The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Mendekati Hari H



Hari Minggu ini Sabrina, Savitri, Bu Kinanti dan Danisha menyibukkan diri di ruang tengah rumah Al Jordan membicarakan konsep dan hiasan di lokasi pernikahan ganda mereka. Kristal dan Danisha sepakat tidak ada pelaminan karena mereka lebih memilih untuk garden party meskipun ada panggung untuk berfoto nantinya.


Danisha sendiri sudah mengambil cuti dan semua pekerjaannya pun dihandle oleh Yanti dan Yuri, asisten Miki Al Jordan yang sengaja dikirim selama Danisha cuti dan bulan madu. Sabrina sendiri menyatakan untuk turun gunung mengurus AJ Corp jika Yuri kesulitan.


Seminggu lagi acara pernikahan keempatnya akan dilaksanakan dan hari ini Levi serta Bara bertuga menjemput Kristal dan Ashley di bandara.


"Lu yakin terbang ke Bali besok Agustus, Ra?" tanya Levi yang duduk bersama Bara di sebuah coffee shop.


"Jadilah! Aku sudah teken kontrak dengan National Geographic. Ada dua Minggu aku pemotretan disana."


"Perasaan yang cucu kandung Oma Yuna itu Kaia dan Aidan, kenapa jadi elu sih yang hobi traveling dan memotret plus katalog binatang-binatang eksotis?"


"Kata papa itu salah papa. Soalnya waktu mama hamil, papa sempat ngebatin Oma Yuna malah dikasih aku yang begini deh" kekeh Bara cuek. "Lagipula seru lho Vi, keliling dunia dibayarin dan mendapatkan nama serta pengakuan internasional."


"Kayaknya generasi kita memang generasi amburadul" senyum Levi.


"Kok bisa?"


"Kamu tidak mau mengurus Giandra Otomotif Co yang sudah merger dengan MB Enterprise padahal perjanjian Ogan Abi dan Oom Duncan dulu bakalan dilepas kalau Oom Ghani atau kamu mau ambil alih. Eh malah Kaia yang mengambil alih semua."


Bara menyesap kopinya. "Kaia lebih memiliki passion disana malah di tangannya Giandra Otomotif Co menjadi lebih maju. Bagiku dan Danisha, tidak masalah kalau Kaia mengambil alih kan masih cucu kandung Ogan Abi dan Opa Edward."


"Adikmu juga Ra, malah memilih bekerja di AJ Corp sedangkan Keia malah memilih PRC group padahal masing-masing tidak memiliki saham."


"Oh salah kamu Vi. Keia memiliki saham di PRC group karena AJ Corp dan PRC group sudah merger sejak jaman Opa buyut Adrian dan Opa Akira tepat Oma Shanum menikah dengan Opa Hiro."


Levi melongo. "Sebentar, aku harus cek semuanya." Levi membuka Ipad-nya dan mulai membuka silsilah keluarganya.


"Hanya aku, Arjuna, kamu, Kris, Nathan dan Arya yang tidak memiliki saham AJ Corp."


"Tapi kita semua memiliki saham PRC group karena kamu keturunan Pratomo sedangkan aku karena perusahaan Ogan merger dengan MB Enterprise yang memiliki kerjasama dengan PRC group."


"Benar-benar menggurita ini perusahaan eyang buyut Pratomo" gumam Levi.


"Dan tidak semua dari kita yang mau menegang perusahaan, hanya beberapa karena lainnya lebih memilih karir lainnya seperti kamu Vi."


"Aku sendiri tidak tertarik mengurus perusahaan milik bokap karena passionku lebih suka menemukan sesuatu yang berbau science."


Bara mengangguk. "Tak heran kamu dan Kaia cocok. Kalian berdua otaknya memang otak ilmuwan yang dikembangkan menjadi bisnis. Kabarnya Boeing puas ya dengan mesin generasi kalian?"


"Alhamdulillah mereka puas dan kami sekarang membuat prototipe untuk generasi kedua." Levi menatap Bara. "Setelah Danisha menikah dengan Iwan, apa mereka akan tetap seperti itu? Boss dan anak buah?"


Bara mengangguk. "Aku sudah ngobrol dengan Iwan yang ternyata sudah membahas dengan Nisha. Mereka akan tetap seperti itu sampai Danisha mendapatkan penggantinya yang lebih kompeten."


