The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Singa Betina



Alexandra masuk ke ruangan Ghani dengan membawa buku tebal dan laptop. Wajah cantiknya membuat Ghani sampai melongo dibuatnya.


"Katanya habis bedah mayat, kok awet cantik?" goda Eiji yang mendapatkan tatapan horor dari Ghani dan Abian.


"Biarlah yang jelek mayatnya, aku masih hidup jadi harus cantik lah. Ya nggak Daniswara?" kedip Alexandra ke Ghani yang shock dengan ulah gadis itu.


"Whoah! Alex! Yakin kamu nggak ketempelan jin rumah sakit? Kenapa kamu jadi berbeda? Kayaknya aku harus bacain ayat kursi deh!" celetuk Eiji yang mendapatkan lemparan roti dari Ghani.


"Sembarangan!" omelnya.


Alexandra mengacuhkan kedua pria ramai itu dan menghampiri Ghani.


"Kamu bosan kan, sayang? Aku punya kasus nih!" Alexandra menyerahkan file rumah sakit dan beberapa informasi untuk diselidiki Ghani.


"Kasus apa nih yank?" Ghani sekarang tidak malu-malu lagi memproklamirkan hubungannya dengan Alexandra karena gadis itu pun sama.


Alexandra menceritakan apa yang dia lakukan dengan Nabila di kamar mayat dan keduanya pun mencurigai kematiannya.


"Aku butuh laptop" ucap Ghani. Alexandra lalu memberikan laptopnya untuk Ghani.


Alexandra duduk manis di kursi seberang Ghani sambil membuka jurnal kedokteran yang berisikan tentang succinylcholine.



Ghani yang diperbolehkan oleh Nabila untuk turun dari tempat tidur, memilih duduk di sofa sambil membuka laptop Alexandra.



"Akhirnya aku nggak bosan di tempat tidur" cengirnya.


Eiji dan Abian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sekali detektif kalau Nemu kasus saja langsung sumringah" ucap Abian yang masih memantau pertemuan para mafia di MB Enterprise.


"Tapi aku setuju dengan Alexandra, suaminya patut dicurigai" timpal Eiji. "Apa tadi namanya Lex?" Eiji membuka Ipad-nya.


"Succinylcholine."


Eiji menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Beeeuuu bahasanyaaaaa!"


"Selamat datang di dunia medis" senyum Alexandra manis.


***


Nabila masuk ke ruangan Ghani namun tidak sendirian karena dia bersama seorang wanita cantik yang anggun disampingnya.


"Pada sibuk apa?" tanya Nabila yang membuat keempatnya menoleh.


"Waaahhh Tante Yuna kesayangan akuuuu!" seru Eiji sambil memeluk Yuna Blair, istri Edward Blair.


"Kamu tuh nggak pernah ilang lebaynya Ji" kekeh Yuna. "Halo Abian."


"Tante." Abian lalu mencium punggung tangan Yuna.


"Tante Yunaaaa" seru Ghani dengan berjalan pelan lalu melakukan hal yang sama seperti Abian.


"Kamu tuh! Untung Dara nggak tahu! Bisa pingsan mommymu itu, tahu!" omel Yuna lalu menoleh ke arah Alexandra yang berdiri sambil tersenyum. "Kamu pasti Alexandra, calon menantunya Abi."


Alexandra meniru Ghani dengan mencium punggung tangan Yuna.


"Senang berkenalan dengan anda, Mrs Blair."


"Panggil saja Tante Yuna seperti anak-anak durjana itu" ucap Yuna sambil melirik tajam ke arah tiga pria tampan disana.


Alexandra tersenyum lagi. "Baik Tante."


"Sudah dik, katanya mau ke MB Enterprise?" tanya Nabila.


"Hu um. Abian, kamu tahu kan pertemuan mereka masih alot?" tanya Yuna kepada Abian.


"Iya Tante."


"Memang pria itu butuh dijewer satu-satu oleh wanita!" Yuna menarik lengan blusnya seperti hendak menantang orang. "Tante pergi dulu nanti kemari lagi."


Wanita cantik itu pun pergi meninggalkan mereka semua bersama George dengan para pengawal.


"Bro, kenapa aku kebayang emak-emak berdaster yang di kungfu hustle ya" ucap Eiji asal.


"Bedanya Tante Yuna cantik nggak berdaster bro" sambung Ghani.


Seketika kepala Ghani dan Eiji mendapatkan keplakan dari Nabila.


"Keponakan durjana! Enak saja ngatain Tantemu kayak emak berdaster itu! Meskipun Tantemu savage, nggak gitu juga ih!" omel Nabila kesal.


Alexandra dan Abian tertawa. "Sudah, mending kalian urus tuh kasus pasien budhe yang mencurigakan!" Nabila lalu meninggalkan keempatnya.


***


Yuna sampai di gedung MB Enterprise yang terletak di Manhattan. Para pegawai disana pun tahu siapa wanita cantik yang berjalan anggun masuk ke dalam perusahaan milik keluarga McGregor-Blair. Siapa yang tidak mengenal ibunda dari Duncan Blair.


"Mr Edward di ruangan biasanya kan George?" tanya Yuna.


"Iya nyonya. Tuan besar dan tuan muda di dalam."


Yuna mengangguk lalu meraba tas Hermรจs nya dan tersenyum. Si pinky aman deh di tas.


Para pengawal mafia menganggukkan kepalanya dengan hormat ketika Yuna keluar dari dalam lift. Seperti biasa Yuna membalas dengan menganggukkan kepalanya meskipun wajahnya dingin.


Dua pengawal Edward melihat nyonyanya datang merasa takut untuk membuka pintu.


"Buka saja. Mr Edward marah, aku sunat dua kali!"


Keduanya bergidik melihat nyonya cantiknya mengucapkan kalimat itu dengan wajah dinginnya. Keduanya lalu membuka pintu besar itu dan semua pria di dalam yang sedang ribut pun menoleh melihat seorang wanita cantik masuk dengan anggunnya.


Edward dan Duncan melongo melihat siapa yang datang.


"Darling?"


"Mom?"


Semua orang melongo kecuali Mike yang tersenyum licik.


Singa betina datang, siapa yang berani melawan?



Yang kangen sama Mr Edward dan Miss Yuna ๐Ÿ‘†๐Ÿ‘†๐Ÿ‘†


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu โค๏ธ๐Ÿ™‚โค๏ธ