
Danisha memakan pesanannya dengan setengah hati padahal itu adalah menu favoritnya. Gara-gara ucapan tidak ada filter Asen, membuat gadis itu langsung ingin mencoret nama Asen dalam list daftar kontaknya kalau tidak mengingat bahwa ini adalah klien sang Oom Senna.
Menyesal aku tidak mau belajar Eskrima atau ambil jurusan kimia bikin racun yang tidak terdeteksi.
"Sudah selesai makan siangnya, nona Danisha?" tanya Asen membuat Danisha harus kembali ke dunia nyata.
"Sudah, terima kasih." Meskipun Danisha sedang tidak mood makan, dia tetap menghabiskan makan siangnya karena ingat pesan Necan Dara bahwa banyak orang yang susah makan jadi jangan suka membuang makanan. Sang mama Alexandra pun menasehati hal yang sama.
"Kalau kamu tidak mau membuang makanan, pesanlah secukupnya jadi kamu bisa menghabiskannya. Jika tetap tidak mampu, bawalah pulang yang bukan sisa makanmu, bagikan bagi orang yang tidak mampu tapi bungkus lah yang bagus. Hargai selalu setiap orang" begitu pesan Alexandra.
Danisha menatap pria tampan di depannya. Mama, bolehkah aku tidak menghargai orang di depan yang sudah melecehkan aku? Aku nggak kebayang kalau papa dan mama mendengar ucapannya, orang ini akan selamat.
"Saya bayar dulu" Asen memanggil pelayan untuk meminta bill. Setelah pelayan itu datang, Asen mengeluarkan black card nya dan matanya melirik reaksi nona bule di depannya yang hanya menatap kosong ke arah jendela.
Ternyata dia tidak terkesan dengan black card - batin Asen.
Black card? Aku sudah punya dari umur 18 tahun. B aja tuh! Malah black cardku nggak pernah aku pakai juga! - batin Danisha. Bara dan Danisha sama-sama mendapatkan black card dari Duncan Blair sebagai hadiah ulang tahun mereka pada saat 18 tahun. Namun baik Bara dan Danisha, malah tidak pernah menggunakan kartu itu.
"Nona Danisha, mari" Asen berdiri dan mengulurkan tangannya ke gadis itu yang mengacuhkan sikap gentlenya. Lagi-lagi aku diacuhkan.
"Nona, yakin anda akan langsung kembali bekerja?" tanya Asen menyamakan langkahnya dengan Danisha.
"Seperti saya bilang, saya harus memeriksa semua produk yang hendak kami kirim ke Istanbul."
"Apa nona tidak mau mampir ke kamar saya?" goda Asen yang membuat mata coklat Danisha membelalak.
"Apa maksudmu Mr Alibek?" tanya Danisha dingin.
"Oh come on. Kamu kan playgirl, bisa dicium sembarangan pria" Asen menatap Danisha tajam.
Dicium sembarang... Danisha menatap dingin ke arah Asen meskipun sempat terlihat matanya berkilat marah.
"Anda melihat akun Instagram saya?" desis Danisha.
"Tentu saja. Melihat keponakan Senna Al Jordan dengan bahagianya dicium..." suara Asen terhenti ketika Danisha mencengkeram kerah pria itu dan membantingnya di lobby hotel Alila.
Asen hanya bisa menahan nafas. Bagaimana gadis langsing yang tingginya hanya 168 cm ini membanting aku yang tingginya 186cm.
Semua orang disana melongo dan ada beberapa hendak mengambil foto langsung dibentak Danisha. "Barang siapa berani mengambil foto dan menguploadnya di sosial media, harus berhadapan dengan keluarga Al Jordan dan Pratomo!" Orang-orang pun menciut karena jika sudah berhubungan dengan dua keluarga besar itu pasti akan merembet ke Blair, Reeves, Arata dan Neville.
Danisha meletakkan lututnya diatas dada Asen yang masih tergeletak di lantai hotel. "Pria yang kamu maksud itu adalah sepupuku! Namanya Levi Reeves dan Aidan Blair!" Danisha meninju wajah tampan Asen hingga bibirnya berdarah.
Setelahnya gadis itu berdiri dan melihat manager Alila yang tergopoh-gopoh datang ke arahnya.