"Kenapa Iwan tidak jadi pengganti Danisha?"


"Iwan bukan tipe pria seperti itu Vi. Oom Joshua sendiri sudah menawarkan tetapi Iwan tidak mau. Dia mau berkerja dan naik jabatan karena murni kemampuannya bukan karena embel-embel dia menantu papa dan menikah dengan keponakan Al Jordan."


Levi mengangguk. "Kalau pria lain, langsung disambar deh kesempatan itu!" kekehnya.


"Oh jelas tapi Danisha juga tidak bodoh karena dia tahu karakter Iwan bagaimana dan kita semua melihat cara Bu Kinanti mendidiknya juga."


"Dan bagaimana kita screening pasangan kita juga" sahut Levi.


"Bagaimana dengan Yanti?" goda Bara.


"Yanti?" tanya Levi membeo. "Memang kenapa dengan dia?"


Levi mengangguk. "Memang aku kesana dan aku melihat sendiri dia dengan luwesnya melayani pelanggan bapaknya dan aku juga sempat mengobrol dengan pak Heri ayah Yanti."


"Apakah kamu menyukai Yanti?"


"Masih belum tahu, Ra. Ini perasaan cinta atau hanya sekedar kagum melihat sekretaris CEO masih mau turun membantu jualan sate bapaknya" jawab Levi jujur.


"Kalau kamu memang menyukainya, kejarlah Vi. Asal kamu tahu, Yanti dulu dibantu oleh kedua orangtuaku ketika ayahnya mengalami kecelakaan lalu lintas. Kejadiannya ketika papa dan mama nyekar ke Solo sebelum lebaran lalu menjadi saksi mata peristiwa itu. Sejak itu, Yanti dibantu untuk biaya pendidikannya oleh papa dan mamaku karena ayahnya tidak bisa bekerja lagi di pabrik."


"Susah mendekatinya Ra" keluh Levi.


"Memang kenapa?"


"Gualak dan judes!" Bara terbahak.


"Memang mamamu nggak seperti itu? Vi, Vi, kamu dan Oom Eiji sama saja. Suka dengan cewek galak" kekeh Bara.


"Habis, cewek galak itu seksih" cengir Levi.


***


Iwan memperhatikan tunangannya masih berkutat dengan beberapa konsep garden party dengan perasaan geli. Bagaimana tidak, bibir peach Danisha semakin maju jika ada konsep yang dia tidak suka langsung mencorat-coret kertas itu.


"Bibirnya dikondisikan, sayang" bisik Iwan yang sekarang duduk di sampingnya.


"Memang bibirku kenapa?" sahut Danisha cuek sambil memberikan catatan di kertas yang dipegangnya.


"Enak untuk dicium" goda Iwan yang membuat Danisha berhenti menulis lalu menoleh ke calon suaminya.


"Maa Iwan Aradhana, sejak kapan menjadi receh begini?"


"Sejak aku bersyukur akan segera menghalalkan dirimu" bisik Iwan sambil mencium pipi Danisha.


"Mas, apa mas tidak apa-apa dengan posisi aku CEO sedangkan mas masih general manager?"


Iwan menangkup wajah Danisha. "Bu Danisha Gayatri Giandra, tidak apa-apa. Sungguh! Kan sesuai dengan perjanjian, kita di perusahaan tetap profesional tetapi di rumah kita suami istri dan aku tahu kamu pasti bisa menempatkan diri. Aku tidak ingin kamu meninggalkan pekerjaan yang menjadi passionmu. Tuan Joshua sendiri sudah menawarkan aku menjadi pengganti dirimu tapi aku menolaknya. Aku tidak mau dianggap aji mumpung karena aku benar-benar mencintaimu, Nisha karena dirimu bukan apa yang kamu miliki."


Iwan mencium kening Danisha. "Aku tahu kita bisa melaluinya, Nisha, jika kita saling mendukung dan menghormati satu sama lain."


Danisha mengangguk. "Saling belajar dan saling mengingatkan jika salah satu mulai berubah."


"Itu yang aku pelajari dari bapak dan ibuku" jawab Iwan.


"Begitu juga aku yang mendapatkan pelajaran dari Necan dan Mamaku" senyum Danisha.


Iwan tersenyum. Ternyata pilihan ku tidak salah.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️