
Keenam pria dan seorang wanita cantik itu sekarang berada di ruang tengah yang sengaja disterilkan oleh Steve jadi tidak ada pelayan satu pun disana. Belajar dari pengalaman Rain yang ternyata ada seorang pengkhianat, Steve tidak mau ambil resiko meskipun para pelayan sudah di-screening terlebih dahulu.
"Alex, boleh tahu apa yang terjadi saat kamu hampir diculik di usia 8 tahun?" tanya Joshua dengan laptop di depannya. Para pria lain juga berusaha membuat diagram hubungan Alexandra dan Guillermo Martinez.
"Aku tidak begitu ingat, Josh tapi aku hanya ingat satu kalimat 'Kamu akan menjadi milik tuan Guillermo Martinez selamanya'."
Keenam pria disana langsung merinding. "Aku kira aku dah psycho, ternyata ada yang lebih psycho" ucap Ryoma.
Ghani menggenggam tangan Alexandra yang terasa sangat dingin dan wajah cantik itu memucat.
"Ternyata aku membuka ingatan lama" bisiknya dengan tubuh gemetar. Ghani langsung memeluk gadis itu seolah memberikan kekuatan.
"Kalau kita rangkai-rangkai, Guillermo ini sudah terobsesi dengan Alexandra sejak kecil. Lalu Alex berhasil disembunyikan oleh CIA karena resiko tinggi apalagi kedua orangtuanya agen CIA" ucap Joshua.
"Lagipula, selain dia obsesi dengan Alexandra dengan rada-rada pedofil, dia tahu Alexandra adalah dokter koroner yang mengautopsi kasus anak kecilnya Ghani" ucap Eiji.
"Kok jadi anak kecilku?" protes Ghani.
"Kan itu kasusmu tho?" balas Eiji.
"Tapi bukan kasus anak kecilku namanya."
"Terus aku harus sebut apa?" pendelik Eiji.
"Beneran deh, hormon ibu hamil pindah ke Eiji" gumam Javier cuek.
"Apa maksudmu hormon ibu hamil pindah ke aku?" protes Eiji.
"Sensitif, gampang tersinggung, mood kayak roller coaster, nggak mau ngalah tapi kalau ini memang wataknya Eiji sih" ucap Ryoma sambil menghitung dengan jarinya.
"Haaaiissshhhh! Aku telpon Diajeng Aya-aya sajah lah daripada sama kalian!" Eiji langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Beneran. Ngidam simpatik dia" gelak Joshua.
"Memang waktu Miki hamil, lu nggak sampai begitu Josh?" tanya Javier.
"Nggak, Miki ngidamnya cuma mau masakan mommy Shanum, nggak mau masakan pelayan."
"Bener deh, kayaknya anaknya Eiji julid sama bapaknya" kekeh Ghani.
"Biasanya dia yang julid, sekarang dia dijulidin ... Sama anaknya lagi" gelak Abian.
"Eh udah ah, malah bahas makhluk minus akhlak itu. Sekarang balik ke kasusnya Alexandra..." suara Joshua terpotong ketika Steve datang tergopoh-gopoh.
"Tuan-tuan, tampaknya mereka sudah tahu kalau tuan Ghani dan nona Alexandra berada di mansion ini."
"Bagaimana kau tahu Steve?" tanya Ghani.
Steve tidak menjawab namun segera menyalakan tv besar di ruang tengah dan memindahkan ke layar CCTV yang terpasang di seluruh mansion.
(Anggap ajah begini ya gaeeesss )
"Lihat mobil Suburban ini? Sudah sehari ini bolak balik melintasi depan gate bahkan memutari mansion." Steve menunjukkan mobil itu bahkan salah satu CCTV berhasil mendapatkan nomor polisinya.
Abian segera mencari tahu pemilik mobil Suburban itu.
"Mobil itu terdaftar atas nama Marco Martinez yang aku yakin adalah nama lain dari Guillermo Martinez" ucap Abian.
"Sementara kita berada disini dulu saja. Bahan makanan masih banyak kan Steve? Cukup untuk semua orang disini?" tanya Ghani.
"Masih cukup tuan Ghani hingga seminggu ke depan. Kalau kami kehabisan, bisa meminta tuan John mengirimkan kemari."
"Bagus karena kita butuh strategi untuk bisa menghajar Martinez!" ucap Javier.
