The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Semua Gara-gara Yuna



Ghani dan Abi bingung melihat keributan di kamar tamu akibat pada panik mendengar Rain pingsan. Bahkan papa Ryu sampai harus menarik Mike dan Nabila untuk memeriksa putrinya.


"Kenapa Rain, Lexa?" tanya Ghani ke istrinya yang sedang membawakan teh untuk suaminya.


"Rain pingsan tapi kata mbak Sabina kemungkinan hamil sih" jawab Alexandra.


"Wah berarti kayak Rhea dong, langsung isi" kekeh Abi. "Ngomong-ngomong adikmu itu kok belum mau nambah anak lagi ya? Kan biar Daddy nggak rebutan Kaia sama besan durjana itu."


Ghani hanya memutar matanya malas. "Seriously Dad?"


Abi lalu melirik Ghani dan Alexandra. "Kalian berdua, awas kalau menunda punya anak!" ancamnya.


"Nggak Dad, kami berdua nggak nunda" ucap Ghani.


"Daniswara, bisa bicara sebentar?" bisik Alexandra.


"Dad, bentar ya aku ada urusan sama Lexa" pamit Ghani.


"Oke boy."


***


"Apa itu Lexa?" tanya Ghani ketika melihat sebuah kunci di tangan Alexandra.


Alexandra berbisik di telinga Ghani yang membuat pria cool itu tersenyum lebar lalu mencium pipi istrinya.


"Kapan?"


"Sekarang."


Ghani melihat sekitarnya sedang asyik mengobrol tanpa memperhatikan siapapun lalu diam-diam mereka kabur ke mobil Range Rover yang sudah disiapkan oleh Steve. Kedua pengantin itu benar-benar melakukan runaway bride.


***


Disini, Ghani dan Alexandra diantar oleh Steven dan berjanji akan menjemput mereka tiga hari lagi. Yuna tadi memberikan sebuah kunci kabin milik keluarga Blair di sebuah daerah pinggiran up state dekat dengan kota New York. Dua buah koper sudah ada di mobil ketika mereka berangkat dan Ghani mengenali itu adalah koper mereka berdua yang memang sudah dipersiapkan untuk pergi ke apartemen Ghani.



Namun mereka malah diberikan hadiah untuk malam pertama di sebuah pondok kecil yang memang jauh dari manapun.


Ghani dan Alexandra terkejut melihat dalam pondok itu yang sangat rapi dan hangat.



"Oh wow!" ucap mereka berdua.


Ghani melihat interior yang sangat sederhana namun cocok dengan pondok itu. Alexandra langsung menuju dapur dan terkesima melihat bahan makanan sudah ada di kulkas.


"Wah Tante Yuna benar-benar deh!" Ghani memeriksa ponselnya yang sudah dia offline begitu juga dengan Alexandra.


Ghani dan Alexandra naik ke lantai dua dimana tempat tidur mereka berada.



"Oh wow!" seru mereka lagi.


"Daniswara, kita nggak usah jauh-jauh bulan madu. Disini saja sudah suka aku!" ucap Alexandra yang tiba-tiba mendapat pelukan Ghani dari belakang.


"Beneran nggak usah bulan madu?" bisik Ghani yang dijawab anggukan Alexandra.


"Kita mandi dulu sebelum gelap dan..." Ghani melotot melihat ada pisau di dalam tas Alexandra. "Sayang?"


"Oh ini hadiah dari budhe Nabila. Katanya buat masak sama jaga diri" kekeh Alexandra. Ghani menepok jidatnya.


"Mereka tuh yaaaaahhhhhh!"


***


Elang membawa Rain ke St Joseph Hospital daerah Staten Island area rumah Duncan. Pria itu sudah berganti pakaian menjadi kaos begitu juga dengan Rain. Keduanya ditemani oleh papa Ryu dan Mama Giselle.


Dan sekarang di rumah Duncan terjadi keributan karena dua orang pengantin menghilang. Semua mata tertuju ke Yuna yang asyik makan steaknya di meja makan.



Ada yang kangen sama Miss Yuna Pratomo Blair?


"Apa?" tanya Yuna cuek.


"Kamu kirim kemana Na?" tanya Abi kesal karena acara belum selesai tapi Ghani dan Alexandra menghilang.


Yuna menatap Abi dingin. "Ku kirim ke planet Namec!"


"Yunaaaa! Aku serius ini!" geram Abi.


