She Is My Sweet Wife 02 (The Series)

She Is My Sweet Wife 02 (The Series)
Kejutan untuk Ara



Arka kini bersiap untuk acara ulang tahun Ara yang akan di selenggarakan beberapa jam lagi, dia yang baru selesai mandi itu pun mengganti pakaiannya dengan setelan jas berwarna hitam, kemeja putih dan juga celana warna hitam.


Tok tok tok!!!


Arka menghentikan aktivitasnya di depan cermin yang sedang menyisir rambutnya, karena mendengar ketukan pintu.


"Mama, ada apa ma?" Tanya Arka ketika melihat Chika sudah masuk ke dalam kamarnya, melalui pantulan dari cermin.


"Dibawah ada Dave, dan Al, ada yang ingin mereka bicarakan denganmu, sekarang, penting!!" Ucap Chika.


Arka membalikkan badannya dan melihat ke arah Chika yang ada di belakangnya, Arka mengerutkan keningnya, apa yang ingin di bicarakan oleh si kembar dengannya? Sepenting apa sampai-sampai mereka berdua datang di saat seperti ini, di saat sebentar lagi ulang tahun Ara.


"Sudah sana cepat turun, mereka berdua menunggu kamu," Ucap Chika.


"Ck, iya ma iya." Ucap Arka


Kemudian Arka pun berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke lantai bawah, Davin dan Alvin sudah duduk di sofa ruang tamu menunggunya.


"Kenapa kalian berdua datang kemari, apa kalian tidak bersiap untuk ulang tahun Ara?" Tanya Arka yang duduk di sofa depan mereka berdua.


Davin dan Alvin saling pandang, kemudian keduanya tergelak tawanya, sehingga membuat Arka bingung dengan sikap dua orang sahabatnya itu. Ya walaupun usia si kembar lebih tua darinya namun mereka memang terlihat akrab dari dulu.


"Ada apa sih Dave, Al,? jangan membuat aku semakin bingung." Ucap Arka sambil melempar bantal kecil ke arah keduanya. Yang di tepis oleh Dave.


"Acara kali ini tergantung sama loe sukses apa gak nya Ar," Ucap Alvin kemudian.


"Maksudnya?" Arka yang dari awal sudah bingung kini malah semakin bingung. Dave beranjak berdiri dan kemudian duduk di samping Arka. Menepuk pundaknya dua kali.


"Hari ini loe harus bersiap untuk mengucapkan ijab qobul di hadapan penghulu, untuk menikahi adik gue, makanya kita berdua datang kemari." Ucap Davin.


"Hah!! Me-menikah??" Ucap Arka, raut wajah terlihat sangat terkejut dan gugup bercampur bahagia.


"Iya, semua sudah di atur, makanya cepat ganti baju loe pakai pakaian ini, dan jangan kecewakan gue hari ini." Timpal Alvin sambil melemparkan paper bag ke arah Arka yang dengan sigap di terimanya.


"Bisa kalian jelaskan dulu, apa sih maksudnya?" Ucap Arka, walaupun dia bahagia, namun Arka masih penasaran dengan alasan di balik semua ini.


"Gak ada waktu untuk menjelaskan semuanya, atau loe mau jika posisi loe di gantikan oleh Rey?" Tanya Davin dengan menaikkan sebelah alisnya.


Buggh..


Dengan cepat Arka menampolkan paper bag itu ke arah Davin, yang hanya di tanggapi dengan gelak tawa olehnya.


"Enak aja, perjuanganku udah sejauh ini, mau di gantikan Rey? Sembarangan." Ucap Arka kemudian dia berdiri "Ya udah tunggu bentar, aku ganti baju dulu."


Arka berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya untuk berganti baju, sedangkan Alvin dan Davin menunggu di sofa ruang tamu.


"Tante sudah siap?" Tanya Davin ketika melihat Chika yang baru saja keluar dari kamar dengan gaun pesta berwarna putih.


"Sudah nih, mana si Ar? anak nakal itu." Tanya Chika ketika tidak melihat Arka di antara mereka berdua.


"Masih ganti baju Tant, mungkin sebentar lagi." Jawab Alvin.


"Iya Tante, kita tunggu sebentar lagi," Ucap Davin.


