
Danisha kebingungan memakai baju apa malam ini sebab Ghani tidak bilang acara resmi atau semi resmi. Akhirnya Danisha memilih memakai blus model Sabrina bewarna pink dan celana jeans high waist.
Rambut panjangnya hanya diikat simpel sama dengan makeupnya. Jantungnya berdebar-debar menunggu Iwan datang, apakah bisa on time atau tidak karena Danisha tahu papanya sangat ketat dengan waktu. Bara dan dirinya saja pernah kena omel Ghani karena telat lima menit dari janji pulang jalan-jalan.
Pukul 18.55, Danisha sudah berada di ruang tengah sembari menggigit kuku tangannya. Kamu telat, habis sama papa.
Alexandra dan Ghani keluar dari kamar lalu bertanya pada Danisha.
"Mana Iwan?" tanya Ghani.
"Kan masih pukul 18.57 papaaaaa" sahut Danisha.
Seorang penjaga rumah masuk ke dalam memberitahukan bahwa ada seorang pria naik Vespa hendak bertemu dengan keluarga Giandra.
"Suruh masuk!" perintah Danisha sembari menghembuskan nafas lega. Ghani, Alexandra dan Danisha sekarang berjalan menuju ruang tamu.
"Vespa?" tanya Ghani.
"Iya pa. Iwan cuma punya Vespa" jawab Danisha. "Warnanya hijau pupus. Aku dah pernah bonceng."
Ghani dan Alexandra hanya saling memandang.
"Assalamualaikum" sapa Iwan.
"Wa'alaikum salam" jawab ketiga orang yang berada di ruang tamu. Danisha terkesima melihat dandanan Iwan. Ya Allah, gantengnya.
***
Ghani menatap ke arah pria itu dengan tatapan serius. "18.59. Hanya kurang satu menit, Iwan."
"Benar Mr Giandra. Setidaknya masih agak tepat waktu."
"Saya tidak mau berbasa-basi. Ceritakan tentang dirimu" pinta Ghani sambil bersidekap.
"Nama saya Iwan Aradhana Yustiono, anak tunggal dari almarhum Sofyan Yustiono dan Kinanti. Usia saya 28 tahun, lulusan ekonomi UNS dan saya jatuh cinta dengan putri anda sejak dua tahun lalu Mr Giandra."
"Kenapa baru sekarang kamu berani menyatakan pada putriku?"
"Karena saya harus meyakinkan diri saya dulu apakah saya benar-benar jatuh cinta kepada putri bapak atau hanya sekedar kagum. Dan jawaban dari doa-doa saya selama ini adalah ketika kemarin nona Danisha membonceng saya dengan Vespa saya tanpa sungkan. Hanya nona Danisha yang berani memeluk pinggang saya selain ibu saya padahal saya tahu nona Danisha bukan tipe perempuan yang bisa memeluk seorang pria yang bukan saudaranya."
Iwan membasahi bibirnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Maafkan saya Pak Giandra kalau saya lancang menyukai dan mencintai putri bapak. Saya tahu saya bukanlah seperti pria-pria kaya lainnya, saya tidak bisa memberikan nona Danisha barang-barang mewah tapi saya berjanji kepada bapak dan ibu Giandra, saya akan selalu mencintai, menghormati dan menyayangi nona Danisha dengan setulus hati saya. Cinta saya sederhana pak, tapi saya tetap berusaha membuat nona Danisha bahagia."
Iwan menatap Ghani dan Alexandra dengan wajah serius. Setidaknya aku sudah mengatakannya. Masalah diterima Danisha dan kedua orangtuanya, aku pasrah.
Ghani menatap Danisha. "Apa kamu sudah mendapatkan jawaban dari doa sepertiga malammmu, Nisha?"
"Sudah pa."
"Which is?"
"Saya menerima cinta mas Iwan Aradhana" jawab Danisha tenang.
Iwan melongo. Mas?
"Kamu dengar kan Iwan? Putriku pun juga sama sepertimu. Jadi, saya sebagai orangtua hanya bisa memberikan restu buat hubungan kalian berdua dan satu yang saya pinta dari kamu, Wan. Ucapanmu malam ini merupakan janjimu pada saya, mamanya Danisha dan Nisha sendiri. Jika kamu mengingkarinya, kamu akan tahu konsekuensinya." Ghani menatap tajam ke Iwan.
