
Abi dan Dara kini menunggu di depan kamar bersalin dengan wajah tegang karena tadi sesampainya di rumah sakit, air ketuban Alexandra pecah dan langsung dibawa ke ruang bersalin.
Nabila dan Mike yang baru saja mengoperasi pasien masing-masing, menghampiri keduanya. Tampak Abi mondar mandir sedangkan Dara lebih tenang dengan membaca Doa yakni surat Al-Baqarah 255, Ar-A’raf 54, Al-Falaq dan An-Naas agar menantunya lancar melahirkan.
Mike menepuk bahu Abi yang masih tegang di depan pintu kamar bersalin.
"Bi, kalau kamu muder muyer begitu, cucumu ikut muder muyer nggak mau keluar" kekeh Mike yang dibalas pelototan Abi.
"Kagak ada hubungannya!" cebik Abi sebal.
"Ya dihubungkan bisa saja lah! Kan cucumu sama julidnya ma kamu!" gelak Mike.
Nabila dan Dara yang melihat kedua pria paruh baya heboh sendiri hanya menggelengkan kepalanya.
"Untung si Edward nggak kesini. Entah apa yang terjadi melihat para opa ribut nggak jelas gitu!" omel Nabila.
"Terkadang aku malu sendiri mbak, mereka kalau sudah ketemu suka lupa sedang ada dimana, acara apa. Mas Abi dan mas Edward tuh kalau berantem seperti di dunianya sendiri" senyum Dara sambil melihat suaminya masih debat dengan Mike.
"Aku nggak kebayang kalau nggak ada salah satu kayak apa terguncangnya mereka secara sudah sekian puluh tahun menjadi teman gelut" mata Nabila menerawang.
"Insyaallah kita diparingi umur panjang mbak" ucap Dara sambil mengelus bahu Nabila.
"Aamiin. Oh ya Ra, ini gimana ceritanya Alexandra langsung pengen lahiran?"
"Jadi tadi tuh kami buat roti canai dan kari kambing. Entah kenapa Lexa pengen sekali itu. Ya sudah kami buat itu dan makan bersama. Nggak lama setelah kita selesai makan, eh perut Lexa langsung kontraksi."
Nabila terbengong. "Kayaknya cucumu mabok masakan India jadinya pengen brojol dia."
"Ghani juga bilang gitu tadi" ucap Dara sambil manyun.
Nabila tertawa.
Setengah jam kemudian Ghani keluar dari kamar bersalin dengan baju medis dan wajahnya tampak bahagia meskipun acak-acakan.
"Well?" tanya Abi tidak sabar.
"Alhamdulillah sudah lahir baby boy, sehat sempurna, berat 3,6kg, panjang 51cm." Senyum Ghani terkembang lebar. "Lexa dan Bara sehat semua."
"Bara?" tanya Dara.
"Iya mom, cucu mommy namanya Sambara Ganendra Giandra, panggilannya Bara."
Abi memeluk Ghani terharu. "Namanya bagus, G."
Dara pun memeluk putranya. "Alhamdulillah."
***
Abi dan Dara tidak henti-hentinya melihat cucu ketiga mereka dengan perasaan campur aduk. Siapa menyangka mereka sekarang menjadi Ogan dan Necan tiga cucu yang lahir berdekatan.
Nabila dan Mike memotret cucu mereka yang entah ke berapa dengan perasaan gemas. Nabila mengirimkan foto Bara ke semua anggota keluarga besarnya.
Semua anggota keluarga sangat antusias melihat keponakan dan cucu baru mereka bahkan Abian dan Ryoma serta Masayuki mengatakan akan terbang dari Boston besok ke New York untuk membesuk Bara.
Pintu kamar VIP Ghani dan Alexandra terbuka dan tampak Duncan serta Rhea yang menggendong Kaia datang membesuk.
Ghani yang melihat adiknya datang pun langsung memeluk Rhea dan Duncan.
"Selamat ya G, akhirnya keluar juga jagoan lu gara-gara roti canai dan kari kambing" kekeh Duncan.
"Siapa yang cerita?" tanya Ghani sambil tertawa.