"Ya sudah! Aku kirim ke planet Pluto itu pun kalau Pluto masih jadi bagian planet tata Surya" sahut Yuna santai.


Abi hendak bertanya lagi tapi di tahan Edward. "Kamu tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun dari istriku. Percuma! Aku saja tidak tahu!" ucap Edward.


Yuna hanya mengedikkan bahunya lalu melanjutkan makannya. "Sudah, makan saja dulu. Mereka di tempat yang nyaman dan kamu Joshua, jangan sekali-kali melacak mereka!" ancam Yuna sambil memegang pisau steak. "Eiji juga! Awas kalau kamu mulai kumat usilnya!"


Joshua dan Eiji hanya menelan salivanya dengan susah payah.


***


Alexandra sudah mandi dan berganti baju dengan gaun bewarna biru. Wajahnya hanya memakai makeup sederhana.



"Mas Ghani" sapanya ke Ghani yang sedang menikmati hot choco. Nyaris Ghani tersedak mendengar panggilan mesra dari Alexandra.


"Ya ampun Lexa! Kaget aku!" ucap Ghani apa adanya. "Kenapa nggak manggil aku Daniswara seperti biasanya?"



Alexandra hanya tersenyum dan duduk di pangkuan Ghani. "Kamu maunya dipanggil apa? Mas Daniswara atau mas Ghani?" Wajah istrinya semakin mendekati wajah Ghani.


"Karena kalau mas Ghani samaan sama dik Rhea, aku lebih suka dipanggil mas Daniswara" ucap Ghani dengan suara serak.


"Menurut mas Daniswara, di rumah Duncan, gegeran nggak ya?" bisik Alexandra sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Ghani.


"Gegeran ya biarin saja. Paling Tante Yuna yang dicecar Daddy" kekeh Ghani.


Keduanya saling memandang lalu Ghani mencium bibir istrinya dan saling me****** satu sama lain. Pelan Ghani menggendong Alexandra naik ke lantai dua tanpa melepaskan ciumannya.


Pelan Ghani meletakkan istrinya. Keduanya saling mengelus saling mengenal tubuh masing-masing. Ghani membuka kaosnya dan dibuang ke sembarang menampilkan perut kotak-kotaknya yang membuat Alexandra tidak tahan untuk tidak mengelus roti sobek milik suaminya.


"Kamu tahu mas, waktu di rumah Rhea" ucap Alexandra disela-sela cum*bukan Ghani di ceruk leher istrinya sedangkan tangannya sibuk membuka gaun Alexandra.


"Kenapa di rumah Rhea?" tanya Ghani dengan suara parau. Kini gaun Alexandra sudah terbuka sempurna dan Ghani melepaskan gaun biru itu lalu membuangnya.


"Aku ngiler lihat perut mu" kekeh Alexandra.


Ghani tersenyum. "Semua yang ada tubuhku adalah milikmu, baby." Pria itu lalu mencium istrinya lagi. Keduanya saling mengelus, saling menikmati tubuh pasangannya hingga keduanya polos dan Alexandra langsung memerah wajahnya melihat milik Ghani.


Meskipun dia dokter yang sudah terbiasa melihat tubuh telanjang tapi tetap saja berbeda rasanya melihat milik suaminya.


"May I Lexa?" bisik Ghani dengan suara serak dan nafas sedikit memburu.


"Yes, mas" ucap Alexandra pelan.


Ghani pun mulai memasukkan miliknya ke dalam inti Alexandra. Butuh waktu untuk bisa menembus apa yang selama ini dijaga oleh Alexandra. Dokter cantik itu sempat meringis ketika Ghani bisa menembusnya.


"I'm so sorry Lexa" bisik Ghani.


"It's okay" jawab Alexandra.


Ghani pun mulai bergerak diatas Alexandra. Keduanya pun mulai bisa memahami tubuh masing-masing dan menikmati hubungan suami istri hingga akhirnya keduanya sama-sama mendapatkan kli*maks.


Ghani yang masih takjub atas apa yang terjadi hanya bisa memandang wajah istrinya.


"Terimakasih Lexa" ucapnya sambil mencium bibir istrinya. Ghani benar-benar tidak menyangka Alexandra benar-benar menjaga dirinya.


"Sama-sama mas Daniswara" senyum Alexandra.


"I like that call, darling. Love you Lexa."


"Love you too mas." Alexandra lalu memeluk tubuh polos Ghani. "I'm so sleepy." Ghani tertawa kecil.


love you so much my Jalapeno Doctor.


***


Yuhuuu Up sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️