The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Lamaran 1



Danisha melotot tidak percaya membaca pesan dari Iwan bahwa dirinya akan datang dengan sang ibu ke rumah Solo Baru. Masa naik Vespa sih ke rumah?


"Kamu kenapa Nisha?" tanya Ghani melihat wajah putrinya seperti bingung.


"Mas Iwan mau ke rumah sama ibunya pa" jawab Danisha.


"Wuih! Calon besan papa datang eui" goda Bara.


"Terus kenapa?" tanya Ghani yang masih belum sadar.


"Masa naik Vespa pa? Malam-malam gitu?"


"Naik ojol kasihan juga sih" sahut Alexandra.


"Sudah, mas Bara saja yang jemput. Kamu tinggal kasih ancer-ancer nya saja" ucap Bara santai.


Saat ini keluarga Giandra sedang berada di sebuah pemakaman bonoloyo menyekar Eyang buyut Kakung dan Putri Haryono, Eyang Andra dan Eyang Marisa.


"Jam berapa Iwan mau ke rumah?" tanya Ghani.


"Habis Maghrib pa" jawab Danisha.


"Bilang sama Iwan, Bara yang jemput. Tidak ada penolakan!" sahut Ghani tegas.


***


Iwan melongo membaca pesan Danisha kalau kakaknya yang akan menjemput dan tentu saja pria itu menjadi tidak enak. Tadi dia dan ibunya membelikan sebuah cincin untuk disematkan ke jari manis Danisha dan berencana untuk menggunakan jasa ojol saja agar mudah.


Tanpa menunda waktu, Iwan pun menelpon Danisha.


"Assalamualaikum mas" sapa Danisha.


Hati Iwan langsung terasa hangat mendengar sapaan gadis itu. "Wa'alaikum salam Nisha. Kok mas Bara yang jemput? Kami bisa naik ojol kok."


"Mas Bara yang menawarkan diri dan papa pun oke. Jadi nggak papa ya nanti dijemput mas Bara?"


Iwan menghela nafas panjang. Kalau pak Ghani sudah bilang oke, mau gimana.


"Kan jadi merepotkan Thow sayang" protes Iwan.


Ada jeda disana lalu Danisha menjawab "Nggak ada yang direpotkan kok, mas."


Iwan hanya mengusap wajahnya. "Ya sudah sayang, mas manut saja."


***


Jam tujuh tepat Bara sudah sampai di depan rumah Iwan dengan mobil Range Rover Evoque Putih milik Danisha.


Pria itu memakai kemeja putih dan celana jeans, tampak santai dan dirinya terkejut ketika ada seseorang memanggilnya.



"Mas? Mas nya cari siapa?" tanya ibu-ibu yang ada di sebelah rumah Iwan.


"Saya mau bertemu dengan Bu Kinanti dan Iwan Aradhana" jawab Bara sopan.


"Masuk saja mas. Bu Kinantinya ada di dalam" ucap ibu-ibu itu.


"Njih Bu. Matur nuwun" jawab Bara sambil mengangguk hormat.


"Sopir ojol kok ganteng? Mana mobilnya mahal gitu" gumam ibu-ibu itu.


Bara kemudian mengetuk pintu. "Assalamualaikum? Kulonuwun."


"Wa'alaikum salam" sapa pemilik rumah. Pintu terbuka dan tampak seorang ibu berwajah ayu mengenakan hijab bewarna peach berdiri disana.



"Nak Bara ya?" sapa ibu itu.


"Iya ibu, saya Bara" jawab Bara sambil mencium punggung tangan Bu Kinanti.


"Kok beda ya dengan nak Nisha" kekeh Bu Kinanti.


"Saya kurang bule ya? Kalau kata papa saya, biar adil. Saya mirip papa, dik Nisha mirip mama" senyum Bara.


"Mas Bara sudah sampai?" sapa Iwan yang malam itu memakai suit hitam.


"Sudah. Mari kita berangkat" ajak Bara sambil tersenyum.


***


Ghani dan Alexandra tampak rapi dengan outfit bernuansa hitam dan putih sedangkan Danisha memilih warna hitam untuk gaunnya karena Bara memakai kemeja putih. Entah kenapa keluarga Giandra ini memilih nuansa itu.





( itu bebek Peking ya yang di tengah )


"Tampak cantik, bik Yati" puji Alexandra.