"Mbak Danisha tidak apa-apa?" tanya sang manager.
"Tidak apa-apa. Maaf jika saya berbuat onar disini. Jika Alila minta pergantian ganti rugi, mbak Yuni bisa menghubungi saya. Permisi." Danisha pun melangkah dengan anggun keluar dari lobby hotel.
Beberapa petugas hotel membantu Asen berdiri yang sedang mengusap bibirnya. Whoah! Pukulannya mantap!
"Tuan, apakah tuan baik-baik saja?" tanya Yuni sang manager.
"Saya baik-baik saja nona. Saya yang salah tadi membuat nona Danisha marah." Asen tetap mencoba menjaga nama baik Danisha.
"Masih beruntung tuan hanya dibanting dan ditinju oleh nona Danisha."
"Memang apa yang sudah pernah dia lakukan?" tanya Asen penasaran karena semua petugas di hotel tampak sudah biasa melihat Danisha menghajar orang.
"Nona Danisha pernah menodongkan pistolnya ke seorang pejabat publik yang hampir melecehkannya pada saat pesta perusahaan AJ Corp."
Asen melongo.
***
Asen mengompres bibirnya dengan kantong berisi es batu yang diberikan oleh Yuni sambil menatap laptop nya. Foto Danisha dicium oleh dua pria itu membuatnya menjadi tahu siapa mereka.
Pria yang kamu maksud itu adalah sepupuku!
Kalimat Danisha itu selalu berulang di otak Asen. Astaga! Aku sudah melecehkan gadis itu!
Asen lalu menelpon seseorang.
"Assalamualaikum, Senna. Aku mau bicara."
***
Danisha masih merasa kesal dengan perilaku dan sikap Asen yang seenaknya menilai dia sebagai cewek murahan hanya karena dicium oleh kedua sepupu tampannya pada saat dia dinyatakan lulus ujian skripsi di Oxford. Mereka berdua lah yang menemani saat dia ujian.
"Bu Danisha?"
Danisha mendongakkan kepalanya dan tampak Yanti datang membawakan bungkusan pecel yang tadi dititipkan oleh Iwan.
"Ini ada titipan dari mas Iwan Bu."
Danisha memutuskan kembali ke kantornya yang di Slamet Riyadi, membatalkan untuk ke rumah produksi.
"Terimakasih Yanti. Kamu sudah makan?"
Yanti menggeleng. "Masih banyak pekerjaan tadi Bu."
"Ambil piring dua, kita makan bareng yuk!"
Yanti pun mengangguk tanpa bantahan karena tahu bossnya sedang dalam mood marah.
"Ibu mau teh atau air putih?" tawar Yanti.
"Air es tambah es batu! Aku butuh mendinginkan otak dan hatiku!" jawab Danisha.
Tanpa berbicara, Yanti pun melaksanakan permintaan Danisha membuka kulkas dan menyiapkan air putih dingin plus es batu yang banyak.
***
"Kamu ngapain?" teriak Senna. Rasanya dia ingin menjotos sendiri rekan bisnisnya yang berani melecehkan keponakan bulenya.
"Aku minta maaf Senna. Aku tidak tahu kalau mereka itu bersaudara."
"Tentu saja mereka bersaudara, brengseeeekkkk! Semua keponakan perempuanku tidak ada yang sembarangan mau dipeluk atau dicium oleh sembarang pria kecuali saudaranya sendiri!" hardik Senna. "Rasanya aku ingin terbang ke Solo dan menghajarmu sendiri!"
"I'm so sorry Senna."
"Berdoalah agar kedua orangtuanya Danisha tidak mendengar kalau kamu berani melecehkan putrinya. Karena jika mereka tahu, kamu hanyalah tinggal nama. Dan jika kamu merasa mereka bukan keturunan Pratomo, kamu salah! Mereka sama mengerikannya dari keturunan Pratomo!"
"Apa maksudmu Senna?"
"Ghani adalah penembak terbaik di NYPD sedangkan Alexandra menguasai Eskrima. Jadi terserah kamu memilih yang mana. Dan jika kamu berpikir mereka tidak berani melakukannya, kamu salah!"
Asen hanya terdiam. Bahkan nama keluarga ku tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga besar ini.
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Maafkan jika slow up dikarenakan ada acara keluarga sampai besok Senin.
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️