
Di tempat yang berbeda yaitu di USA, Davin terlihat sedang meeting bersama beberapa staffnya yang ada di sana. Mengenai formula blue yang sempat di curi dan hampir saja di perjual belikan di tempat lelang.
Walaupun masalah itu sudah lama berlalu, namun siapa yang sudah menyusup masuk ke dalam organisasi Perlindungan dan sekarang berada di laboratorium di USA masih belum tertangkap. Dan ini harus segera di selidiki sebelum ini akan jadi masalah yang besar.
"Jika kalian tidak bisa menyerahkan data penyusup yang telah membocorkan tentang formula blue, maka kalian tahu apa konsekuensinya." Ancam Davin.
"Maaf tuan Dave, kami sendiri juga belum menemukan data yang akurat soal itu, kami masih menyelidiki siapa yang sudah dengan berani mencuri formula blue dari laboratorium." Ucap salah satu ilmuwan yang bekerja di laboratorium milik Davin di USA. Karena mengingat orang yang telah tertangkap di Bali waktu itu, juga merupakan orang suruhan, bukan dalang di balik semua tragedi.
BRAAKKK!!
Mendengar ilmuwan tersebut membantahnya, Davin terlihat emosi sampai menggebrak meja, tatapan matanya seakan siap untuk menguliti siapapun yang ada di hadapannya, semua yang ada di ruangan tersebut terkejut dan langsung menundukkan kepalanya, tak ada yang berani melihat ke arah Davin.
"Kamu sebagai kepala ilmuwan yang aku percayai di sini, kenapa sampai tidak tahu jika ada penyusup di laboratorium," ucap Davin yang di tujukan ke salah satu ilmuwan yang memang kepala bagian di laboratorium. "Dan kamu, bukankah tugas keamanan ada di tangan kamu? Kenapa sampai hal seperti ini terjadi? Sebenarnya apa kerja kalian? Sampai-sampai penyusup masuk saja kalian tidak tahu." Ucap Davin yang terlihat emosi.
Semua orang terdiam dengan wajah takutnya, tidak ada yang berani menyela omongan Davin, atau pun hanya sekedar memberikan penjelasan.
Tatapan mata Davin begitu menyeramkan, sehingga siapapun yang melihatnya akan merasa ketakutan hanya karena di lihat dari ekor matanya saja. Aura iblis Davin terlihat begitu nyata saat ini.
"Aku tidak mau tahu bagaimana cara kalian, yang aku inginkan segera serahkan penghianat atau pun penyusup itu di hadapanku sesegera mungkin, jika tidak?! Kalian akan tanggung akibatnya." Ucap Davin dengan terselip nada ancaman di dalamnya.
Emosi Davin saat ini seperti sudah berada di ujung kepalanya dan siap meledak kapan saja, bagaikan seekor singa yang siap menerkam mangsanya kapanpun, sehingga tidak ada yang berani melihatnya atau pun menjawab ucapannya. Aura membunuh keluar dari wajah Davin saat ini.
Davin yang biasanya lebih ramah jika di bandingkan Alvin, kini terlihat begitu murka. Dan murkanya seorang Davin tak ubahnya seperti Alvin, mereka akan sama kejamnya saat mengetahui ada penghianat.
Dengan wajah penuh emosi, kini Davin meninggalkan ruangan meeting dengan Sean mengekori di belakangnya. Sean begitu memahami bagaimana perasaan Davin saat ini, kecewa itu pasti, karena Sean tahu betapa ketatnya sistem yang di bentuk organisasi, tapi kenapa justru ada penyusup yang berhasil masuk ke dalam laboratorium.
Setelah keluar dari ruang meeting, Davin terlihat merenung di ruangannya, pandangan matanya melihat jauh keluar jendela, pikiran-pikiran tentang siapa orang yang berkemungkinan jadi tersangka kini muncul satu persatu.
Beberapa organisasi yang telah lama mengincar posisi sebagai ketua mafia dunia, tidak luput jadi salah satu kemungkinan menjadi tersangka.
'Siapa sebenarnya yang telah bermain denganku? Kenapa jejaknya sangat sulit terlacak? Begitu rapi dan juga sulit terdeteksi.' batin Davin. 'Apa mungkin ada orang dekat yang tahu semua pergerakanku dan Al? Dan membocorkan informasi tersebut ke musuh, tapi siapa?'
Tok tok tok!!
Suara ketukan pintu membuat Davin memutar tubuhnya dan melihat siapakah yang datang, biasanya dalam kondisi seperti ini, jarang sekali ada yang berani mendekatinya, apalagi mengganggu waktunya.
"Al," ucap Davin dengan mengerutkan keningnya saat melihat kedatangan Alvin.
"Hem, ini aku," ucap Alvin sambil berjalan masuk ke dalam ruangan. "Sepertinya mood kamu lagi kurang bagus, Dave?" Tanya Alvin.
"Duduklah dulu." Ucap Davin.
