidak, dilarang masuk.
Setelah menunjukkan badge nya, keduanya boleh masuk oleh petugas kepolisian yang masih menjaga TKP yang diberi stiker kuning police line.
Ghani memindai TKP dengan serius.
"Korban ditemukan di kamar tidur. Sekilas dia tidak tampak tewas seperti tidur namun badannya sudah dingin." Tammy membaca catatannya. "Korban wanita berusia 25 tahun, profesi dokter."
Dokter? Tiba-tiba bulu kuduk Ghani berdiri. Jangan-jangan dia mengincar Alexandra. Usia dan profesi cocok semua.
"Korban dokter dimana Young?" tanya Ghani sambil memeriksa meja Konsul dengan tangan yang terbungkus sarung tangan.
"Bellevue. Korban Alicia Troy seorang dokter umum."
Ghani melihat catatan yang ada di meja. Jadwal praktek, jadwal visite pasien, jadwal bertemu dengan orang tuanya ada semua di agenda milik korban.
Lalu pria itu masuk ke dalam kamar korban yang tampak rapih dan semuanya bernuansa putih pink. Ghani terkesiap ketika melihat foto Alicia yang tampak mirip dengan Alexandra.
Ya Tuhan, jangan-jangan salah satu musuh kedua orang tua Alexandra mengetahui jatidirinya sekarang tapi dia salah membunuh orang.
Ghani berusaha membuang kecemasan dalam dirinya namun rasanya tidak bisa. Entah kenapa dirinya merasa pembunuhan ini berkaitan dengan Alexandra namun salah korban.
Apartemen Alexandra berada di lantai lima sedangkan korban di lantai empat. Mungkin saja si pembunuh tersilap lantai dan membunuh orang yang salah.
Dengan tangan gemetar, Ghani menelpon Alexandra. Saat deringan ketiga, Alexandra mengangkat panggilannya.
"Ada apa G?" tanyanya judes.
"Kamu jangan pulang sendiri. Aku akan menjemputmu!"
"Tapi G?"
"Untuk kali ini, jangan membantahku Alexandra!"
Suara hening terdengar sesaat sampai "Baiklah G. Aku akan menunggumu disini."
"Bagus!" Ghani menutup panggilannya.
Semoga perasaanku salah akan kasus ini.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Muaap agak-agak suspense thriller
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️