Kemudian Chika menghampiri kedua pemuda itu di sofa, dan ikutan untuk duduk di sana, mereka pun berbincang-bincang seputar rencana kejutan nanti yang akan di berikan kepada Ara.


Dan memang Chika sudah mengetahui hal itu sudah dari beberapa hari yang lalu, namun Chika sengaja tidak mengatakannya kepada Arka.


"Soal itu, semua sudah di tangani oleh mama, Mama yang menyiapkan segalanya." Ucap Davin.


"Baguslah kalau begitu, jadi semua sesuai dengan rencana." Ucap Chika.


"Jadi Mama sudah tahu rencana ini?" Tanya Arka yang kini sudah menghampiri ketiga orang yang sedang berbincang itu.


Ketiga orang yang kini sedang berbincang-bincang itu, serempak menoleh ke arah Arka yang kini sudah terlihat rapi dengan mengenakan setelan tuxedo berwarna putih.


Sungguh benar-benar terlihat tampan pemuda itu saat ini, sangat sempurna sekali penampilan dan wajahnya, yang begitu perfect seakan mampu menghipnotis siapa saja yang melihatnya.


Chika menahan tawanya menggunakan telapak tangan, ketika melihat Arka yang kesal.


"Kalau mama sudah tahu, memangnya kenapa Ar?" Tanya Chika yang kemudian berdiri dan berjalan mendekatinya. "Anak nakal Mama ternyata terlihat begitu tampan sekali sekarang." Goda Chika.


Davin dan Alvin beranjak mendekat dan merangkul bahu Arka. Dengan bermaksud untuk menggoda Arka.


"Ingat Ar, kalau loe tidak siap nikah sama adik gue, kami sudah sepakat untuk menjemput Rey." Ucap Alvin.


Buugghh!!


"Auw," Rintih Alvin ketika Arka menyikut perutnya dengan kuat.


"Loe lakuin itu, sama aja loe cari masalah sama gue, Al." Ucap Arka dengan kesal.


Alvin melihat ke Arka kemudian menoleh ke arah Davin, lalu keduanya tergelak tawanya dengan kuat, si kembar baru tahu jika Arka se-posesif itu kepada adiknya.


"Makanya jangan banyak protes, keburu Ara kelamaan nunggunya." Ucap Chika yang kemudian menarik lengan Arka untuk segera berangkat.


"Tapi mereka berdua punya hutang penjelasan padaku, Ma." Ucap Arka yang masih ingin meminta penjelasan kepada si kembar.


"Lebih penting penjelasan mereka berdua, atau pernikahan kamu dengan Ara?" Tanya Chika.


"Pernikahan aku lah, Ma."


"Lalu kenapa kamu banyak protes, ayo berangkat ke sana." Ucap Chika.


Melihat interaksi ibu dan anak itu, membuat si kembar ingin tertawa, keduanya saling menepuk bahu masing-masing, dengan tertawa mengiringinya, kemudian keduanya mengikuti Chika dan Arka dari belakang.


Seorang sopir sudah bersiap dengan membawa mobil Alphard membukakan pintu mobil untuk Arka dan Chika, sedangkan Alvin duduk di depan, dan Davin bersama dengan Arka dan Chika di kursi tengah.


Sang sopir mulai menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobil tersebut untuk meninggalkan rumah mewah milik Ryo.


"Papa gimana Ma?" Tanya Arka.


"Om Ryo sudah di sana dari tadi." Ucap Alvin.


"Ok ok, kalian benar-benar membuatku lama-lama bisa terkena serangan jantung," Ucap Arka terlihat kesal.


Davin dan Alvin lagi-lagi tergelak tawanya dengan sangat kuat, sedangkan Chika hanya menutup mulutnya untuk menahan tawa yang akan pecah.


Perjalanan menuju ke rumah Dafa pun kini terlihat hening, mereka semua hanyut dalam pikiran mereka masing-masing, Arka diam-diam tersenyum bahagia, impiannya untuk menikahi Ara akhirnya terwujud dengan cepat, sungguh ini di luar dugaannya.


Sebentar lagi gadis pujaan hatinya akan resmi menjadi istrinya, membayangkan itu semua membuat jantung Arka berdetak kencang, seakan jantungnya ikut merasakan kebahagiaan seperti yang dia rasakan.


Bersambung