
Kehadiran Bara di kehidupan Ghani dan Alexandra membuat semakin bewarna dan riweuh. Keduanya yang terbiasa hidup teratur kecuali jika ada kasus, harus berantakan karena jam bayi berbeda dengan jam orang dewasa.
Tak terasa Bara sudah berumur 2 tahun dan Alexandra sekarang sedang hamil anak kedua. Ghani dan Alexandra inginnya memiliki anak lagi setelah Bara berusia tiga tahun tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, Alexandra sekarang hamil anak kedua yang diperkirakan perempuan.
Rhea sendiri sudah memiliki seorang anak laki-laki adiknya Kaia yang diberi nama Aidan dan lagi-lagi hot mami itu harus manyun karena Aidan tidak mirip dengannya lagi yang berdarah Asia. Abi pun kali ini kalah taruhan harus membongkar celengannya untuk membelikan Edward yacht buat besan durjana nya.
"Mas Bara, ayo dimakan dulu nak buburnya" bujuk Alexandra ke putra tampannya namun Bara tetap asyik berjalan-jalan sambil menyentuh apa yang bisa disentuh sambil mengoceh.
"Ma...ma... tas" tunjuk Bara ke tas tangan Alexandra yang ada di sofa.
"Eh pinter. Kalau pintar, ak dulu dimaem buburnya biar tambah pintarnya" bujuk Alexandra yang dipatuhi oleh Bara. Semenjak hamil anak kedua, Alexandra memutuskan mengundurkan diri dari kantor koroner karena dia ingin full time di rumah, menyiapkan Bara untuk menerima kehadiran adiknya.
Ghani sendiri tidak memaksa Alexandra mundur dari pekerjaan yang dia sukai tapi dia menghormati keputusan istrinya yang lebih memilih menjadi ibu rumah tangga.
"Kalau nanti anak-anak sudah besar kan aku bisa bekerja lagi mas" jawab Alexandra.
"Soal finansial nggak usah kamu pikirkan, Lexa. Kita kan bukan tipe boros jadi it's not a problem" ucap Ghani.
Semenjak Alexandra hamil lagi, keduanya memutuskan untuk pindah ke sebuah penthouse di area Chelsea yang masih daerah Manhattan. Dua apartemen milik Ghani dan Alexandra sudah dijual ketika mereka memutuskan pindah.
Abi dan Dara bahagia dengan keputusan Ghani pindah karena lebih besar daripada apartemen mereka yang lama.
***
"Assalamualaikum" sapa Ghani yang baru pulang dari bekerja.
"Wa'alaikum salam" sapa Alexandra.
"Icum calam" sahut Bara yang membuat Ghani gemas dengan putra nya.
"Sebentar papa cuci tangan dulu ya mas Bara." Ghani melepaskan jaketnya lalu menuju wastafel dan mencuci tangannya, baru dia menggendong Bara.
"Mas Bara nakal nggak di rumah?" tanya Ghani yang dijawab gelengan Bara.
"Mas Bara nggak nakal, cuma nggak bisa anteng kalau maem" kekeh Alexandra yang membawa mangkok bekas bubur Bara yang sudah licin tandas ke dapur.
"Mas Bara nggak boleh gitu sama mama. Lihat tuh, mama bawa adik sudah berat jadi kalau mas Bara maemnya jalan-jalan terus, mama nanti kecapekan karena ikuti mas Bara. Kasihan adiknya mas Bara nggak bisa bobok di dalam perut mama" ucap Ghani sambil menowel hidung Bara.
"Teh nya mas" suara Alexandra membuat ayah dan anak itu menoleh. Perut Alexandra yang membuncit karena hamil tujuh bulan itu kemudian dielus oleh Bara.
"Adek, bobok ya" ucap Bara sambil mencium perut Alexandra. Melihat sikap putranya membuat Alexandra gemas dan mencium pipi gembul Bara.
"Ini mama dan adik istirahat" senyum Alexandra sembari duduk di sofa besar bertiga.
Ghani mencium kepala istrinya. "Capek sayang? Nanti mas pijitin." Ghani melihat kaki Alexandra yang agak bengkak.
"Nggak papa kok mas. Aku menikmatinya" senyum dokter cantik itu.
"Mas Bara, ikut papa yuk!" ajak Ghani.
"Kemana pa?" Ghani hanya menggandeng putranya masuk ke dalam kamar meninggalkan Alexandra yang bingung. Tak lama kedua ayah dan anak itu kembali membawakan minyak aroma terapi yang harum lavender.
"Kamu senderan deh sayang, kakinya ditaruh di sofa" ucap Ghani sambil membantu istrinya.
Alexandra hanya tersenyum melihat kedua pria kesayangannya memberikan minyak lavender itu ke kakinya.
"Mas Bara, pijatnya gini" Ghani memberikan contoh yang diikuti oleh Bara.
Alexandra tertawa melihat wajah serius Bara mengikuti cara ayahnya memijit kaki sang mama. Tangan mungil yang sibuk memijit itu membuat bumil cantik terharu.