"Insyaallah saya tetap menunaikan janji saya kepada no eh... Danisha karena saya tahu tidak mudah mendapatkan putri bapak. Jika saya berani melanggar, nyawa saya taruhannya."
Ghani tersenyum smirk. "Bagus!"
Usai makan malam, Ghani dan Alexandra duduk di sofa ruang tengah sambil mengobrol sedangkan Danisha dan Iwan berada di halaman belakang, tepatnya di gazebo yang dibangun oleh Opa Hiro.
Keduanya duduk berdampingan tanpa sepatah kata keluar dari mulut mereka.
"Mas?" tanya Iwan setelah memberanikan diri bertanya kenapa Danisha berkata demikian.
Danisha menoleh. "Kenapa? Nggak boleh ya?"
Iwan tersenyum lebar. "Nggak, aku seneng banget malah!"
Danisha tersenyum dengan wajah memerah.
"Aku belum bilang ya kalau kamu cantik banget malam ini" puji Iwan. Setelah bebannya terangkat karena Danisha pun merasakan hal yang sama dan restu dari Ghani sudah di tangan, dirinya merasa bisa bebas menggoda gadis idamannya.
"Terimakasih."
"Pak Ghani itu galak ya" komentar Iwan.
"Galak kalau menyangkut soal anak-anaknya apalagi aku anak perempuan" ucap Danisha sembari melihat langit kota Solo.
"Aku pun kalau punya anak perempuan, akan bersikap sama seperti pak Ghani."
Danisha menoleh. "Kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku?"
Iwan tertawa kecil. "Jujur aku sudah terpesona melihat gadis bule yang dibawa Bu Sabrina. Gadis yang ramah, yang fasih bahasa Indonesia
yang ternyata suka nasi liwet."
"Hah?" Danisha bingung. "Nasi liwet?"
"Aku pernah lihat kamu makan lesehan nasi liwet dengan cueknya bersama mungkin asisten rumah tanggamu. Lalu aku juga melihat kamu di wedhangan hanya dengan celana pendek dan kaos serta sandal jepit, dengan santainya makan nasi bandeng."
"Kapan itu?" Danisha bingung kapan Iwan melihatnya.
"Sudah lama tapi aku lihat kamu pas aku pulang lembur" jawab Iwan. "Dalam hatiku, melihat kamu yang uangnya tidak berseri tapi dengan santainya makan sederhana membuat aku semakin kagum. Awalnya hanya sekedar kagum namun makin kesini perasaanku semakin berbeda dan mendalam."
Iwan menengadah melihat langit. "Tapi aku tahu aku siapa, kamu siapa. Perasaanku hanya aku pendam sendiri namun tetap saja aku tidak bisa untuk tidak memberikan perhatian meskipun sederhana. Aku hanya mampu memberikan makanan sederhana untuk kamu makan siang karena tahu kamu selalu makan di kantor. Dan jantungku selalu berdebar ketika kamu selalu bilang 'Terimakasih Pak Iwan, makanannya enak'."
Iwan tersenyum sambil memandang Danisha. "Aku tak tahu kalau kamu juga melakukan hal yang sama melakukan doa di sepertiga malam."
Danisha tersenyum. "Aku hanya mencari yang terbaik karena hampir bersamaan kalian bertiga hadir dalam hidupku dan aku tidak mau memberikan hatiku pada orang yang salah. Dan kupanjatkan doa di sepertiga malam ku dan kamulah yang selalu ada."
Iwan mengangguk karena memang itu kenyataannya bahwa dirinya, Asen dan Ezra muncul bersamaan. Wajar jika Danisha mencari tahu siapa yang pantas menjadi pasangannya.
"Dua tahun seperti pungguk merindukan bulan tapi hari ini aku sudah mendapatkan bulan itu" kekeh Iwan.
"Di kantor kita masih harus formal ya mas" pinta Danisha yang membuat Iwan merona.
Ya ampun, jantungku! - Iwan mengelus dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Danisha.
"Sepertinya jantungku akan bakalan amburadul ritmenya setiap kamu panggil aku 'mas'."
Danisha terbahak.
***
Yuhuuu Up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️