***
AJ Russell dan Agen St Clair sudah bergabung dengan keenam pria keluarga konglomerat itu melalui video call. Mereka saling bertukar informasi yang diperoleh selama saling menyelidiki kasus ini.
"Jadi selain karena Ghani berusaha membongkar sindikat perdagangan organ tubuh manusia dari Martinez, ada kemungkinan lain bahwa dia mengincar Alexandra?" tanya Agen St Clair.
"Kemungkinan besar begitu Agen St Clair" ucap Abian.
"Bro, kamu itu membahayakan dirimu sendiri lho" ucap Eiji.
"Harus ada yang jadi umpan kan? Lagipula apa kalian sudah mendapatkan markas mereka yang tepat? Belum kan? Kasus ini sama dengan kasus Cypress, mereka berpindah tempat." Ghani menatap orang-orang disana. Wajah Alexandra tampak cemas mendengar keputusan Ghani.
"G mungkin benar. Setidaknya kalau dia di markas NYPD ada banyak orang disana, lagipula aku akan menanamkan chip untuk bisa mengetahui posisi Ghani." Abian meyakinkan semuanya.
"Maksudmu Ghani akan kamu suntik chip ke dalam tubuhnya kayak Terminator atau anjing gitu?" tanya Ryoma asal.
"Nggak gitu juga chuy! Gue taruh di jam tangan dan ponselnya kupret!" ledek Abian.
"Gue takut elu ternyata agen SkyNet. Terus berubah jadi Arnold Schwarzenegger dengan kalimat klasik 'I'll be back!'. Kan horor tuh!" ucap Ryoma sambil bergidik. "Aduh!"
Sebuah bantal melayang ke wajah tampan Ryoma lemparan Abian.
"Gue agen T1000 tahu nggak!" balas Abian sebal. Disaat lagi serius, keluarga gesrek ini tetap kacau.
"Boys, fokus!" suara lembut Alexandra membuat mereka terdiam.
"Aku rasa Ghani benar. Kita harus memancing kepala ularnya keluar tapi kalau Ghani saja akan sulit karena dia juga mengincar Alexandra" ucap AJ Russell.
"Aku dan Ghani bersedia jadi umpan" ucap Alexandra tegas.
"Alex?" Ghani terkejut dengan ucapan Alexandra.
"Kami akan bergantian mengawal kalian" ucap Joshua yang diikuti dengan anggukan lainnya.
"Ghani setiap pergi pulang kantor berangkat dengan salah satu dari kita ditambah dengan pengawalan di belakang begitu juga Alexandra hanya bedanya aku tidak akan mengirim Eiji mengawal Alex" putus Joshua.
"Kenapa?" tanya Eiji.
"Hormonmu lagi berantakan Ji, apa mampu lihat mayat dibelah?"
Eiji menatap Joshua horor. "Aku kawal Ghani saja."
***
Pagi ini Joshua akan mengawal Alexandra kembali bekerja dan dia akan berada di sisi gadis itu. Keduanya sudah memakai kevlar tipis yang memang disiapkan oleh Abian. Begitu juga dengan Ghani yang akan berangkat ke markas NYPD bersama Javier.
John mengirimkan delapan pengawal terbaik keluarga Blair yang akan berangkat dengan mobil di belakang dua buah mobil Range Rover yang sudah dimodifikasi anti peluru di kacanya.
Kapten Briscoe yang mendapatkan memo dari FBI dan CIA pun memanggil Raymond agar selalu menjaga Ghani karena nyawanya diincar.
Kini mereka bersiap berangkat. Ghani dan Javier memakai Range Rover hitam sedangkan Alexandra dan Joshua menggunakan Range Rover abu-abu.
"Hati-hati" ucap Ghani kepada Alexandra yang hendak masuk mobil.
"Kamu juga" senyum Alexandra.
Ghani kemudian memberanikan diri meskipun rasanya deg-degan.
"Alex..." panggilnya.
Alexandra pun berbalik. "Apa G?"
Ghani menarik tangan Alexandra lalu memeluknya dan memberikan ciuman kepada gadis itu. Alexandra pun membalasnya.
"Woooiiii! Gue jadi mupeng G! Miki nggak ada disini!" teriak Joshua sebal.
Ghani melepaskan ciumannya dan wajahnya memerah. "Sorry bro" cengirnya.
"Brengsek lu!" umpat Joshua kesal.
***
Yuhuuu Up Sore Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️