
Danisha sekarang dalam perjalanan ke rumah Iwan yang berada di daerah Mojosongo, yang merupakan daerah ramai penuh dengan aneka penjual makanan. Keduanya kini sampai di sebuah rumah sederhana yang berada di pinggir jalan dengan toko kelontong yang dibuka di garasi.
Anggep ajah gini ga gaeeesss
Danisha turun dari Vespa dan melepaskan helmnya ketika seorang tetangga melihat Iwan datang dan menyapa mereka.
"Mas Iwan, siapa tuh? Pacarnya ya?" tanya tetangga itu.
"Iya Bu. Ini pacar saya" jawab Iwan sopan.
"Wuuiihhhh Mas Iwan dapat pacar bule dari mana tuh?"
Iwan hanya tersenyum lalu menggandeng tangan Danisha buat masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamualaikum" sapa Iwan berbarengan dengan Danisha.
"Wa'alaikum salam" sebuah suara ibu-ibu terdengar dari dalam rumah dan tampak seorang ibu berusia sekitar mama Alexandra mengenakan hijab dengan wajah teduh mirip dengan Iwan berjalan ke arah Iwan dan Danisha.
"Ibu, perkenalkan ini Danisha Giandra. Nisha, ini ibuku, Kinanti Yustiono" ucap Iwan.
"Saya Danisha Bu." Danisha lalu mencium punggung tangan ibu Kinanti yang membuat sang ibu kaget.
"Lho nak Danisha bule kok tahu cium tangan?" kekeh Bu Kinanti.
"Kulitnya saja yang bule Bu, tapi saya ada keturunan Solo" senyum Danisha.
"Monggo duduk" ajak Bu Kinanti.
Danisha dan Iwan pun duduk di sebuah sofa sederhana dan mata coklat gadis itu melihat beberapa foto digantung yang menunjukkan Iwan wisuda, Iwan bersama kedua orangtuanya dan beberapa foto lainnya.
"Jadi ini gadis yang diimpi-impi Iwan?" goda Bu Kinanti.
"Buuuu" Rajuk Iwan dengan wajah memerah.
"Nak Nisha, nggak papa ibu manggil gitu ya?"
"Nggak papa Bu."
"Iwan tuh bukan tipe yang gampang suka sama perempuan tapi beberapa bulan ini selalu minta ibu masak agak banyak dan bawa kotak makan dua. Apa itu buat nak Nisha?" kerling Bu Kinanti ke arah putranya yang manyun karena aibnya dibongkar.
"Mas Iwan memang suka membawakan saya makanan sih Bu cuma saya baru tahu kemarin kalau itu masakan ibu" jawab Danisha.
"Maaf lho nak Nisha, kalau masakan ibu cuma masakan ndeso."
"Saya bukan tipe riwil soal makanan dan masakan ibu enak, lebih enak daripada masakan saya" kekeh Danisha.
"Nak Nisha bisa masak?"
"Bisa bisaan tapi nggak jago banget soalnya mama dan Necan, eh nenek cantik saya selalu mengajak saya ke dapur. Nenek saya wong solo."
"Ohya? Tapi kenapa nak Nisha bule ya?"
"Mama saya memang bule tapi papa saya wong jowo. Kakak saya malah nggak kelihatan bule, lebih ke Asia."
"Kalau ibu boleh tahu, keluarga nak Nisha pasti orang kaya ya?"
"Kaya itu relatif Bu. Orang melihat kami keluarga berduit padahal aslinya kami biasa-biasa saja. Saya lebih suka hidup apa adanya..."
"Nisha suka jajan pinggir jalan Bu, dia suka wedhangan dan nasi liwet lesehan" sahut Iwan.
Bu Kinanti memindai gadis yang menjadi idaman putra tunggalnya. Meskipun baju yang dipakai Danisha biasa saja tapi karena Bu Kinanti terbiasa melihat kain karena dulu usaha suaminya adalah membatik, dia tahu bahwa baju gadis itu bermerk.
"Nak Nisha nggak papa tadi naik Vespa?" tanya Bu Kinanti hati-hati.
"Lho saya malah suka naik Vespa karena papa saya punya Vespa dua di rumah. Malah dulu waktu papa menikah dengan mama, mas kawinnya Vespa warna pink" kekeh Danisha.
