The Detective And The Doctor

The Detective And The Doctor
Side Story - Lamaran 2



Wajah Iwan yang semula bengong karena Danisha tidak percaya bahwa dia serius melamarnya berubah menjadi senyum manis.


"Seriuslah Nisha sayang. Aku sampai beli cincin dadakan ini" ujar Iwan sambil mengambil kotak beludru merah dari dalam saku jasnya.


Ghani dan Alexandra menatap Iwan yang meletakkan kotak merah di atas meja dengan tatapan bingung.


"Iwan, apa kamu serius?" tanya Ghani memastikan lagi meskipun sudah ada kotak berisi dua cincin dihadapan pria cool itu.


"Saya serius Pak Ghani. Serius meminang putri bapak karena pertama, bapak sama ibu memberikan restu saya berhubungan dengan Danisha, kedua ibu saya sendiri yang meminta jika saya benar-benar serius dengan putri bapak, saya harus berani mengambil langkah yang lebih dari sekedar pacaran."


Iwan menatap Danisha. "Mungkin kita baru sebentar menyatakan perasaan satu sama lain namun jika masing-masing dari kita sudah mendapatkan jawaban dari semua doa-doa selama ini, kenapa tidak kita lanjutkan ke jenjang yang lebih diridhoi Allah yaitu menikah untuk membangun keluarga. Aku bukan pria sempurna, Nisha tapi aku selalu berusaha membuatmu selalu bahagia bersamaku. Aku ingin hidup bersamamu, menikmati perjalanan hidup bersama, memiliki anak-anak dan menua bersama."


Danisha menitikkan air matanya mendengar pernyataan Iwan yang baginya itu lebih membuatnya tersentuh karena keinginan Danisha pun sama. Role modelnya adalah kedua Ogan dan Necannya yang saling mencintai hingga maut menjemput lalu kedua orangtuanya sendiri, Ghani dan Alexandra.


Merekalah memberikan contoh bagaimana kehidupan berumahtangga, cara mendidik anak dan Danisha sudah terbayang jika dia diberikan kesempatan memiliki anak, dia akan mendidik anak-anaknya sebagaimana Necan dan mamanya mendidik.


Kedua orangtuanya bukan tidak pernah berdebat tetapi mereka selalu berusaha untuk bisa menyelesaikan pada hari itu juga hingga besok bisa menghadapi hari dengan hati enak.


Alexandra menatap Danisha yang masih takjub dengan ucapan Iwan. "Sayang, apakah kamu menerima permintaan Iwan untuk menjadi istrinya?" tanya Alexandra lembut. Sejujurnya Alexandra masih belum ikhlas putrinya menjadi milik orang lain, tetapi melihat bagaimana kesungguhan pria muda yang berada di hadapannya, feeling-nya sebagai seorang ibu pun mengatakan pria ini memang yang terbaik bagi Putrinya.


"Papa?" tanya Danisha ke Ghani yang masih kaget mendengar lamaran dadakan putrinya.


"Papa serahkan padamu, princess. Kamu sudah melakukan apa yang memang harus dilakukan seorang wanita untuk mendapatkan petunjuk soal jodoh dan jawaban mu dan mamamu sama kan?" Ghani menatap Danisha sambil tersenyum menenangkan. "Papa akan selalu mendukung mu, Nisha."


Lalu Ghani menatap Iwan. "Kamu ingat kan apa yang kamu ucapkan kepada saya waktu itu? Saya harap kamu tidak melanggar janjimu."


"Saya berjanji pak Ghani, karena tahu Nisha adalah princess bapak dan ibu. Saya pun akan melakukan hal yang sama jika saya memiliki anak perempuan. Saya hanya tinggal bersama dengan ibu saya, dan saya tidak berani menyakiti Nisha karena sama saja saya menyakiti ibu saya yang sama-sama seorang wanita."


Bara menatap pria yang sebaya dirinya dengan perasaan respek karena jarang sekali dia menemukan pria yang seperti Iwan di jaman sekarang. Bahkan aku sendiri belum mampu bisa seperti Iwan yang berani menghadapi papa dan melamar adikku meskipun mereka baru jadian.


Iwan berdiri lalu berjalan menuju ke tempat Danisha duduk dan pria itu berlutut. Tangannya mengambil sebuah cincin sederhana hanya cincin emas dengan satu mata berlian kecil tapi bagi Danisha, itu adalah cincin yang mahal di matanya.