"Terimakasih nyonya Alexandra" senyum bik Yati.


Suara mobil masuk ke dalam halaman rumah membuat Ghani dan Alexandra pun keluar menyambut tamu-tamu mereka diikuti oleh Danisha di belakangnya.


Alexandra tersenyum melihat Bu Kinanti turun dari dalam mobil dan menyapa ramah.


"Selamat datang Bu Kinanti, saya Alexandra mamanya Danisha dan ini mas Ghani papanya Bara" senyum Alexandra.


"Ma, papanya Bara kan papanya dik Nisha juga kaleee" protes Bara yang baru saja turun dari mobil.


"Lha wis, kamu sering nggak diakui jadi anak mama" goda Alexandra.


Bu Kinanti tertawa kecil. "Senang bertemu dengan Jeng Alexandra, pak Ghani." Ketiga orang tua itu saling berjabat tangan. Danisha mencium punggung tangan Bu Kinanti.


"Monggo, Monggo" ajak Ghani supaya para tamunya masuk ke dalam rumah. "Lho Iwan mana?"


"Lagi telepon pa, katanya urgent di rumah produksi" jawab Bara yang membuat Danisha penasaran.


"Ya sudah, suruh Iwan masuk kalau sudah selesai" ucap Ghani sambil masuk ke dalam rumah.


Bara hanya mengangguk lalu memeluk adiknya. "Malam ini nggak usah mikir kerjaan ya. Besok saja pas hari Senin."


"Iya mas" jawab Danisha.


"Suruh Iwan masuk ya dik" ucap Bara sambil masuk ke dalam rumah.


Danisha menghampiri Iwan yang berada di sisi kanan mobilnya dan jantungnya berdegup kencang melihat bagaimana Iwan tampak berbeda malam ini.



"Kalau begitu, yang dari Klaten besok saya periksanya. Sragen masukkan dulu. Besok kita bereskan lagi semuanya." Iwan pun mematikan ponselnya lalu berbalik dan tersenyum. "Halo sayangku."


Danisha tidak bisa berkata-kata.


***


Alexandra dan Bu Kinanti tiba-tiba bisa menjadi akrab apalagi kalau sudah membahas makanan dan masakan karena pada dasarnya Alexandra menjadi senang memasak sejak diajarkan Necan Dara.


Keenamnya pun makan malam dengan suasana ramah dan Bu Kinanti bisa melihat bagaimana keluarga Giandra bukan tipe keluarga konglomerat yang sombong melainkan keluarga pada umumnya.


Usai makan malam, mereka semua pun duduk di ruang tengah yang luas. Danisha sendiri duduk bersama dengan kedua orangtuanya, sedangkan Bara duduk di sebelah kiri dan Iwan beserta Bu Kinanti di sebelah kanan.



"Pak Ghani, Jeng Alexandra, saya dan Iwan sangat berterimakasih atas sambutan yang diberikan kepada kami malam ini" ucap Bu Kinanti sambil tersenyum.


"Justru kami yang bersyukur bisa bertemu dengan ibu dan Iwan malam ini. Karena kami akan kembali ke New York pada Kamis depan namun sebelumnya ke Jakarta dulu untuk nyekar kedua orang tua saya disana" sahut Ghani.


"Karena itu pak, saya mengambil kesempatan ini agar Iwan bisa menyampaikan sesuatu ke pak Ghani dan Ibu Alexandra." Bu Kinanti memberikan kode ke Iwan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam bapak Daniswara Ghani Giandra, ibu Alexandra Cabbot Giandra, mas Sambara Ganendra Giandra. Maksud dan tujuan saya datang kesini ingin meminta izin kepada bapak dan ibu untuk melamar putri bapak, Danisha Gayatri Giandra dan menjadikan dia sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya" ucap Iwan tegas penuh keyakinan.


Ghani dan Alexandra terkejut mendengar ucapan Iwan yang tentu saja membuat keduanya bingung karena mengira hanya acara silaturahmi biasa bukan acara lamaran.


Tidak hanya kedua orangtuanya yang kaget, Danisha pun terkejut melihat Iwan yang menatapnya dengan penuh kesungguhan.


"Mas Iwan? Ini beneran?" tanya Danisha bingung.


Iwan melongo mendengar pertanyaan Danisha.


***


Yuhuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Maaf lanjut besok ya lagi gak well bodi nih.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️