"Ya ampun jagoan mama semuanya jago pijat" ucapnya sambil menangis terharu.
"Mama? Tatit ya? Mas Baya bikin tatit mama ya?" wajah menggemaskan Bara mulai panik dan hidungnya mulai memerah. Alexandra tahu bahwa putranya sebentar lagi akan menangis.
"Bukan sakit sayang, mama terharu melihat mas Bara memijat kaki mama" ucap Alexandra sambil merentangkan kedua tangannya dan batita itu langsung masuk ke dalam pelukan sang mama.
Ghani yang tersentuh melihat interaksi istri dan putranya pun ikutan memeluk keduanya.
"Berpelukan ala Teletubbies!" gelaknya yang membuat Alexandra tertawa. "Love you both."
***
Abi dan Dara beserta Dr Robbins sedang menunggu kelahiran putri kedua Ghani dengan sedikit cemas karena tadi air ketuban Alexandra pecah dalam perjalanan ke rumah sakit.
Bara tampak anteng dalam pangkuan Nabila karena asyik bermain rubik.
"Ra, aku tuh bingung. Dua anaknya Rhea dan Duncan semuanya bule, tapi malah Bara kelihatan Asia-nya" kekeh Nabila.
"Itu juga yang bikin Rhea sebal karena Aidan sama bule nya dengan Kaia. Duncan sempat menawarkan punya anak lagi supaya dapat yang Asia tapi Rhea sudah menyerah karena yakin kalau hamil lagi, dapatnya bule lagi" gelak Dara.
"Gen nya Duncan memang kuat banget sih ya" sahut Nabila.
***
"Sialan! Padahal aku berharap cucuku dari Rhea cewek lagi soalnya Kaia menggemaskan... Eh malah Aidan yang nongol dan bikin Ogannya bokek!" gerutu Abi.
Dr Robbins dan Mike Cahill terbahak. "Heran aku sama kamu, Bi. Heboh kalau dengan Edward padahal dulu Edward susah lho orangnya."
"Yuna yang merubah Edward menjadi lebih gesrek" umpat Abi kesal harus merogoh koceknya dalam-dalam demi kapal yang mau dipakai Edward mancing.
"Tapi aku dengar dari Jack, Yacht mu akan dibalik nama ke Kaia dan Aidan oleh Edward jadi nggak masalah lah!" cengir Mike.
Abi hanya mengangguk.
Suara tangis bayi terdengar membuat semua orang disana langsung berdiri menunggu Ghani keluar. Tak berapa lama, hot papa itu keluar.
"Gimana G?" tanya Abi.
"Alhamdulillah lahir perempuan, sehat, lengkap, sempurna. Panjang 50cm, berat 3,4 kg" jawab Ghani sambil tersenyum lebar. "Lexa baik-baik saja dan sekarang sedang IMD."
"Namanya siapa G?" tanya Mike.
"Danisha Gayatri Giandra."
***
Alexandra mendekap Bara yang sedang tertidur di sisi sang mama. Anak sulungnya masih dalam fase cemburu kehadiran sang adik meskipun Alexandra sudah mengajari tentang adanya adik cantik tapi rasa jealous pasti ada.
Semua opa dan Oma sudah pulang dan kini tinggal mereka berempat. Ghani tak henti-hentinya kagum melihat putrinya yang malah bule dibanding Bara.
"Sayang, kenapa Danisha jadi bule begini ya?" ucap Ghani.
"Lha kan aku bule mas" kekeh Alexandra.
"Rhea pasti iri karena anak-anakku adil ini, satu Asia satu bule" kekeh Ghani lalu berjalan menuju istri dan putranya.
"Terimakasih sayangku sudah memberikan dua anak yang cakep dan cantik. Love you so much, Lexa" ucap Ghani sambil mencium kening Alexandra.
"Love you too mas."
"Semoga anakku nurun aku jadi detektif" cengir Ghani melihat wajah Bara yang sedang terlelap.
"Kalau itu aku nggak yakin mas" kekeh Alexandra.
"Kenapa?"
"Aku kok merasa Bara akan memilih profesi yang berbeda dari kita berdua."
"Kamu tahu dari mana?" Ghani memincingkan matanya.
"Feeling ibu, karena aku melihat Bara lebih tertarik dengan flora fauna. Kayaknya lebih memilih ke dokter hewan atau peneliti deh" ucap Alexandra.
"Asal nggak kayak Oma Yuna nya yang milih keliling museum saja" kekeh Ghani.
"Maybe" gumam Alexandra.
"Oh no!" Ghani hanya bisa memegang pelipisnya.
Alexandra tertawa.
*** END ***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Ghani Alexandra End ya gaeeesss
Terimakasih sudah mengikuti kehidupan detektif cool dan dokter Jalapeno.
Author receh ini mau menyelesaikan dua novel lainnya dulu.
Sudah ada planning buat Danisha disini tapi biarkan aku membuat novel bar-bar Vivienne selesai ya JD jangan di unfavorite dulu.
Bara dan Danisha insyaallah barengan.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️