"Daddy lah!" ucap Rhea yang langsung menuju tempat kakak iparnya terbaring.
"Mbak Alexandra, bagaimana rasanya? Amazing kan?" senyum Rhea.
"Amazing banget! Semua rasa sakitku langsung hilang begitu lihat Bara. Ya ampun ternyata menjadi ibu itu luar biasa." Alexandra tersenyum melihat box bayi yang masih dikerubuti para opa dan Oma.
"Mas Ghani berantakan dong kena pukulan mbak?" kekeh Rhea.
"Waduh! KDRT dong!" kekeh Rhea.
"Rey, lihat Bara dulu yuk. Tuh opa dan omanya dah puas lihat cucu" ajak Duncan.
Rhea pun mengikuti Duncan bersama dengan Kaia yang heboh melihat kakak sepupunya.
"Jangan princess, mas Bara lagi bobok" ucap Rhea ketika Kaia mencoba menowel bayi tampan itu.
Duncan lalu membisikkan sesuatu ke Rhea. "Bis Kaia mau dua tahun, bikin baby boy yuk."
Rhea hanya tersenyum karena sejujurnya dia juga ingin punya baby boy biar lengkap.
***
Ghani sekarang tinggal berdua dengan Alexandra di kamar rawat inapnya setelah para opa dan Oma pulang, begitu juga Duncan, Rhea dan Kaia.
Wajah cantik Alexandra tampak lelah meskipun senyuman tidak lepas dari bibirnya. Alexandra tidak menyangka akan memiliki keluarga lengkap ditambah keluarga besar yang sangat kompak dan akur meskipun sering receh jika bertemu.
Ghani sendiri tak bosan-bosannya memandang foto putranya yang sekarang menjadi wallpaper nya setelah sebelumnya adalah fotonya berdua dengan Alexandra.
"Mas" panggil Alexandra.
"Ya sayang?" Ghani menghampiri istrinya.
"Aku tidur dulu ya." Ghani mengangguk lalu mencium kening istrinya.
"Tidurlah, kamu lelah kan?" Hot Daddy itu melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul satu malam.
"Mas Daniswara juga. Istirahat ya" ucap Alexandra sambil menggumam dan tak lama nafas teratur terdengar dari hidung mancungnya.
Ghani pun menuju ekstra bed yang diberikan oleh Nabila agar dia nyaman. Sembari menunggu kantuk, Ghani memandang wajah Bara dan tak lama, dia pun terlelap.
***
"Berarti Kaia cucumu paling cantik dong Bi" kekeh Edward yang datang ke New York dua hari kemudian dan kini mereka semua berada di apartemen Ghani.
"Iya dong, udah bule, cantik sendiri pula!" jawab Abi.
"Kan sudah aku bilang, bibitnya Duncan tuh memang bagus! Kamu sih tidak mau mengakuinya!" .
Yuna dan Dara yang sedang membuatkan sarapan untuk para penghuni apartemen hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ra, perasaan kita yang jadi istrinya saja akur-akur saja tapi Edward dan Abi kok nggak bisa akur dari dulu ya?" keluh Yuna.
"Aku juga heran lho mbak. Mas Abi tuh saban ketemu dengan mas Edward pasti gelut nggak jelas. Masing-masing tuh seperti punya ego yang nggak mau ngalah saban ketemu." Dara melirik ke arah dua pria paruh baya yang masih tampak tampan.
"Udah punya cucu juga kok ya masih hobi ribut" omel Ghani yang baru keluar kamar setelah menemani Bara karena Alexandra mandi.
"Lho G, punya cucu itu bukan berarti acara debat dilupakan. Itu tandanya Daddy sayang sama besannya!" kekeh Abi.
Ghani hanya memutar matanya malas.
"Mr Edward, sudah nggak usah ribut sama Abi. Ingat cucu!" ucap Yuna.
"Lho? Memang aku nggak pernah ingat cucu cantikku?" Edward menatap Yuna dengan wajah polos.
Yuna hanya menatap datar ke arah suaminya. "Susah kalau ngajak ngomong sama bayi Gedhe!"
***
Yuhuuu Up Pagi Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️