Alvin yang awalnya ada perjalanan bisnis ke Spain, akhirnya memutuskan untuk pergi ke USA, apalagi Alvin lah yang mengetahui pertama kalinya ada yang menyusup di laboratorium, dan karena hal itulah, bagi Alvin lebih penting mencari musuh dalam selimut, dari pada membahas masalah yang lain. Apalagi sampai sekarang masih belum ketemu siapa yang sudah berani bermain api dengan mereka.
"Ada apa Dave? Kenapa kamu terlihat begitu emosi?" Tanya Alvin.
"Entahlah, semua seakan semakin rumit saja Al." Ucap Davin.
"Itulah masalahnya, sampai saat ini belum ada tanda-tandanya siapa yang sudah berani dengan kita," ucap Davin dengan mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, dengan tatapan mata seriusnya. "Aku juga heran kenapa bisa semulus ini mereka melakukannya. Bahkan barang buktinya pun seakan lenyap begitu saja saat aku datang kemari." Ucap Davin sambil mengerutkan keningnya. Terlihat Davin berpikir keras saat ini.
"Maksud kamu?" Tanya Alvin yang memang baru saja datang kemarin, makanya belum begitu paham akan situasi yang terjadi saat ini.
"Aku di sini sudah hampir seminggu, tapi untuk mencari bukti atau pun mencari siapa yang sudah menyelinap masuk ke laboratorium sangat sulit, dan sepertinya ada orang dalam yang sedang bermain dengan kita Al." Ucap Davin.
"Orang dalam? Maksud kamu ada yang berkhianat di dalam organisasi?" Tanya Alvin.
"Ini baru dugaanku saja, karena aku juga belum yakin," ucap Davin. "Dan aku yakin jika semua bukti di hanguskan sebelum kita datang ke sini Al." Lanjutnya.
"Brengsek!! Siapa yang sudah berani bermain-main dengan kita kali ini?" Ucap Alvin yang terlihat mulai emosi. "Apa mungkin anggota Jirayu yang masih tersisa?"
"Aku sempat berpikir begitu, apalagi ketua organisasi naga emas dunia belum ketemu sampai sekarang, bahkan selama ini aku juga tidak tahu yang mana orangnya, mengingat dia sangat pandai bermain di belakang layar." Ucap Davin.
"Benar sekali, apa mungkin ini ulah ketua organisasi naga emas dunia itu, Dave?" Gumam Alvin.
Davin mengerutkan keningnya memiringkan sedikit kepalanya, seakan sedang memikirkan kemungkinan benarnya ucapan Alvin.
Apalagi baik Davin maupun Alvin belum tahu seperti apa wajah ketua organisasi naga emas dunia. Hingga sampai saat ini menjadi misteri bagi dunia hitam. Karena tidak ada yang tahu yang mana ketua organisasi naga emas dunia.
Begitu pandainya dia menyembunyikan identitasnya, sehingga jarang yang tahu seperti apa wajahnya. Sampai saat ini juga belum ada yang tahu wajah orang yang sangat berpengaruh besar di organisasi naga emas, termasuk Dafa. Wajah ketua organisasi naga emas dunia adalah sebuah misteri hingga kini.
Mereka berdua akhirnya membahas masalah ini dengan serius, karena tidak menutup kemungkinan jika memang ketua organisasi naga emas dunia pelakunya. Dan wajahnya seperti apa, itu yang masih jadi tanda tanya besar bagi Davin dan Alvin.
Drrt drrtt drrt!!
Di sela-sela keseriusan mereka membahas tentang kemungkinan-kemungkinan siapa yang jadi dalang di balik semua kekacauan yang ada, suara ponsel Davin berbunyi dengan di iringi getaran.
"Hallo sayang, bagaimana hasil pemeriksaan hari ini?" Jawab Davin yang tahu siapa yang meneleponnya.
"Semua hasilnya baik mas, ini aku udah pulang ke rumah," jawab Kinan yang di seberang sana. "Kapan mas akan pulang ke Indonesia?"
"Sabar sayang, setelah semua urusan selesai, aku pasti akan pulang, udah kangen ya?" Goda Davin kepada istrinya, tanpa memperdulikan Alvin yang masih duduk di depannya.
'Kalau sudah begini alamat akan di kacangin nih, mending aku keluar aja.' batin Alvin.
Merasa jika Davin sibuk bermesraan dengan istrinya, Alvin memilih untuk keluar ruangan. Karena tidak ada gunanya juga jika dia berada di dalam ruangan tersebut. Davin hanya melambaikan tangannya saat melihat Alvin keluar dari ruangan kerjanya.
Kalau sudah mendengar suara sang istri lewat panggilan telepon, hati Davin sedikit merasa tenang, apalagi mendengar jika kandungan Kinan baik-baik saja, membuat Davin semakin terlihat bahagia. Emosi yang tadi meledak-ledak, kini telah menguap begitu saja, tergantikan dengan wajah penuh senyuman terpancar kebahagiaan.
Dalam obrolannya, Kinan juga mengingatkan kalau Jojo dan Ayumi sebentar lagi akan menikah. Walaupun sebenarnya Davin sebelum berangkat ke USA sudah tahu tanggal pernikahan Jojo dan Ayumi. Tapi mengingat jika pekerjaan yang bertumpuk, mungkin saja Davin akan melupakannya.
Bersambung..