Bu Kinanti terkejut melihat Danisha santai saja.
"Papa saya kapten polisi di New York, mama saya dokter forensik sama dengan papa di New York. Kakak laki-laki saya menjadi fotografer keliling dunia untuk National Geographic" jawab Danisha tanpa ada nada menyombongkan diri.
"Sebentar, kedua orangtuanya nak Danisha di Amerika?" tanya Bu Kinanti bingung.
"Njih Bu. Papa saya kapten polisi di NYPD."
Bu Kinanti menatap Iwan dengan tatapan ragu.
"Nak Nisha, maaf sebelumnya, apa nak Nisha tahu keadaan Iwan? Iwan bukan anak orang kaya lho" ucap Bu Kinanti.
Danisha menatap Bu Kinanti lalu ke Iwan dengan tatapan bingung. "Maksudnya Bu?"
"Iya, ibu tahu Iwan benar-benar jatuh cinta dengan nak Danisha tapi apa nak Nisha tahu tentang..."
"Bu Kinanti, keluarga saya bukan tipe keluarga yang memandang dari kekayaan seseorang. Mas Iwan malah berani menghadapi papa padahal papa orangnya susah tapi kemarin papa memberi restu kepada kami untuk berhubungan. Saya hanyalah seorang anak perempuan yang kebetulan lahir di keluarga yang berlebihan tetapi di keluarga kami tidak pernah meributkan soal kekayaan pasangan."
Bu Kinanti tampak berpikir. "Danisha Giandra, kenapa nama itu familiar ya" gumam Bu Kinanti. Sejurus kemudian. "Ya Allah Iwan! Ini bukannya boss kamu?"
Iwan hanya mengangguk.
***
Ketiga orang disana tampak tegang di meja makan. Setelah Bu Kinanti bisa menguasai rasa terkejutnya, dia mengajak Iwan dan Danisha makan malam yang memang sudah disiapkan.
Tidak ada yang berani membuka suara di meja makan dan ketiganya pun makan dalam diam.
Usai makan, Danisha berinsiatif mencuci piring seperti kebiasaannya di rumahnya di New York dan Solo Baru namun dicegah oleh Iwan.
"Aku saja. Kamu duduk manis disini."
Danisha memasang wajah protes namun Iwan belagak tidak melihat.
Bu Kinanti memandang Danisha dengan tatapan bingung. "Jadi nak Nisha itu CEO AJ Corp? Dan Iwan lancang menyukai nak Nisha."
"Nggak lancang kok Bu karena sebelum saya menerima mas Iwan, saya melakukan sholat istikharah dulu dan jawaban yang saya peroleh adalah mas Iwan."
Bu Kinanti tampak terkejut. "Sampai segitunya nak?"
"Karena pada waktu yang bersamaan ada dua pria lain yang memiliki perasaan sama dengan mas Iwan."
"Apakah mereka dari keluarga kaya?"
"Kaya itu relatif. Percuma kamu orang kaya jika akhlak mu minus, itu yang saya nilai. Bukankah kita sebagai wanita, kita harus memilih yang terbaik untuk menjadi imam kita sampai Jannah. Insyaallah mas Iwan lah yang akan membimbing saya karena itulah jawaban dari sholat istikharah tiga malam berturut-turut."
Mata Bu Kinanti berkaca-kaca mendengar penjelasan gadis di depannya yang tampak serius memperjuangkan hubungannya dengan Iwan.
"Saya tidak butuh barang branded atau rumah mewah atau apapun itu karena saya sudah memilikinya. Keinginan saya sederhana Bu, menikah dengan pria yang mencintai saya dengan sederhana, memiliki keluarga dan menua bersama."
Bu Kinanti memandang wajah Danisha dengan senyum menenangkan. "Terimakasih nak Nisha mau menerima Iwan meskipun dari keluarga sederhana dan anak yatim."
"Tidak Bu, saya yang beruntung dicintai mas Iwan."
Iwan yang mendengar ucapan Danisha merasa hatinya menghangat.
Aku yang beruntung mendapatkan dirimu, Danisha Gayatri Giandra.
***
Yuhuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️