"Bismillahirrahmanirrahim. Danisha Gayatri Giandra, maukah menikah denganku, seorang pria sederhana yang tidak bisa membelikan kamu tas Hermès atau sepatu Jimmy Choo tapi tampaknya kamu tidak butuh akan semua itu" senyum Iwan yang membuat Danisha tergelak diantara tangisnya.


Ghani mendelik mendengar lamaran nyeleneh Iwan sedangkan Alexandra dan Bara tertawa.


"Wan, adikku lebih milih pakai sandal jepit swallow 15ribu daripada sepatu high heels" kekeh Bara.


"Kalau itu aku mampu belikan satu lusin mas" sahut Iwan sambil nyengir.


"Astaghfirullah Wan, kamu tuh mau melamar apa mau jadi bakul swallow?" goda Bu Kinanti yang membuat suasana ramai.


"Mas Iwan Aradhana Yustiono, aku menerima permintaanmu untuk menjadikan ku sebagai istrimu. Insyaallah kita bisa bersama sampai Jannah. Aamiin" bisik Danisha sambil tersenyum menatap pria tampan itu.


Iwan memasukkan cincin itu ke jari manis Danisha dan Danisha pun memasukkan cincin milik Iwan ke jari manis pria itu.


"Kenapa cincinnya dua? Kan baru lamaran, belum menikah?" tanya Ghani bingung karena waktu melamar Alexandra, hanya dia yang memberikan cincin dan hanya Alexandra yang memakainya.


"Mas Daniswara" bisik Alexandra tidak enak karena ucapan Ghani.


"Nggak papa Bu. Saya sengaja membeli langsung dua cincin karena nanti sudah nggak usah beli cincin lagi" senyum Iwan.



Cincinnya mama Alexandra


"Beda persepsi sama papa tuh Iwan" kekeh Bara.


"Lebih praktis lho menurutku. Benar kan Bu Kinanti?" ucap Alexandra ke ibunya Iwan.


"Njih jeng Alexandra. Itu yang saya bilang sama Iwan" senyum Bu Kinanti.


Iwan sudah berdiri dari posisi berlututnya lalu duduk di sebelah Bara sambil tetap menggenggam tangan Danisha.


"Sekarang udah resmi kan kalian bertunangan, kapan kira-kira kalian mau menikah?" tanya Bara.


"Nuwun Sewu Pak Ghani, Monggo kerso bapak bagaimana" ucap Bu Kinanti.


"Saya itu wong Jowo Bu Kinanti meskipun saat saya menikah dengan Lexa hanya memikirkan waktunya pas saja sebab saat itu dalam setahun, sepupu saya juga banyak yang menikah nyaris berdekatan dan jadinya anak-anak kami pun umurnya sepantaran semuanya."


"Kalian yang menghitung weton dan lain-lain ya? Kan papa nggak mungkin lama-lama meninggalkan New York jadi pada saat kalian sudah mendapatkan tanggal yang baik tahun ini, kabari papa dan mama karena kita juga harus mengirimkan undangan ke keluarga besar juga." Ghani menatap ke pasangan kekasih itu.


"Njih Pak Ghani, nanti saya dan Nisha akan mencari tanggal baik bagi kami berdua untuk ijab qobul" jawab Iwan.


"Bara kan lagi cuti lama pa, nanti Bara bantu mereka disini" ucap Bara. Pria berusia 28 tahun itu menatap kedua orang tuanya.


"Kebetulan kamu disini Bar, bantu adikmu ya. Kamu kan sudah kelamaan keliling cari anaconda dan Dodo jadi sekarang settle down dulu lah!" sahut Ghani.


"Pa, burung Dodo itu udah punah lho" timpal Danisha.


"Hah? Iyakah?" sahut Ghani cuek.


"Mari Bu Kinanti, kita sebagai emak-emak membicarakan konsep pernikahan mereka seperti apa" ajak Alexandra yang tahu gelagat Ghani yang masih ingin berdekatan dengan anak-anaknya.


"Mari jeng tapi kayaknya mereka maunya yang sederhana ya" ucap Bu Kinanti.


"Danisha itu tipenya maunya praktis dan tidak mau mewah."


Bu Kinanti yang sekarang berjalan bersama Alexandra ke meja makan hanya menoleh ke arah calon menantunya. "Tidak heran Iwan tergila-gila sama Nisha."


Alexandra tersenyum mendengar komentar calon besannya.


***


Yuhuuu Up Pagi Yaaa


Insyaallah bisa Up semua hari ini


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️